Lost Feeling

Lost Feeling
Lies


__ADS_3

"Hebat sekali, kau bisa menjinakkan Hyunjae yang keras kepala."


"H-Haha~"


Saat ini Kara sedang mengantar sekaligus menemani Lazel yang ingin pergi mengunjungi kediaman Hojung. Sebelumnya Lazel sudah bertanya pada Gyuu mengenai lokasinya, namun ternyata pria kuning itu berada di rumah dan tida bekerja untuk satu hari. Oleh karena itu Lazel tidak akan melewatkan kesempatan ini.


Sebelumnya Kara juga bertanya mengenai alasan Lazel yang memilih pergi untuk bersamanya dibadingkan bersama Hyunjae. Lazel pun dengan santainya membuat alasan lain yang termasuk kebohongan.


Karena untuk saat ini kejujuran tidak akan berpihak padanya.


Stir itu memutar ke arah kiri dan memperlihatkan sebuah gerbang putih yang  perlahan terbuka. Gyuu yang mendengar akan kedatangan Lazel telah berinisiatif untuk membuka gerbang itu tanpa membuat Lazel menunggu.


Lazel merasa tak enak hati hanya datang karena ingin mengembalikan jas yang sudah cukup lama bersemayam di dalam lemarinya.


...◇• •◇...


"Jas?"


"Jangan bilang kau lupa?"


"Y-Ya, aku hampir lupa jika memiliki jas seperti ini."


"Dasar orang kaya." Batin Lazel.


Gyuu tidak menyangka jika Lazel datang hanya karena ingin mengembalikan jas yang pernah dia pinjam. Lagipula waktu itu sudah sangat lama sehingga Gyuu hampir tidak mengingatnya.


Saat ini Lazel dan Kara berada di kediaman Hojung hanya untuk mengembalikan barang milik Gyuu.


"Bukankah kau bisa mengembalikannya di lain hari? Kau seperti ingin pergi jauh saja." Ucap Gyuu.


"..............." Lazel hanya memberikan senyuman kecil pada Gyuu, lalu telunjuknya mengarah pada jas yang sudah berada di tangan pria tersebut. "Itu bukanlah milikku, sudah sewajarnya aku mengembalikannya sebelum aku melupakannya."


"Benar juga. Aku terkejut jika kau menjadi supirnya." Ujar Gyuu pada Kara yang hanya terdiam tanpa bersuara.


"Diam kau kepala jeruk!" Sahut Kara dengan kesal.


"Mengapa saat ini kau seperti Hyunjae? Sangat menjengkelkan." Ujar Gyuu dengan urat kekesalannya.


...◇• •◇...


Setelah usai, Lazel pun memutuskan untuk kembali. Ia juga sudah mengucapkan maaf dan terima kasih berulang kali pada Gyuu. Padahal pria itu tidak tahu apa yang Lazel maksud dari ungkapan itu.


Wajahnya berpaling ke kanan dan memperhatikan kondisi luar dengan kedua matanya.


"Hei Lazel." Panggil Kara.


Wanita berpita kupu-kupu itu menoleh, "hm?"


"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Kara yang merubah raut wajahnya yang sedikit tertekuk dan juga sedikit gelisah.


"Memangnya aku kenapa?" Tanya Lazel sembari menunjuk dirinya sendiri.


"Hm... bukan apa-apa, hanya saja kau terlihat aneh hari ini."


"Benarkah?"


"Hei! Aku serius!"


"Haah~ semoga rasa cintamu itu memiliki balasan yang sama dari Hyunji." Ujar Lazel yang tiba-tiba merubah arus pembicaraan.


"K-Kenapa tiba-tiba membahas hal itu?! Aku malu!"


"Aku tidak menyangka jika wanita sepertimu memiliki rasa malu." Ejek Lazel yang memasang wajah jeleknya.


"Laaazeeel, sepertinya dugaanku salah jika kau tidak dalam kondisi baik. Mulutmu itu adalah perwakilan dari sifatmu."


"BWAHAHAHAHAH!!"


...◇• •◇...

__ADS_1


"Sampai jumpaaa~" tangannya terus melambai dan meninggalkan kiss bye untuk Lazel.


"Hm." Angguknya.


Setelah Kara memenuhi pertolongan dari Lazel, ia pun memutuskan untuk kembali. Sedangkan Lazel meraih ponselnya dan menatap waktu dari sana.


Kedua alisnya semakin terlihat datar, serta ekspresi wajahnya yang sulit untuk dijelaskan.


