Lost Feeling

Lost Feeling
Wounds That Are Opening Again


__ADS_3

Dari sekian banyaknya masalah, perdebatan dan hal lainnya. Saat ini lebih parah dan jauh lebih mencekam dibandingkan sebelumnya. Untuk pertama kalinya bagi mereka berdua berdebat sehingga membuat salah satu dari mereka mengangkat tangan.


Cklek!


"Aku pulaaang!"


"..............."


Setibanya ia di rumah, perasaan serta aura keburukan memenuhi rumah itu, "a-ada apa dengan suasana mengerikan ini?" Ia menemukan Lazel dan Hyunjae yang saling berdiri berhadapan.


"Ian, kau sudah kembali? Bukankah kau baru saja mengirimi ku pesan untuk menjemputmu?" Lazel melangkahkan kakinya menuju Ian.


"Oh, Kim membawa kendaraan, jadi aku menumpang dengannya," jawab Ian dengan santai. "Ngomong-ngomong kau tidak marah lagi kan?"


Kedua tangannya terlipat ke depan dan memasang wajah malas, "huft..." seharusnya pukulanku itu lebih kuat. "Tapi tenanglah, aku tidak begitu mengingatnya."


Kedatangan Ian mencairkan suasana, tapi dengan mudahnya Lazel membuat alur lain sehingga Adiknya sama sekali tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


Sedangkan Hyunjae hanya bisa berdiri dan mengamati serta memperhatikan ekspresi Lazel yang seratus persen berubah saat melihat kedatangan Ian.


"Duduklah, jika kau lapar di dapur ada makanan untukmu. Aku akan pergi istirahat sebentar." Ujar Lazel sambil menepuk pundak Adiknya.


"Oke!"


...◇• •◇...


Setelah pertengkaran tadi, mereka sama sekali tidak melakukan komunikasi. Lazel terus mengurung dirinya di dalam kamar, sedangkan Hyunjae berada di Ruang Tengah bersama dengan Ian.


"Ngomong-ngomong ada apa dengan wajahmu Kak?" Tanya Ian yang mulai menyadari sebuah lebam pada pipi kiri Hyunjae. Lebih tepatnya ia menyadari dari tadi.


"Wajahmu juga sama." Ujar Hyunjae.


"Ah~ aku mendapatkannya dari Kak Lazel," jawab Ian. "Dia begitu terkejut saat mendengarku mengalahkan lawan dengan cara mematahkan salah satu anggota tubuh mereka."


"Kau ini mengerikan, sama halnya dengan Kakakmu."


"Benarkah?" Ian memalingkan wajahnya dan menatapi wajah Hyunjae, "aku sangat senang dengan pujian itu, tapi... dibandingkan diriku ini, Kak Lazel masih jauh lebih kuat dibandingkan diriku." Sambungnya.


"Jadi... mengapa wajahmu seperti itu?" Ian kembali bertanya.


Tatapannya lurus seperti sedang memikirkan sesuatu," aku bertengkar dengan Lazel." Jawabnya.


"Huh? Mengapa bisa?" Ekspresi yang Ian tunjukkan terkejut dan juga tidak.


"Yahh~ dalam Rumah Tangga memang seperti ini." Hyunjae mencoba meyakinkan Ian dengan mengungkapkan kenyataan yang terjadi tanpa memberitahu sebuah alasan aslinya.


"Biarkan aku menebak." Sahut Ian yang meletakkan makanannya kembali.


"????"


"Dia menang bukan?" Ujarnya dengan yakin, "sudah ku duga, tidak ada seseorang yang berhasil melawan dirinya setelah memelayangkan tangannya pada seseorang."


"Kenapa kau bisa tahu?" Kini Hyunjae mulai penasaran dengan apa yang diketahui Ian mengenai kepribadian Lazel.


"Haha~ tentu saja aku tahu," kini Ian mulai menceritakan sedikit mengenai fakta mengenai Kakak Kandungnya. "Kak Lazel tidak pernah mengangkat tangannya pada seseorang yang memang tidak memiliki masalah dengannya. Dia tidak pernah membandingkan siapapun lawanya, entah orang itu perempuan ataupun pria,"


"Kak Lazel cenderung menurut, diam dan terkadang terlihat datar serta dingin. Itu artinya dia mencoba untuk mengendalikan emosinya,"


"Tetapi... saat seseorang berhasil menarik emosinya dia pasti akan melakukan kekerasan, lalu keluarlah kalimat yang bahkan tidak bisa ada yang menghindari ucapannya."


Kini Hyunjae mencoba untuk berpikir kembali tentang apa yang terjadi pada masalah sebelumnya.


"Haha! Saat aku di hajar, Kak Lazel terus menceramahiku dengan omelan yang panjang!"


