Lost Feeling

Lost Feeling
"You Like Me?"


__ADS_3

Perkataan yang manis berunjung sakit. Layaknya anak panah yang menembus jantung.


Alisnya terlihat datar, "akan lebih baiknya kau tidak meletakkan rasa khawatirmu itu padaku." Sahut Lazel dengan kedua sorotnya yang berkilau.


"Jahat~ padahal aku berusaha peduli." Ujar Hyunjae yang kini sudah meratakan tubuhnya di atas sofa.


"Peduli? Aku tidak membutuhkan kalimat serta perasaan itu. Pedulikan saja tentang Heul."


"Kau selalu membahas Heul, kau cemburu?" Tanya Hyunjae asal.


"Ya." Jawab Lazel tanpa ragu.


"!!!!" Kedua matanya membesar, dan tubuhnya kembali seperti semula dan menatap Lazel, "k-kau serius?!" Saat ini Hyunjae sangat penasaran dengan perkataan Lazel.


"Tentu saja," jawabnya tenang, "Aku sangat cemburu pada dirmu yang begitu mudah membagikan perasaan pada seluruh wanita." Ia menatap Hyunjae dari jarak yang cukup dekat.


"..............." perasaan pria itu sepertinya baru saja mendapatkan penolakan dari wanita yang dia cintai. "Cih! Padahal sebelumnya kau begitu khawatir saat mencoba untuk memeriksa rongga mulutku."


"Itu karena aku tidak ingin menanggung biaya perawatan untukmu," jawabnya jujur. "Dan... menjadi seorang Dokter merupakan mimpi lamaku."


"Benarkah?"


"Yup."


Kacamata terlepas dari tempatnya lalu muai bercerita mengenai dirinya sendiri.


Menjadi Dokter memang impiannya sejak kecil. Tapi... seketika mimpi itu hancur karena keadaan keluarganya yang tidak memadai. Setelah menempuh kehidupan lebih lanjut, akhirnya dirinya menemukan alasan lain atas kegagalannya untuk menjadi seorang Dokter.


Darah... Lazel sangat takut dengan darah.


Di sela-sela Lazel yang bercerita. Hyunjae yang awalnya hanya menanggapinya lalu melupakan kini menyalin segalanya di dalam pikirannya. Dan setelah diperhatikan lagi, wanita itu seperti membutuhkan teman bicara.


Semenjak kematian kedua orang tuanya, Lazel sama sekali tidak pernah meluapkan apapun yang ada di pikirannya ataupun yang ada di hatinya.


Dan saat lepas dari semuanya, Hyunjae kini tahu bahwa ada begitu banyak perbincangan yang ingin dilakukan Lazel.


Rambut peraknya yang panjang, serta iris pink layaknya berlian. Semua itu adalah keunikan dari diri Lazel sendiri.


"Dan kau mempercayainya? Kau mempercayai ucapannya dan kau mempercayai instingmu?"


"Sungguh, kau orang yang bodoh."


"Seharusnya kau lebih menasihati dirimu sendiri dibandingkan orang yang tidak sama denganmu."


"Jangan pernah menyamakan dirimu dengan orang lain. Karena kau dan mereka itu berbeda."


Seketika ia teringat oleh beberapa kalimat yang diucapkan oleh Hyunji mengenai pendapat yang ia minta.


"Jadi... apa semuanya adalah kesalahanku?"


...◇• •◇...


"Haha! Aku yang kuat seperti ini masih memiliki hal sepele untuk di takutkan,"


Senyuman yang terlihat, serta kedua tatapan yang kembali pada sebelumnya, "hei Hyunjae! Bagaimana pendapatmu?"


"H-Hah?"


Saat ia kembali berpaling dan melihat ke arah sofa, dirinya melihat sosok pria yang sangat dikenal tengah tertidur dengan posisi terduduk.


Kakinya melipat serta kepala yang menyandar pada sandaran kursi dan kedua mata yang terpejam. Wajahnya terlihat polos saat tertidur.


Lazel menutup mulutnya sendiri dan memasang ekspresi bingung, "k-kenapa aku menceritakannya pada Hyunjae?" Ia bertanya pada dirinya sendiri.


Ia menduga bahwa dirinya itu sudah kehilangan akal sehingga menceritakan hal yang tidak penting pada Hyunjae.


"Jika kau sudah tertidur, mustahil akan mudah dibangunkan meskipun aku melemparmu," Lazel bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mendekat ke arah Hyunjae yang tertidur. Wajahnya menatap kesal, "kau tertidur saat aku menceritakan segalanya, kau pikir aku pendongeng? Tapi..."


