
Keduanya mengambil posisi telungkup di atas ranjang sambil menatap layar ponsel, karena tidak menggunakan laptop atau komputer jarak mereka berdua begitu dekat agar bisa melihat ke arah layar ponsel secara bersama.
Setelah mendengar ucapan dari Hyunji mengenai diri mereka masing-masing. Kedua pasangan itu langsung menatap satu sama lain.
Lazel mulai berpikir keras mengenai kalimat terakhir yang diucapkan Hyunji, "beran-"
"Takan..." sambung Hyunjae.
"I-Ibu! Kami baru saja terbangun dari tidur." Hyunjae memulai penjelasannya terlebih dahulu.
"Y-Ya! Hyunjae secara tidak sadar menaiki ranjang dan men-"
"Hahaha~ kami terlihat berantakan karena aku membuat Lazel sedikit kelelahan-"
"Aku lelah karena harus mengunjungi perusahaan secara langsung!"
"Hah?-oh! Ya! Kami-"
^^^"..............."^^^
"I-Ibu?"
^^^"Selamat bersenang-senang."^^^
^^^Ujar Nezra dengan senyuman yang bangga sambil merangkul Hyunji yang sedang memasang wajah datar.^^^
Panggilan berakhir begitu saja.
"Huh?"
Lazel menunduk sambil menggenggam erat ponsel silver yang ada di tangannya, "hei bajing*n, alasan macam apa itu?" Tatapannya seperti hewan liar yang tidak diberi makan ribuan tahun.
"Kau juga sama! Untuk apa memberitahu Ibu jika aku menaiki ranjang?!" Balas Hyunjae dengan wajah yang tertekan.
"Hah?! Kau pikir membuatku lelah adalah alasan yang tepat?!"
"Lalu? Akau berpikir jika alasanmu itu yang masuk akal?"
"Bukan masalah masuk akal atau tidaknya, dilihat dari sisi manapun alasanmu itu sangat liar kau tahu!"
"Memangnya kau tidak?!"
"Memangnya dari mana ucapanku yang salah?!"
Keduanya saling berdebat ria mengenai alasan masing-masing dan berusaha membuat diri mereka benar.
...◇• •◇...
Keduanya telah bersiap untuk menghadiri pertemuan malam. Perdebatan mereka di sebelumnya mungkin belum berakhir karena diam-diam keduanya terus menyindir satu sama lain.
Tangannya meraih pita kupu-kupu berwarna ungu lalu ia tempelkan pada kepangan rambutnya di belakang, "dasar sialan! Aku baru tahu jika Manusia bisa berpikir sedangkal itu." Sindir Lazel.
Sedangkan pria itu tengah terduduk di sisi ranjang sambil memperbaiki kain lengannya, "aku heran jika ada seorang perempuan yang dengan mudahnya berucap kasar." Sindir Hyunjae.
Asik menyibukkan diri, namun mulut mereka terus berkicau bagaikan burung.
Lazel sudah siap untuk berangkat, beberapa jam yang lalu, ia memesan beberapa jas wanita tanpa rok. Pada akhirnya pesanannya berubah begitu saja dan datang dalam pesanan yang tidak sempurna.
"Hyunjae bajing*n itu! Jika hari ini tidak ada pertemuan mungkin aku sudah merobek wajahmu itu." Batinnya dengan amat kesal.
Pertengkaran mengenai jas mau tak mau harus mereka tunda terlebih dahulu dan mementingkan pekerjaan.
...◇• •◇...
Setelah melakukan perjalan yang cukup lama, akhinya mereka tiba di sebuah negara dimana sebuah perusahaan akan mereka kembangkan disana.
Tujuan terbesar mereka ada Amerika, karena hampir negara-negara terbesar lainnya secara sebagian sudah berada di genggaman Pietra.
Membutuhkan usaha dan kerja keras untuk memperjuangkannya. Awalnya orang-orang berpikir jika tindakan Pietra adalah menguasai sebuah negara, namun itu adalah kalimat yang keliru. Pietra adalah perusahaan yang mengembangkan bukan mengambil alih.
Kedatangan mereka di Amerika untuk mengembangkan investasi perusahaan, sehingga mendapatkan dukungan dari pihak.
Sebelum Lazel menginjakkan kakinya di Keluarga Pietra, tujuan mereka sama sekali tidak pernah tercapai atau lebih tepatnya masih dalam proses.
__ADS_1
...◇• •◇...
Pria dengan jas hitam itu mengenakan kacamata yang berbentuk bundar dan terdapat dua rantai di kedua ganggangnya. Sedangkan Lazel, wanita itu mengenakan jas berwarna merah darh dengan mengenakan rok setinggi lutut bagian atasnya.
Penampilan keduanya begitu memukau, dan penuh kharisma.
