
Kara Chiejun. Wanita asing yang kini mungkin akan lebih dekat dengan Ketua dari Aplic Pietra. Menurut yang Lazel dengarkan, Kara memiliki umur yang setara dengan Hyunji, Kakak Iparnya. Selain itu, dirinya adalah salah satu dari Bodyguard dari Hyunjae. Sungguh tak di duga, tapi kebetulan inilah yang membuat Lazel sedikit meletakkan rasa penasarannya pada wanita tersebut.
Ia memiliki rambut berwarna hitam yang sepanjang punggung, wajahnya begitu manis, suaranya juga sedikit serak, mungkin saja jika Hyunjae selalu menyiksa anak orang sehingga seperti ini.
Di depan sebuah Villa bernuansa krim serta dua buah daun pintu yang berwarna hitam.
Dua orang manusia baru saja tiba disana setelah menempuh perjalanan beberapa menit.
"Masuklah, meskipun hanya minuman aku bisa membuatnya, selagi tidak berkaitan dengan makanan." Tawar Lazel dengan ramah.
"Haha~ terima kasih tawarannya. Tapi sepertinya aku harus pergi."
Pada akhirnya Kara sampai pada dua buah Vila yang berada di dalam satu lingkup yang sama.
"Cih! Padahal aku memiliki minuman beraneka macam, salah satunya adalah es cokelat yang mungkin sangat-"
"Hahahahaha~ tidak perlu repot-repot," Kara keluar dari mobilnya dengan wajah tersenyum. "Biarkan aku yang membuatkannya untuk Anda." Sambungnya dengan wajah yang tersenyum.
"..................."
...◇• •◇...
Kedua alisnya tertekuk, "dia sudah di rumah?"
"Tapi... sejak kapan?"
Sebuah mobil hitam dengan plat asing baru saja meninggalkan basement. Tepat di depan wajahnya terdapat ponsel yang kini memperlihatkan kondisi atau letak seseorang.
Setelah membicarakan beberapa hal dengan Heul, akhirnya ia memutuskan untuk segera kembali. Sebelumnya ia juga sudah menduga jika Lazel sudah meninggalkan tempat perbelanjaan di waktu yang cukup lama.
Oleh karena itu, ia ingin memastikannya sekali lagi. Dan ternyata wanita itu sudah berada di rumahnya sendiri.
"Lebih singkatnya. Siapapun pasanganmu, pernahkah dia menatapmu dengan perasaan cemburu? Kau hanyalah batu lonjakan baginya, bukan sebuah tempat untuk berharap."
Kalimat itu berputar di pikirannya. Ia ingin menyangkalnya, tapi apapun itu, apapun yang dikatakan oleh Heul, semuanya adalah fakta.
Selama ini, Lazel tidak pernah memberikan reaksi yang lain, selain wajahnya yang datar atau dingin, seolah-olah tidak peduli.
Tangan kanannya menggenggam stir mobil dengan pandangan yang fokus ke layar mobil. Serta tangan kiri yang menyanggah pada jendela samping sambil menempelkannya di pelipisnya.
Saat ini pikirannya mulai berhamburan hanya karena ungkapan dari Heul.
"Haah~ mungkin ini adalah rasa kasihanku pada Lazel, setelah dirinya melakukan pengorbanan besar terhadapku." Ujarnya yang mulai merasa baik.
...◇• •◇...
Boneka jerapah itu masih berada di ruang tengah. Sepertinya akan sedikit merepotkan jika harus membawanya ke atas. Selain memiliki tubuh yang besar, keimutan dari wajah dan perutnya juga akan sulit memasuki ruangan.
"Kara... dia adalah salah satu Bodyguard milik Hyunjae. Berarti dia tidak mengetahui apapun tentang kami," Lazel mulai menganalisa mengenai Kara, seseorang yang baru saja ia temui. "Tapi... hal ini akan berbeda lagi jika Kara adalah salah satu wanita simpanan pria itu."
Untuk saat ini, sebagai ucapan terima kasih, Lazel membawa wanita yang baru ia kenal memasuki rumahnya. Dirinya sama sekali tidak peduli siapa identitas sebenarnya dari wanita itu. Setidaknya ia tidak ingin memiliki hutang budi pada siapapun.
Di sisi lain. Hyunjae yang baru saja tiba menemukan sesuatu yang janggal, yaitu sebuah mobil asing yang berada di depan kediaman Lazel.
"Apa Lazel mengundang seseorang?" Kini ia bergegas keluar dari sana lalu membawa setumpuk tas belanja di kedua tangannya.
...◇• •◇...
