Lost Feeling

Lost Feeling
Hunch


__ADS_3

"Lampunya sudah hijau." Ujar Lazel yang memalingkan wajahnya ke depan dan mengangkat telunjuknya ke arah lampu lalu lintas.


"..............." Hyunaje menyadari bahwa Lazel sedang menghindari pembicaraan. Ia dapat melihat jika Lazel menyingkirkan wajahnya begitu saja tanpa ekspresi sedikit pun.


Hyunjae tidak berniat untuk menanyakan atau membahas ulang mengenai hal tadi, ia lebih memilih untuk menancapkan gas dan mulai menjalankan mobil itu.


...◇• •◇...


"Whoaa ramai sekali..." ucap Lazel yang melihat keramaian di sekeliling sekolah.


Gerbang sekolahan terbuka dengan lebar, Hyunjae telah mendapatkan tempat parkiran yang sesuai. Mereka pun bergegas keluar dari masing-masing pintu.


Lazel melangkahkan kakinya keluar bersamaan dengan tangannya yang mengangkat pintu mobil itu ke atas, "ngomong-ngomong apa aulanya masih sama sepe-" ucapannya terhenti saat melihat sesorang yang juga keluar dari sebuah mobil.


"Lazel?" Ucapnya dengan wajah yang berseri.


"Gyuu?"


"Kau?!" Sahut Hyunjae dari kejauhan.


...◇• •◇...


"Ian memanggilmu? Apa kalian saling kenal?"


"Y-Ya, tapi dia tidak memanggilku, dia hanya memberitahuku saja."


"Benarkah? Tapi sangat jarang melihat Ian dekat dengan orang lain selain diriku."


"Hahaha~"


Di balik dua perbincangan ceria dan berbunga-bunga, seseorang dengan wajah suram tengah berjalan di belakang punggung kedua manusia itu.


"Mengapa dia ada disini? Apa dia memiliki kenalan?" Batinnya dengan kesal.


Tidak disangka, jika Lazel dan Hyunjae akan bertemu dengan Gyuu. Selain itu, alasan mereka juga sama, tak lain untuk menghadiri kelulusan Ian di Sekolah Menengah Atasnya.


...◇• •◇...


Para murid berdiri di panggung bersama dengan para guru. Saat ini mereka bertiga akhirnya memasuki aula dan memulai acaranya.


"..............."


"..............."


"Ada apa ini? Aku merasakan sesuatu yang bahaya." Ucap Lazel dalam hati.


Kedua pria itu memberikan tatapan maut sehingga hanya dengan tatapan mungkin bisa melumpuhkan satu sama lain. Lazel mengambil tempat yang tidak jauh dari panggung, namun kedua pria itu mengisi sisi kanan dan juga kirinya. Sehingga tatapan maut pun terjadi.


Lazel yang berada di tengah selalu merasakan aura bahaya yang datang entah dari mana.


Selain acara seperti ini, pertemuan dengan Menteri juga penting. Namun Lazel tidak akan menyia-nyiakan waktunya hanya untuk pekerjaan, setidaknya ia bisa meluangkan sedikit untuk Ian.


Semuanya berjalan dengan lancar, namun tidak dengan Hyunjae dan juga Gyuu.


...◇• •◇...


Setelah selesai mendapatkan medali dan juga beberapa penghargaan yang di dapatkan Ian karena prestasinya dalam bidang Non Akademik, yaitu Taekwondo.


"IAAAAAAAN!!" Teriaknya.


Seorang wanita berjas hitam serta dengan ciri-ciri yang sama dengannya tengah berlari ke arahnya.


"Kakak!-Eh?! JANGAN BERLARI!"


Kedua tangannya pun langsung menangkap Ian, "uuuuuu aku merindukanmu~" ujar Lazel sambil mengusap kepala Adiknya dan memeluknya erat.


"L-Lepaskan! Kau membuatku malu!"


"Hohohoho~ kau wangi sekali~" Lazel sama sekali tidak ingin melepaskan Ian dari dalam pelukannya.


"Whoaa ada gorila disini." Ucap seseorang yang mulai muncul.


"Hm?" Dengan spontan Lazel menoleh ke belakang dan menemukam musuh bebuyutannya, "haaa? Apa kau bilang?" Seketika wajah kesalnya mulai terlihat dan mengambil ancang-ancamg untuk menyerang.


"Ha? Apa?! Kau ingin bertengkar?!" Ucap Kim dengan wajah yang berurat-urat.


"Bocah ingusan seperti mu berani melawanku?"


"Kau pikir aku takut?!"


Tap!


"Lepaskan aku Hyunjae! Aku harus menutup mulut bocah cantik ini dengan tanganku sendiri!"


"Argh! Ian! Mengapa kau melindungi wanita mengerikan itu!" Kim berusaha melepaskan diri dari Ian, "apa kau tahu, sebenarnya dia adalah titisan penyihir dari Benua Atlantis."


"Dasar bocah!!"


...◇• •◇...


Ian menjauhkan Kim dari Kakaknya agar tidak membuat pusat perhatian yang lebih banyak.