"Aku tidak menyangka jika prosesnya begitu lama." Ujar Lazel sembari memainkan ponselnya.
"Mengembangkan serta mendapatkan dukungan dari mereka tidak begitu mudah," sahut Hyunjae yang tengah mengemudi. "Bahkan dua puluh tahun masih sangat cepat bagi kita untuk berharap." Tambahnya.
"Malam ini mungkin pertemuannya akan singkat, karena hari ini dia memiliki jadwal yang padat, setidaknya besok kita akan memulai meetingnya." Jelas Hyunjae.
Dalam urusan ini, Hyunjae yang akan menyusun jadwal untuk dirinya dan juga Lazel, sedangkan wanita itu yang akan mengatur laporan pada saat meeting.
Beberapa menit kemudian, akhirnya mereka tiba di sebuah perusahaan yang besar dan juga tinggi. Bahkan perusahaan ittu memiliki cabang-cabang di bagian belakangnya.
...◇• •◇...
"Haha! Long time no see you, Miss Pietra." Sapa pria berwajah asing itu.
"Me too~" ujar Lazel yang tersenyum ramah.
Kedatangan mereka disambut secara langsung oleh pemilik perusahaan, karena Hyunjae dan Lazel sudah berkali-kali mengunjungi perusahaan itu, jadi pertemuan mereka tidak perlu bermula dengan perkenalan.
Ia beralih pada Hyunjae yang berdiri di samping Lazel, "Istri Anda selalu terlihat cantik." Ucapnya dalam bahasa mereka.
Wanita berkepang itu menoleh, "huh? Anda bisa menggunakan bahasa kami?" Tanya Lazel.
"Of course! Tidak begitu sulit untuk memperlajarinya."
William J Holbert. Dia adalah Direktur dari perusahaan Holbert II nomor satu di Amerika. Dia merupakan anak kedua, sedangkan Kakanya mengatur perusahaan lain, James J Holbert I.
"Ayo, kita akan berbicara di ruanganku." Ajak William pada pasangan Suami Istri tersebut.
"G-Gilaa! Dua bulan yang lalu aku pergi bahkan dia masih menggunakan bahasa asing." Batin Laze.
"G-Gilaa! Sepertinya aku baru kembali ke sini sekitar satu minggu yang lalu, setelah itu kembali dan melihat perubahannya." Bahkan Hyunjae sempat berpikir yang sama dengan Istrinya.
...◇• •◇...
"perusahaan Saham milik Hyunjae dapat berkembang lebih baik saat mendapatkan dukungan dari Anda."
"So~ bagaimana jika aku menolaknya?" Ucap William di tengah-tengah meeting.
Beberapa dewan dan juga anggota penting lainnya berada di tempat yang sama. Salah satu translator juga bersama mereka untuk menerjemahkan perbincangan.
Hyunjae belum mengucapkan satu patah katapun, wajahnya terlihat biasa dan juga tidak merasa terganggu dengan ucapan dari William. Karena yang sedang dia hadapi adalah Lazel, wanita bermulut robot.
Lazel berdiri tepat di samping monitor yang bekerja, kedua tangannya menapak di atas meja dan tersenyum sinis, "Saya bisa melakukannya sendiri tanpa bantuan dari Anda." Jawabnya.
"How?"
Kedua tangannya terbentang ke samping, "Pietra memiliki wawasan yang besar meskipun negara ini bukan satu-satunya, meskipun begitu, kami hanya menginginkan satu tapi pasti. Jika tidak maka kami sendiri yang akan mengambil tindakan,"
"Apa-"
"Wawasan kami bukan untuk merebut, tapi mengembangkan. Proses ini membutuhkan waktu yang lama, tapi kami berdua tetap mencari jalannya,"
"Bisa Anda lihat perkembangan dan juga usaha kami hingga saat ini, meskipun ada keraguan, tapi Anda selalu memberikan lima bintang untuk usaha yang kami kembangkan,"
"Bukankah hal itu sama saja bagi Anda untuk memberikan sedikit kesempatan bagi kami untuk meyakinkan Anda?"
"HAHAHAHA!" William tertawa begitu kuat dan memberikan tepuk tangannya pada Lazel. "Kau memang wanita yang luar biasa!" Pujinya.
"Haha~ terima kasih, ku anggap itu pujian." Ucap Lazel dengan wajah ramahnya.
Wajahnya kembali bertaut, "tapi... entah mengapa wajahmu itu saat berbicara seperti ingin menghajar seseorang?"
"E-Ekhem! Lazel memiliki wawasan yang besar untuk berbicara lantang dengan gayanya sendiri." Sahut Hyunjae untuk menengahi pembicaraan.
"Oh~ seperti itu."
