
Keluarganya memang terlihat menyedihkan di mata orang lain. Namun, dia sendiri menilai bahwa mereka sangat luar biasa. Tidak pernah tahu dari mana sisi buruk itu datang, ia berusaha tetap optimis dalam hal apapun. Untuk keseharian bisa menikmati waktu bersama, tidak ada kalimat kekurangan dalam keluarga yang dia miliki.
Tetapi... semua itu tidak ada apa-apanya di mata orang yang memiliki segalanya.
Memiliki rumah yang dapat melindungi keluarganya dari panas dan hujan sudah lebih dari cukup. Apa yang menjadi makanan mereka sudah lebih dari cukup, meskipun tidak semewah yang lain, setidaknya kekurangan mereka masih bisa tertutupi dengan apa adanya.
Ujung-ujungnnya tetap percuma, bahkan dirinya sendiri tidak tahu dimana letak keburukam dari keluarganya.
Mereka selalu mengatakan hal yang sama di setiap harinya hanya untuk merendahkan seseorang. Hinaan demi hinaan terus terjadi tanpa perlawanan.
Hingga pada suatu saat ia lelah dengan pemandangan memuakkan itu. Dengan tegas ia membuat jalan hidupnya sendiri, meskipun tumbalnya adalah kebahagiannya dalam berumah tangga.
Menikah dengan sosok kaya raya, mengubah gaya hidup, serta menyombongkan semuanya yang dia miliki. Semua hal itu hanya berlandasan tentang balas dendam.
...◇• •◇...
Dan sekarang... dirinya yang hanya memiliki rasa dendam dikhianati oleh tindakan Pamannya. Sejauh ini hanya tertuju pada balas dendam, tak lebih dari itu. Tapi, siapa sangka Pamannya akan bertindak sehingga mampu untuk menghilanhkan nyawa seseorang hanya karena rasa tak suka pada dirinya dan juga pada keluarga kecilnya.
Duak!
"!!!!" Semua orang terkejut dengan tindakan Hyunjae.
"Bajing*n! Aku tidak akan mengampunimu dasar sialan!" Ujar Hyunjae dengan kedua kepalan yang baru saja menghantam kaca pembatas tersebut.
"Memangnya apa yang ku lakukan itu salah? Setidaknya memang itulah yang dilakukan para orang kaya lainnya,"
"Apapun yang mereka inginkan, apapun yang mereka miliki, disaat ada seorang pengemis di hadapan mereka, pengemis itu tak lain hanya digunakan sebagai pengganggu pemandangan,"
"Kepala mereka terlalu tinggi untuk menatap ke bawah. Sekarang, apa perkataanku itu salah?"
Sombong memang sudah menjadi hirearki bagi orang kaya. Tidak semua yang memiliki sifat seperti itu, namun mereka tetap menampakkan kemewahan yang dimiliki tanpa sadar.
Meja yang menyatu dengan sebuah kaca pembatas, Lazel meneteskan air matanya. Adam yang awalnya tidak melakukan apapun kini mulai bergerak.
"L-Lazel..."
"Aku sama sekali tidak memahami bagaimana jalan pikir Paman. Singkirkan persoalan kaya dan miskin, yang ku tanyakan adalah mengapa Paman melibatkan Wonhae dalam masalah ini? Jika kalian membenci diriku yang selalu memberontak maka kalian bisa menghabisiku secara langsung,"
"Di posisi seperti ini aku mulai menyadari bahwa diriku layaknya ancaman."
Tangisnya mulai menjadi, Hyunjae yang berdiri di belakangnya berusaha menenangkan wanita tersebut.
"Bayangkan saja jika Paman berhasil membunuh Hyunjae. Lalu aku akan menikah lagi dengan orang lain, apa Paman akan melakukan hal yang sama?"
"Tentu saja bukan? Karena aku adalah ancaman bagi kalian,"
"Tapi... jika Paman menghabisiku dari awal, mungkin Paman tidak perlu berbuat lebih jauh lagi."
Yang dikatakan Lazel sangat benar, bahkan ucapannya itu dapat menampar seseorang. Jika terus berlanjut seperti ini, maka Lazel hidup sebagai ancaman. Dimana dirinya berada, dan dimana dirinya akan hidup, ia hanya membuat orang-orang di sekitarnya dalam bahaya.
"Apa Paman tahu..." Lazel mengusap air matanya dan wajahnya dengan pelan. "Sejahat apapun dirimu, sebenci apapun aku padamu, aku sama sekali tidak pernah memiliki pemikiran bahwa kau adalah seorang pembunuh."
"!!!!"
