Lost Feeling

Lost Feeling
Feud


__ADS_3

Hari ini adalah kelulusan Ian, dimana dirinya akan melepas statusnya untuk menuju ke tingkat yang lebih tinggi. Awalnya ia berpikir bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tetap baik meskipun tanpa kedua orang tuanya.


Tetapi... setiap apapun yang mulai mewarnai dirinya, selalu ada sesuatu yang meruak tubuhnya. Padahal dirinya harus siap menerima apapun keadaannya, apapun resikonya.


Sama halnya dengan mati, siap atau tidaknya kau hanya bisa menerima kenyataannya saja.


Apa yang terjadi pada dirinya saat ini adalah perubahan yang tidak masuk akal untuk pendapat orang lain. Kedatangannya juga membuat orang-orang terkejut, dan lebih terkejutnya lagi adalah perubahan pada Lazel.


Bagaimana tidak, Lazel yang mereka kenal memang  kasar, namun memiliki santun dalam ucapannya.


Sekarang... bahkan dia yang awalnya menyebut Adam sebagai Ayahnya kini mulai memanggilnya dengan sebutan formal dan terhormat.


"P-Paman?"


"Informasiku ini tidak mungkin salah, kau tahu sendiri bukan aku siapa."


"Pada hari dimana mereka ingin menabrak Hyunjae... jangan bilang..."


"Ya, itu adalah perbuatan Luo, Pamanmu."


"Orang yang membunuh Wonhae... Paman Luo?" Kini Hyunjae yang hanya mendengar perbincangan mereka mulai memahami inti sarinya.


"Wonhae? Pria yang dulu itu?" Sahut Nezra.


"Wonhae... yang membunuh Wonhae adalah Paman?"


"Tapi mengapa? Bukankah mereka hanya membenci kami? Lalu mengapa Wonhae... mengapa dia terseret dalam hal ini..."


"Ck!"


Di sela-sela perdebatan Nezra dan Adam, tanpa sepatah kata sedikit pun, Lazel langsung berlari keluar dan membuka kunci mobilnya secepat mungkin.


"Lazel!" Teriak Hyunjae.


"Dia mungkin pergi mengunjungi Luo. Hyunjae kejar dia!"


Hyunjae bergegas pergi berlari dan mengikuti pergerakan Lazel. Saat tangannya ingin meraih pintu mobil, sayangnya telah terkunci dari dalam. Lazel tidak ingin atau tidak mau mendengar apapun lagi, kali ini dirinya akan bergerak sesuai keinginannya sendiri.


"Sial!"


Hyunjae melihat mobil merah itu semakin jauh dan hampir meninggalkan halaman.


Dengan gesit ia pun kembali ke dalam dan berniat menyusul wanita itu dengan mobil Ayahnya.


...◇• •◇...


Dalam keadaan ceroboh, marah ataupun hal lainnya. Wanita itu tidak pernah memperhatikan dirinya sendiri selain sesuatu yang ingin dia capai. Bahkan jalan raya yang luas itu hanya dipenuhi dengan suara deruman mobil merahnya yang terus menyelip kendaraan lain.


"Hei Lazel, apa aku boleh mencintaimu."


Kenangan lama itu belum menghilang secara penuh. Seseorang yang pernah meminta izin hanya untuk mencintai, berusaha untuk selalu tersenyum dalam keadaan apapun. Rasa kasihnya tidak pernah berdasarkan dengan rasa kasihan.


Kedua tangannya mengepal stir dengan erat, bahkan cincin-cincin yang ia kenakan bisa melukai jari-jarinya.


"Kau mempunyai warna mata yang bagus."


Setelah bertahun-tahun lamanya ia tidak menyangka jika pelaku tersebut berada di dalam keluarganya sendiri. Tapi apa alasannya? Bukankan rasa tak suka mereka hanya ditunjukkan pada keluarga kecilnya? Jadi mengapa Wonhae harus terlibat dengan semua itu?


Terlalu banyak yang ia pikirkan sehingga dia tidak mampu menemukan celah untuk berpikir. Karena saat ini yang menguasai dirinya adalah emosi, emosi yang sangat kuat bahkan mampu untuk mengorbankan segalanya.


...◇• •◇...


"Secepat apa dia pergi?" Ucapnya sembari memperhatikan jalanan.


"Adam, apa maksudmu? Kau membantu Lazel untuk menemukan pelakunya?" Tanya Nezra yang saat ini masih panik.


"Ya, begitulah."


"Tapi mengapa Lazel seperti itu?! Sikapnya tiba-tiba berubah."


Ia hanya mendengarkan pertengkaran Ibu dan Ayahnya yang berada di kursi belakang.


Hyunjae kini mulai bergerak menuju kediaman Keluarga Besar Lazel yang cukup jauh dari Rumah Utama dan Villa milik mereka.


Bahkan kecepatan yang dia bawa saat ini cukup tinggi, dan bisa saja menimbulkan bahaya besar.


Belum ada kesempatan baginya untuk bertanya dan mengapa sikapnya mendadak angkuh. Terlebih lagi, pelaku yang membunuh Wonhae adalah Paman Lazel sendiri, dan tabrakan maut yang berhasil menghancurkan mobilnya juga rencananya.

