
"Haha~ aku lupa, aku juga mulai mengingat dimana Bos pernah membuatkannya untuk Tuan Direktur."
Masalah utama Lazel akhirnya selesai, mungkin. Saat ini seorang pria terlihat sedikit suram setelah mendengar apa yang tidak ingin dia dengar. Ucapan Vicy selalu membayang-bayangi pikirannya, Lazel adalah sosok wanita yang dia sukai, tapi mengapa dia melakukan hal seperti itu pada Hyunjae? Apa mereka berbaikan?
Sepertinya ada beberapa hal yang masih tidak diketahui oleh Gyuu. Jika seseorang menjadi penasihat dirinya, mungkin orang itu tidak akan membuat Gyuu untuk mencampuri urusan orang lain, apalagi pada seseorang yang sudah menikah.
Awalnya rasa sukanya pada Lazel nampak biasa dan tidak begitu mewah, namun setelah terus memperhatikannya, entah mengapa jika wanita itu seperti memiliki masalah di dalam hidupnya.
Setelah melihat berkali-kali tindakan Hyunjae pada Lazel, disitulah dirinya mulai tersadar, jika selama ini mereka melakukan drama di atas pernikahan yang berjalan bertahun-tahun.
Ikut campur dalam masalanya pun akan mengambil resiko yang cukup berat, dimana Lazel akan mulai menilai Gyuu sebagai penghalang jalannya. Rasa suka atau cintanya pada Lazel itu bukan masalah bagi Lazel sendiri. Tapi... sesuatu yang tidak dia sukai dan bisa saja menghalangi jalannya, mungkin dia tidak akan tinggal diam.
Ia mengacak-acak rambutnya sendiri dengan wajah yang terlihat kusut, "ck! Memangnya apa yang terjadi pada dua pasangan itu?" Tuturnya kesal.
...◇• •◇...
"A-Aku tidak menyangka jika hanya sebuah kalung nilainya dapat membuat rekeningku bersedih,"
"Hyunjae tidak salah bukan untuk menilainya?"
"Hm... memang aku yang merancangnya, tapi aku tidak menyangka jika harganya setinggi itu,"
Setelah melakukan jual beli pada beberapa orang, akhirnya Lazel kembali tenang dan tidak memikirkan Personal Selling itu. Namun bukan berarti pekerjaannya akan usai di titik itu, beberapa tumpuk dokumen yang dia berikan pada Vicy untuk membuat salinannya, Lazel harus memberikan stampel dan juga tanda tangannya pada setiap salinan tersebut.
Belum lagi dirinya harus membuat laporan untuk Perusahaan Pusat atas penjualan kalung. Sebenarnya Lazel ingin instan saja, bukankah dirinya adalah Istri dari Tuan Direktur di Perusahaan Pusat? Oleh karena itu mungkin bisa menghubunginya saja dan memberi-
"Tidak! Saat bekerja kami layaknya orang asing! Jadi aku tidak boleh membuat kesalahan!" Ucapnya dengan niat yang setengah-setengah.
Ia meraih ponselnya lalu menggeser layar tersebut dengan kedua alis yang tertekuk.
Mendengar dari nadanya saja, sepertinya Lazel saat ini sedang menghubungi seseorang.
"Oh, ha-"
^^^"Hellow~ mengapa kau menghubungiku? Seperti bukan kau saja? Oh! Jangan-jangan-"^^^
"Diaaaam! Bahkan aku belum mengatakan apapun!" Sela Lazel dengan nada yang tinggi serta wajah yang kesal.
^^^"H-Hm."^^^
"Haah~ penjualannya sudah selesai."
^^^"Benarkah? Apa semuanya berjalan dengan lancar saat kalian melakukan negosiasi."^^^
"Yaa, kami tidak memiliki masalah dengan itu, tapi..."
Saat ini Lazel menghubungi Hyunjae melalui ponsel mengenai penjualan sebelumnya. Meskipun sudah memberitahunya dengan singkat seperti ini, namun ia harus tetap mengurus laporan untuk Perusahaan Pusat.
^^^"Tapi?"^^^
"Katakan padaku Hyunjae, mengapa nilai dari sebuah kalung begitu mahal? Aku tidak menyangka setelah tumpukan angka nol diakhiri dengan dua angka yang terpisahkan oleh koma!"
^^^"Hm... dua triliun bukan?"^^^
"Ya."
^^^"Mungkin para pelangganmu hanya menggenapkannya saja, mengenai tanda koma yang kau sebutkan, nilainya itu dua koma empat triliun. Jadi meskipun kau hanya mengetahui awalnya saja, namun mereka memberikan harga yang sesuai dengan permintaanku."^^^
"..............."
