Lost Feeling

Lost Feeling
Truth


__ADS_3

Keluarga Pietra merupakan satu-satunya yang hampir memiliki bisnis di setiap negara. Perusahaan mereka menjalar kemana-mana, sehingga selalu menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Akan tetapi, di balik bisnis serta keberhasilan besar itu, ada sebuah proses atau usaha yang bukan main-main.


Oleh karena itu, Nezra berusaha agar tidak membuat keluarganya sendiri terjatuh hanya karena ulah orang lain. Kini Adam tidak memiliki urusan dengan perusahaan, karena dia sudah beralih pada sebuah organisasi malam atau disebut dengan Mafia Malam. Kehadirannya yang jarang muncul, itulah salah satu penyebabnya.


Kini hanya Nezra yang bisa memantau setiap bisnis yang dijalankan olehnya dan juga kedua Putranya.


Dan saat ini, tanpa diduga, seseorang yang pernah dia percaya telah membuat dirinya membuang kepercayaan itu. Selagi penjelasan membuatnya menunggu, setidaknya ia tidak menilai hal jelek apapun pada pria itu.


Keinginannya sudah terpenuhi, saat ini yang berada di ruangan terang itu hanya dirinya dan juga wanita yang merupakan Bos dari perusahaan dimana dia bekerja.


"..............." ia dapat melihat ekspresi wajah Lazel yang saat ini tidak bersahabat. Bagaimanapun juga rencana awalnya itu cukup licik.


"Aku menunggu penjelasan darimu," ucap Lazel yang menyatukan kedua tangannya di atas meja dengan tatapan yang mengarah pada Gyuu. "Setelah aku merindukanmu... ini yang ku dapatkan? Apa kau bercanda?" Batinnya yang membuat ekspresinya ikut berubah.


"Aku tahu kau pasti marah."  Kekeh Gyuu yang berusaha mencairkan suasana.


"..............."


"Haah~ seperti ucapanku sebelumnya, aku memata-matai dirimu hanya di awal rencana saja," kini Gyuu mulai fokus pada penjelasan yang sangat dinantikan oleh Lazel. "Bahkan rencana itu tidak berjalan mulus, sehingga hanya terjadi pada satu hari saja, di hari berikutnya aku sudah melupakan rencana itu." Sambungnya dengan wajah yang datar.


Sepertinya kalimat terakhir itu membuat Lazel kembali menunjukkan kecerahan di wajah cantiknya.


Gyuu dapat melihat Lazel yang berada di hadapannya, yang kini tengah memasang wajah yang sama seperti sebelumnya. Rambut perak itu mengeluarkan cahaya kilat, wajah putih yang hampir menyamai dengan salju itu selalu terlihat menarik.


Sepertinya ia tidak bisa menyembunyikan apapun lagi di hadapan wanita itu.


Gyuu sedikit melepas aktingnya dan memperlihatkan wajah tampannya, "pertemuan pertamaku denganmu...  memang luar biasa," ujarnya dengan kedua tangan yang saling berpangku, "bahkan aku langsung menyukaimu hanya satu kali pertemuan."


Lazel sedikit sulit mencerna kalimat terakhir yang diucapkan oleh Gyuu, "hei, pembicaraan ini semakin aneh. Setidaknya bicaralah langsung pada intinya," ia pun menyahut, "ngomong-ngomong... aku tidak menyangka jika Egis-ah! Tidak! Tidak! Namanya adalah Gyuu!"


Lazel mendengarkan penjelasan yang mulai diutarakan oleh Gyuu.


Kedua matanya terus tertuju pada Gyuu yang memang memiliki ketampanan di atas rata-rata.


"Aku baru saja menyadarinya, bahwa dia memiliki wajah yang cukup tampan," kedua tatapannya sedikit sendu, "semoga saja... ini memang kesalah pahaman."


Gyuu menepuk tangannya sendiri sebanyak satu kali, lalu menunjukkan senyumnya di hadapan Lazel, "jadi pada intinya," untuk yang kedua kalinya ia melihat senyuman yang benar-benar tulus dilihat. "Aku menyukaimu." Ucapnya dengan nada yang sedikit lirih.


Pengungkapan hati itu membuat Lazel hampir tidak bernapas, bahkan kedua matanya lupa untuk berkedip.


"Hah?"


"Yaah~ bisa saja kau ucapkan seperti ini," pria itu kembali berulah. "Alasan di balik kegagalan rencana ini adalah, karena aku menyukaimu." Sambungnya dengan kepercayaan diri yang tinggi.


"A-Aku baru saja memikirkannya," ucapnya yang masih merasa ragu. "T-Tunggu dulu, alasan macam apa ini?" Tuturnya dalam hati.


...◇• •◇...


"Kau... menyukaiku?"


"Hm." Angguknya dengan semangat.