Ia berdiri di belakang kursi yang Hyunjae tempati sambil menatapnya dari sana.


Ekspresinya kembali ke semula. Tubuhnya menunduk dan meraih kepala pria itu ke dalam dekapannya, "kau masih sempat membantuku disaat aku kehilangan segalanya," lirihnya.

__ADS_1


"Bahkan aku hampir kehilangan tujuanku sendiri, dan berpaling pada jurang yang dalam,"


"Tetapi... wanita yang begitu kau benci, kau masih memberikan tanganmu padanya,"


"Tanpamu... mungkin Ian akan kembali bersedih,"


"Terima kasih saja tidak cukup bagiku, oleh karena itu..." ia merebahkan tubuh Hyunjae dan meraih selimut dari sebuah lemari kecil. "Aku akan mendukung semua tindakanmu, meskipun pada suatu hari nanti hal itu akan menyayat perasaanku sendiri." Sambungnya dengan perasaan dingin.


Setelah memberikan kenyamanan pada Hyunjae ia meninggalkan ruangannya dan pergi ke ruangan lain untuk mengurus beberapa hal.


Seketika, pria yang mendapatkan kenyamanan itu membuka kedua matanya dan memiringkan tubuhnya.


Tangannya menarik selimut itu hingga menutupi seluruh tubuhnya.


"A-Aku tidak membencimu kok." Ujarnya yang langsung menutup wajahnya dengan selimut.


...◇• •◇...


Saling mengenal namun terasa asing. Saling mendukung namun memiliki arah yang berbeda.


Itulah kondisi Lazel dan Hyunjae saat ini.


...◇• •◇...


"Baiklah... sekarang dimana keparat kuning itu," kedua langkahnya menapak dengan kesal, serta pandangan yang mengarah kemana-mana. "Dia meninggalkan ruangan hampir satu jam! Memangnya kemana dia!"


Di samping kirinya merupakan dinding yang terbuat dari kaca, ia juga melihat dari sana ke bawah untuk menemukan sosok yang dia cari.


Orang-orang yang berada di sekitarnya terkejut dengan bentakkan yang ia ucapkan. Mereka sama sekali tidak tahu apa penyebab Bos mereka menjadi emosi.


Langkahnya berhenti dan memasang ekspresi lupa, "bukankah aku... memiliki ponsel?" Lirihnya.


Lima menit kemudian...


Duak!


Tangan kanannya menghantam dinding koridor, serta tangan kirinya mengetik sesuatu di ponselnya lalu kembali ia tempelkan pada telinganya.


Setelah beberapa menit, ia melepaskan ponsel itu dari telinganya lalu menggenggamnya dengan erat, "ini sudah ke lima kalinya dia tidak menjawab panggilanku." Ucapnya kesal.


"A-Aku hampir merusak ponselku lagi," ia sadar lalu merenggangkan tangannya. "Haah~ sebenarnya kemana dia pergi?"


"Beberapa dokumen saat ini ada bersamanya."


...◇• •◇...


Kembali pada ruangan sebelumnya, dimana Hyunjae berada.


di dalam ruangan yang cukup sepi terdapat seorang pria yang masih dalam posisi sebelumnya.


"Aku sama sekali tidak bisa tidur!"


Akhirnya ia membalikkan tubuhnya dan menatap langit-langit dari posisi itu. Tangan kirinya beralih pada belakang kepalanya dan ia gunakan sebagai bantal.


"Sudah kuduga... aroma wanita itu memang menarik," kini Hyunjae kembali memikirkan Lazel karena tingkah laku wanita itu padanya. "Bahkan aromanya harus menempel pada diriku."


Karena begitu nyaman dengan posisi seperti itu, bahkan dirinya enggan untuk turun dari sana. Lagipula jarang bisa menyantaikan diri di perusahaan lain dan membuat Asistennya bekerja setengah mati.


"Aku akan mendukung semua tindakanmu, meskipun pada suatu hari nanti hal itu akan menyayat perasaanku sendiri."


Sebuah kalimat yang membuatnya kembali berpikir.


Hyunjae merasa jika perkataan itu adalah salah satu akibat dari hubungan mereka. Semenjak masalah yang menimpanya, banyak hal yang terjadi, salah satu perubahan dalam dirinya.


Setiap apapun yang mereka berdua ucapkan selalu berakhir dengan keributan. Namun wanita itu mengubah semuanya menjadi damai dan membuat jawaban yang berbeda, yaitu menyetujui semua ucapan yang ia katakan.


Jika hal itu yang terjadi maka keributan tidak mungkin terjadi.


