
Layaknya kupu-kupu yang memiliki racun di setiap anggota tubuh mereka. Memiliki sepasang sayap yang indah namun mematikan, semuanya seperti akan berakhir dengan indah.
"..............."
Dapat diakui. Lazel adalah tipe wania yang tidak pernah mempermainkan korbannya. Wanita berambut perak itu memang terlihat seperti wanita salju, namun dengan bercak darah yang mengelilingi dirinya.
Sekumpulan darah itu akan melindungi dirinya sendiri, agar terhindar dari sentuhan kotor dari manusia manapun.
Paras cantik serta uniknya menyerupai kupu-kupu.
Ia merasa jika tangan Hyunjae yang mengekang tubuhnya semakin longgar. Oleh karena itu Lazel mengambil kesempatan itu lalu melepaskan diri.
"Asalkan kau tahu... aku tidak persis dengan wanita yang pernah kau tiduri." Ujarnya dengan tatapan yang dingin.
Hyunjae melebarkan kedua tangannya dan menyandarkan kepalanya, "haah~ syukurlah jika aku tidak dalam keadaan mabuk atau sedang tidak terkendali." Ucapnya dengan keluhan
"Hm?"
Drrt!
Lazel meraih ponselnya yang berada di dalam saku lalu melihat siapa yang menghubunginya.
"Ayah?" Lirihnya.
Ia pun langsung mengangkat panggilan tersebut. "Halo?"
^^^"Lazel... pria asing yang melibatkan dirinya untuk mencelakai Hyunjae dan juga dirimu... dia tewas."^^^
"!!!!" Ponsel yang ada di genggamannya itu hampir saja terjatuh, serta wajahnya yang nampak terlihat terkejut.
"Lazel? Ada apa?" Tanya Hyunjae yang langsung membangkitkan tubuhnya dan mendekati Lazel.
"Sialan! Bagaimana bisa?! Bahkan aku belum mengetahui siapa yang ingin melenyapkan Hyunjae!" Bentaknya.
^^^"..............."^^^
"B-Baik, aku dan-"
^^^"..............."^^^
"T-Tapi aku baik-baik saja."
Hyunjae melihat wajah kecewa dari Lazel. Ia merasa jika sesuatu yang serius telah terjadi.
"B-Baiklah..." setelah membicarakannya dengan Adam, akhirnya pembicaraan mereka usai.
Tangannya menggenggam ponsel itu dengan erat.
"Lazel apa yang-"
Tatapannya mengarah pada Hyunjae sambil memegang kedua lengannya dengan alis yang tertekuk, "Hyunjae... orang yang waktu itu... orang yang ingin mencelakaimu... dia tewas."
"!!!!"
...◇• •◇...
Sepertinya dugaan Lazel seratus persen benar. Pada waktu itu, pelaku memang terlihat panik sehingga mengatakan sesuatu yang membuat dirinya bingung.
Dirinya sangat yakin, pada waktu itu yang dimaksudkan oleh pelaku itu adalah dalang yang mencoba mengotori tangannya sendiri melalui orang lain atau bawahan.
Berkat bantuan Ayah Mertuanya, pelaku mungkin dapat ditemukan. Namun saat berhasil mendapatkannya, yang terpajang di depan matanya hanya manusia yang sudah tak bernyawa.
"Lazel, siapapun itu jangan biarkan siapapun memasuki rumah. Aku akan memanggil Kara dan juga yang lainnya untuk menjaga area runah." Ucap Hyunjae yang terlihat terburu-buru menuruni anak tangga.
Lazel yang masih nampak bingung dan juga panik menghampiri pria itu, "sialan! Orang itu pasti tidak ingin meninggalkan jejak apapun!" Ucapnya dengan kesal.
"Aku tidak tahu pasti... jadi kau tetaplah di rumah." Ujarnya.
"Bagaimana... bagaimana mereka mengambil kesempatan ini untuk kembali mendekatimu. Bisa saja opini ini akan-"
"Ayolah~ hal yang terjadi tidak akan terulang."
"..............."
Hyunjae sangat tahu bagaimana perasaan Lazel saat ini. Karena wanita itulah yang menyelamatkan dirinya dan juga hampir menangkap pelaku tersebut.
Hanya seperti ini... tidak mungkin Hyunjae akan membiarkan Lazel kembali dalam bahaya. Oleh karena itu sebisa mungkin ia membuat Lazel tetap di rumah.
...◇• •◇...
__ADS_1
Mobil merah itu melesat pergi dengan cepat. Kepergian Hyunjae membuat sekujue tubuhnya melemas.
"Dia hanyalah Hyunjae... dia mengincar Hyunjae... tapi mengapa aku begitu khawatir?"
"Memangnya apa yang terjadi padaku jika Hyunjae akan tewas di tangan mereka?"