__ADS_1


Kemungkinan buruknya sangat fatal, rasa khawatirnya saat ini melebihi apapun.


"Hyunjae, apa kau bisa lebih cepat?"


...◇• •◇...


Kehadirannya datang begitu saja, tanpa angin dan hujan dirinya selalu memberikan sesuatu yang sama. Bahkan orang itu adalah orang yang pertama kali masuk ke dalam hidupnya dan mengubah sedikit keadaan hidupnya.


Pada sore hari dengan langit yang berwarna jingga, sebuah taman menjadi salah satu tempat yang akan dia lewati. Saat itu angin cukup lembut untuk berhembus dan menyapu perlahan rerumputan kering yang meramaikan jalanan.


Seorang gadis kecil dengan rambut yang terkepang ke belakang sedang duduk dan memainkan sesuatu.


Untuk sesaat dia berhenti karena melihat sesuatu yang menjanggal, "dia terluka?"


Cukup kasihan melihat seorang gadis kecil yang sendirian dengan beberapa luka di tubuhnya. Tanpa berpikir apapun lagi, ia pun berniat untuk menghampiri gadis itu.


"Namamu?"


Bruak!


"Ack!" Rintihnya sambil memegang dagunya yang nyeri, "mengapa kau memukulku?" Tanya pria itu dengan linangan air di kedua matanya.


"Jika aku tidak memukulmu maka kau yang akan memukulku." Jawab gadis itu dengan tatapan yang biasa.


"Apa-apaan i-"


Pertemuan mereka saat itu sungguh unik, ia melihat gadis kecil padahal umur mereka hampir sama. Saat itu Wonhae benar-benar terkejut dengan ekspresi serta tatapan yang diberikan padanya. Warna rambut serta irisnya sangat berbeda dengan manusia pada umumnya.


Mulai hari itu mereka menjadi dekat, meskipun Wonhae merupakan bagian dari keluarga berada atau mampu, dia sama sekali tidak mempermasalahkan kehidupan Lazel.


"Lazeeeel~" seorang pria tengah berlari ke arahnya dengan lambaian tangan serta senyuman yang selalu mengukir wajahnya.


"Kau datang lagi?" Tanya Lazel yang langsung meninggalkan aktivitasnya dan menyambut kedatangan Wonhae.


"Aku sudah janji bukan? Huh?" Wonhae melihat sesuatu pada diri Lazel, "hei... bukankah lukamu terlalu banyak?" Ujar Wonhae yang menyingkirkan rambut Lazel dan mendapatkan sebuah plester yang menutupi dahinya dan juga kedua tangannya.


"Apa kau tahu, aku sudah mengikuti Taekwondo sejak kecil!" Ucap Lazel yang sangat bersemangat.


"T-Taekwondo?! Kau mempelajari hal sulit seperti itu?"


"Padahal saat kita mulai berteman kau selalu memberiku kepalan."


"M-Maaf... itu adalah refleks."


Keluarga mereka sama sekali tidak memiliki masalah apapun pada kedua hubungan anak mereka. Mereka juga tidak pernah memandang dari segi kekayaan atau apapun, lagipula Lazel adalah teman pertamanya semenjak pindah.


"Kau itu gadis yang cantik dan juga baik, harusnya kau menjaga dirimu sendiri." Ucap Wonhae yang berniat untuk menasihati Lazel.


"Untuk apa? Lihatlah," Lazel menjulurkan kedua tangannya. "Aku tidak tahu mengapa aku bisa mempunyai warna kulit seputih ini."


"Hahaha~ kau seperti gadis salju."


"Apa-apaan itu?"


Wonhae mengetahui segalanya mengenai Lazel begitupula sebaliknya. Namun mereka dapat saling menerima. Termasuk tindakan kasar keluarga besar Lazel sendiri, bahkan Wonhae diam-diam pernah berbicara dengan mereka untuk menghentikan tindakan seperti itu.


Hingga pada suatu hari, dimana Lazel tumbuh sebagai gadis penyuka kupu-kupu. Hampir di setiap harinya ia selalu memakai pita rambut yang memiliki bentuk kupu-kupu.


Di bawah guyuran hujan yang merdu dan air yang mengalir dengan tenang.


"Hei Lazel, apa aku boleh mencintaimu?" Tanya Wonhae yang sedikit mengubah pandangannya terhadap Lazel.


"Boleh." Jawabnya tanpda ragu sedikit pun.


"S-Secepat itu?"


"Karena aku juga menyukaimu." Ujar Lazel dengan wajahnya yang berbinar.


Pada saat itu mereka sudah memikirkan rencana untuk ke depan. Dan lebih hebatnya lagi, dalam hubungan mereka sama sekali tidak ada permasalahan yang timbul. Wonhae memiliki kedua orang tua yang baik pad Lazel, begitupula Lena dan Gion.


Paska hari wisuda Lazel, mereka berencana untuk mencari pekerjaan bersama-sama.


Akan tetapi... hanya dua hari setelah acara besar itu, Wonhae terlibat dalam kecelakaan besar.