"Bertengkar lagi? Bocah itu memang berani mencari masalah dengan Lazel," langkahnya terhenti saat melihat seseorang yang tidak asing. "Oh, bukankah kau-"

__ADS_1


"Shh~ bukankah kita sudah sepakat?" Ujar Gyuu dengan suara yang pelan.


"O-Oh, tentu saja." Angguknya.


"Argo? Apa kau mencari pria berwajah cantik dan pendek seperti kurcaci?" Ujar Lazel dengan wajah yang ceria.


"T-Tidak, aku sudah melihatnya bersama Ian."


"Kalau begitu ayo berfoto!" Ujar Lazel yang masih bersemangat.


"Kita harus menunggu Ian menjinakkan Kim terlebih dahulu," sahut Hyunjae yang memegang kedua pundak Lazel dari belakang.


"Apa kita perlu memanggil Exorcist untuknya?" Tanya Lazel.


"Hm~ kupikir kita hanya perlu membabtisnya saja." Sahut Gyuu.


Argo menatap ketiga orang dewasa itu dengan ekspresi yang kebingungan, "hei, apa kalian benar-benar membenci Kim?"


...◇• •◇...


Sesi foto berjalan dengan lancar, bahkan semuanya hampir selesai. Tapi... beberapa jam yang lalu, Lazel sama sekali tidak pernah mengalami kekhawatiran sekuat ini. Ia selalu merasa jika ada sesuatu yang besar menimpa seseorang.


Saat ini ia tengah menenangkan dirinya sejenak, dan mulai berpikir mengenai segala hal yang berkaitan dengan rasa khawatirnya.


"Kak?"


"Kak?"


"Kak."


Lamunannya pun terhambur begitu saja, "kau mengejutkanku." Lirih Lazel yang mendapatkan Ian  tengah memanggil namanya dan menyentuh pundaknya.


"Tapi aku sudah memanggilmu berulang kali." Kini Ian mulai merasa aneh pada Kakaknya.


"B-Benarkah," Lazel pun berdiri dari duduknya. "Kalau begitu-"


Kletak!


Sebuah benda yang sama dengan ponsel pada umumnya, terjatuh dari dalam sakunya dan tergeletak di tanah.


Ian yang melihatnya seketika terkejut, "k-kau masih menyimpannya?"


Lazel meraih ponsel itu lalu mencoba untuk menyalakannya dengan sebuah tombol yang tertera. Nampak sebuah foto yang terletak di lookscreen, mulai dari wajahnya saja tidak sulit untuk menebak siapa orang tersebut.


"Retak." Ucap Lazel yang meraba layar tersebut.


"J-Jadi selama ini kau masih mencarinya?"


"Tapi bagai-"


"Tenang Ian. Aku melakukan ini karena harus, aku tidak ingin kasus ini terlewatkan begitu saja." Sela Lazel dengan tatapan seriusnya.


...◇• •◇...


Hyunji yang baru saja tiba di Ruang Tamu mendapatkan sosok wanita yang memiliki warna rambut sepertinya, tengah berdiri dengan ponsel yang terus menempel di telinga.


"Ada apa Bu?" Tanya Putranya.


"Kau tahu, Ayahmu menghubungi Ibu beberapa saat yang lalu. Hanya sebentar, tapi saat Ibu mencoba untuk menghubunginya kembali, tidak ada jawaban satupun." Jelas Nezra yang mulai khawatir pada Adam


"Tenanglah, mungkin Ayah salah menghubungi seseorang."


"Tapi..."


"Kalau begitu biar aku yang menghubunginya."


"H-Hm."


Untuk ke sekian kalinya, Hyunji melihat wajah khawatir Ibunya terhadap Adam yang sama sekali tidak mengangkat panggilan.


...◇• •◇...


"Menjauhlah dari Lazel!"


"Hahaha~ aku hanya temannya saja."


"Brengs*k! Apa kau berniat menjadi perusak?"


"Perusak?  Tapi yang ku tahu kalian itu tidak sa-"


"Apa mulutmu itu bisa berhenti sejenak?"


"Bisakah kalian berhenti?" Kini Lazel menjadi penengah di antara dua pria itu.


"B-Baik."


Saat ini mereka berniat untuk pulang. Argo, Kim dan Ian akan pulang bersama dengan Gyuu. Sedangkan Lazel dan Hyunjae berniat untuk mengunjungi Rumah Utama, yaitu Rumah Nezra dan Adam. Hyunjae hanya  menyetujui permintaan Lazel dan segera pergi kesana.


Drrt!


Ponsel salah satu dari mereka berdering.


"Ayah?" Ujar Hyunjae yang menatap layar ponselnya

__ADS_1


Tidak menunggu lama, Hyunjae pun akhirnya mengangkat panggilan itu.


^^^"................"^^^


"Lazel? Ya, dia ada disini."  Ucap Hyunjae sambil melemparkan tatapan pada Lazel.


^^^"................"^^^


"Y-Ya baiklah," Hyunjae menyodorkan ponselnya pada Lazel. "Ayah ingin bicara denganmu." Ujarnya.


