
Zaman selalu berkembang di setiap detik, jam, serta tahun. Terutama perubahan pada Manusia yang lebih mendorong pada seorang perempuan. Mereka merupakan makhluk yang sangat mulia dibandingkan kaum pria, paras yang mereka miliki adalah mahkota dalam hidupnya.
Akan tetapi... mahkota yang berisi dengan kemuliaan itu disalahgunakan sehingga mendorong pada perbuatan buruk, atau sering merendahkan diri mereka di bawah harta, serta status dan derajat seseorang.
Mereka mampu melakukan apapun demi ketiga hal itu, bahkan diri mereka yang amat mulia itu dapat kotor begitu saja.
Cermin yang retak, tidak dapat memancarkan kecantikkan. Melainkan contoh yang mungkin akan lebih hancur lagi.
...◇• •◇...
Selain ketampanan, ia juga memiliki status yang sangat serius dan dipandang oleh penjuru dunia. Namanya bukan hanya gelar bagi ketenaran dirinya. Ia merupakan sosok yang mungkin paling sempurna di dunia ini.
Siapa yang tidak bisa berpaling darinya? Harta? Status? Bahkan hampir segalanya berada di dalam genggemannya. Semua kaum perempuan pun akan luluh di hadapan itu semua sehingga rela menyodorkan tubuh mereka sebagai alat pemuas.
Akan tetapi... teori itu juga memiliki kesalahan, semua perempuan pasti memiliki kriteria mereka masing-masing, apalagi dalam hal spesial yang dimiliki oleh pria itu. Namun sayangnya... ada seorang wanita yang sama sekali tidak pernah memandang kehebatan dari pria tersebut.
Omong kosong, itulah yang akan dia katakan mengenai pria yang ada di dunia. Mulut mereka yang manis bagai permen, namun janji yang diucapkan memiliki kepastian untuk diingkar.
Serta manusia yang memiliki mulut untuk mengucapkan kebohongan serta tuduhan segala macam.
Tidak salah meletakkan kepercayaan pada mereka, yang salah adalah diri kita sendiri yang meletakkan kepercayaan pada orang yang salah.
...◇• •◇...
Bulan tidak begitu bagus, meskipun cahaya birunya menerangi malam. Perasaannya sangat berbeda dengan sinar cahaya bulan tersebut. Harus ia akui, dirinya sama sekali tidak menyukai rasa iba dari orang lain. Selain harga diri, ia juga memiliki alasan yang kuat mengenai hal itu.
Kucing gemuk berwarna perak itu melingkar di kedua tangannya dan berdiri menghadap jendela besar. Ekspresinya terlihat biasa, namun hatinya berpikir lain.
Di tengah-tengah lamunannya, ponselnya kembali berdering. Getaran itu membuat wajahnya berpaling dan menuju ke arah meja.
"Hyunjae?" Gumamnya.
Di sisi lain, tangannya sudah menggenggam ponselnya dengan tangan kiri, serta tangan lain menggenggam stir mobil yang berjalan memasuki sebuah jalan yang cukup kecil dengan rumput tinggi di bagian kiri dan juga kanan.
Tidak begitu lama ia menunggu, panggilannya langsung terhubung dengan cepat.
Ia menyeringai, "oh, apa kau menunggu panggilan
dariku?" Tanya Hyunjae yang baru saja memasuki wilayah Rumah Utama, dimana rumah itu merupakan tempat tinggal kedua orang tuanya dan juga Hyunji, Kakak kandungnya.
^^^"Ada apa?"^^^
"Dingin sekali... padahal Hyunji baru saja memberitahuku jika Lazel merasa khawatir dengan kepergianku," ia sedikit terkejut dengan suara datar yang diucapkan oleh Lazel melalui ponsel. "Aku pergi menemui Hyunji."
^^^"Apa urusannya denganku."^^^
"H-Hei Hyunji, kau tidak berbohong kan? Mengapa Lazel begitu acuh saat berbicara denganku!" Pikirnya dengan serius, "e-ekhem! Kau masih terbangun bukan? Kalau begitu tidurlah, mungkin aku akan kembali larut ma-"
Tut tut tut...
Panggilannya berakhir begitu saja.
"..............." Kedua matanya menatap layar ponsel itu dengan kehampaan.
...◇• •◇...
"Haah~ kupikir dia kemana," tuturnya dengan lega. "Jika dia berada di rumah Ibu, semuanya pasti baik-baik saja." Sambungnya dengan wajah yang setengah-setengah.
Kini tatapannya kembali fokus dan serius, "aku akan membuat seribu kebaikan... sebelum aku meninggalkan tempat ini." Ucapnya dengan tatapan sinis pada sebuah layar laptop yang berada di hadapannya.
