Lost Feeling

Lost Feeling
Smokeless Fire


__ADS_3

Hyunjae Pietra, pria yang memiliki kebiasaan buruk pada setiap wanita yang ia jumpai. Namun, hingga kini seluruh mata-mata ataupun wartawan sama sekali tidak berkutik jika melawan dirinya yang dapat melakukan apa saja.


Memiliki Istri yang dua tahun lebih muda darinya.


Dalam hidupnya, ia tidak pernah tertarik pada masalah orang lain selain dirinya sendiri.


Untuk pertama kalinya, dia melibatkan dirinya sendiri pada seorang wanita yang sama sekali bukan termasuk ke dalam urusannya.


Rasa tidak sukanya pun menjadi rasa penasaran, apakah rasa penasaran itu akan kembali berubah?


...◇• •◇...


Jari-jari tangan kanannya terus mengetuk meja dengan intonasi yang tidak rapi. Tatapan mereka saling bertemu dan melemparkan rasa kesal satu sama lain.


"Dan... sampai kapan kau berada disini!" Kini Lazel tidak bisa menahan amarahnya lebih lama.


Kedua tangannya menyamping dan berpose seolah-olah tidak peduli, "hm~ apa masalahnya denganmu? Bukankah aku tidak menganggumu." Balasnya dengan wajah yang merasa benar.


"Kau menatapku saja itu sudah sangat sangat dan sangat menggangguku!" Ucapnya dalam hati dengan kesal.


Waktu hampir berlalu begitu saja, dan semuanya sangat tiba-tiba. Hyunjae datang ke perusahaannya dan mengganggu dirinya yang sedang fokus melakukan sesuatu.


Namun pria itu sama sekali tidak peduli mengenai dampak dirinya pada Lazel. Dirinya hanya berusaha untuk menikmati waktu santainya.


Kedatangan Hyunjae hampir lamanya dengan Egis yang menghilang entah kemana. Mungkin pekerjaannya akan lebih berat dan bertambah hanya karena pria berambut kuning itu.


Sepertinya masalah pribadinya tidak akan selesai jika terus melawan tatapan maut Hyunjae. Oleh karena itu dirinya akan melakukan semuanya sendiri dan mengulang segalanya karena Egis tidak ada dalam jangkuannya.


Lazel melepaskan kacamatanya lalu beranjak dari duduknya, "baiklah kau bisa disini, aku akan-"


"Hidungmu berdarah." Sahut Hyunjae yang sedang menatap Lazel dengan wajah datarnya.


"!!!!" Ia mulai memperhatikan punggung tangan kirinya yang merasakan sebuah tetesan, "mimisan?" Lirihnya.


"Sepertinya pikiranmu sedang mes-" Hyunjae menutup mulutnya serapat mungkin dan tidak berniat untuk melanjutkan kalimatnya.


"Hah?" Ancam Lazel yang sedang menggenggam meja kerjanya dengan erat.


"T-Tidak." Gelengnya cepat.


Wanita berambut perak itu akhirnya tidak menanggapi Hyunjae dan bergegas ke kamar mandi. Akan tetapi... sebuah tangan menariknya kembali sehingga membuat dirinya terduduk di atas pangkuan seseorang.


Tanpa sadar, salah satu tangannya harus memegang pundak pria itu dan menatapnya dari jarak dekat.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Lazel dengan sebuah urat kekesalan di pelipisnya.


"Arahkan kepalamu ke atas." Ujar Hyunjae yang memegang tubuh wanita itu dengan erat.


"Hah? Tidak ma-"


Karena sifat keras kepalanya itu, Hyunjae bertindak nekat dengan mengambil kesempatan terdekat untuk menyentuhkan bibirnya dengan milik Lazel.


Refleks Lazel langsung mengadahkan kepalanya ke atas, sesuai dengan permintaan Hyunjae.


"Hah~ anak pintar." Keluhnya sambil menepuk kepala Lazel dengan pelan.


"Itu bukan suatu hal yang patut di keluhkan!" Batinnya kesal.


...◇• •◇...


Kejadian yang pernah terjadi di waktu sebelumnya. Dimana mereka masih berada di Amerika dan tinggal bersama di satu kamar.


Sejujurnya... mengatasi tindakan dan juga kepribadian Hyunjae yang menjengkelkan bisa diatasi dengan mudah. Memelayangkan kepalannya pada wajah tampannya saja sudah lebih dari cukup.


Tetapi... dirinya jauh lebih lemah dalam hal kecepatan.


