
Hari pengamatan masih berlanjut, seluruh siswa dari sekolah yang berbeda-beda memenuhi tempat itu.
Ian Zoclis, Anak terakhir dari keluarga Zoclis, sekaligus Adik Kandung dari Lazel Pietra.
Pria berumur delapan belas tahun itu akan menjenjang ke pendidikan yang lebih tinggi agar bisa setara dengan Kakaknya. Lagipula mereka memiliki akal pikiran yang cerdik, keduanya selalu memenangkan apapun yang diperlombakan oleh sekolah.
Ada orang yang mengatakan bahwa sangat menyenangkan dan terasa lebih enak jika memiliki salah satu keluarga yang terkaya sehingga dapat menjamin apapun. Namun bagi Ian itu anugrah dan juga takdir yang telah ditentukan oleh Tuhan untuk Kakaknya, dan dirinya selalu mendapatkan apapun sebelum ia memintanya sendiri secara langsung.
Jika dikatakan sombong, ya itu benar. Tetapi kesombongan yang mereka berikan hanya pada orang tertentu.
Karena ada hari dimana Kakaknya pernah menerima penderitaan keluarga kecilnya dari keluarga besarnya sendiri. Tekadnya dan keteguhannya yang kuat menurun pada Adiknya.
Saat ini, tepat di belakang Universitas Cayven, yaitu Universitas milik Egis sendiri. Disana terdapat beberapa anak yang sedang berkumpul, secara keseluruhan, mereka terdiri atas pria.
Tetapi... yang berdiri hanyalah pria berkaos hitam dengan topi hitamnya yang menutupi rambut peraknya.
Tangan kanannya terlihat terkepal dan terdapat sedikit bercak darah.
Tatapannya menatap ke bawah dengan sorot yang tajam, raut wajahnya tidak begitu datar dan dingin, wajahnya menampilkan sosok hatinya yang masa bodoh dengan situasi.
Dilihat dari situasi dan keadaannya, mereka seperti baru saja menyelesaikan pertarungan kecil yang berhasil dimenangkan oleh satu orang tanpa bantuan siapapun.
Selain dirinya, terdapat dua orang yang seumuran dengannya tengah duduk di atas sebuah balok berukuran besar dengan posisi duduk seperti preman.
Pria bertubuh tinggi itu berbalik dan menurunkan topinya agar lebih menutupi wajahnya, "cepat selesaikan... Guru akan tiba." Ujarnya yang langsung meninggalkan tempat kejadian.
Kedua pria berwajah santai itu melompat dari sana, "baik~ baik~"
...◇• •◇...
Waktu itu... ada dua orang bocah yang mahir dalam seni bela diri. Sudah pastinya mudah dilakukan dua bersaudara itu dalam akademik maupun nonakademik. Setelah menghasilkan juara dimana-mana, akhirnya kenalan Ayah mereka membuat sedikit kesepatakan. Sehingga pihak mereka setuju untuk memberi pelatihan lebih lanjut pada dua anak tersebut.
Dua wajah kembar itu sangat mirip sehingga dari segi kekuatan tidak bisa membedakan mereka.
Sehingga pada suatu hari, saudaranya mendapatkan lamaran dari seseorang yang dekat dengan keluarganya.
Alasan mereka begitu sepele, namun karena alasan itu sebuah takdir pun terbentuk.
Akan tetapi... pada saat itu Sang Adik selalu terlibat dengan perkelahian yang sudah pasti dimenangkan oleh dirinya. Berbeda dengan Sang Kakak, dirinya dapat menahan amarah tidak ingin mengeluarkan sesuatu yang bersifat sia-sia, namun Adiknya berbeda, satu kalimat saja yang berhasil menyenggol hatinya apalagi menyebut bagian nama dari Kakaknya sendiri, maka sifat liarnya tidak akan tertahankan.
Oleh karena itu, jika mereka melihat pria rambut perak dengan kedua iris pinknya, langkah yang paling tepat adalah, diam, dan tidak mengatakan apapun jika dirimu memang tidak mengetahuinya.
Pada langit yang terlihat jingga, seorang anak lelaki tengah duduk di atas kursi taman yang terletak di halam rumahnya. Seorang gadis yang terlihat lebih tua darinya dan memiliki rambut panjang itu menghampirinya.
Tubuh yang lebih tinggi itu berdiri di samping Adiknya dengan menatap lurus tanpa ekspresi, "kau tidak berkelahi lagi bukan?" Tanya Sang Kakak dengan wajah yang terlihat datar dan biasa.
Anak kecil itu menoleh, "aku melindungimu." Ujarnya.
Tangannya menepuk pucuk kepala Adiknya, dan tersenyum tipis, "lindungi apa yang menjadi berharga bagimu, bukan memberi pelajaran pada orang lain karena pemikiran naifmu."