Lazel membawa Gilver menuju dapur lalu meletakkan kucing itu ke dalam kandangnya. Makanan, pasir serta minuman sudah tersedia dengan lengkap. Dengan ini, dirinya tidak perlu merasa khawatir pada kucing peliharaannya itu.
__ADS_1
Ia mengambil posisi berjongkok dan meratapi Gilver yang terus memutar tubuhnya untuk mengambil posisi yang tepat untuk tidur, "sepertinya aku jarang memberimu makan, Hyunjae begitu menyukaimu sehingga dia selalu mengurusmu,"
"Baiklah! Selamat malam!" Ucapnya lalu berlari menaiki anak tangga dan tiba di kamarnya.
Sesaat ia memperhatikan jam yang berada di dinding, "hm... belum begitu malam, kalau begitu..." kini wajahnya terlihat sedikit senang.
Kedua kakinya berlari lalu menghempaskan dirinya di atas ranjang besar itu. Kedua boneka besar yang ada di sisi kanan kiri itu terjatuh dan menimpa dirinya.
Kedua tangannya menggenggam dan mengelus boneka jerapah itu, "astaga... ini adalah sesuatu yang sangat nyaman..." ujarnya dengan kedua pipi merahnya.
Karena malam belum berakhir, ia meraih ponselnya lalu mulai membuka satu persatu media sosial yang tertera. Kesibukannya di balik meja hampir tidak pernah bersantai dengan benda serba guna itu.
Tangannya terus mengusap layar lebar itu sehingga sebuah nama membuatnya menghentikan jarinya.
"Gyuu..."
Sebuah artikel yang membahas mengenai Putra Hojung, yaitu Gyuu. Lazel kembali memikirkan pria itu, dimana rasa sunyinya selalu ditemani oleh Gyuu.
"Egis adalah pria yang baik, namun hal itu berlaku sebelum aku mengenal dirinya yang sebenarnya," pengakuan itu terlontar begitu saja dan tidak ada yang mendengarnya selain dirinya sendiri. "Gyuu Hojung... setelah mengetahui identitas dirimu yang sebenarnya, apa kebaikanmu juga berubah? Apa Egis dan Gyuu memiliki kepribadian yang berbeda?"
"Kau adalah teman pertamaku, sebelum aku bertemu dengan Kara dan juga Vicy," kedua lengan bonekanya itu ia pegang hingga menutupi separuh wajahnya. "Aku tidak menyangka jika memiliki teman semenyenangkan ini." Ujarnya dengan wajah yang sedikit memerah.
Mungkin rasa suka Gyuu terhadap Lazel memanglah dari perasaan hatinya. Dengan sesuatu yang tidak di hadapi dengan serius, Lazel hanya tidak memperdulikannya dan menganggap Gyuu sebagai teman pertamanya.
"A-Aku mungkin bisa mengundang Gyuu saat bermain dengan Vicy dan juga Kara, kalau begitu!-" ucapannya terputus begitu saja disaat sebuah nontifikasi pengingat muncul di layar ponselnya, "b-besok aku harus menghadiri Personal Selling..." ujarnya dengan wajah yang seketika kehilangan harapan.
...◇• •◇...
Tatapannya tertuju pada Adiknya yang terus menundukkan wajahnya. Kedua tangannya terlipat seolah-olah meninggikan harga dirinya di hadapan Hyunjae.
"K-Kak aku ingin-"
"A-Aku ingin bertanya, apakah La-Lazel benar-benar mengkhawatirkanku?" Tanya Hyunjae dengan tatapan yang serius.
"Jadi... pada intinya kau tidak memeprcayaiku?" Hyunji bertanya balik dengan raut wajah yang hampa.
"B-Bukan begitu! Hanya saja-"
"Jujur saja... aku muak dengan hubungan kalian bagai buah busuk pemberian Nenek Sihir, setidaknya jangan libatkan diriku pada masalah kalian." Ia menyela lagi dengan wajah yang datar.
Mereka saat ini berada di kamar Hyunji untuk membicarakan semuanya tanpa terdengar oleh orang lain.
Saat ini rumah itu menerima tamu dadakan di malam hari. Siapa lagi kalau bukan Hyunjae. Bahkan Nezra hampir berpikir jika Lazel dan Hyunjae bertengkar sehingga menghusirnya dari rumah.
Sebelumnya...
"Kau bertengkar? Dihusir? Haha~" ujar Nezra dengan wajah yang konyol dan terus mengejek Putranya.
"Bukan begitu!"
Sekarang...
Hyunjae tidak menyangka jika Ibunya akan berpikir seperti itu. Mau bagaimana lagi, kedatangannya hampir larut malam pasti mempengaruhi pikiran negatif pada orang lain.