Dari sana dirinya dapat melihat dua buah Villa yang berukuran sama. Sebuah Rumah Kaca menjadi pembatas atau penghalang bagi kedua Villa tersebut. Di sekelilingnya terdapat halaman yang sangat luas. Pemandangan itu sudah ia lihat selama sepuluh tahun lebih.


Mungkin ada suatu saat dirinya akan merindukan suasana seperti itu.


Cerita sedih, suram dan hal lainnya sudah ia alami bertahun-tahun. Sehingga ia kebal terhadap itu semua. Bahkan hampir tidak merasakan apapun pada tindakan Hyunjae yang dulu selalu membuatnya terlibat dalam masalah sepele.


Tangannya meraih sesuatu dari saku jaketnya dan mengeluarkan beberapa pil mungil berwarna putih di dalam plastik kecil.


"Maaf... Yana."


...◇• •◇...


Sesuai dengan janji yang dia ucapkan sebelumnya. Yana menyambut kepulangan Lazel dengan hormat dan mempersilahkan dirinya untuk makan.


Sulit memikirkan hal-hal buruk yang Hyunjae lakukan padanya, karena pria itu sepertinya berhasil memburamkan atau mengubur masa lalunya sendiri dan serius untuk mulai menemani Lazel.


Gilver saat ini sudah mendapatkan kalung lonceng pemberian Hyunjae. Kedua kakinya yang terus berlari menciptakan suara rincingan kecil di dalam rumah besar itu.


Lazel sangat payah dalam memasak, oleh karena itu Yana akan melakukan tugas lainnya termasuk memasak. Selama tidak ada dirinya, Lazel dan Hyunjae harus terus berharap pada pesanan mereka.


"Ada apa Nona?" Tanya Yana karena melihat Lazel meletakkan peralatan makannnya.


"Makanan buatanmu enak sekali." Ujar Lazel dengan wajah yang penuh haru.


"Hiks! Aku senang mendengarnya dari Anda."


"Oh, ada sesuatu yang harus ku lakukan. Tunggulah disini."


"..............." padahal saat ini adalah situasi dimana sangat sulit baginya untuk tersenyum. Tapi apa boleh buat, untuk seseorang yang telah banyak membantunya. "Aku baik!" Jawabnya dengan ancungan jempol.


"Haaah~ syukurlah~"


"Yana."


"Ya?"


"Minuman itu... ku berikan sebagai rasa terima kasihku." Senyumnya.


...◇• •◇...


Sebuah kamar dimana ia selalu membaginya dengan Hyunjae. Beberapa deretan boneka memenuhi lemari dan juga ranjang. Dan juga... sebuah lampu tidur bermotif kupu-kupu, benda itu merupakan benda pemberian Hyunjae saat mereka baru saja kembali dari Amerika.


Wajahnya sama sekali tidak tersenyum, bahkan tatapannya saat ini terlihat sangat meyakinkan untuk bisa berbuat sesuatu.


Ia melangkahkan kakinya pada ranjang lalu berlutut dan meraih koper berwarna merah yang berada di bawah ranjang tersebut.


Gerakkanya saat ini terlihat lebih cepat dan juga gesit. Kedua tangannya membuka lebar lemari pakaian dan memasukkan pakaiannya dengan rapi tanpa membuat pakaian Hyunjae berantakan.


Disaat mulai melipat, tanpa ia sadari sebuah bulir air mata menjatuhi tangannya.


"H-Huh?" Tangannya yang gemetar berusaha memegang pipinya, "a-aku menangis? Tapi kenapa..."


Padahal hanya sisa sedikit lagi ia akan mulai berbaikan dengan Hyunjae, atau bahkan bisa menciptakan sesuatu yang lebih dari pertemanan. Akan tetapi... semua itu mustahil untuk dilakukan. Karena situasi saat ini sudah cukup baginya.


Ia mengepal kedua tangannya sendiri sehingga dapat merasakan cincin-cincin yang ia kenakan, salah satunya adalah cincin pernikahannya dengan Hyunjae.


Sungguh miris... pernikahan yang terjadi hanya karena saling memanfaatkan. Cincin sebagai tanda bukti tak lain hanya sebagai bukti kebohongan. Hidup di dalam kemewahan dan meninggalkan segalanya dengan memulai sesuatu yang semakin membuat dirinya layaknya mati.


...◇• •◇...


Ia mengangkat koper itu dan menuruni anak tangga dengan tangisan yang menderu.

__ADS_1


"Tidak... aku tidak bisa tinggal disini..."