^^^"Lazel? Ada apa? Kenapa diam?"^^^
"T-Tidak apa-apa, aku hanya memikirkan sesuatu," ucapnya dengan wajah yang sama sekali tidak bisa tenang. "Bagaimana bisa tanda mungil itu akan membuat nilainya semakin parah?!"
^^^"Daripada memikirkan itu... bukankah anting yang kau berikan padaku lebih bernilai?"^^^
__ADS_1
"Benarkah? Hm... entahlah."
^^^"Huft... datar sekali, tapi... perhiasan itu bukan dibuat dan jadi seketika. Berarti kau... merencanakan ini di-"^^^
"Baiklah, aku akan lanjut bekerja. Selamat siang." Selanya lalu mengakhiri panggilan tersebut.
...◇• •◇...
"L-Lazel mematikan panggilannya!"
Saat ini Sekretaris yang berdiri di sampingnya baru saja melihat dan mendengarkan ringisan dari Bosnya.
Beberapa dari Bodyguardnya juga berada di dalam ruangan yang sama dengan Bosnya. Teutama Kara yang diam-diam mendengar nama Lazel dari mulut Bosnya.
"Hei, apa aku masih memiliki jadwal yang padat?" Tanya Hyunjae pada pria yang berdiri di sampingnya.
"Tidak begitu padat, hanya saja seluruh jadwal yang sudah Saya tetapkan tidak akan membuat Anda beristirahat sedikit pun." Jelasnya.
"Hei, apa kau berniat membunuhku? Lagipula itu sangat padat, sehingga aku tidak bisa bernapas sedikit pun."
Hyunjae maupun Lazel, mereka memiliki kewajiban yang harus dijalankan. Melakukan pekerjaan seperti ini merupakan salah satu dari tanggung jawab untuk menuntaskannya segera.
Belakangan ini Hyunjae juga lebih sering menghubungi Kakaknya atau memintanya untuk bertemu di suatu tempat. Seperti bukan dirinya saja. Setelah mengetahui bahwa dirinya menyukai Lazel, ia ingin mencari tahu sendiri, apakah yang diucapkan oleh Hyunji ada benarnya?
"Dia pandai dalam urusan seperti ini tapi... mengapa dia belum menikah?" Pikirnya.
...◇• •◇...
Duak!
Suara hentakan stampel terakhir begitu dramatis dan juga kuat. Saat ini wajahnya juga sedikit menyeramkan. Pada saat malam sebelumnya, ia tidak bisa di rumah tepat waktu, lalu harus terbangun di tengah malam, dan melanjutkan pekerjaan seperti biasa di pagi hari.
Jas biru itu tergeletak di sandaran kursi yang dia duduki, kedua kain lengan kemeja yang dia kenakan tergulung sedikit agar tidak mengganggu pergelangan tangannya saat bergerak di atas kertas.
Sebenarnya tidak serumit itu, hanya saja wanita perak itu tidak nyaman dengan kondisi formal, setidaknya di dalam ruangannya sendiri, ia dapat melakukan apapun.
Drrt!
Ponsel yang tidak jauh darinya itu bergetar, seketika membuat raut wajah anehnya mulai terlihat. Mendengar ponselnya bergetar karena panggilan dari seseorang membuatnya mengingat wajah Hyunjae yang selalu membuatnya naik darah.
Ia menggunakan map dokumen untuk menggeser ponselnya ke arahnya. Dengan kedua alis yang tertekuk, ia menatap layar ponsel itu.
"I-Ian!" Ucapnya dengan cukup terkejut, "jarang sekali dia menghubungi Kakaknya." Lirihnya dengan wajah yang menyedihkan.
Lazel pun langsung mengangkat panggilan itu dengan wajah yang berbinar.
^^^"Kaak!"^^^
Suara yang sudah lama tidak ia dengar akhirnya mulai menyebut mamanya dengan panggilan Kakak, "Iaaan! Apa kau-"
^^^"Baiklah aku akan langsung pada intinya."^^^
"E-Eh??" Wajah cerianya seketika terhenti.
^^^"Besok adalah acara kelulusaku."^^^
"Lulus?"
^^^"Ya, tidak terasa bukan? Tapi ujian baru saja berakhir dan hasilnya sudah keluar di hari yang bersamaan, maka besok adalah hari kelulusanku."^^^
"..............."
Mendengar kalimat itu dari Ian sedikit membuatnya bersalah. Kepergian kedua orang tuanya, Lazel awalnya sudah bertekad bahwa ia akan menjadi sosok keduanya dan juga Kakak bagi Ian. Namun sepertinya sedikit mustahil untuk dilakukan karena saat ini ia harus menganggung tanggung jawab yang penting.