"Apa ini menyangkut Lazel?"
"Apa kau tahu... Gyuu memiliki menyatakan perasaannya pada Lazel." Ucap Hyunjae dengan kedua alisnya yang tertekuk.
"??!!"
"Awalnya aku tidak ingin mempermasalahkan hal ini, tapi..." seketika Hyunjae mengacak rambutnya sendiri. "Mengapa aku sangat ingin memisahkan kepala kuning itu dari tubuhnya?! Tidak hanya saja... dia membuatku kesal! Meskipun dia tidak memiliki masalah denganku, tapi! Rencana awalnya itu mungkin membuat gairan emosiku meningkat drastis!"
__ADS_1
"Gairah emosi? Naik pitam?" Hyunji sulit mengartikan ucapan Hyunjae.
"Aku harus melindungi Lazel dari pria busuk itu."
"Hei, apa kau baru saja menghina dirimu sendiri?" Pikir Hyunji.
"Sialan! Jika aku tahu lebih awal mungkin aku akan membunuh pria itu secara diam-diam."
Setelah mengucapkan banyak hal mengenai Gyuu yang memiliki niat baik, pada akhirnya pria beranting itu terdiam sehingga nafasnya terdengar menderu.
"Sudah selesai?" Tanya Hyunji sambil menikmati minuman yang ada di genggamannya.
Brak!
"Bagaimana pendapatmu?!" Tanya Hyunjae dengan kedua tangan yang menapak di atas meja dan menatap Hyunji dengan penuh keyakinan.
Jujur saja... jika tidak demi Adik Iparnya, mungkin minuman panas itu akan menumpahi wajah tampan Hyunjae.
"Haah~ sejujurnya hal ini hanya masalah tanpa harus ikut campur orang lain. Lagipula aku juga tidak peduli." Ujarnya dengan wajah yang tanpa ekspresi.
"Hei!"
"Kau tahu, aku adalah sosok yang seharusnya menikahi Lazel... bukan dirimu. Bahkan jika aku yang memang akan menikahinya, tapi Wonhae lah yang lebih tepat untuknya."
"K-Kau me-menyukai..." mendengarkan Kakaknya berbicara seperti itu membuatnya tak bisa berkata-kata. Lagipula ia baru mengetahui kenyataan itu disaat ini.
"Yup."
"S-Sekarang?"
"Mungkin saat ini aku masih menyukainya," jawabnya dengan menyeringai. "Tapi... aku tidak pernah meletakkan dendam padamu atau pada Ayah dan Ibu yang sudah mengubah rencananya."
Tanpa ia sadari tangannya terkepal begitu saja, "kenapa aku baru mendengarnya se-"
"Apa pedulimu?" Kini Hyunji mulai serius pada perbincangan mereka dan mulai mengorek sisi buruk Hyunjae dengan kalimatnya sendiri.
"Huh?"
"Kau bermain dengan seluruh wanita, bahkan tubuhmu itu hampir sepenuhnya milik puluhan bahkan ratusan wanita di luar sana,"
"Lalu apa yang kau permasalahkan hanya dengan rasa suka pada Lazel? Aku dan Gyuu bahkan tidak berniat untuk menyentuhnya atau membuat Lazel tidak nyaman,"
"Apa hakmu... untuk mengatur rasa suka kami padanya? Sedangkan kami bahkan Lazel sendiri tidak pernah mempermasalahkan hubunganmu dengan para wanitamu."
"..............."
"Hyunjae... jangan pernah menyamakan atau membuat kehendak orang lain sesuai keinginanmu."
...◇• •◇...
Hyunjae memiliki saudara yang tiga tahun lebih tua darinya. Yang ia ketahui, bahwa saudaranya itu memiliki sifat yang tenang dan tidak terlalu menonjol. Terkadang dirinya menjadi sosok penasihat di dalam keluarganya.
Jalan pemikiran yang dia miliki jauh lebih luas dibandinhkan siapapun. Sikap yang mereka miliki mempunyai beberapa persamaan dan juga perbedaan.
Sang Kakak yang selalu terlihat tenang, berkebalikan dengan Sang Adik yang selalu berusaha mencari masalah dalam setiap hal.
Hingga keduanya tumbuh dan masing-masing dari mereka memimpin sebuah perusahaan yang hebat.
Dan yang baru ia sadari... bahwa Hyunji tidak pernah bermain-main pada siapapun, terutama saat dirinya mulai berbicara serius.
"Perlu kau ketahui Hyunjae..." kini tatapan Hyunji membuat Hyunjae tak bisa mengalihkan pandangannya. "Tanpa sadar, kau itu sudah menyukai Lazel."
__ADS_1