"Tidak ada siapapun yang akan menerimaku selain Ian... bahkan aku tidak tahu apakah dia bisa memaafkanku,"


"Terus disini hanya membuat diriku sebagai ancaman yang memungkinkan akan membawa bencana lebih besar,"


"Sudah cukup, aku lelah, aku tidak sanggup memainkan peran ini lebih jauh."


Sesampainya di lantai bawah, Lazel melihat Yana yang   terduduk di kursi meja makan dan merebahkan kepalanya layaknya orang yang tertidur. Hal itu memang benar, karena sebelumnya Lazel mencampurkan sedikit obat tidur dalam minuman yang dia berikan pada Yana.


Merasa bersalah, Lazel semakin membuat dirinya diambang penyesalan. Tindakan yang dia ambil saat ini memanglah sangat tajam, namun memang tidak ada jalan pintas dalam kehidupan.


"Yana maaf, aku tidak bermaksud untuk membohongimu." Batinnya.


Ia segera melanjutkan langkahnya menuju pintu rumah. Suara lonceng mini terdengar lucu disaat kucing itu mulai tertidur di atas sofa. Mengetahui Hyunjae yang sangat menyukai kucing membuat Lazel sedikit lega bahwa ada seseorang yang sangup untuk merawat Gilver.


Tanpa sepatah katapun, Lazel meninggalkan Villa mewah itu bersama dengan koper besar berwarna merah yang berada di tangannya.


...◇• •◇...


Wajahnya tidak berhenti tersenyum, bahkan kedua matanya terus berharap pada sosok yang akan dia lihat saat tiba di rumah.


"Haaah~ ramen? Apa dia begitu menyukai ramen dibandingkan diriku?" Keluhnya dengan ribuan kecemburuan terhadap saingannya, yaitu ramen.


Tapi karena hal itu adalah permintaan dari Lazel, Hyunjae pun berniat untuk membelikannya dan ingin melihat wajah senang Lazel.


Rasa senangnya pudar saat melihat keramaian tempat yang Lazel minta, "a-apa ini adalah salah satu cobaan untuk menjadi Suami yang setia?" Tanya Hyunjae pada dirinya sendiri.


Hyunjae menghentikan mobilnya yang tak jauh dari kedai tersebut. Ia mulai mencari nama Lazel dan berniat untuk menghubunginya.


"Hm? Ponselnya tidak aktif?"


Hyunjae mencobanya kembali dan menunggu dengan sabar.


"Ada apa dengannya? Mengapa dia tidak menja-"


"Berhentilah menerorku! Kau selalu menggangguku! Bukankah kau memiliki jalan pulang untuk bisa melihatku secara langsung?!"


Hyunjae pun menghentikan aktivitasnya karena mengingat bentakkan maut Istrinya.


"A-Aku akan menunggu." Nyalinya tiba-tiba menghilang dan seketika menjadi anak kucing yang patuh.


...◇• •◇...


Tok! Tok! Tok!


"Yaaa! Tunggu sebentar!"


Kedua kakinya begitu lemas, kedua matanya sudah tidak sembab seperti sebelumnya. Dirinya saat ini benar-benar berusaha tegar dengan apa yang sudah dia perbuat sendiri.


Seharusnya Ian tidak harus memasuki bagian hal ini, tapi apa boleh buat... Ian adalah satu-satunya seseorang yang dapat dia percayai. Karena mereka adalah saudara kembar.


Cklek!


"Sia-" kedua matanya membesar saat melihat siapa yang ada di depan pintunya dengan sebuah koper di tangannya. "K-Kak..."


Ian menarik Lazel masuk dan membuatnya duduk terlebih dahulu.


Ian menatap koper tersebut dengan curiga, "koper? Kau mau kemana?" Tanya Ian yang memegang kedua tangan Kakaknya.


"Hehehe~ apa kau mau ikut?" Tanya Lazel yang begitu hebatnya mengubah ekspresi dan juga tutur kalimatnya agar terlihat seperti biasa.


Awalnya Lazel terlihat sangat menyedihkan dan juga terlihat sangat rapuh. Namun saat ini dirinya mampu menipu Adiknya dengan sebuah akting, hal itu sudah menjadi bagian kehebatan dalam hidupnya.


"Hm? Liburan?!" Begitu mudahnya Ian terpancing dengan ucapan manis Kakaknya.


Lazel meraih kedua tangan Ian lalu menatapnya dengan penuh kasih sayang, "hei Ian... bukankah kau pernah berkata padaku, bahwa kau akan mengikuti kemanapun aku pergi?"


...Untuk sesuatu yang sulit dipercaya, namun harus bersiap untuk menerimanya....

__ADS_1


__ADS_2