Saat dirinya memberikan pukulan pertama pada wajahnya, ia sama sekali tidak menyangka jika Hyunjae tidak berniat untuk melakukan hal yang ada di pikirannya, sehingga pada akhirnya pria itu menerima pukulan telak darinya.

__ADS_1


"Aku bisa melakukannya sendiri." Ujar Lazel yang merasa sakit di bagian lehernya karena dalam posisi kepala tidak benar.


"Aku tahu. Tapi aku tidak mengijinkannya," sahut Hyunjae yang mulai menahan kepala Lazel dengan tangan besarnya. "Lemaskan saja kepalamu."


Untuk saat ini, akan lebih baik menuruti perintahnya. Jika tidak, kemungkinan besar pria itu akan melakukan sesuatu yang tidak disangka.


"Aku penasaran, mengapa kau sering mimisan?"


"Tidak tahu. Lagipula ini terjadi secara tiba-tiba."


"Ku dengar... orang yang mimisan akan merasakan sakit di kepala mereka. Apa itu benar?" Tanya Hyunjae yang masih membersihkan darah di kedua rongga hidung Lazel.


"Entah."


"Hm? Memangnya kau tidak merasakannya?"


"Tentu saja aku merasakannya. Sakit kepala untuk memikirkan cara agar dapat menyingkirkanmu dari sini." Jelasnya.


"Jahat sekali wanita ini." Pikirnya.


...◇• •◇...


Setelah membutuhkan waktu beberapa menit akhirnya Hyunjae menyelesaikan aktivitasnya dan membebaskan Lazel untuk pergi.


"Haah~ punggungku sangat sakit." Keluh Lazel yang sedang meregangkan tubuhnya di hadapan Hyunjae.


Ia pun berniat untuk pergi ke kamar mandi untuk membilasnya dengan air.


"Heh~ tidak ada ucapan terima kasih untukku?" Tanya Hyunjae yang menyandarkan kedua tangannya di atas sofa.


"Lagipula aku tidak membutuhkan bantuanmu." Sahut Lazel dengan masa bodoh.


"..............."


Ia melihat wanita dengan sepatu kantor berwarna hitam melewati dan meninggalkan dirinya tanpa sepatah katapun.


"Jika Lazel tidak memalingkan wajahnya dengan cepat, mungkin aku akan melakukannya tanpa sadar." Ujarnya sambil mengepal tangannya sendiri.


...◇• •◇...


Wajahnya kini terbasuh dengan air yang mengalir dari wastafel kamar mandi.


Kedua tatapannya yang memiliki iris berwarna pink. Ia menatapnya sendiri dari balik kaca besar yang ada di hadapannya.


"Kulit pucat... iris berwarna pink... serta bibir memiliki warna hampir semerah darah, seperti ini dikatakan sebagai boneka?"


Wanita berjas hitam itu terkekeh saat mengingat ucapan orang lain mengenai dirinya. Mulai dari pujian hingga hatters yang sangat membenci dirinya.


Rupa yang sama sekali tidak memiliki kemiripan dari kedua orang tuanya. Memangnya apa yang patut dibanggakan dari hal itu?


Justru dirinya merasa aneh dan juga tidak menyukai wajahnya sendiri. Kemiripan yang benar-benar tidak terlihat itu sama saja dengan sosok asing tanpa kedua orang tuanya.


Bahkan Ian memiliki rupa yang sama sepertinya. Sehingga keduanya sulit dikenali dari belakang.


"Hah... pria itu terlalu baik. Aku jadi sedikit merinding saat merasakannya." Ucapnya sambil mengusap wajahnya dengan handuk kering.


Setelah memperbaiki sedikit penampilannya, Lazel bergegas untuk meninggalkan kamar mandi dan kembali pada ruangannya.


...◇• •◇...


Disaat Hyunjae ada bersamanya, jujur saja... sedikit sulit untuk berpikir karena pria itu berusaha untuk mengganggu dirinya.


Awalnya ia sedikit terkejut dengan mobil yang ada di parkiran bawah tanah. Sedikit sulit untuk membayangkan jika secara langsung orang itu menemui dirinya.


Dan ternyata... pria itu adalah Hyunjae. Ia merasa jika pandangannya sedikit keliru mengenai mobil yang ada di basement tersebut.


Kedua kakinya melangkah dengan santai, dengan kedua tangan yang mengepal di kedua sisi tubuhnya, "aku tidak bisa melakukan banyak hal jika Hyunjae ada disini,"

__ADS_1


"Aku juga tidak berniat untuk membawa dirinya ke dalam urusan ini,"


"Dia juga tidak perlu mengetahui banyak mengenai Wonhae." Mengingatnya kembali hanya membuat amarahnya kembali terlihat.


