
Kabar menyebar begitu saja setelah apa yang dialami oleh sebuah keluarga besar Pietra. Salah satunya keluarga Hojung, yang saat ini sedang mengalami kesuraman yang sama.
Sebuah hal yang tidak disangka menimpa wanita itu dan juga Adiknya.
"Gyuu, kau sudah mendengar kabarnya bukan?"
"Hm." Angguknya.
Ia tidak mengetahui sedekat apa Putranya itu pada menantu Keluarga Pietra. Karena ekspresinya begitu tertekan.
"Kita akan mengunjungi pemakaman tanpa diketahui Keluarga Pietra." Ujar Ayahnya.
"Baik, Ayah."
Pria berpakaian hitam itu menatap langit dan membayangkan sebuah perasaan dari kedua saudara itu yang harus menerima kenyataan pahit.
"Kau merasakan hal yang sama denganku... Lazel." Lirihnya.
...◇• •◇...
Sejak dari tadi, dan mulai kemarin. Ia tidak pernah melihat Lazel bersikap seperti biasa, hal ini sudah pasti, karena tidak mungkin mood wanita itu akan pulih secepat mungkin.
Hyunjae baru saja menyiapkan dirinya dengan memakai pakaian yang memiliki warna yang sama seperti yang lainnya.
Saat ini Hyunjae berpenampilan tanpa aksesorisnya, yaitu tindik. Sama halnya seperti Lazel, wanita itu melepaskan segalanya dan hanya mengenakan kalung perak berhuruf awal namanya.
Tangannya menepuk pundak Lazel dan menghamburkan lamunannya, "ayo per-"
Saat mulai berdiri dari sisi ranjang, kupu-kupu yang berada di rambutnya terjatuh begitu saja.
"..............."
"Tunggu sebentar." Hyunjae meraih pita itu lalu kembali memasangkannya pada rambut kepangan Lazel yang berada di belakang kepalanya.
Kupu-kupu itu berwarna hitam pekat, tanpa warna campuran lainnya. Hyunjae sangat mengatahui arti dari kegelapan itu.
Ia meraih pergelangan Lazel yang kini terlepas dari gelang peraknya, "apa tanganmu sudah membaik?" Tanya Hyunjae setelah meletakkan kembali kupu-kupu tersebut.
"Hm." Angguknya.
Setelah memastikan sedikit keadaan Lazel, ia pun menuntun wanita itu untuk pergi menuju Ruang Utama.
...◇• •◇...
Semua orang dapat melihat dari atas tangga, sepasang Suami Istri tengah turun bersama. Lazel memakai dress panjang yang menutupi kakinya serta memiliki beberapa kain tipis atau tembus pandang, namun bagian dalamnya memiliki kain yang tebal sehingga menolak udara dingin memasuki tubuhnya.
Hyunjae tidak menghias dirinya dan membiarkan seluruh rambutnya terturun dan hampir menutupi kedua tatapannya.
Serta Lazel... wanita itu layaknya boneka berbentuk manusia. Wajah tanpa ekspresi, kulit sepucat salju, namun semua orang tahu jika perasaannya masih sangat tersakiti.
Setibanya mereka bersamaan dengan beberapa mobil berwarna hitam yang tiba di depan rumah.
Hyunjae dan Lazel berdiri di Ruang Utama sambil menunggu kedatangan mereka.
Kedua kakinya kembali melemas, namun Hyunjae yang ada di sampingnya begitu peka dan membantu Lazel untuk berdiri.
Kedua pintu besar berwarna cokelat itu terbuka lebar dan menampakkan beberapa orang yang membawa kedua peti yang berwarna hitam.
Tangannya terkepal kuat, "hiks!" Seperti apapun ia menahan tangisnya itu sama sekali tidak berguna saat melihat kedatangan jasad kedua orang tuanya di depan matanya sendiri.
Hyunjae menggnggam tangan itu lalu membuatnya kembali terbuka dan terus membuat Lazel tenang.
Kedua matanya kembali meneteskan air mata, ekspresinya begitu menyakitkan sehingga tak mampu berkata-kata. Sehingga seseorang tiba di belakang peti itu dan menatap ke arahnya.
"Lazel." Lirih Nezra yang baru tiba dengan warna pakaian yang sama.
__ADS_1
"I-Ibu..."
Nezra bergegas berlari ke arah Lazel dan meraih tubuh wanita itu ke dalam dekapannya.
Tangannya mengusap rambut perak itu sambil menenangkannya, "Nak... jangan pernah menyalahkan dirimu." Ujar Nezra yang memeluk Lazel dengan tangisan.