"Ayah?" Lazel mengambil ponsel itu lalu menjauh dari para pengganggu.


"A-Ayah, ada-"


^^^"Aku menemukannya."^^^


"Menemukan? Memangnya apa yang Ayah..." dalam satu ketukan jantungnya sempat berdetak dengan kuat. "A-Apa yang terjadi..."


^^^"Datanglah ke rumah."^^^


...◇• •◇...


Suasana hari ini cukup baik, bahkan tidak ada hambatan sedikit pun. Ian yang awalnya bersemangat karena kehadiran Lazel di acara kelulusannya. Tapi... setelah mengetahui bahwa Kakaknya masih  bekerja keras mengenai masa lalu saat itu membuatnya terus berpikir.


Lazel telah menikah, dan yang lebih penting adalah pekerjaannya yang sangat padat. Bagaimana bisa dia meluangkan waktu untuk mencarinya.


Lagipula Ian sudah menyadari atau sudah menduga hal ini. Lazel adalah perempuan yang keras kepala. Bahkan saat dirinya masih kecil, niat dalam dirinya begitu besar sehingga mampu melawan Keluarga Besarnya sendiri.


Dan untuk hari ini, apa yang dia sangka tidak mungkin hanya kesalah pahaman biasa.


"Ian, apa kau baik-baik saja?' Tanya Argo yang duduk di sampingnya.


"Y-Ya."


"Tapi... apa kau sadar bahwa sikap go-Lazel sedikit aneh? Bukankah dia sangat bahagia saat bertemu denganku?" Sahut Kim yang duduk di kursi bagian belakang.


"................" Gyuu yang sedang menyetir mobil hanya bisa ikut mendengarkan tanpa bersuara. Karena pada awalnya yang anak-anak itu pikirkan persis dengan apa yang dia pikirkan.


"Ada apa dengan Lazel?" Pikirnya.


...◇• •◇...


Kini mulai terpusat pada Lazel dan juga Hyunjae yang sedang dalam perjalanan.


"Lazel... seluruh tubuhnya selalu tegang dan juga takut saat aku mulai menatapnya seperti itu..."


"Untung saja dia sempat memberikan beberapa kalimat sebelum aku benar-benar kehilangan pikiran,"


"Dan sekarang..."


Hyunjae hanya bisa menatap wanita itu dari balik kaca spion yang ada di hadapannya.


"Mengapa dia duduk di belakang?"


"Mengapa dia tiba-tiba terdiam? Dia juga memintaku untuk cepat mengunjungi Rumah Utama."


Ada begitu banyak kalimat yang terbenam dalam hatinya serta pertanyaan yang memenuhi pikirannya. Tapi... setelah melihat apa yang terjadi pada Lazel, terutama perubahannya. Hal itu sedikit membuatnya... merasa takut.


...◇• •◇...


Suara tutup mobil terdengar jelas, Hyunjae juga melihat mobil Adam yang terparkir di depan rumah.


Sedangkan Lazel... disaat dirinya harus tertawa kini harus meneteskan air mata. Disaat dirinya harus bahagia, masa lalu membuatnya kembali terluka. Apa yang dia pendam selama ini akhirnya mendapatkan jalan keluar.


Selain marah dan juga emosi, justru dirinya takut kehilangan seseorang, padahal hal itu adalah kewajiban dirinya atas semua janji yang pernah dia ucapkan.


"Lazel, ayo ma-"


"Untuk jawaban terakhirku."


"Huh? Jawaban?"


"Memangnya apa peduliku? Kepercayaan hanyalah omong kosong. Pada awalnya mulut manusia diciptakan hanya untuk berbohong, tidak lebih dari itu," jelasnya dengan wajah yang sombong. "Sesak... bahkan aku tidak ingin mengeluarkan kalimat seperti itu."


"Huh?" Hyunjae merasa jika temperatur perasaan Lazel benar-benar tidak stabil. Oleh karena itu ia tidak menyangka jika wanita berambut perak itu bisa mengeluarkan ucapan seperti itu.


Tidak mengatakan apapun, layaknya angin yang berhembus dingin.


"Siapa pelakunya?" Tanya Lazel tanpa basa basi yang langsung memasuki rumah begitu saja. Bahkan ia dapat melihat jika semuanya berkumpul di dalam satu ruangan yang sama.


"Lazel," Nezra mendapati Lazel yang sudah tiba di Ruang Tengah. "Apa yang terjadi? Mengapa-"


"Tuan Adam... siapa pelakunya?" Kini Lazel tidak memperdulikan apapun dan tetap fokus pada tujuannya.


"Jadi kau benar-benar melepas topengmu?" Ujar Adam yang saat ini mulai berbicara banyak.


Bukan hanya Nezra. Hyunjae dan beberapa pelayan yang berada disana panik dan juga terkejut dengan pola pembicaraan antara Lazel dan juga Adam.


"Jawab."


"Pamanmu, dialah pelakunya."


"Tuan Adam? Lazel apa yang kau katakan?" Tanya Nezra yang kini mulai penasaran dengan situasi saat ini.

__ADS_1


__ADS_2