Lost Feeling

Lost Feeling
Small Foams Like Falling Cotton


__ADS_3

"Mmm~"


"Miaww~"


Kedua matanya akhirnya terbuka setelah beberapa waktu terkejam. Kedua kucing itu berdiri di atas tubuhnya dan mengibaskan bulu-bulu mereka di wajahnya sehingga terbangun dari tidur.


Dengan tenaga yang belum terkumpul, ia mencoba untuk mengambil posisi duduk dan memperhatikan kedua kucing tersebut, "hah? Ada apa? Kalian lapar?"


Tangannya menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya lalu beranjak dari sofa, "??!!" Namun saat kaki kanannya mulai menginjak lantai, ia merasakan sesuatu pada pijakannya, oleh karena itu dengan hati-hati ia memalingkan pandangannya ke bawah.


Wanita itu menatap dengan wajah sedikit histeris, "H-Hyunjae??"


Pria berjaket abu-abu itu tengah teridur pulas di samping sofa, dimana Lazel tempati. Karena tidak memperhatikan sekitar, tanpa sengaja kakinya menginjak tangan pria itu cukup keras.


Kedua tangannya berpangku ke depan,"huh! Siapa suruh kau tidur disini," Ucapnya yang tidak merasa bersalah sama sekali. "Bukan salahku~ bukan salahku." Gelengnya lalu menyingkir secepat mungkin.


Cherry selalu mengeluarkan suara, sedangkan Gilver selalu tenang dalam keadaan apapun. Meskipun pernah mengeluarkan suara, namun tidak seribut kucing yang lain, seperti Cherry, kucing berbulu kuning tersebut.


Lazel berjalan menuju dapur dan menemui beberapa pelayan dan meminta makanan untuk kedua kucing itu.


Tangannya penuh dengan wadah makanan kucing dan juga makanan mereka. Ia berjalan ke ruangan sebelumnya dan duduk di samping dinding kaca, "baiklah~ baiklah~ meravatlah wahai makhluk-makhluk berbulu~"


Dua nampan plastik bercorak kepala kucing itu sudah terisi penuh dengan makanan kucing, setelah mendapatkan makanan dari Majikannya, Cherry dan Gilver akhirnya memakan makanan mereka.


"Ck! Dasar merepotkan, Manusia yang merawat kalian bukanlah Majikan, melainkan babu," Lazel memperhatikan kedua kucing itu yang makan dengan lahap sambil mengocehkan banyak hal. "Kalian tidak bisa melakukan apapun selain merepotkan Manusia yang merawat kalian."


Kedua irisnya berpaling pada sebuah jam dinding, "sudah malam..."


Rasa kantuknya masih begitu terasa, namun sesuatu yang menarik membuat wajahnya berpaling.


Tatapannya mengarah pada luar dinding kaca itu dan mengamati buih-buih mungil seperti kapas yang perlahan berjatuhan, "salju?"


Pemandangan luar cukup gelap dan cukup terang karena lampu cahaya. Namun di dalam rumah lebih bercahaya, sehingga dimana dirinya duduk di hadapan kaca itu dapat terlihat jelas di pantulan kaca.


Kedua iris pinknya yang menyala bagaikan berlian dan juga caramel terlihat jelas di pantulan kaca itu.


Perlahan salah satu tangannya menempel pada kaca itu, "whoa~ Hyunjae benar, malam ini akan turun salju." Gumamnya.


...◇• •◇...


Tubuhnya bersantai di atas ranjang, "haah~ libur memang menyenangkan, tapi saat berhadapan dengan maut itu kepalaku seperti akan pecah." Ucapnya.


Ia bersantai di kamar nan luas itu dengan beberapa cemilan di meja, "huh? Apa? Kau sudah makan bukan?" Para kucing-kucing itu kembali mengganggu dirinya.


Lazel berdiri dan menyingkirkan makanan itu dari para predator, "dimana Hyunjae meletakkan boneka wortel itu?" Ia mulai bergerak kesana dan kemari hanya untuk mendapatkan benda keramat agar menjauhkan para kucing itu dari makanannya.


Cklek!


"Kejam! Bukankah aku sudah membawakan selimut untukmu."


Wajahnya berpaling dari bawah meja dan menatap pria berambut hitam yang berdiri di ambang pintu, "oh, kau bangun." Ujarnya santai.


"Mengapa kau tidak mem-"


"Hei hei, apa kau melihat boneka wortel yang kau gunakan saat bermain dengan Gilver?"


"Jangan menyela ucapanku!" Teriaknya, "haah~ bukankah terlempar keluar?"


Ia mematung dalam beberapa detik, "NANI??!!"


...◇• •◇...