"Ayo Hyunjae." Lazel mendapat bantuan dari Hyunaje, "Ayah... atau haruskah ku panggil dengan Tuan Adam?"
Lazel menudukkan wajahnya, "terima kasih." Ujarnya dengan sopan.
...◇• •◇...
"Kau baik-baik saja?" Tanya Hyunjae yang melihat kondisi Lazel yang semakin memburuk karena kejadian hari ini.
Wanita itu juga meluapkan segala isi pemikiran hatinya dan menumpahkan segalanya sehingga menjadi tidak terkendali. Meskipun permasalahan mereka bisa dibilang selesai, namun Lazel terus menangis.
Hyunjae tahu jika hal seperti ini sangat sulit untuk diterima. Apalagi saat ini hanya tersisa Lazel yang paling tertua di keluarganya. Selain menjadi seorang Istri, dia juga memiliki seorang Adik yang harus tetap mendapatkan perhatian darinya.
"Hyunjae, bisakah kita ke Rumah Sakit terlebih dahulu?" Ujar Lazel.
__ADS_1
"A-Ada apa? Apa tubuhmu sakit?"
"Tidak, aku hanya ingin memeriksa tubuhku lebih lanjut."
"Baiklah."
...◇• •◇...
Di dalam sebuah lorong nuansa putih, ia menunggu seorang diri sambil memikirkan posisi Lazel saat ini.
Karena belum mendapatkan atau mendengarkan balasan apapun dari Paman Lazel. Hyunjae memutuskan untuk meminta tolong pada Ayahnya untuk bertanya lebih lanjut mengenai tragedi yang menimpa kedua orang tua Lazel dan hal lainnya.
Di sisi lain, seorang Dokter ahli spesialis kandungan dan juga pengobatan mengenai krangka manusia sedang memeriksa kondisi Lazel.
"Sejauh ini tidak ada yang aneh atau apapun di dalam tubuh Anda. Seperti yang sudah diberitahukan sebelumnya, untuk ke depannya ada kemungkinan besar jika Anda akan mengalami kesulitan hamil." Jelas Dokter tersebut.
"Kira-kira berapa lama aku akan bisa bergerak seperti biasa?" Tanya Lazel.
"H-Huh? Y-Yah... sepertinya hanya satu minggu sudah cu-"
"Terima kasih." Sela Lazel yang langsung beranjak dari duduknya.
"T-Tapi yang ku katakan hanya kemungkinan saja, jadi jangan terlalu memaksakan diri." Ujar Dokter itu dengan sedikit khawatir.
"Baik, terima kasih."
"..............." Dokter itu memasang wajah kebingungan. "Dia begitu bersemangat untuk sembuh, tapi... mengapa sepertinya ada sesuatu yang aneh dari wajahnya?"
...◇• •◇...
Hyunjae memegang kedua pundak Lazel dan membantunya menuntun ke kamar. Hyunjae saat ini ingin fokus pada kesembuhan Lazel.
"Apa kau membutuhkan sesuatu?" Tanya Hyunjae setelah membantu Lazel menyantaikan dirinya di atas ranjang.
"Tidak." Gelengnya.
"K-Kalau begitu apa aku boleh disini bersamamu?"
Rambut peraknya terurai panjang dengan sebuah pita kupu-kupu yang selalu menghias rambutnya.
"Bisakah kau berhenti menatapku?"
"Tidak bisa."
Hyunjae lebih memilih untuk duduk di bawah dan menatap Lazel dari sana.
"Aku mencintaimu, Lazel."
"Aku tahu."
"Tapi aku mengungkapkannya di waktu yang kurang tepat, jadi aku ingin mengulanginya lagi."
Lazel tidak tahu, apakah kalimat itu merupakan hal yang serius atau hanya sebuah candaan saja baginya. Yang ingin dia lakukan hanya satu, ia tidak peduli terhadap omongan orang lain mengenai dirinya, entah itu mengenai pendapat ataupun pengungkapan.
Karena... Lazel merasa jika semuanya telah selesai, ia tidak memiliki urusan apapun lagi pada keluarga kaya itu.
"Kau tidak mempercayaiku bukan?" Tanya Hyunjae dengan wajah yang tertekuk menyentuh ranjang.
"..............."
"Aku tidak tahu mulai kapan aku merasakannya, tapi... aku cemburu saat kau bersama dengan Gyuu brengs*k itu,"
"Melihatmu dalam keadaan seperti itu hampir membuatku putus asa,"
"Hei Lazel," kini tangannya mulai meraih wajah itu. "Apa kau membenciku?"
Pria itu menatapnya dengan penuh kasih sayang dan juga kesedihan di waktu yang bersamaan.