Cklek!
"Aku pulang." Ucapnya setelah memasuki rumah.
"Woo~ kupikir kau tersesat." Sahut Lazel yang saat ini sedang duduk bersama dengan Kara di ruang tengah.
Pria bertopi itu melangkah masuk sambil membawa setumpuk barang di tangannya.
Saat mulai melihat kehadiran Hyunjae, wanita berambut hitam itu langsung berdiri dari duduknya dan membungkukkannya di hadapan Hyunjae, "P-Pak Direktur! Selamat siang!" Sapa Kara dengan hormat.
__ADS_1
"Hm?!"
"Ayolah~ panggil saja dengan normal, kau ini terlalu formal." Sahut Lazel yang menompang wajahnya pada telapak tangannya.
"Kara? Kau disini?"
"Y-Yah... ceritanya cukup panjang."
...◇• •◇...
"Hm... begitu rupanya," Hyunjae langsung mengerti saat Kara mulai menjelaskkan kejadian sebelumnya. "Kalau begitu, terima kasih karena sudah mengantar Lazel ke rumah." Ujar Hyunjae yang kini ikut bergabung di ruang tengah.
"Tidak tidak, itu bukan masalah besar," Kara mengambil jaketnya kembali. "K-Kalau begitu aku akan pergi." Sambungnya.
"Pergi? Cepat sekali!" Sahut Lazel yang kini mulai protes.
"Sebenarnya Tuan Hyunjae me-"
"Ekhem! Pergilah." Sela Hyunjae yang langsung memberikan perintah dadakan pada Kara.
"Baik Tuan." Angguknya.
"Hyunjae memotong ucapannya..." kini Lazel mulai memikirkan hal lain. "Mungkin dugaanku itu benar."
Lazel mengantar kepergian Kara dengan mengantarkannya hingga depan rumah
Dirinya memang menafsirkan hal baik pada Kara. Wanita itu memang terlihat baik, bahkan di tempat manapun, dirinya tetap merendah dan menghargai orang lain.
"Sampai jumpa Lazel~" ucap Kara sambil melambaikan tangannya ke arah Lazel.
Lazel membalasnya dengan lambaian tangan serta senyuman manis yang terus melepaskan kepergian Kara.
Mobil itu semakin jauh setelah meninggalkan area lingkungan.
Tubuhnya menyandar pada salah satu pilar yang berada di teras rumahnya, "hm, anak yang baik." Batinnya.
...◇• •◇...
Kedua tangannya yang terlipat, serta kedua tatapannya yang terus menelusuri setiap tempat.
"Bisakah kau menjelaskan ini?" Tanya Lazel yang mulai memperlihatkan urat-uratnya di keningnya.
Hyunjae yang sudah berganti pakaian kini kembali turun dan menuju ke tempat yang sama seperti sebelumnya.
Tangan kanannya mengangkat sebuah boneka kura-kura yang berukuran cukup besar, meakipun jerapah milik Lazel yang lebih besar, "kau menyukai boneka bukan? Jadi aku-"
"Haah?! Makhluk seperti apa yang mengatakan hal itu?!" Sela Lazel yang kini benar-benar terlihat emosi.
"Terus...ada apa dengan jerapah itu?" Tanya Hyunjae yang menunjuk ke arah sisi sofa yang lain, dimana jerapah bulat itu terduduk manis.
"Bukankah sudah ku bilang, jika dia adalah pemberian dari salah satu petugas disana." Jawab Lazel dengan was-was.
Kini wanita berambut perak itu dengan pakaian santai yang membaluti tubuhnya, ia mulai mengambil satu-persatu puluhan atau bahkan ratusan boneka yang dibawa oleh Hyunjae.
Boneka-boneka yang terkapar di seluruh lantai itu memiliki ciri-ciri yang berbeda. Mulai dari bentuk ataupun rupa.
Hyunjae sama sekali tidak membantu, pria itu hanya menatapi Lazel dari atas sofa,"haah~ aku tidak menyangka jika mantan penjahat bertemu dengan pejahat berhati baik." Ucapnya dengan jujur.
Lazel yang kini di hantui dengan ratusan boneka menoleh dengan wajah seramnya, "huh? Apa maksudmu?"
"..............." pria itu memilih untuk memalingkan wajahnya ke arah lain. "T-Tidak ada apa-apa."
"Hei! Aku penasaran. Sepertinya itu perbandingan sesuatu yang buruk dengan baik." Kini Lazel membawa jerapah raksasa itu bersamanya sambil melangkah mendekati Hyunjae.