Di sela-sela perbincangan William dan Hyunjae, wanita berpita kupu-kupu itu merasakan jika Anggota Dewan lainnya ada yang tidak setuju dengan ungkapannya. Hal itu sangat mudah jika hanya menatap mereka melalui reaksi dan juga ekspresi wajah.
__ADS_1
"Kurasa ada beberapa dari Anggota Dewan yang kurang menyukainya." Ucap Lazel yang menarik perhatian.
...◇• •◇...
Tangan kanannya menggenggam minuman kaleng yang didapatkan dari mesin minuman. Wajahnya terlihat begitu bangga pada dirinya sendiri dan terus tersenyum jahat tanpa henti.
"Ku akui jika tindakanmu itu begitu jauh, kupikir kau akan memancing emosi mereka." Ujar Hyunjae yang ikut duduk di sampingnya.
Sebelumnya Lazel mendapatkan banyak cibiran dari Anggota Dewan mengenai opininya, namun ia sanggup mengatasinya tanpa bantuan dari William dan juga Hyunjae. Dirinya selalu beranggapan, akan sangat mudah melawan perdebatan dengan Direktur secara langsung, dibandingkan melawan omongan Anggota bawahan.
Terkadang mereka memiliki skill untuk membuat pertanyaan mereka menjebak lawan bicara, pada akhirnya laporan berunjung pada kerusakan dan seketika isu-isu aneh menyebar si seluruh kota.
Keduanya berada di halaman perusahaan dan menemukan tempat bersantai serta mendapatkan mesin minuman yang praktis.
Saat ini mereka beristrirahat sejenak, malam masih belum berakhir. Namun keduanya lebih memilih untuk bersantai di luar dibandingkan pada ruangan yang sudah disediakan untuk mereka.
Lazel meminum coca cola yang ada ada di tangannya, "Amerika musim panas, sedangkan disana musim hujan." Keluhnya.
"Panasnya tidak terkira." Sambung Hyunjae.
Setelah itu, keduanya saling tertawa dan berharap jika semuanya usai dengan cepat.
...◇• •◇...
"Terima kasih atas kerja samanya malam ini." Ucap Hyunjae yang menjabat tangan William dengan sopan.
"Baik~ baik~"
Lazel baru kembali setelah mendapatkan panggilan dari Perdana Menteri untuk melakukan dan mengerjakan beberapa pekerjaan.
"Usaha kalian sudah cukup baik, meskipun Anggota Dewan masih bertanya-tanya mengenai tindakan kalian,"
"Dan yang perlu kalian tahu, hal ini akan Saya rundingkan juga dengan keluarga, jadi mohon bersabar." Senyumnya.
"Jangan khawatir, kami akan terus berusaha ketika kesempatan masih belum menghilang." Balas Hyunjae.
Sekitar lima jam lebih mereka mengunjungi perusahaan William. Setelah usai, keduanya langsung bergegas meninggalkan tempat itu.
...◇• •◇...
Tubuhnya begitu lelah sehingga tak mampu meraih ponselnya yang berdering di hadapannya, "t-tanganku tidak bisa bergerak!" Ucapnya dengan wajah serius.
"Jangan membuat alasan." Sindir Hyunjae dengan wajah datarnya.
"Halo?" Ia tidak memperhatikan nama panggilan itu dan mengangkatnya secara langsung.
"Byul? Ternyata kau, apa apa?"
^^^"..............."^^^
"Pertemuan?"
"Apakah aku harus membuat boneka tiruan untuk menghadirinya?" Ucapnya kesal sambil membuka akses lainnya melalui ponsel.
^^^"Sebenarnya Saya bisa menundanya, tapi setelah Anda kembali, semua pertemuannya harus dilaksanakan satu hari sekaligus."^^^
Lazel membuka speeker agar suara Byul terdengar lebih jelas disaat dirinya mengutak-atik sesuatu di ponselnya.
"Hei, apa mereka berniat membunuhku dalam satu malam?"
^^^"Kalau begitu apakah kita harus meno-"^^^
"Jangan," selanya. "Aku akan melakukannya selama satu hari penuh, jadi siapkan harinya yang lebih lama sehingga pas waktunya bagiku untuk kembali."
^^^"Baik Nona."^^^
Panggilan berakhir.
Ia tak menyangka, baru saja beberapa jam dirinya meninggalkan negaranya. Seketika pertemuan bertumpuk menjadi satu.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Hyunjae yang sekilas menatap dirinya.
Ia menaikkan alisnya, "mengkhawatirkan ku?"
__ADS_1
"Tentu saja, apa kau pikir hanya kau yang repot jika dirimu terjadi sesuatu?"
"Benar juga..." pikirnya. Tatapannya mengarah pada layar mobil, "jangan khawatir, kondisiku lebih dari kata baik."