Sedangkan Lazel hanya kembali menangis tanpa mengucapkan apapun, dan tangisnya semakin pecah saat berada di pelukan Nezra, Adam dan juga Hyunji.
Mereka dapat merasakan rasa sakit yang menimpa kedua saudara itu.
Semua orang berusaha menenangkan gadis itu dan membantunya untuk tetap tegar dalam masalah seberat apapun.
...◇• •◇...
Rumah Utama Keluarga Pietra semakin ramai dengan banyak orang. Wanita beriris pink itu menatap kedua peti itu dengan tetesan air mata yang belum berhenti membasahi kedua pipinya.
Nezra, Adam, Hyunji, dan Hyunjae. Mereka berdiri di belakang Lazel dan Ian yang tengah berlutut di hadapan jasad Ibu dan Ayah mereka.
Setelah membutuhkan waktu yang pas untuk menyiapkan diri, akhirnya Hyunji dan Hyunjae membuka kedua peti tersebut.
Tangisan Lazel semakin bersuara, tubuhnya terasa kaku sehingga tidak mampu bergerak dari sana.
Sedangkan Ian langsung menyambar dan memeluk Ayahnya, lalu dengan perlahan Lazel memeluk Ibunya yang terbaring tanpa nyawa.
"Kalian telah berkorban banyak demi kami... masa lalu yang ku hadapi selalu melibatkan kalian... bahkan balas dendamku serta tujuanku belum berakhir, tapi kalian meninggalkanku begitu saja," Lazel hanya bisa berbicara dalam hati dengan ribuan pisau yang menghantam jantungnya.
"Hidupku hancur... aku sama sekali tidak bisa memikirkan masa depan Ian jika seperti ini, aku tidak akan bisa hidup tanpa kalian, dan kalian terlalu cepat untuk meninggalkan Ian."
Kedua saudara itu bergantian memeluk orang tuanya dengan wajah terbasahi oleh air mata.
"Mengapa Ibu meninggalkanku... Ibu tahu jika aku masih membutuhkanmu,"
"Jika aku kembali bertengkar dengan Kak Lazel, siapa yang akan memarahi kami."
Hari yang penuh dengan duka cita, tangisan, rintihan serta rasa sakit. Semua itu tidak akan bisa dibayar dengan apapun.
...◇• •◇...
Tatapannya terus menatap ke arah jendela dan masih meneteskan air mata.
"..............."
"Ibumu adalah orang yang baik... apa kau tahu, aku dan Lena sudah berteman semenjak masih di Sekolah Dasar. Sedangkan Ayah Adam berteman dengan Ayahmu semenjak Sekolah Menengah,"
Nezra berada di satu mobil dengan Lazel, ia berusaha untuk mencari sesuatu yang lebih mudah di bicarakan, sehingga Lazel dapat menganggap bahwa semua masalah yang menimpanya adalah utusan takdir.
"Semua orang mengakui jika Lena dan Gion adalah manusia yang paling baik. Kebaikan mereka menjalar pada kami."
"Sehingga Aku dan Ayah Adam memutuskan untuk menikahkanmu dengan Hyunjae, meskipun saat itu kau baru saja kehilangan sosok yang berharga bagimu,"
"Tapi kau mencoba untuk menerima dan membuka hatimu, dan ternyata kalian bisa menjalin hubungan selama ini."
"Hubungan kami berjalan begitu erat, aku mengagumi Ibumu sebagai panutan hidup. Dia tidak berhenti menyeramahiku jika aku salah mengambil tindkan," kini Nezra sedikit menoleh pada Putrinya. "Bukankah dia sama denganmu?" Senyumnya.
"..............." perlahan wajah Lazel menghadap pada Nezra.
"Jika dikatakan tidak sama. Ya, kau dan Ian sama sekali tidak menyerupai Ayah maupun Ibu kalian. Tapi... sikap kalian yang luar biasa di dapatkan dari Lena dan juga Gion,"
"Kau berani terhadap siapapun, bahkan kau berani melantangkan suaramu di hadapan keluarga besarmu sendiri demi kedua orang tuamu."
"I-Ibu mengetahuinya?"
"Tentu saja," Nezra mengusap lalu mencium kening Lazel. "Ibu dan Ayahmu selalu membicarakan dirimu dalam setiap saat."
Nezra mulai memperhatikan tatapan, ekspresi serta suara yang dipaparkan oleh Lazel, "sepertinya Lazel mulai kembali dalam perasaan normalnya." Batinnya.
__ADS_1
"Baiklah... apa kau tahu, terkadang Lena dan Gion..."
Nezra mulai mengambil kesempatan untuk menghilangkan perasaan sakit yang tertanam pada Lazel.