Kedua pasangan itu tengah berlutut di hadapan kandang berukuran besar, dan memperhatikan kedua kucing itu.


"Apakah... mereka tidak apa-apa jika ditinggal?"


Pria itu menatap Lazel dengan heran, "kau bodoh? Mereka itu kucing, bukan bayi."


Ia menatap balik dengan tatapan yang sama, "aku hanya bertanya, mengapa kau seperti itu?"


"Sungguh pertanyaan yang membingungkan," ia mengunci kandang itu agar tidak terlepas. "Kau seperti tidak pernah merawat kucing saja."

__ADS_1


"Memang tidak pernah." Jawabnya.


"Ha... serius."


Lazel mengangguk, "hm, lagipula aku juga tidak terlalu menyukai mereka." Ucapnya secara terang-terangan.


"Jadi... mengapa kau mengadopsi Anoa itu?" Jari telunjuknya mengarah pada Gilver yang mulai tertidur setelah diberi makan.


"Baiklah selamat tidur~" tangan kanannya mengelus kedua kucing itu dari balik jeruji yang mengurung mereka.


"..............."


Wanita berjaket itu berdiri dan bergegas pergi dari sana. Sedangkan Hyunjae masih berpikir, mengapa dia tidak memberikan jawaban atas pertanyaan yang diberikan?


...◇• •◇...


"Kau tidur di bawah?"


"Tentu saja, tidak mungkin aku akan tidur dengan pria mengerikan sepertimu." Sindir Lazel yang mulai menarik selimut.


Mereka mendapatkan satu kamar yang amat luas, serta ranjang yang besar. Namun Lazel memilih untuk tidur di bawah daripada harus berbagi ranjang dengan Hyunjae.


"Tapi..." Hyunjae mengamati sisi ranjang lainnya yang ia tiduri, "tempat ini terlalu luas untuk diisi satu orang."


Saat dirinya berbalik, wanita berambut perak itu sudah tertidur dan memalingkan wajahnya ke sisi lain.


Tap!


Tangannya yang besar menggenggam kepala Lazel dengan erat, "jangan membodohiku." Ucapnya dengan geram.


Ia membalas perbuatan Hyunjae dengan mencubit tangannya, "p-penyiksaan! Ini namanya penyiksaan!"


Seketika tangan kirinya menggenggam ponsel yang ia tempelkan pada telinganya, "halo Ibu? Ah~ mengenai ranjang, Lazel tidak-"


Dua menit kemudian...


"Ahahahahahaha~"


"Dia pasti sedang mengutuk diriku dalam hatinya." Ucap Hyunjae dalam hatinya.


Karena tindakan Hyunjae yang begitu kekanak-kanakan. Ia harus menuruti perintahnya agar tidur satu ranjang.


Kedua tangannya berada di belakang kepalanya sambil menatap langit-langit, "bukankah kau sudah ku bayar banyak? Setidaknya kau harus menurut sedikit." Ujarnya.


Merasa tak terima, wanita itu memalingkan wajahnya, "tapi itu tidak ada dalam perjanjian apapun dasar sialan!"


"Tapi akhirnya kau mau bukan?" Tanya Hyunjae yang menghadapkan wajahnya ke arah Lazel.


"..............." dan wanita itu memilih untuk tidak menjawabnya.


Pemilik rambut perak itu kembali membuang wajahnya dan membelakangi Hyunjae. Tubuhnya juga terletak di titik darah penghabisan ranjang, dimana sedikit saja gerakan, maka tubuh itu akan terpental ke bawah.


"????" Ia memperhatikan Lazel dari kejauhan, perlahan ia mendekat dan mengangkat tangan kanannya.


"Sedikit saja kau menyentuhku, akan ku habisi kau." Ucap Lazel yang merasa ada pergerakkan di belakangnya.


"..............."


...◇• •◇...


"Seperti biasa..." pria berjaket itu menatap ke arah wanita yang sudah tertidur pulas. "Dia pasti akan tidur seperti UFO." Semburnya.


Hyunjae menunggu waktu yang pas sehingga membuat Lazel tertidur. Dan jika waktunya tiba, maka dirinya akan memperbaiki posisi tidur wanita itu.


Dan disaat ini, ia terbangun dari tidurnya. Lebih tepatnya, dirinya belum tertidur sama sekali.


Perlahan ia memindahkan tubuh itu ke sisi ranjang yang lebih ke tengah, "lalu untuk berjaga-jaga..." ia meraih beberapa bantal dan diletakkan pada sisi lainnya, karena dirinya sudah mengetahui berbagai macam pose UFO yang digunakan wanita itu saat tertidur.


Setelah melakukan beberapa penjagaan, ia kembali ke sisi ranjangnya.