"Bukankah aku bisa mengambil harta mereka? Bisa saja aku akan menggantikan posisi Hyunjae dan-"
Kedua tangannya mengacak-acak rambutnya sendiri. Pemikiran itu semakin membuatnya merasa frustasi.
"Tidak tidak... aku sama sekali tidak tahu bagaimana perasaanku nanti."
...◇• •◇...
Situasinya semakin rumit. Siapa sangka jika salah satu pelaku yang mereka ketahui kini tewas entah penyebabnya apa.
Saat ini Hyunjae dan Hyunji berada di lokasi kejadian bersama dengan Adam yang merupakan anggota Mafia Malam, lebih tepatnya ia adalah Ketua dari Organisasi bayangan tersebut.
Kematiannya sama sekali tidak masuk akal. Mereka dapat mempersingkat penjelasan jika kejadian itu diakibatkan oleh pembunuhan, tapi... tanpa bukti, sama saja mereka membantah pemerintah.
Sekumpulan Polisi juga memenuhi tempat kejadian.
"Hyunjae... lebih baik kau kembali, kurasa Lazel sangat mengkhawatirkan dirimu." Ujar Hyunji yang menghampiri Adiknya.
"Tapi..."
"Itu benar... aku juga berpikir, bisa saja ini adalah pancingan untuk dirimu agar menjauh dari Lazel. Lalu sasarannya di antara kalian berdua." Jelas Adam.
"..............." meskipun sudah mengirim seluruh bawahannya untuk menjaga area rumah. Tetap saja rasa khawatirnya tidak menghilang.
"Baiklah, aku akan kembali."
...◇• •◇...
Siapa pelakunya? Dan apa tujuan mereka?
Pertanyaan itu mungkin akan semakin sulit untuk di dapatkan. Setelah kematian Wonhae yang sama sekali tidak masuk akal, kini incaran selanjutnya adalah Hyunjae, pria yang memiliki wibawa besar dalam keluarganya.
"Kapan... kapan hal ini akan berakhir." Batin Lazel yang saat ini sedikit frustasi.
Sebelumnya Hyunjae memanggil Kara dan juga beberapa bawahannya. Dan hal itu terpenuhi. Saat ini Kara berusaha menenangkan Lazel.
Kara mengetahui saat kematian kedua orang tua Lazel. Karena pada saat itu, ia ikut menghadiri pemakaman di cuaca bersalju. Meskipun tidak saling menyapa, dirinya dapat memahami rasa sakit yang dialami Lazel.
"Hei, bisakah kau mengirim beberapa temanmu untuk ke lokasi ini?" Ujar Lazel sambil mengadahkan ponselnya dengan sebuah peta di layar tersebut.
"Hm? Ini..."
"Ini adalah rumah ku, yang saat ini ditinggali oleh Adikku, Ian," jelasnya. "Aku khawatir jika Ian juga diikutkan dalam masalah ini,"
"Pada saat kejadian itu... Ian juga merasa khawatir sehingga menangis." Kekehnya.
Kara sangat menyukai sifat Lazel yang selalu mengkhawatirkan orang lain dibandingkan dirinya sendiri, "tenang saja, sebelumnya Pak Direktur sudah memerintahkan sebagian anak buahnya untuk mengunjungi kediaman itu."
"Huh? Hyunjae melakukannya?"
"Y-Ya... kupikir dia sudah mengatakannya padamu."
"Hyunjae..."
...◇• •◇...
Beberapa menit yang lalu, ia mendapatkan panggilan dari Hyunjae mengenai kondisi di lokasi. Setelah mendengar suara Hyunjae perasaan khawatirnya sedikit mereda. Menurut pendengarannya, pria itu sedang dalam perjalanan.
Setelah itu Lazel akan menunggu kedatangan Hyunjae. Tak lama dirinya menunggu, pria berambut hitam dengan tindik itu tiba dan langsung memasuki rumah.
"Lazel?"
"Hyunjae..." wanita itu langsung bangkit dari duduknya setelah melihat kedatangan Hyunjae.
"Haah~ aku tidak menyangka jika hal ini semakin rumit. Meskipun aku tidak terlalu peduli." Ujar Hyunjae yang langsung merebahkan tubuhnya ke atas sofa.
"Hah? Bagaimana bisa kau tidak peduli?"
"Yaah~ selama dirimu ada bukankah aku baik-baik saja?" Ujar Hyunjae yang menolehkan wajahnya ke samping.
"Apa maksudmu hah?! Jadi kau menggunakan diriku sebagai tameng?! Apa kau pikir nyawaku ini ada sembilan?!" Ucap Lazel dengan emosi yang membara.
"Hm? Selama ada diriku memangnya siapa yang berani menyentuhmu?"
__ADS_1
"H-Huh?"
"Simpelnya saja. Selama kau dan aku masih bersama, masing-masing bisa saling melindungi. Itu saja."
"Kau ini memang aneh." Tutur Lazel.
"Aneh? Aneh dari mananya?"