__ADS_1
"Tidak." Jawabnya langsung.
"Aku tidak tahu bagaimana perasaanmu mengenai diriku, tapi... aku senang mendengarnya." Ucap Hyunjae.
Mendapatkan jawaban seperti itu sudah membuatnya sedikit senang, Hyunjae beranjak dari duduknya dan berjalan menuju lemari. Ia melepaskan pakaian atasnya lalu beralih ke atas ranjang.
"????"
"Aku mengantuk." Ujar Hyunjae dengan mulut yang terbuka lebar.
Pria bertubuh besar itu mengambil posisi tidur menghadap Lazel dan menghimpitkan wajahnya pada tubuh Lazel. Hyunjae tahu jika saat ini kondisi Lazel masih belum membaik. Jadi ia memutuskan untuk tidak melakukan apapun pada wanita itu.
"Lazel." Panggilnya.
"Kupikir kau sudah tertidur."
"Aku akan mengulang semuanya."
"..............." Lazel menolehkan wajahnya pada Hyunjae.
"Aku tidak akan membuat kesalahan yang sama lagi. Oleh karena itu, tetaplah disini."
Lazel tidak memberikan kalimat apapun sebagai jawaban. Tangan kirinya bergerak secara perlahan dan beralih pada kepala Hyunjae lalu mengelusnya pelan.
"Tidurlah." Ujarnya dengan nada rendah.
...◇• •◇...
"Nona? Apa Anda membutuhkan sesuatu?" Tanya Yana yang melihat Lazel menuruni anak tangga secara perlahan.
"Tidak, aku hanya ingin berjalan sebentar."
Yana meninggalkan pekerjaannya dan berjalan ke hadapan Lazel, "Saya akan menemani Anda."
"Tidak per-"
"Maaf menyela, untuk saat ini Saya mendengarkan perintah dari Tuan Hyunjae." Selanya
"Baiklah."
Lazel tidak pernah tahu jika Hyunjae memiliki sisi yang tegas, karena apa yang pernah dia lihat, pria itu selalu menjengkelkan dan selalu membuat rusuh. Sehingga menimbulkan pertengkaran di antara mereka berdua.
Hyunjae tertidur di sore hari dan entah kapan dia akan terbangun. Saat ini Lazel sedang bersama Yana menuju Rumah Kaca yang terletak di samping Villa.
"Tenang saja Nona, Saya sudah mengurus semuanya yang ada di dalam Rumah Kaca ini." Ucap Yana.
"Terima kasih."
"..............." Yana memperhatikan Nonanya dari belakang. Ia sedikit berpendapat jika Lazel memiliki sedikit perubahan, entah itu dari segi tutur kalimatnya atau perbuatannya, namun Yana tahu betul apa saja yang menjadi perubahan tersebut.
Lazel berjalan dengan baju panjangnya yang berwarna biru langit. Rambut perak panjangnya menghiasi dirinya yang terlihat hampa, pita kupu-kupu selalu ia kenakan di manapun dirinya berada.
"Setelah apa yang ku perhatikan, sepertinya Tuan mulai menyadari kesalahannya dan mulai memperhatikan Nona," batin Yana yang turut senang pada perubahan tersebut. "Hm?"
Yana melihat Lazel yang mendadak berhenti sembari memegang perutnya.
Yana yang merupakan penjaga Lazel langsung berjalan mendekati wanita tersebut dengan wajah panik, "a-ada apa Nona?! Apa perut Anda sakit?!" Tanya Yana dengan heboh.
"Aku tidak tahu bagaimana rasanya mengandung," ucap Lazel dengan wajah yang cukup tertekan. "Ataupun rasanya melahirkan."
"!!!!" Yana terkejut sekaligus merasa bersalah, "a-apa Anda tahu, Dokter hanya mengatakan jika Anda akan kesulitan untuk hamil bukan tidak bisa-"
"Aku tidak peduli," sela Lazel. "Aku juga tidak menginginkannya." Sambungnya.
Lazel menganggap bahwa semua masalah yang menimpa dirinya merupakan hukuman atas tindakannya selama ini. Lagipula, ia memang tidak pernah berpikir bahwa Hyunjae akan benar-benar mencintainya.
Sebelumnya Lazel pernah membulatkan tekadnya, bahwa... kalimat pria tidak lain hanyalah omong kosong.
__ADS_1
Untuk saat ini, dirinya lebih fokus pada penyembuhan pada kedua kakinya dan juga luka-luka di tubuhnya dan juga di wajahnya.
Setelah itu... semuanya mungkin usai di waktu yang salah.