Hyunjae memperhatikan Ian yang masih bisa tertawa dan senang pada Kakaknya meskipun dia telah kasar pada Adiknya.

__ADS_1


Sedangkan dirinya langsung terambang emosi sehingga ingin melakukan hal yang sama pada Lazel, tapi ternyata ada seseorang yang berhasil menenangkan wanita itu. Lagipula... ungkapan terakhir disaat mereka bertengkar sangat tepat sasaran.


Sesuai dengan penjelasan yang diberikan Ian. Wanita beriris pink itu tidak pernah memandang siapapun lawannya.


"Minta maaflah." Ujar Ian.


"Huh?"


"Setelah aku mendapatkan pukulan telak darinya, aku langsung meminta maaf padanya."


"Tapi..."


"Dia memang akan mengomeli Kakak dengan sangat panjang, tapi apa yang dia lakukan itu demi kebaikanmu juga."


Perkataan Ian membuat dirinya berpikir berkali-kali. Mungkin saja apa yang dia ucapankan pada Lazel sangat keliru sehingga membuat wanita itu terambang emosi.


Drrt!


"Kak, ponselmu berdering."


...◇• •◇...


Di lain sisi, seorang wanita dengan dress ungu itu tengah tertidur pulas di atas ranjang. Kedua matanya terpejam namun tidak terlihat damai.


Sehingga sebuah mimpi buruk mendatangi dirinya. Untuk sesaat dirinya gelisah dan terus menggumam entah mengucapkan apa.


"!!!!" Sehingga ia terbangun dan terduduk begitu saja serta seluruh tubuhnya dipenuhi dengan keringat dingin.


Nafasnya tersenggal-senggal dan kedua matanya membulat memperhatikan sekitar, "haahh~" ia mengusap wajahnnya dan memegang dadanya sendiri.


Tangannya mulai merogoh sebuah meja yang berdekatan dengan ranjang, "ponsel-"


Kletak!


"Huh?!" Ponsel yang ia letakkan di atas meja terjatuh dan membuat dirinya sangat terkejut.


Rambut peraknya tergerai panjang, iris matanya yang terus begejolak, serta ekspresi yang merasa ketakutan.


Ia mencoba untuk turun dari ranjang dan meraih ponselnya, namun luka yang ia dapat dari Hyunjae kembali terbuka karena tergores sebuah benda yang runcing, dan kembali membuat pergelangan tangannya mengeluarkan darah.


Merasa tak peduli, tubuhnya tergeletak begitu saja di lantai dan meraih ponselnya.


"Huh? M-Mati?" Ponsel yang ada di genggamannya sama sekali tidak mengeluarkan cahaya, karena hampir satu hari ponselnya belum mengisi daya.


Wajahnya menoleh pada pintu kamar, "Ian! Aku harus mencari Ian!"


...◇• •◇...


Mimpi hanyalah sebuah gambaran yang tidak pernah menjadi nyata. Terkadang seseorang melihat diri orang lain yang sudah tidak berada di dunia, namun di dalam mimpi itu kau akan percaya jika orang tersebut masih bernafas.


Tetapi... mimpi bisa dikaitkan dengan sebuah pertanda atau sebuah hubungan pada dunia nyata.


Di sebuah ruangan yang besar, beserta dengan lampu gantung yang menghiasi langit-langit ruangan.


Selama ini mereka tidak pernah mendapatkan panggilan dari keluarga mereka sendiri semenjak pergi menuju desa. Dan kini yang mereka pikirkan pun terjadi, setelah sekian lamanya, mereka mendapatkan panggilan.


Dan yang menerima panggilan itu adalah Hyunjae. Pada saat sebelumnya ponselnya berdering dan tertulis nama Ibunya di layar tersebut.


Hyunjae menutup mulutnya dengan wajah terkejut, kedua matanya terus bergeming, bahkan satu patah kata saja tidak sanggup untuk keluar.


Sedangkan Ian... anak itu terdiam dan tidak menunjukkan apapun selain nafas yang terlihat sesak dan juga air mata yang perlahan menetes.


Saat Hyunjae melakukan panggilan dengan Nezra, ia menggunakan pengeras suara sehingga Ian dapat mendengarnya juga. Awalnya yang mereka ucapkan hanyalah kesombongan karena berlibur di tempat unik atau memamerkan sesuatu yang mereka dapat.


Akan tetapi... apa yang mereka terima sangat jauh berbeda dengan apa yang mereka bayangkan.

__ADS_1


Ia berpaling pada Adik Iparnya, "I-Ian..." Hyunjae mencoba untuk menenangkan Ian terlebih dahulu, karena pria itu juga mendengar segalanya apa yang dikatakan oleh Nezra.