Kecelakaan besar sepuluh tahun yang lalu. Yang terjadi di kota, dimana sebuah trak pengangkut setumpuk barang penting berupa ponsel pengeluaran terbaru menabrak perusahaan kecil yang menjadi sasaran kehancuran, sehingga membuat satu nyawa melayang saat mengendarai sebuah mobil.


Mobil korban hancur di bagian depannya sehingga menghancurkan bagian bawah tubuhnya dan membuat tubuh bagian atasnya sedikit remuk.


Mobil besar itu tentu saja mengalami kerugian yang amat besar, dan hal itu berlaku bagi perusahaan kecil tersebut.


Sehingga kejanggalan pun terjadi... selama kecelakaan terjadi, pelaku sama sekali tidak ditemukan.


Hingga pada sepuluh tahun mendatang, ia masih merasa penasaran dan memendam penuh amarah pada seseorang yang telah membuat kekacauan besar itu.


Tidak mungkin kecelakaan itu terjadi begitu saja tanpa penyebab. Sama halnya dengan sebuah api. Asap tidak akan muncul begitu saja tanpa sebuah alasan.


Oleh karena itu... selama apapun, sesulit apapun jalan yang ia telusuri hanya untuk mencari pelakunya, dirinya sama sekali tidak pernah putus asa, sehingga dapat mengetahui sendiri di balik kecelakaan itu.


Kejadian sepuluh tahun itupun dijuluki dengan api tanpa asap. Karena mereka sama sekali tidak mengetahui penyebab tragedi tersebut.


...◇• •◇...


Tanpa sebuah alasan, dirinya kembali mengingat sesuatu yang harusnya tidak ia ingat. Bagaimana pedih dan sekitnya sebuah bencana yang menghampiri dirinya.


Di hari itu ia sudah menduga bahwa tidak akan mudah untuk kembali melanjutkan kehidupan.


Tetapi... yang saat ini harus ia lakukan adalah menemukan pelaku dan membuatnya membayar segalanya yang ada di masa lalu.


Meskipun dirinya harus menghilangkan nyawa seseorang hanya demi balas dendam pribadinya.


Bruak!


Tangannya membuka pintu itu dengan sedikit kepalan yang kuat dan menjalar dari emosinya.


"Oh astaga!" Kejut Hyunjae.


"Huh?!" Ia tersadar begitu saja saat membuka pintu ruangannya sambil memikirkan hal lain.


Lazel hampir melupakan Hyunjae yang ada di dalam ruangannya.


"Ck! Aku hampir melakukan sesuatu yang ceroboh." Batinnya.


Lazel mencoba mengendalikan emosinya dan membuat kepalanya kembali dingin.


"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Hyunjae yang tidak pernah melepaskan bokongnya dari sofa.


Lazel memperhatikan Hyunjae yang masig berada di tempat yang sama, "apa bokongnya baik-baik saja?" Tanya Lazel dalam hati, "aku baik."


"Kupikir kau akan kembali mengeluh mengenai diriku." Ujar Hyunjae yang tidak merasa bersalah sama sekali.


"Ya, aku mengeluhkan dirimu yang terus berada disini sepanjang waktu." Tatapnya kesal.


Memang benar, Hyunjae sama sekali tidak meninggalkan ruangan itu. Dan dirinya tidak mungkin akan datang begitu saja tanpa alasan yang tepat.


Tidak ada yang tahu alasannya, lagipula pria itu sama sekali tidak memiliki rencana atau pikiran buruk pada Lazel. Lebih tepatnya ia sedang mengawasi wanita berambut perak itu.


"Wonhae... pria yang disuka oleh Lazel..." pikirnya.


Hyunjae meraih mantelnya, "aku akan pergi."


"!!!!" Lazel yang fokus menatap layar laptop langsung menoleh dengan cepat, "a-akhirnya pintu hatimu terbuka." Ucapnya dengan terang-terangan.


"Kupikir aku tidak perlu mengkhawatirkan wanita ini... lagipula ada sesuatu yang ingin kupastikan sendiri." Tangannya memegang dadanya sendiri dengan raut wajah yang sendu.


Setelah memberikan ejekan pada Lazel, ia pun langsung meninggalkan ruangan itu dengan cepat.


"Haah~ dia sangat kekanak-kanakan," keluh Lazel. "Benar juga... aku harus menemui Byul."

__ADS_1


__ADS_2