Tapi... Adiknya, yaitu Ian. Dia tidak memiliki siapapun selain dirinya. Mendengar hari kelulusan bukan membuatnya merasa senang atau apapun, seberapa jauhnya Lazel tidak memperhatikan perkembangan Adiknya.
__ADS_1
^^^"Kak?"^^^
Bahkan hari kelulusan Ian seperti datang begitu saja dan mengejutkan dirinya.
^^^"Kaaak!"^^^
"O-Oh, maaf aku melamun." Lazel sedikit menekan pangkal hidungnya dan mengusap rambutnya.
^^^"Haah~ bukankah kau sibuk? Istirahatlah, aku akan menghubungimu di lain waktu."^^^
"Ian."
^^^"Ya?"^^^
"Aku akan pergi ke rumah, mungkin sebelum malam aku akan tiba disana."
^^^"Benarkah? Kalau begitu akan ku tunggu! Sampai nanti!"^^^
"Hm."
Panggilan mereka begitu singkat, padahal saat melihat Ian yang menghubunginya sudah membuatnya sedikit senang. Adiknya, atau lebih pada kembarannya itu tidak pernah membiarkan Kakaknya merasa khawatir pada hal-hal yang sepele.
Namun sebagai Kakak, Lazel sedikit merasa bersalah karena tidak memperhatikan pertumbuhan Adiknya disaat kedua orang tuanya tidak bisa memantaunya lagi.
Lazel tahu jika Ian tidak ingin merepotkan dirinya, karena bagaimanapun juga, Lazel sudah memiliki keluarga sendiri dan pekerjaan yang sangat penting, sehingga untuk menghubungi saudaranya saja sudah mulai berpikir akan mengganggu.
Jika saja Ian tidak menghubunginya, mungkin sebagai saudara ia akan melupakan bahwa dirinya mempunyai seorang Adik.
Lazel kembali menghadapkan laptop itu padanya, lalu mulai menggerakkan sepuluh jarinya, "aku harus menyelesaikan semuanya sebelum matahari terbenam." Ujarnya dengan raut yang kembali serius.
...◇• •◇...
"Gyuu, bisakah kau membawa ini pada Bos? Katakan padanya jika ini belum semua." Ujar Vicy pada Gyuu yang baru saja kembali ke tempatnya.
"Oke, tapi... apa Sekretaris Byul belum kembali?"
Vicy menggeleng pelan, "dia sepertinya salah satu perwakilan dari perusahaan ini untuk menghadiri sebuah pertemuan di tempat lain." Vicy mulai menyusun beberapa salinan dokumen yang harus mendapatkan beberapa tanda dari Direktur Perusahaan.
"Hm... kupikir La-Bos akan pergi sendiri." Gyuu mengangkut satu persatu tumpukkan kertas itu di kedua tangannya.
"Tidak bisa, jika hanya pertemuan kecil, Bos bisa mengandalkan Sekretaris Byul. Mungkin saja beberapa pekerjaan lain lebih penting dibandingkan pertemuan itu." Jelasnya.
Sepertinya mereka berdua cukup beruntung memiliki lantai yang sama dengan ruangan Direktur. Karena beberapa pegawai atau staff yang berbeda lantai harus menggunakan lift berulang kali untuk menemui Direktur atau petugas umum yang berada di lantai yang sama dengan Nona Direktur.
Sebelum Gyuu meninggalkan tempat itu, Vicy menepuk tumpukkan kertas itu yang ada di kedua tangan Gyuu. Ia memasang wajah serius dan juga letih.
"Jangan sampai jatuh, sulit untuk membedakan mereka." Ujar Vicy yang meletakkan harapan tingginya pada pria berwajah putih itu.
"B-Baik, tenang saja."
...◇• •◇...
Tok! Tok! Tok!
Ia menggunakan ujung sepatu untuk memberi ketukan pada pintu yang tertutup rapat. Kedua tangannya penuh dengan tumpukkan dan sedikit sulit untuk menggerakkannya.
Kedua alisnya bertaut, "hm? Apa Bos tidak di dalam?" Pikirnya, "tapi aku tidak melihatnya pergi kemana pun."
Untuk melepaskan rasa penasarannya, Gyuu langsung membuka pintu itu secara perlahan.
Pintu hitam berganggang stainless itu terbuka sedikit lalu menampakkan sebuah kepala kuning yang menelinap ke dalam ruangan tersebut, "yuhuu~" sapanya pelan sembari memperhatikan seisi ruangan itu.
Karena tidak melihat siapapun atau tidak mendengar apapun, Gyuu pun memutuskan untuk menerobos masuk sekaligus untuk memeriksa apa yang terjadi.
"!!!!"
__ADS_1
Saat melewati sebuah sofa, ia dikejutkan oleh seorang wanita tengah tertidur lelap dengan sebuah buku yang menutupi dadanya.
"B-Bos?"