...◇• •◇...
Di bawah warna awan yang tidak begitu cantik, di atas tumpukkan salju yang menebal serta dikelilingi dengan makam serta ramainya orang-orang lainnya.
"Ibu, apa Lazel baik-baik saja?" Hyunjae menghampiri Ibunya setelah tiba di lokasi.
"Tenanglah, dia bersama Ibu, bukan bersama orang lain." Ujar Ibunya dengan wajah tersenyum.
Saat ini semuanya berada di sebuah pemakaman yang terletak di beberapa belakang kota.
Kedua saudara kembar itu saling berdiri sejajar dan melihat proses penguburan peti kedua orang tuanya.
"Ibu... aku akan menjaga Kak Lazel sebagai Adiknya. Dan aku akan menjadi sesuatu yang jauh berbeda, sama halnya dengan Kakak." Batin Ian.
"Kalian luar biasa... sehingga aku menjadi seorang Putri yang hebat dari kedua orang tua yang menakjubkan dalam menjalani hidupnya." Batin Lazel.
Kepergian Lena dan Gion kembali membuat kedua anaknya menangis, wanita berambut perak itu berusaha kuat meskipun air mata tidak dapat di sembunyikan.
Tap!
Adam menepuk kedua kepala saudara kembar itu.
"Jadilah sosok yang kuat, meskipun kalimat kuat itu terus menerus mengakibatkan rasa sakit pada kalian."
"Di dunia ini tidak ada yang kekal, tidak ada yang abadi. Yang abadi hanyalah perasaan dan tekadmu yang kuat."
Lazel menutup mulutnya dengan tangan kanannya dan menahan isakan kepergian orang tuanya untuk selama-lamanya.
Tidak akan ada yang tahu bagaimana masa yang akan menghampiri mereka di suatu saat nanti. Mungkin saja lebih berat dibandingkan saat ini atau mungkin jauh lebih ringan.
...◇• •◇...
Gerbang pemakaman semakin ramai dan akhirnya sebuah mobil berwarna kuning tiba disana dan menampilkan kedua sosok Ayah dan Anak itu.
Tidak ada yang mengetahui identitas mereka karena menggunakan sedikit penutup agar tidak dikenali.
Setelah berjalan beberapa menit, akhirnya mereka tiba di tempat pemakaman Keluarga Pietra.
"Lazel..." dari jauh ia dapat melihat wanita berambut perak itu dengan dress hitam serta kupu-kupu hitam yang menghiasi kepalanya.
Proses pemakaman berlangsung dengan lancar, berusaha tegar dengan rintikan air mata yang menjatuhi salju tersebut.
Ia sedikit menatap ke samping, dimana Adiknya berada. Dirinya berpikir, bahwa semuanya belum berakhir, masih ada Ian...masih ada sosok yang harus dia lindungi, masih ada sosok yang harus ia jaga, serta dirinya harus menjadi sosok panutan bagi Adiknya.
Kepergian pria di sepuluh tahun... kepergian Ibu dan Ayahnya... itu adalah sesuatu yang harus ia percayai, harus ia terima, meskipun mendapatkan masalah sesulit apapun.
Setelah pemakaman selesai, seluruhnya berdiri dan melingkari makam baru itu, serta meletakkan beberapa karangan bunga yang mereka bawa.
Dua buah kupu-kupu di tengah salju menghinggapi makam tersebut. Banyaknya bunga membuat mereka tertarik untuk mengunjunginya.
Tatapannya ke bawah dan memperhatikan kedua makam itu secara bergantian, "belum... semuanya belum berakhir... masih ada sesuatu yang harus ku lakukan." Batinnya.
"A-Anu... apakah Anda adalah Lazel Zoclis dan Ian Zoclis." Suara wanita yang asing memangguil kedua saudara itu.
Kedua saudara kembar itu menoleh ke belakang dan melihat sepasang manusia yang terlihat sedikit tua.
"Maafkan kami." Ucap mereka dengan tubuh membungkuk.
"????" Sepertinya Lazel dan Ian belum mengetahui apapun.
"Lazel, mereka adalah sepasang Suami Istri. Suaminya lah menjadi pelaku atas kecelakaan tersebut." Bisik Hyunji.
__ADS_1
Bibi tua itu, beserta dengan Suaminya semakin membungkukkan tubuh mereka di hadapan Lazel dan juga Ian, "Nona dan Tuan maafkan-"
"Namaku Lazel, dan dia adalah Ian," sela Lazel yang memberikan tatapan biasa. "Panggil kami sesuai dengan nama yang kami miliki." Sambungnya dengan nada yang datar.