
Untuk beberapa menit akhirnya mereka tiba di sebuah tempat yang terdapat dua buah Villa dalam satu lingkungan. Untuk fasilitas yang mewah seperti itu, sudah di tentukan bahwa apapun tersedia di dalamnya, seperti basement yang terletak di kedua bangunan mewah itu.
Setelah memarkirkan mobil, keduanya pun segera memasuki rumah. Cahaya terang yang diberikan oleh rumah itu begitu silau, sehingga memperlihatkan wajah-wajah kelelahan. Yang lebih parahnya adalah Lazel, karena wanita itu terus bekerja keras dari pagi hingga malam.
Kedua kakinya melangkah dengan pelan, sesaat mereka tiba di Ruangan Tengah, ia melemparkan seluruh barang di atas sana, lalu kembali berjalan sambil memegang keningnya.
"..............." Hyunjae yang hanya melihat begitu khawatir pada kondisi Lazel. Wanita pemarah itu sering kali mengeluarkan darah dari hidungnya, Hyunjae berpikir jika Lazel bekerja terlalu keras, sehingga tidak membiarkan tubuhnya beristirahat sejenak.
Ia pun mengikuti langkah Lazel menuju lantai dua. Niatnya untuk membahas hal tadi sepertinya bisa dilakukan di esok hari atau kapanpun. Kesehatan Lazel adalah prioritas, sedikit kesalahan saja, wanita itu bisa saja tidak sadarkan diri.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk."
Setelah mendengarnya, Hyunjae masuk begitu saja dan melihat Lazel yang duduk di ranjangnya dengan pakaian yang masih melekat pada tubuhnya.
Wajahnya tidak menoleh, hanya irisnya saja yang bergerak, "ada apa?" Tanya wanita itu yang masih terlihat kelelahan. Bagaimanapun juga, mereka tiba di rumah pukul satu malam.
"A-Aku akan tidur bersamamu." Ucap Hyunjae tiba-tiba di situasi yang kurang pas.
Untuk beberapa saat Lazel belum membuka suaranya atau memberikan jawaban pada Hyunjae.
"Terserah." Jawabnya dengan singkat.
"Pergilah mandi, aku akan kembali."
"Hm."
...◇• •◇...
Tanpa pelayan, sedikit sulit rasanya memberikan pengawasan pada Lazel. Ada beberapa hal yang membuatnya masih tidak bisa melakukan sembarangan pada Lazel.
Kembalinya Hyunjae ke kamarnya. Pria itu juga berniat untuk mandi, lalu hanya mengenakan piyama untuk tidur.
Di malam seperti ini... Lazel tidak mungkin berada di kamar mandi terlalu lama. Oleh karena itu ia langsung bergegas ke sana.
Cklek!
"Oh, kau datang." Ujar Lazel yang sedang merapikan ranjang untuk membagi bagiannya.
"Ya." Jawab Hyunjae dan memperhatikan Lazel yang mengenakan celana panjang biasa lalu dengan kaos polos berlengan panjang.
Sepertinya disaat-saat seperti ini Lazel sedikit lengah karena rasa lelahnya. Hal itu semakin membuatnya khawatir, jika wanita itu lelah sebelum Personal Selling, bisa saja semuanya tidak berjalan dengan baik.
Sebelum mendatangi kemar Lazel, Hyunjae sempat mengenakan celana panjang berwarna hitam. Bagian atasnya ia menggunakan piyama tipis yang tidak terikat, sehingga memperlihatkan tubuhnya.
Wanita berambut perak itu langsung merebahkan tubuhnya ke atas ranjang dalam posisi terlentang menatap langit-langit kamar.
Kedua matanya terpejam begitu saja saat kepalanya mulai menyentuh bantal.
"Cepat sekali dia tertidur..." batin Hyunjae yang baru saja menaiki ranjang dan melihat Lazel yang sudah tertidur lelap dengan posisi terlentang.
Bulu matanya tidak begitu panjang, namun terlihat cukup banyak dan tipis. Hidung mancungnya sangat terlihat dari posisinya saat ini.
"..............." Hyunjae meraih selimut lalu mengenakannya pada dirinya dan juga Lazel.
__ADS_1
Ia membuat posisinya sangat dekat dengan Lazel, lalu meninggikan kepalanya dari Lazel. Hyunjae pun tertidur dengan wajah yang begitu dekat dengan rambut perak Lazel, serta tangan kanannya menyebrang di dada Lazel, seperti memberikan pelukan kecil pada wanita tersebut.
Sebelum benar-benar memejamkan kedua matanya, pria berambut hitam itu sempat memperhatikan Lazel yang sudah tidak sadarkan diri lagi. Untuk beberapa saat, ia sangat menginginkan jarak seperti ini. Dapat melihat Lazel dalam kondisi tenang sedekat ini sedikit membuatnya tenang.