Sebenarnya... hal itu membuat Hyunjae selalu khawatir. Karena dirinya belum terbiasa untuk menerima sikap Lazel yang berbeda. Tatapan, senyuman, serta tindakan. Semuanya memang sama, namun sesuatu yang berbeda begitu terasa.


"Harus ku akui... apa yang kau ucapkan, sepertinya benar, Hyunji," kini ia mengeluarkan suaranya. "Mungkin Lazel mengenal diriku dengan baik, tapi aku... sama sekali tidak mengenal dirinya."

__ADS_1


"Bahkan kau terus mengucapkan terima kasih berulang kali..."


"Beberapa hari yang lalu, aku membawa Heul ke rumah, dia menyapa dan menyambut Heul dengan baik, dan itu semua sebagai rasa terima kasihnya padaku..."


"Dan..."


Kedua alis Hyunjae tertekuk, ia langsung bangkit dari tidurnya dan mulai berpikir kembali dengan teliti.


"Aku membawa Heul, dia tidak marah atau menunjukkan ekspresi dinginnya. Karena dia mendukung semua tindakanku, meskipun hal itu akan..."


Hyunjae memasang wajah heboh, sehingga harus berdiri di atas sofa, "L-Lazel menyukaiku?!" Teriaknya.


"U-Uwa! A-Aku tidak menyangka!" Kini kepercayaan tingginya semakin meningkat.


Cklek!


"Hm?" Suara pintu membuatnya menoleh ke belakang.


Tatapan mereka pun bertemu.


Wanita beriris pink itu melebarkan matanya dan mulai panik, "y-ya Tuhan... apa kau mau bunuh diri? J-Jangan lakukan disana! Sofa itu sangat mahal kau tahu! Pergilah menuju jendela di sebelah sana lalu terjunlah sepuasmu." Jelas Lazel dengan terbuka.


"Seharusnya kau mengkhawatirkanku


mengkhawatirkan sebuah benda!" Ucapnya kesal.


Wanita berjas hitam itu kembali pada mejanya, "lagipula apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Lazel yang heran dengan tindakan Hyunjae.


"Ah!"


Hyunjae melompat dari sana dan memegang kedua lengan atas Lazel.


"A-Apa yang kau lakukan?" Tanya Lazel yang semakin bingung dengan perilaku Hyunjae.


Rambutnya yang hampir turun secara keseluruhan itu menyembunyikan kedua iris abu-abu miliknya dan menatap Lazel dengan lekat, "kau menyukaiku bukan?" Tanya Hyunjae.


"..............."


...◇• •◇...


Egis belum terlihat semenjak dirinya datang ke kantor. Saat dirinya tiba, ia menemukan sebuah mobil yang sangat di kenali, disaat dia mengetahui siapa pemilik mobil itu perasaannya seketika menjadi tenang.


Akan tetapi... entah mengapa kedatangan pria itu selalu memicu kesialan.


Saat ini baru saja ia mendengar kalimat terang-terangan dari Hyunjae dan bertanya padanya mengenai rasa suka.


"Kosakata macam apa itu?" Tanya Lazel.


"Hah?"


Lazel menunjukkan ekspresi geli dan juga bingung.


"Bukankah kau menyukaiku?"


Lazel melepaskan kedua genggaman itu dari kedua lengannya, "jika dikatakan suka itu memang benar. Karena mungkin saja kebaikanmu pada wanita lain membuat dirimu bisa disukai." Jelasnya.


"Bukan itu yang ingin ku dengar!" Batinnya.


Wanita berambut perak itu akhirnya bisa menduduki tempatnya dan menatap Hyunjae dengan tajam, "berhentilah berbicara omong kosong. Bisakah kau pergi dari sini? Kau mengganggu pekerjaanku." Ujarnya dengan kedua alis yang tertekuk.


Kedua tangannya menyatu dan terletak di belakang kepalanya, "bukankah aku tidak mengganggumu? Mengapa kau merasa seperti itu?" Hyunjae kembali mendudukan dirinya di tempat semula.


"Sial, apa kau tidak memiliki pekerjaan disana?" Kini emosinya mulai tercipta.


"Punya, dan itu banyak sekali. Jadi aku menyerahkannya pada Asistenku." Jawabnya santai.


Ia menepuk wajahnya pelan, "bocah ini sangat gila," batin Lazel. "Jika aku terus meladeninya, hanya akan bisa memicu perdebatan." Pikirnya.


Diam-diam ia menatap Lazel. Tatapan Hyunjae sedikit berbeda dari tatapan dingin, meskipun terasa seperti itu, dirinya berusaha untuk memahami Lazel sebelum bertindak.


"Sepertinya... aku harus mencari tahu sendiri."

__ADS_1


__ADS_2