"A-Ayah... Ib...u." kini air matanya semakin deras, wajah yang serupa dengan seorang wanita itu tengah menangis dan isakannya semakin terdengar.


Hyunjae sama sekali tidak tahu harus berbuat apa.


Hyunjae memegang kedua pundak Ian dengan erat dan berusaha membuatnya tenang, namun Ian semakin terlihat histeris, "Ayah... Ibu... mereka-"


"Ada apa dengan mereka?" Tanya Lazel yang berada di tengah-tengah anak tangga.


"!!!!" Kedua pria itu terkejut jika masalah besar mereka baru dimulai.


Kedua kaki tanpa alas itu mulai melangkahkan kakinya dan terus bertanya pada kedua pria itu.


"Hei, mengapa kalian diam?" Suaranya semakin parau.


Keduanya sama-sama tidak mengetahui alasan Lazel yang tiba-tiba turun dan bertanya mengenai Lena dan Gion.


"K-Kak, mengapa kau menangis?" Kini Ian lebih mengkhawatirkan Kakaknya yang turun sambil meneteskan air mata.


Wanita dengan dress ungu itu melangkah ke depan secara perlahan dan menatap Adiknya, "Ian... katakan padaku, ada apa dengan Ayah dan Ibu!" Kini ia mulai berteriak sambil menangis.


Mendengar dan melihat Lazel yang kembali bersedih seperti waktu itu membuat Ian membuka luka lamanya, "Kak... aku tidak tahu harus mulai dari mana." Lirih Ian yang kembali menangis dan membuat suaranya semakin serak.


Ia memutuskan untuk memeluk Kakaknya dan bersiap untuk mendengar tangisan Kakaknya lebih dekat. Bahkan Lazel sama sekali tidak mengetahui apa yang terjadi pada dirinya, namun setelah mimpi itu datang, perasaannya sama seperti sepuluh tahun yang lalu.


"Ayah! Ibu! Mereka..."


...◇• •◇...


Seperti di hantam tombak panas dan kuat, sanggahan dalam hidupnya mulai goyah lagi dan lagi. Kini takdir berbuat semaunya lagi sehingga membuat dirinya kembali kehilangan.


"Apa... apa yang kau katakan?" Ia mencoba melepaskan diri dari Ian, "HEI IAN! APA YANG KAU KATAKAN?!" Wanita itu kembali menggila dan memaksakan Ian agar melepaskan dirinya.


Untuk pertama kalinya juga bagi Hyunjae melihat keadaan Lazel yang seperti ini.


Amukan Lazel lebih kuat dibandingkan kekuatan Ian untuk menahan Kakaknya.


"Apaaa! Apa yang kau katakan! Ayah! Ibu! Mereke tidak mungkin meninggalkanku!" Lazel menangis begitu kuat sambil bertanya mengenai kondisi Ayah dan Ibunya.


Kedua tangannya menggenggam erat kepalanya dan mulai tersungkur ke bawah, "MENGAPAAA! MENGAPA HAL INI SELALU TERJADI PADAKU!"


Hyunjae seketika turun tangan dan mendekap wanita itu, "Lazel... kumohon tenanglah." Di atas lantai yang dingin, ia memeluk sebuah permata yang tengah menangis.


"LAGI DAN LAGI! UNTUK KEDUA KALINYA AKU MERASAKAN HAL YANG SAMA!"


Wajahnya mengadah ke atas dan menatap Hyunjae yang sedang memeluknya, "katakan Hyunjae, apakah aku adalah seseorang yang memang tidak seharusnya hidup? Aku tidak memiliki kesamaan dengan mereka, apakah itu menjadi alasan takdir tidak menyukaiku?"


"Hei! Katakan padaku! Mengapa kau diam saja!"


Tangisannya benar-benar pecah. Di dalam satu rumah besar itu hanya terdengar rintihan perihnya dan juga teriakannya.


Hatinya terasa perih... dulu seseorang yang sangat ia cintai meninggalkannya begitu saja tanpa mengucapkan apapun. Kini kembali terjadi pada kedua orang tuanya.


Hatinya terasa perih dan begitu sakit. Luka lama yang masih membekas kini dua kali lipat lebih terasa.


Ian berusaha menahan tangisnya namun tidak bisa, bahkan ia tidak mampu mengendalikan Kakaknya sendiri.


"Lazel?"


"Lazel?!"


"Lazel!" Ia mencoba membangunkan wanita perak itu yang berada di dalam pelukannya.


Pelukannya terasa ringan, karena wanita itu kehilangan kesadarannya dalam keadaan yang sangat berantakan.

__ADS_1


Sebuah tragedi kecelakaan besar di sebuah desa, yang membuat dua orang tewas di tempat.


__ADS_2