Wanita beiris pink itu semakin sulit membaca pikiran Hyunjae. Semakin hari pria itu selalu bertindak di luar pemikirannya, sehingga hal itu membuat dirinya terkejut.
"Terima kasih."
"Untuk?"
"Kau melindungi Ian, aku menghargai itu." Ucapnya dengan emosi yang stabil.
Pria yang tengah duduk di samping Lazel itu menoleh dan memanggil nama Istrinya.
"Lazel..."
"Apa?" Jawabnya dengan kasar dengan wajah yang menoleh secara langsung.
"Suatu saat nanti, jika hanya ada dua pilihan di dalam hidupku. Antara dirimu dan juga Ian. Siapa yang akan ku lindungi?"
"Apa-apaan pertanyaanmu itu? Bukankah selama ada dirimu aku baik-baik saja?" Tukas Lazel yang menyeringai.
"..............." perkataannya itu. Membuat Hyunjae memakan kalimatnya sendiri.
"Tapi... jika memang tidak ada pilihan," ia menunjukkan ekspresi yang serius. "Kau harus merelakan diriku, dan tetap membuat Ian hidup." Ujarnya dengan wajah datar.
Hyunjae yang mendengarnya sedikit hampa dan juga sesak, "merelakan... dirimu... apa aku bisa?"
...◇• •◇...
Sama seperti Hyunjae. Setelah mendengar kalimat pria itu, seketika pikirannya menyelaraskan dengan pemikiran Hyunjae.
Sebenarnya ancaman apapun bukan masalah bagi mereka, selama masing-masing dari mereka baik-baik saja. Dan saling melindungi satu sama lain.
Demi melindungi Adik satu-satunya. Lazel tidak pernah membicarakan hal-hal yang berbahaya pada Ian. Kepergian Ibu dan Ayahnya, ia membuat tragedi itu sebagai masalah terakhir dalam hidupnya.
Saat ini suasana luar hanya di terangi dengan bola lampu yang berjejer. Bulan telah meninggikan posisinya sehingga membuat cahaya biru di malam hari.
Di bawah lampu gantung berbentuk mawar dengan kristal di tengahnya, mereka memberikan nuansa emas dengan cahaya cerah.
Di atas sebuah sofa berwarna hitam, terlihat sosok wanita dengan kaos hitamnya serta celana panjang yang memiliki warna yang sama kini tengah tertidur.
Kedua matanya terpejam rapat, novel yang memiliki sampul biru malam itu ia gunakan sebagai penutup mata, agar menghalangi cahaya terang di kedua matanya.
Tanpa sadar, dengan satu gerakan saja, buku itu bisa saja terjatuh dan membuat keributan.
Akan tetapi... Hyunjae yang melewati tempat itu langsung sigap dan mengambil buku tebal tersebut.
Ia melihat Lazel yang kini sudah tertidur pulas di atas sofa. Padahal waktu belum menunjukkan jam untuk tidur, namun apa yang Hyunjae duga, mungkin Lazel saat ini kelelahan.
"Hah?? Memangnya apa yang membuatnya lelah? Bukankah dia tidak pernah memasak? Dan disaat mencuci akulah yang dia andalkan." Batinnya kesal.
"Haaah~" ia menyempatkan dirinya untuk bersantai di ruang tengah.
Piyama hitam yang ia kenakan sudah pasti jika pria bertubuh kekar itu baru saja menyelesaikan mandinya.
Posisi duduknya membuat dada dan juga perutnya terlihat sexy.
Ia memperhatikan wajah Lazel sambil berpikir, "jika aku membiarkannya disini..." Hyunjae menatap ruang depan. "Mungkin saat pagi tiba, tubuhnya tergeletak disana." Sambungnya.
...◇• •◇...
Wajahnya tersorot dengan cahaya bulan. Musim semi di tahun ini begitu menyejukkan dan menghangatkan. Usainya Musim Dingin, pohon serta ranting yang kehilangan daunnya perlahan tumbuh kembali dan memperlihatkan bunga-bunga yang cantik.
Sulit dipercaya... bahkan belakangan ini dirinya mulai mengakui bahwa Lazel sangat berbeda, perbedaan itu membuat dirinya menjadi sosok yang unik.
Tangannya meraih boneka jerapah yang ia dapatkan sebagai hadiah.
Sedangkan seseorang dengan tubuh sexy itu mengambil posisi menyamping dan memperhatikan wajah Lazel di jarak yang cukup dekat.
Ia memperhatikan ciri-ciri yang dimiliki oleh Lazel. Mulai dari rambut perak yang dia miliki, bulu mata panjang yang tidak begitu tebal, serta rona bibir yang hampir menyamai dengan darah.
Bahkan saat tidur wajah itu seperti tertumpuk dengan riasan.
Kedua matanya menyipit dan memberikan sorotan hangat, "harus ku akui... kau itu memiliki wajah yang unik." Senyumnya tipis.
__ADS_1