
Saat ini Ian akan menjelaskan dan menjawab semua pertanyaan yang diungkapkan oleh Kakak Iparnya, yaitu Hyunjae.
Sebenarnya Ian sudah menduga hal ini, menduga bahwa Lazel tidak akan pernah menceritakan masa lalunya pada siapapun, termasuk Suaminya sendiri.
Tentang Sung Wonhae. Seorang pria dengan parasnya yang unik serta senyuman yang tidak pernah pudar, hatinya begitu lembut.
Berkenalan dengan Lazel, wanita yang dulunya adalah seorang gadis jujur, sombong, dan kuat. Namun semua itu ia lakukan demi sebuah kebaikan.
"Entah apa yang dipikirkan oleh Wonhae, sehingga jatuh hati pada Kakakku, gadis gorila," Ian memberitahu apa yang dia tahu, meskipun tidak semuanya. "Pada awalnya Kakakku lah yang mengungkapkan perasaannya, haha~ dia sangat jujur,"
"Dia berkata seperti ini, 'kau adalah tipeku, jadilah pasanganku di suatu hari nanti'. Bukankah itu terdengar blak-blakkan?" Ia terlihat menikmati pembicaraan yang dilakukan.
"Pada waktu itu kami baru saja kembali berlatih, dan dia langsung menyatakan perasaannya pada orang lain begitu saja."
Di saat-saat Ian bercerita, Hyunjae mendengarkannya dengan tenang. Perasaannya juga kembali normal saat mengetahui masa lalu Lazel serta mengetahui siapa yang pernah ia suka.
"Baiklah, hanya sampai disitu."
"Huh?? Bukankah terlalu menggantung?" Hyunjae sedikit tidak menerima cerita yang sangat menggantung.
Ian memalingkan wajahnya ke arah Hyunjae, "bukankah akan lebih baik jika Kakakku sendiri yang akan menceritakannya?"
"Tapi... dia bisa saja berbohong atau mengarang ceritanya." Tukas Hyunjae.
"Dia tidak akan pernah menceritakan masa lalunya dengan kebohongan, jika perlu dia tidak akan menceritakannya padamu."
"Benar juga..." pikirnya.
"Aku tidak bisa terus bersedih, aku adalah satu-satunya Adik yang dia miliki. Jika aku terus bersedih siapa yang menenangkan kesedihannya? Dia itu masih bersikap tertutup di hadapanmu. Padahal saat ini kau adalah sosok yang paling dekat dengannya dibandingkan diriku." Jelas Ian.
Mendengar kalimat terang-terangan itu dari Ian, membuatnya sedikit merenung, karena ucapannya sama sekali bertolak belakang dengan apa yang mereka alami.
"Dekat... sepertinya itu kalimat yang sangat keliru," pria beriris abu-abu itu menatap lurus. "Kami ini sangat asing... sehingga tidak peduli terhadap satu sama lain."
...◇• •◇...
Malam pun tiba... saat ini Hyunjae tengah mengatur Ruang Tengah dengan beberapa karangan bunga serta papan foto yang ia dapat dari Ian, yaitu foto Ayah dan Ibunya.
Ia juga memerintahkan bawahannya untuk membantu persiapan itu untuk menyambut kedatangan jasad Lena dan Gion.
Dari jauh Hyunjae dapat memperhatikan jika Ian masih sangat terpukul dengan apa yang menimpa dirinya dan juga Kakaknya. Tapi apa boleh buat, tidak ada yang bisa mereka lakukan, karena tidak semuanya manusia itu berumur panjang.
"Ian, sisanya akan diselesaikan oleh Pelayan. Kau istirahat saja." Ujar Hyunjae yang baru turun dari tangga.
"Aku baik-baik saja, lebih baik kau pergi ke kamar dan menemani Kak Lazel. Aku khawatir jika dirinya akan kembali frustasi setelah terbangun." Ujar Ian.
"Hm... baiklah. Tapi jangan paksakan dirimu."
"Oke." Jawabnya.
Kepergian Hyunjae membuat dirinya kembali seperti semula. Hatinya terlalu berat jika mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja, padahal ia sangat terpukul, dan sangat menderita saat melihat Kakaknya yang sangat frustasi.
Tapi yang harus dia lakukan adalah tetap tenang. Meskipun berat menerima, namun takdir tidak dapat dirubah.
Seluruh pelayan dan anak buah Hyunjae masih berada di Ruang Tengah untuk mempersiapkan seluruhnya. Sedangkan Ian ingin menyendiri untuk sesaat.