Wajah cantik yang kadang terlihat datar, dingin, dan masa bodoh itu juga dapat menafsirkan perasaan yang hangat. Ia tidak pernah mendengar atau melihat Kakaknya sebagai Manusia yang pengecut dan lemah. Oleh karena itu perasaan pada Kakaknya begitu kuat sehingga ingin menjadi sosok seperti itu di masa yang akan datang.
Hingga pada suatu hari...
"Tidaaak! Aku tidak menerimanya! Dia... dia masih hidup, dia pasti akan menungguku."
"L-Lazel, kau tidak bisa berbicara seperti itu."
"Aku melihat Kakak yang sedang menangis histeris di depan mayat seorang pria. Tangisannya begitu kuat, sehingga untuk pertama kalinya aku melihat Kakakku dalam keadaan rapuh,"
"Apa yang terjadi di hadapannya, dirinya sama sekali tidak pernah menerimanya,"
"Karena kejadian seperti itu... membuat diriku tahu jika sekuat apapun Manusia itu, dirinya akan selalu di hadapkan dengan rasa keputusasaan,"
__ADS_1
Tubuhnya terpaku diam dan tidak melakukan apapun untuk Kakaknya.
Pada hari itu, ia membuat situasi tersebut menjadi satu-satunya kenangan yang menyesakkan.
"Hal ini membuatku... semakin bertekad kuat, agar ini menjadi terakhir kalinya bagimu untuk meneteskan air mata."
Dan harapannya benar-benar terjadi, beberapa tahun kemudian Kakaknya menikah dengan Putra dari kelurga terkaya, lebih untungnya lagi, kedua orang tua mereka saling mengenal satu sama lain.
Pernikahan serta hubungan itu akan menjadi sebuah taman yang baru untuk Kakaknya.
...◇• •◇...
"Ada apa Ian? Kau bermimpi buruk?"
"Tidak," tangan kanannya memperbaiki poni-poninya. "Hanya mengingat masa lalu." Sambungnya dengan sorot mata yang biasa.
Saat ini mereka berada di sekolah, seliar apapun tindakan yang mereka lakukan, pendidikan adalah prioritas utama.
Pria dengan celana panjang berwarna biru tua itu melepaskan jasnya dan ia sanggahkan pada kursi yang ia duduki.
Tidur siangnya cukup terganggu karena mengingat masa lalu dimana dirinya harus melupakannya.
Tepat di lantai tiga, banyak siswa-siswa berlalu lalang meramaikan koridor.
"Ian~ rupanya kau disini." Ujar Argo yang menghampiri Ian yang berjalan di koridor.
"Ada apa?" Tanya Ian bingung.
Jempol kanannya mengarah ke belakang, "Pelatih Taekwondo ingin bertemu dengan mu dan juga..." tatapannya menyelidiki sekitar. "Dimana Kim? Dia tidak bersamamu?"
"Oh, dia di kelas."
"Haah~ kau duluan saja ke ruang klub, aku akan memanggil anak cicak itu."
...◇• •◇...
"Ku dengar tiga orang 'itu' akan kembali bertanding."
"Benarkah?"
"Yah... ini tidak perlu diragukan lagi, lagipula mereka selalu kembali dengan banyak medali, belum lagi Sang Juara, yaitu Ian."
"Pria Perak itu bukan kembali lagi dengan medali perak, tapi hampir membuat pelatih di dunia menariknya sebagai Murid Andalan."
Sebelumnya para murid melihat Tiga Serangkai pergi menuju Ruang Klub Taekwondo. Siapa lagi kalau bukan Ian, Argo dan Kim. Mereka bertiga adalah Pria Emas dari Perguruan Tinggi Yhanxeng, yaitu nama sekolah mereka.
Sekolah bergengsi, menerima murid yang bertalenta dan juga bermodal uang. Jika salah satu dari keduanya tidak memenuhi persyaratan, maka sepintar apapun orang-orang, jika mereka tidak memiliki banyak uang, maka mustahil untuk diterima.
Ruang Klub...
Tiga orang laki-laki tengah berdiri di hadapan Pelatih mereka. Kim yang memiliki tubuh mungil hampir tidak bisa menatap Gurunya dari balik meja.
"Kalian bertiga akan pergi ke Jerman minggu depan." Ujar Pelatih mereka tanpa basa-basi.
"..............."
"Minggu depan?" Kejut Argo, "bukankah ujian-"
"Aku akan mengurusnya," pria berpakaian putih dengan sabuk hitam melingkar di pinggangnya beranjak dari tempatnya. "Tidak mungkin kalian akan meninggalkan kesempatan emas ini."