"Oh, sepertinya aku juga harus waspada." Ia membuat benteng di sampingnya agar menghindari tendangan maut dari Istrinya.

__ADS_1


"Jadi... mengapa kau mengadopsi Anoa itu?"


"..............."


Pertanyaan yang belum mendapatkan jawaban. Meskipun dirinya tahu jika wanita itu tidak ingin ada seorang pun yang mengetahui alasannya. Namun... rasa keingintahuannya begitu kuat.


...◇• •◇...


Kedua matanya terbuka perlahan, sorot pink itu mulai menampakkan kecantikkannya.


"!!!!" Ia langsung terbangun dan turun dari ranjang lalu membuka tirai jendela. "Waaaaaa~" kedua matanya menapakkan kebahagiaan saat melihat tumpukkan salju yang menutupi semuanya.


Hamparan putih ada dimana-mana, menutupi segalanya. Buih-buih mungil dari mereka masih berjatuhan.


Rambutnya yang masih berantakan, kedua tangannya berusah membuka jendela itu dengan sekuat tenaga karena membeku.


Whuuuss~


Saat berhasil membukanya, hembusan dingin menerpa wajahnya dan memasuki ruangan kamar. Wajahnya terasa dingin dan sejuk, namun ekspresinya terlihat senang.


Awalnya ia tidak menyukai salju, namun siapa saja pasti akan merubah pikiran mereka saat musimnya tiba.


Sedangkan pria yang masih memeluk bantal itu terus merasa gelisah dalam tidurnya dan akhirnya terbangun dan melihat apa yang terjadi.


Rambut hitamnya yang sangat berantakan, pakaiannya yang terlihat tidak tertata rapi, serta kedua matanya menyorot pada wanita berambut perak yang terus tersenyum di depan jendela yang terbuka, "oh astaga... apa yang wanita itu lakukan?"


...◇• •◇...


"Hatchuu!"


"Cih! Dasar lemah."


"Siapapun pasti akan kedinginan jika kau melakukan seperti hal tadi!" Sembur Hyunjae yang merasa kesal habis-habisan pada Lazel.


Di tengah-tengah musim dingin, mungkin mereka akan menghabiskan waktu di rumah, sembari menunggu salju berhenti turun.


Wanita dengan dress merah itu berdiri dari sofa dan berlari ke arah dapur sambil membawa gelas, "Bibi~ aku minta cokelat panas lagi~"


"Baiiik~"


Pria itu meraih Gilver dan juga Cherry yang berada di sekitarnya. Bulu-bulu yang mereka miliki begitu hangat meskipun dalam musim yang dingin, oleh karena itu, tanpa diketahui oleh orang lain Hyunjae mengusapkan kedua tangannya dan juga wajahnya pada bulu mereka.


"Andaikan aku memiliki sesuatu yang hangat untuk dipeluk, dan ukurannya lebih besar." Ucapnya tanpa sadar.


"Mengapa kau tidak memeluk beruang saja?" Sahutnya dengan wajah menjijikan.


"!!!!" Hyunjae terkejut karena seseorang membalas ucapannya dari belakang, "K-Kapan kau disini."


"Sejak kau berkhayal mengenai sesuatu yang hampir mustahil untuk dilakukan oleh orang normal pada umumnya." Jawabnya dengan wajah datar.


Terlihat urat kekesalan di rahangnya yang mulai terbentuk, "mulutmu itu memang menyebalkan."


Setelah pergi menuju dapur, wanita itu pun kembali dan membawa sebuah cangkir berukuran besar yang berisi cokelat hangat.


Wanita dengan dress merah berkain tebal itu langsung duduk dengan tenang sambil menikmati cokelat hangat tersebut. Rambut peraknya terkepang ke belakang dengan sebuah pita kupu-kupu berwarna sama dengan dress yang ia kenakan.


Melihat tingkahnya semakin membuat dirinya kesal, oleh karena itu sebuah ide terlintas di pikirannya tanpa permisi.


Tangannya menompang dagunya sambil memperhatikan Lazel, "mengapa kau tidak menggunakan bak mandi saja? Bukankah lebih puas?" Ujar Hyunjae yang menatap ke arah gelas tersebut.


"Huh? Ada apa Tuan Kesemutan?"


"..............."


Untuk seketika mereka saling berdiam diri dan berusaha tenang.


Dan seketika...


Ia berada di atas sofa yang sama dengan Lazel duduki, "sialan! Apa maksudmu hah?!" Hyunjae berusaha mendorong Lazel yang menggenggam kedua tangannya.


"Apa-apaan?! Bukankah kau duluan yang mencari masalah?" Sedangkan wanita beriris pink itu berusaha menahan sambil meletakkan kakinya di perut Hyunjae.

__ADS_1


__ADS_2