Kakinya melangkah ke depan teras rumah itu. Dan menatap langit tanpa bintang, serta hawa dingin dan salju yang menumpuk di sekitar.
Wajah pucat, iris pink serta rambut perak. Semua itu copy paste dari Kakaknya. Yang membedakan mereka hanyalah gender.
"Ibu... Ayah, kalian kembali membuat Kak Lazel merasa terpukul, dan membuatnya frustasi,"
__ADS_1
"Bahkan aku tidak bisa menenangkannya, bagaimana dengan ke depannya? Apa aku sanggup hidup tanpa kalian? Apa aku sanggup untuk hidup sendiri tanpa merepotkan Kak Lazel?"
"Padahal aku sudah berjanji bahwa sepuluh tahun yang lalu itu akan menjadi tangisan terakhir baginya, tapi aku membohongi diriku sendiri dan dirinya,"
"Bukankah aku memang tidak bisa diandalkan? Bukankah aku memang tidak bisa dipercaya?"
"Maaf Wonhae... aku tahu kau pasti kecewa terhadapku."
...◇• •◇...
Suara pintu bahkan tidak terdengar, ataupun langkah kaki. Setelah membereskan beberapa hal dan membereskan diri sendiri, akhirnya ia bisa menemani Lazel yang masih tertidur.
Besok adalah malam natal, dan esoknya lagi adalah hari natal. Sepertinya natal adalah peristiwa dimana Lazel tidak akan pernah menikmatinya dengan kebahagiaan.
Salju putih yang menjatuhi serta menutupi segalanya, namun di hadapannya akan menjadi buihan darah. Darah yang menutupi kebahagiaan dan membuka setumpuk luka.
Ia menaiki ranjang dengan perlahan, setelah itu memperhatikan pergelangan tangan Lazel yang masih di perban. Jika diperhatikan dengan benar, wanita yang ada di hadapannya itu sangat menyukai emas, permata, uang dan hal mewah lainnya. Tapi aksesoris yang dikenakan rata-rata berwarna perak, namun memiliki bentuk yang unik.
Hampir semuanya berkaitan dengan kupu-kupu. Yang berbeda hanyalah sebuah kalung perak dengan huruf 'L' sebagai buahnya.
"Maaf... sepertinya aku terlalu mengikut campurkan diriku pada masalahmu,"
"Sebenarnya aku tidak ingin memicu perdebatan denganmu... tapi entah mengapa hingga saat ini kau begitu santai dengan apa yang kulakukan, setelah mengetahui bahwa kau pernah menyukai seseorang,"
"Ian telah memberitahuku sedikit dari masa lalumu itu... lalu dia berkata bahwa untuk sisanya aku harus mendengarnya sendiri darimu,"
"Tetapi... kurasa itu tidak perlu. Karena mustahil untuk membuat dirimu membuka suara mengenai pria bernama Wonhae itu."
"Untuk sekarang aku akan fokus pada dirimu, dan berusaha melindungimu dari apapun, sehingga kau akam merasakan jika dirimu tidak sendiri, meskipun ke depannya akan lebih sulit."
Ia membaringkan tubuhnya dengan posisi miring dan mendekap Lazel yang terbalut dengan selimut.
"..............." seketika kedua matanya terbuka dan memperlihatkan iris pinknya yang mulai redup.
...◇• •◇...
Tangan besar yang memeluk dirinya, ia berusaha melepaskannya dari tubuhnya lalu mengambil posisi duduk dan menatap ke arah ke jendela tanpa tirai yang menutupinya.
Pria berambut hitam itu terlihat kelelahan sehingga tidur dengan lelap menghadap dirinya. Meskipun dalam kondisi yang melelahkan, ia masih menyempatkan diri untuk tetap mengawasi seorang wanita yang terus menangis.
Kedua matanya yang sembab berpaling pada wajah Hyunjae yang tertidur. Tangan yang masih bergemetar berusaha meraih sesuatu. Meraih sebuah kepala dan rambut hitam yang dimiliki oleh pria tersebut.
Ia menyingkirkan poni-poni yang menghalangi dan mengusapnya pelan.
"Maaf... aku merepotkanmu, dan juga Ian..."
"Tapi... apa yang kau katakan mengenai ketidak sendirianku itu sangat salah," tangannya terus bergerak perlahan tanpa membangunkannya. "Aku... tidak akan pernah merasakan ketidak sendirian seperti yang kau katakan,"
"Karena pada akhirnya... semua orang, bahkan dunia akan membenci diriku saat semuanya telah terungkap."