Pria mungil itu melipat kedua tangannya di depan dan menggeleng pelan, "yaah~ jika Sang Juara menginginkannya, kita tidak bisa tinggal diam." Seringainya.
"Benar juga... kurasa tidak ada salahnya." Sahut Argo yang tidak bisa menolak keadaan.
__ADS_1
"Jadi... bagaimana keputusanmu, Ian?"
Pria dengan kemeja putihnya itu dengan dasi berwarna hitam mengangkat wajahnya, "ayo pergi." Ujarnya.
...◇• •◇...
Sesuai keputusan, minggu depan mereka akan terbang menuju Jerman. Masalah persiapan, tiga orang itu bahkan bisa pergi hari itu juga. Mereka tidak pernah mempermasalahkan hari, setidaknya tubuh mereka dalam kondisi baik.
"I-Ian... ku dengar kau akan pergi ke Jerman." Seorang gadis entah dari kelas mana memberanikan dirinya untuk menemui Ian bahkan mengetahui rencana minggu depannya.
"Hei, kami berdua juga pergi." Sahut Kim yang duduk berposisi ke belakang.
"Hm! Hm!" Angguk Argo yang duduk di samping Ian.
"Harus ku akui, Taehe memang memiliki wajah yang imut, tapi maaf, kalian berdua bukan tipe ku. " Sindir gadis itu dengan sinis.
"Haha itu benar," kini Ian mulai berbicara dan melepaskan kedua earphone yang menyumbat kedua pendengarannya. "Bukan hanya diriku, Kim dan Argo juga akan pergi denganku." Sambungnya yang menatap gadis itu dengan senyuman sinis.
Tubuh gadis itu seketika bergetar hebat dan gugup dalam melanjutkan kata-katanya, "K-KYAAAA!!! IAN TERSENYUM PADAKUU!!!" Teriak gadis itu dengan histeris.
"..............."
"Sudah kuduga." Ucap Kim dan Argo bersamaan.
...◇• •◇...
"Entah mengapa para gadis dapat menyukai kepribadianmu meskipun wajahmu seperti sasak boxing."
"Padahal tubuh mungilku ini sudah cukup imut untuk dipandang." Puji Kim untuk dirinya sendiri.
"Ck! Ck! Menjuijuikan." Sindir Argo.
"HAH?! APA KAU BILANG?!"
Sekolah telah usai, para siswa telah kaluar dari gerbang dan memenuhi jalanan.
Untuk lebih detailnya, Yeong Argo. Pria yang kini berada di tahun akhir, memiliki tinggi rata-rata, serta ketampanan rata-rata. Inti dari pria itu adalah tidak memiliki wajah yang tampan dan juga jelek, namun seni bela dirinya dapat diberikan apresiasi karena berada di urutan ketiga setelah Ian dan juga Kim.
Kim Taehe, memiliki tubuh mungil, dan wajah cantik, keimutannya hampir menyamai bocah lima tahun. Cukup terkenal di kalangan para gadis. Dengan tubuh kecilnya, ia dapat memanfaatkan ruang gerak dan juga kecepatan dalam memberikan serangan, dirinya berada di urutan kedua setelah Ian.
Sedangkan Ian Zoclis, pria itu sudah dikenal banyak oleh orang lain, apalagi dari ciri-cirinya saja.
...◇• •◇...
"Sampai jumpaaaa~" Kim melambaikan kedua tangan mungilnya ke atas.
Perpisahan mereka terjadi di sebuah distrik yang berbeda, Kim dan Argo berada di arah yang sama, sedangkan dirinya tidak.
Jalanan di petang hari cukup sepi.
Jas biru tua itu terikat di pinggangnya, ia hanya mengenakan kemeja dalamnya yang berwarna putih dengan kedua kain lengan yang tergulung pendek setinggi siku.
Kedua langkahnya terhenti, tatapannya seketika berubah.
Wajah dingin itu menoleh ke belakang dan melihat, "keluar." Ujarnya dengan suaranya yang berat.
Seperti biasa, insting pria itu sangatlah tajam. Bahkan orang-orang asing yang berhasil membututi dirinya dan kedua temannya dapat ia temui secepat mungkin. Dirinya juga bersyukur jika Kim dan juga Argo tidak perlu ikut campur dalam hal ini, lagipula jika mereka memang sadar dari awal, kedua orang itu juga akan mengetahui apa yang harus mereka lakukan.
Tas itu ia jatuhkan. Kira-kira mereka terdiri dari sepuluh orang lebih. Namun sepertinya itu bukanlah hal yang sulit.
Tangan kanannya mengusap rambut peraknya yang terbasahi dengan keringat. Sorot matanya mengeluarkan cahaya bagaikan kilat. Dirinya sudah bersiap mengambil ancang-ancang.
"Maju."
__ADS_1