Berbeda halnya jika wanita itu dalam kondisi primanya. Mulut yang kasar, tindakan yang tidak sesuai, perkelahian yang bisa datang kapan saja, berawal dari saling melempar ejekan satu sama lain.
Mengingatnya kembali membuat lekukan di bibirnya bergerak menyeringai.
...◇• •◇...
Tubuh tingginya berdiri pada sebuah cermin yang berada di samping ranjang. Cermin itu sebesar ukuran lemari pakaian, yang mungkin memiliki besar dan tinggi yang jauh berbeda dengan dirinya.
Celana berwarna biru tua melengkapi bawahnya, serta kedua tangan memperbaiki kancing kemeja putih yang ia kenakan. Sebelum itu, ia merapikan rambut panjangnya lalu mengikat sebagiannya ke belakang dan menutupinya dengan pita kupu-kupu berwarna biru tua dengan beberapa pernak pernik perak di kedua sayapnya.
Kedua iris merah mudanya memperhatikan dengan jeli mengenai dirinya sendiri di balik cermin tersebut.
Sedangkan pria dengan posisi tidur telungkup itu baru saja membuka kedua matanya dan perlahan menemukan siapa yang pertama kali dia lihat. Dan orang itu adalah Lazel yang kini tengah bersiap untuk pergi ke kantor.
"Kau sudah bangun? Secepat ini?" Ujar Hyunjae yang sama sekali tidak bergerak dari posisinya, ia hanya membuka kedua matanya saat berbicara dengan Lazel.
Tatapannya serta tubuhnya itu masih berhadapan dengan cermin, "oh kau sudah bangun rupanya." Ucap Lazel dengan kalimat yang hampir sama dengan Hyunjae.
"Haah~ kau ini." Keluhnya.
"Sarapanmu ada di meja makan, sebelum mandi setidaknya makanlah terlebih dahulu sebelum makanannya dingin." Ujar Lazel yang berjalan ke arah lemari dan meraih jas luarannya yang berwarna biru tua.
"K-Kau memasak?!" Tanya Hyunjae dengan raut wajahnya yang panik.
Lazel pun menoleh ke arah Hyunjae dan menatapnya kesal, "tidak bodoh! Apa kau ingin aku meledakkan rumah?!" Balasnya dengan nada yang lebih tinggi.
Hyunjae memperhatikan wanita itu dengan kedua irisnya sendiri. Ia dapat menemukan tubuh terawat Lazel, belum lagi tinggi yang dia punya sepertinya jarang ditemukan oleh wanita manapun.
"Hm... setelah kuperhatikan lagi, kau itu cantik juga." Ucap Hyunjae tiba-tiba sambil merenggangkan tubuhnya sebelum mengambil posisi duduk.
Lazel seketika tersenyum lalu menghadapkan tubuhnya yang sudah rapi ke arah Hyunjae.
"Benarkah~ aku sangat senang mendengarnya~" ujar Lazel yang tersenyum lebar di hadapannya. Kedua tatapannya juga terlihat sipit untuk menyesuaikan ekspresinya pada kalimatnya.
Hyunjae menanggapinya dengan wajah datarnya. Ia pun beranjak dari ranjang itu dan mulai melangkahkan kakinya ke arah Lazel.
"Diam disitu." Ucapnya.
"????"
Saat tiba di dekatnya ia memegang kedua pundak Lazel untuk sedikit bergeser, lalu ia berdiri di samping wanita itu dan menghadap cermin.
"Hm?"
"Tinggimu lumayan juga, kau bisa menyamai tinggi pundakku," ujar Hyunjae yang berdiri di samping Lazel dan menggunakan tangan kanannya untuk membandingkan tingginya dan juga tinggi Lazel. "Sejauh ini... para wanita di luar sana hanya sampai pada dadaku atau ulu hati."
"Ck! Pendek sekali." Tutur Lazel lalu berbalik dan menyiapkan beberapa barangnya, terutama ponsel yang entah tergeletak dimana. Karena sebelumnya ia tidak melihat atau memegang ponselnya.
Hyunjae masih berdiri di depan cermin dan memperhatikan wajahnya sendiri serta tubuh luar biasanya di balik piyama yang ia kenakan.
Selagi Lazel mencari barang yang menurutnya penting, Hyunjae sepertinya sedang menikmati ketampanan yang dia miliki. Karena saat ini tangan kanannya saat ini mengusap rambutnya ke belakang dan memperlihatkan wajahnya yang terlihat sangar dan memilili rahang yang kuat.
__ADS_1
Bahkan ia melepaskan sendiri piyamanya dan menjatuhkannya ke atas lantai.