...◇• •◇...
Kupu-kupu hitam... segala yang ia kenakan serba hitam.
Kedua kakinya melangkah secara perlahan menuju sisi ranjang dan meraih ponselnya serta menatap jam dari sana.
Rambut peraknya terkepang ke belakang dengan sebuah kupu-kupu berwarna hitam yang menghias kepala bagian belakangnya.
"..............."
Pagi ini akan menjadi pagi yang penuh dengan kehitaman, hidup yang berjalan tanpa warna.
__ADS_1
Sedangkan di atas ranjang itu masih terdapat seorang pria yang masih pulas dalam tidurnya. Kedua matanya masih terpejam rapat, selimut yang berantakan seketika kembali menutupi dirinya dan melindunginya dari hawa dingin.
Sebelum meninggalkannya, ia mengusap kepala itu terlebih dahulu tanpa suara yang keluar dari mulutnya.
...◇• •◇...
Ia berjalan dan memperhatikan segalanya dari atas sana. Cukup banyak orang tanpa memperhatikan dirinya.
"Kak?"
"..............." ia menoleh saat seorang pria muda memanggil dirinya dengan sebutan hormat.
Kedua tangan pria itu memegang pundaknya dan menatap ke arahnya dengan tatapan khawatir, "Kak! A-Apa kau baik-baik saja? Dimana Kak Hyunjae? Apa dia-"
"Aku tidak bisa membiarkannya terbangun, tolong berikan waktu istrirahat untuknya." Pinta Lazel dengan wajah yang terlihat hampa.
Sesuai dengan keadaan, semua orang memakai pakaian dengan warna yang sama.
"A-Aku akan menjemput mereka di bandara hari ini." Ucap Ian pada Lazel.
"Benarkah? Kau harus hati-hati." Ujar Lazel sambil menepuk kepala Adiknya dengan pelan.
Di pagi hari, Sang Adik menemukan Kakaknya yang sudah pulih dari rasa emosionalnya, depresinya, serta rasa frustasinya. Namun... kedua sorot matanya begitu suram, kedua iris yang berwarna cerah bagaikan kaca itu meredup.
...◇• •◇...
Tubuhnya membalik begitu saja dan tangannya mulai meraba sekitar. Karena merasakan suatu kejanggalan, ia langsung terbangun dan memperhatikan sekitarnya.
"Lazel? Lazel?!"
Ia bergegas turun dari ranjang dengan perasaan panik, lalu meninggalkan kamarnya.
Saat keluar dari kamarnya, ia mulai mencari sosok wanita berambut perak itu, "La-"
"Nona... kami turut berduka cita."
"Apa Anda baik-baik saja? Tolong jangan membuat diri Anda merasa tertekan."
Sebelum menuruni anak tangga, ia melihat Lazel berada di Ruang Tengah bersama dengan beberapa orang.
"Lazel." Panggilnya lalu segera turun dari sana.
Para pelayan pun mengundurkan diri dan memberikan ruang bagi Nona dan Tuan mereka.
Perlahan ia beranjak dari duduknya dan mulai menoleh ke belakang.
Dengan langkah yang tergesa-gesa ia mendekati wanita berpakaian serba hitam itu, "Lazel, mengapa kau-"
Deg!
Seketika jantungnya begitu tertekan dan terasa sesak saat melihat Lazel yang berdiri di hadapannya.
"Hyunjae... kau sudah bangun rupanya. Terima kasih untuk segalanya." Ucapnya dengan sorot wajah yang tidak bisa terbaca.
"Lazel, mengapa kau meninggalkan kamar? Bukankah kau bisa menungguku?" Tanya Hyunjae sambil menarik kembali wanita itu ke posisi duduk.
"Aku baik-baik saja, Ian dan beberapa orangmu baru saja meninggalkan rumah untuk menjemput mereka di bandara. Sebaiknya kau segera bersiap." Ujarnya.
"..............." pria itu masih meletakkan rasa khawatir yang berlebihan pada Lazel, karena ia tahu jika saat ini Lazel tidak dalam kondisi terbaiknya.
Hyunjae beranjak dari duduknya dan menggenggam tangan Lazel, "ikut aku ke kamar." Ajaknya.
__ADS_1
"T-Tapi..."
"Sudah ku katakan bukan," ia kembali memeluk wanita itu. "Untuk saat ini aku akan fokus pada dirimu."