Sebuah mobil besar yang membawa barang-barang penting menabrak kuat mobil yang dibawa oleh Wonhae, karena bergerak dengan kecepatan yang sama, mobil yang dibawa Wonhae pun menabrak sebuah gedung perkantoran hingga bagian depannya hancur.


Lazel yang saat itu mendengar kabar Wonhae seketika  menangis histeris dan tidak menerima kepergian Wonhae. Bahkan kalimat perpisahan tidak terucap sama sekali, dalam hidupnya, ia sama sekali tidak ingin menerima kematian Wonhae begitu saja.

__ADS_1


Setelah kejadian di hari itu, keluarga Wonhae hanya mengucapkan terima kasih pada Lazel lalu pindah ke negara lain.


Dalam beberapa minggu ke depan, sekumpulan orang mulai meramaikan dirinya lagi. Padahal saat itu rasa sakitnya belum menghilang secara keseluruhan. Kini sebagai tempat peninggalannya hanyalah sebuah taman dimana pertama kali dirinya bertemu dengan Wonhae.


Seorang pria berpakaian rapi berjalan ke arahnya dengan tatapan yang seakan-akan tidak peduli pada apapun.


"Namamu Lazel... bukan?"


...◇• •◇...


Sebuah mobil merah baru saja memasuki halaman tanpa permisi. Para penjaga yang bertugas sangat panik setelah mendapatkan kunjungan yang seperti ini.


Namun setelah mereka melihat siapa yang keluar dari mobil itu, mau tak mau mereka hanya menerimanya saja dan tidak berniat untuk ikut campur.


Tangannya menutup pintu mobil itu dengan suara yang kuat, kedua kakinya melangkah begitu saja dan menggunakan kakinya untuk membuka pintu tersebut.


Suara bantingan itu membuat seisi rumah terkejut dan berlarian menuju Ruang Utama. Para pelayan yang sedang bekerja hanya bisa berlarian ke dalam.


"Apa yang-" Bibinya datang dan terkejut melihat siapa yang berdiri di hadapannya saat ini. "L-Lazel?"


"Bajing*n... kalian hanya perlu membenciku, tapi mengapa Wonhae harus terlibat?"


"Lazel, mau apa kau datang kemari?" Tanya Miel yang baru saja bergabung.


"Di mana Paman Luo? Aku ingin membahas sesuatu." Kini Lazel sama sekali tidak memperdulikan apapun.


"L-Lazel kau disini?" Kini Pamannya mulai terlihat setelah beberapa orang memanggilnya.


"Kenapa..."


"H-Huh?"


"Kenapa kau membunuh Wonhae... memang kesalahan apa yang dia buat sehingga kau berniat untuk menghilangkan nyawanya?" Dibandingkan amarah, yang keluar saat ini hanyalah air matanya yang tak tertahankan lagi.


"Meskipun kalian membenci kami, tapi aku tidak pernah berpikir bahwa kalian akan terlibat dengan masalah ini,"


"TAPI KENAPA?!"


"MEMANGNYA APA KESALAHAN WONHAE SEHINGGA KAU MEMBUNUHNYA?!"


"Aku tidak tahu jika kalian-"


"Apa yang kau bicarakan?" Kini Luo menyela dengan wajah yang kebingungan.


"Huh?"


"Membunuh Wonhae? Aku? Kami?"


"Lagipula siapa itu Wonhae?" Sahut Bibinya yang sama sekali bertingkah seolah-olah memang tidak mengenal Wonhae.


"Apa... apa yang mereka maksud? Dia tidak mengetahui Wonhae? Padahal kaulah yang membunuhnya." Kini Pikiran Lazel mulai berantakan, antara benar dan salah sudah tidak berada di dalam benaknya lagi. Yang tersisa hanyalah dendam.


Disaat mereka mulai berisik memperdebatkan hal itu, sebuah vas yang berada di sampingnya. Ia mengambilnya lalu membuatnya pecah dengan satu kali hantaman ke dinding.


"L-Lazel! Apa yang kau lakukan?!"


"Aku tidak mungkin hanya terdiam setelah mengetahui hal seperti ini." Ujarnya dengan tatapan yang sedikit sendu.


Lazel mengarahkan bagian runcing itu ke hadapan Pamannya.


"Mati."


Ia mengambil langkah besar lalu mengarahkan benda tajam itu pada Pamannya.


"Penjara? Hukum mati? Setidaknya ini akan berakhir dengan rasa salahku padamu... Wonhae."


CRUAK!


"Huh?"


Seseorang memeluknya dari depan dan mulai mengelus kepalanya dengan lembut. Serta membisikkan sesuatu.


"Haha~ ternyata aku memang mencintaimu." Ucap pria itu yang berhasil membuat Lazel menyadarkan dirinya.


Tangannya menarik pecahan kaca itu lalu melihat tangan kanannya yang mulai berlumuran darah. Dengan suara yang begitu dekat dan juga lembut, sangat mudah untuk menebak siapa orang yang saat ini sedang memeluknya.


"Hyun... jae?" Lirihnya dengan linangan air di kedua matanya.

__ADS_1


__ADS_2