"Sudah lama aku tidak berolahraga," batinnya. "Lazel."
"Apa?"
"Lihat kesini."
"Kau terus menggangguku! Bisakah-" sepertinya sebuah batu besar telah menyumbat lehernya. "!!!!" Bahkan ia tidak sempat berkedip saat melihatnya.
"Hei, bagaimana pendapatmu mengenai tubuhku?"
"Sangat sexy!" Ucapnya dalam hati, "luar biasa... sepertinya kau sangat pandai dalam merawat tubuh." Ujarnya dengan berusaha mehanan detak jantungnya agar tidak terdengar oleh Hyunjae.
Saat melihatnya kembali selalu membuatnya meneguk ludah. Tubuh Hyunjae sangat besar, bahkan lehernya terlihat begitu besar, belum lagi tubuh besarnya yang sempurna.
Pria itu kembali menolehkan tubuhnya ke hadapan cermin. Lazel lebih terkejut lagi saat melihat punggung besarnya.
Akan tetapi... sebuah rasa kagumnya itu menghilang begitu saja, karen sebuah fakta menghujani dirinya.
"Aku harus pergi." Ujar Lazel yang sudah menemukan ponselnya.
"Aku akan mengantarmu."
"Tidak, aku akan membawa kendaraan sendiri."
Saat ini Lazel sudah siap untuk pergi meninggalkan ruangannya. Namun saat tangannya mulai menggenggam knop pintu, sebuah tangan besar langsung berhadapan dengannya sehingga membuatnya menahan pintu agar tidak terbuka.
"Apa yang kau lakukan? Tolong jangan memperlambat diriku lagi." Ucap Lazel yang serius dengan perkataan maupun wajahnya.
Namun setelah mengucapkannya, Hyunjae sama sekali tidak membuat tangannya bergerak dari sana. Hal itu membuat Lazel sedikit kesal, "hei, apa kau de-"
Sepertinya ia berbalik disaat-saat yang tidak sesuai. Sepertinya ia berbalik cukup sinkron dengan posisi awalnya. Jika berubah sedikit saja, mungkin bibir mereka akan saling bertemu.
Jujur saja... ini membuat Lazel sangat terkejut. Namun kenyataan kembali membuatnya terlihat biasa saja.
"Apa ini salah satu trik yang kau gunakan pada selirmu?" Tanya Lazel yang sama sekali tidak berpengaruh pada tindakan Hyunjae.
"Bisakah kau tidak membawa mereka dalam ma-"
"Apa? Tidak membawa mereka? Kau pikir aku akan membiarkanmu menyentuhku?" Kini Lazel mulai mengeluarkan kalimat tajamnya, "dengar, aku bahkan tidak berniat untuk menyentuh seorang pria yang sudah mendapatkan cap dari ratusan wanita di luar sana." Sambungnya tanpa menyaring perkataannya terlebih dahulu.
Jujur saja, mendengar Lazel berkata seperti itu membuatnya sedikit merasa sakit hati. Namun apa yang dikatakannya juga benar, tidak mungkin Lazel yang memiliki harga diri yang tinggi bisa mendapatkan sentuhan dari orang sembarangan.
Wanita yang tidak terpengaruh dengan godaannya, yaitu Lazel. Apapun yang dia lakukan hanya mendapatkan cibiran keras dari Lazel.
Lazel melihat kedua tatapan Hyunjae yang menatap dirinya, bersamaan dengan nafas yang begitu terasa di wajahnya.
"Sudah selesai? Kalau begitu biarkan aku pe-"
"Jangan lupa, untuk perkataanmu tadi malam." Sela Hyunjae yang menundukkan wajahnya sehingga menghilangkan tatapannya pada wanita itu.
"??!!" Kini sesuatu yang harus dia hindari sepertinya tidak dapat tertolak, "a-aku-eh tidak tidak, bagaimana jika aku memenuhinya saat kembali dari kantor?" Kini Lazel terlihat sangat jelas bahwa dirinya mulai merasa gugup dan juga takut.
"Hm~" pria itu menyeringai lalu menggunakan kedua tangannya untuk mengangkat tubuh Lazel sehingga sangat dekat dengan tubuhnya yang saat ini tidak berbusana.
__ADS_1
Kini Lazel tidak dapat bergerak, "a-apa-"
"Lazel, kau boleh mengatakan hal-hal buruk padaku, tapi..." di balik helaian rambut hitamnya, Hyunjae memperlihatkan tatapan serta ekspresi wajah yang sama sekali belum pernah ia tunjukkan pada siapapun. "Kau mustahil untuk lepas dari ucapanmu sendiri." Seringainya dan menatap Lazel yang wajahnya lebih tinggi darinya.