"M-Mau apa kau?" Tanya Hyunjae yang mulai merasakan hawa-hawa kegelapan.
"Tunggu... apa kau baru saja membandingkan diriku dengan Kara?"
__ADS_1
"Huh?!"
"Hoo~ apa aku begitu buruk di matamu? Apa aku begitu mengerikan?" Kini Lazel mulai menjelekkan dirinya sendiri di hadapan Hyunjae.
"B-Bukan-"
"Ya ya~ aku tahu. Aku memang wanita yang mengerikan. Bahkan mungkin saat ini aku bisa berdekam di penjara yang sesungguhnya karena membunuh Suaminya sendiri dengan tragis."
"H-Hei! Apa kau berniat membunuhku?!"
Lazel mempertajam tatapannya. Jerapah yang ada di tangannya itu ia lemparkan sekuat mungkin ke arah Hyunjae, lalu dengan ancang-ancang, kedua kakinya mulai berlari ke belakang lalu kembali dengan kecepatan kuat. Dengan satu lompatan, Lazel membanting dirinya sendiri ke atas jerapah tersebut.
Tap!
"Huh?"
"Mengapa kau melompat ke arahku?" Tanya Hyunjae yang kini menangkap Lazel ke dalam dekapannya.
"Heh?? Kemana bonekanya?" Tanya Lazel yang menatapi sekitar.
Hyunjae yang masih terduduk di tempatnya menyeringai kecil.
"Hm~ sepertinya kau kekurangan belaianku," ujar Hyunjae yang semakin memperkuat pertahanannya. "Apakah seperti ini caramu meletakkan rasa sayangmu pa-"
"Jangan berbicara omong kosong dasar sialan! Untuk apa aku meletakkan rasa kasih sial padamu, sialan! Itu menjijikan." Sela Lazel dengan wajahnya yang dibuat-buat.
"Haah~ perkataanmu memang menyakitkan." Keluhnya dengan ekspresi wajah yang menyedihkan.
"Aku tidak peduli! Sekarang turunkan aku!" Kali ini dengan intonasi yang semakin meninggi.
"Apa kau tidak khawatir pada kakimu? Bukankah aku sudah meminta padamu untuk tidak melakukan hal-hal yang akan membuat kakimu kembali cedera?" Kedua tatapannya begitu dekat di wajah Lazel.
"Hm... ya, kau pernah mengatakannya," ucap Lazel. "Dan turunkan aku!"
"Tidak mau~"
"Dasar bajing*an!" Tuturnya dalam hati, "haah~ jika kau melakukan ini di depan Kara, dia pasti akan risih dengan sikapmu." Ucapnya.
"????" Hyunjae mendadak bingung dengan ucapan Lazel, "memangnya apa kaitan hal ini dengan dirinya?" Tanya Lazel.
"Hm? Bukankah dia salah satu wanita gelapmu?"
"..............."
"Mengapa kau terdiam?"
"BWAHAHAHAHAHA!!!"
"Apa yang kau tertawakan dasar setan."
"Apa kau bercanda? Kau pikir dengan mudahnya aku membawa semua wanita dan membawanya ke ranjang? Semudah itu kau berbicara? Astaga, kau ini lucu sekali."
"Benarkah? Kupikir dia salah satu wanitamu." Pikir Lazel.
Kedua iris abu-abunya itu mulai tersorot tajam pada wajah putih serta rambut perak yang dimiliki oleh Lazel.
"Bagaimana... jika kau adalah salah satu dari mereka?" Tanya Lazel dengan rambut hitamnya yang hampir menutupi kedua pandangannya.
"Hn?"
Wanita berpita kupu-kupu itu membalas tatapan Hyunjae dengan menyeringai.
Kedua tangannya meraih wajah Hyunaje. Mungkin ini adalah pertama kalinya ia memegang wajah pria itu dengan kedua tangannya.
Ia mendekatkan wajah pria itu dan juga wajahnya secara bersamaan. Lazel mengambil posisi miring pada kepalanya lalu mendekatkan bibir merahnya.
Akan tetapi... secara tiba-tiba pergerakannya terhenti, ia pun menatap Hyunjae dengan jarak yang sangat dekat.
__ADS_1
"Kau pikir... aku akan membiarkanmu melakukan hal seperti ini?" Ucapnya.
"Semua hal yang kau lakukan sama sekali bukan urusanku, tapi jika kau berani mengambil langkah seperti ini..." salah satu jarinya pun mulai mengusap bibir Hyunaje dan tersenyum licik. "Mungkin kau hanya berhasil memberiku kiss dengan darah yang berasal dari bibirmu." Seringainya.