"Nani? Memangnya apa yang sudah ku perbuat sehingga membuat dirimu menyukaiku?"  Kini Lazel nampak depresi dengan pengungkapan perasaan Gyuu pada dirinya.


"Hm? Ada apa?" Tanya Gyuu yang mulai berdiri dari duduknya.

__ADS_1


"T-Tetap disitu." Lazel langsung mencegah pergerakan Gyuu.


"Oh, baiklah."


Sebuah sesuatu yang tidak pernah ia duga, siapa sangka jika Gyuu akan mengungkapkan perasaan pada dirinya. Padahal semua orang tahu bahwa dirinya sudah menikah dengan salah satu Putra Pietra.


"!!!!" Kini kedua tatapannya terbelak, serta jantungnya terpompa dengan cepat.


Wanita beriris merah muda itu mengangkat wajahnya dengan cepat dan menatap Gyuu yang kini sedang menatapnya juga. Setelah membuat kepalanya berpikir berkali-kali, sebuah pemikiran terlintas di benaknya.


Kini tatapannya berubah menjadi rasa takut dan juga khawatir, "Gyuu,  jangan bilang... kau..." Lazel hanya menduganya saja bukan menganggap jika hal itu memang terjadi.


"Ya, aku mengetahuinya." Sahutnya dengan wajah yang tenang.


...◇• •◇...


Di sisi yang lain, Hyunjae, Hyunji, Vicy serta Kara dengan para Bodyguard lainnya masih berada di tempat yang sama.


Sesuai dengan pesan yang didapatkan Vicy dari Lazel, bahwa dirinya akan menyusul kesana dan membawa Gyuu.


Untuk beberapa hal, mereka dapat menyangkalnya dengan pemikiran yang positif dan berharap bahwa semuanya memang hanya kesalah pahaman yang dibuat oleh Gyuu.


Akan tetapi, Hyunjae... pria bermantel hitam itu sama sekali tidak bisa merasa tenang. Dirinya selalu berusaha untuk menyusul Lazel dan Gyuu, namun Hyunji selalu menghalanginya.


Hyunjae yang kini sulit berpikir mulus tidak menyadari apa yang akan menimpa dirinya dan juga Lazel.


"Vicy, aku masih sulit mencerna situasinya, tapi... apa kau dan Lazel mengenal Gyuu?"


"Ya, dia adalah salah satu pegawai di Perusahaan Aplic Pietra." Jawab Vicy yang masih menunggu kedatangan Lazel dan juga Gyuu.


"W-Wah... apa yang dilakukan pria licik itu disana," ucapnya dalam hati. "Menurutku... pria bernama Gyuu itu tidak memiliki niat jahat atau apapun yang bisa membuat Lazel dalam bahaya."


Di sela-sela situasi yang cukup tegang, mereka mendengar langkah kaki yang tak berirama mendekat kesana.


"Yo." Sapanya dengan memasang wajah yang malas.


Hyunjae langsung mengangkat wajahnya dan mencari sumber suara itu, "!!!!" Kini yang dirinya lihat adalah Lazel dan juga Gyuu yang berdiri di belakang Istrinya itu.


Bukan hanya dirinya saja, Hyunji, Vicy dan Kara juga melihatnya. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Lazel kembali dan membawa Gyuu bersamanya.


"L-Lazel, bagaimana?" Tanya Hyunjae yang merasa khawatir dengan Lazel.


"Baiklah~ dengar, ini semua hanya kesalah pahaman." Ucapnya dengan enteng.


"H-Huh?"


"Haah~ syukurlah~" batin Vicy dan Kara bersamaan.


"Sesuai perkataannya, ini hanyalah rencana awalnya saja," Lazel mulai menjelaskan sebagian fakta pada orang-orang yang menunggunya. "Pria ini, dia hanya merasa penasaran,"


"Saat dia melihat kekuatanku dan kekayaanku yang begitu hebat, dia langsung mundur begitu saja." Ucapnya sombong dengan bumbu kebohongan.


"Kau ini sombong sekali." Tutur Kara yang menyipitkan kedua matanya dan menatap sinis ke arah Lazel.


"Hah?? Karena kau tua maka aku akan membiarkanmu berbicara seperti itu." Tukas Lazel yang merasa kesal dengan kehadiran Kara.

__ADS_1


"H-Hei sudahlah." Ujar Vicy yang mendadak jadi penengah di antara keduanya.


Lazel beralih pada Hyunjae, "aku akan menjelaskannya pada Ibu, jadi kau tidak perlu ikut campur dalam hal ini." Ujarnya.


Setelah mendapatkan penjelasan yang sebenarnya, mereka pun memutuskan untuk kembali ke Ruangan Utama, meskipun beberapa dari mereka merasa tidak puas dengan penjelasan yang diberikan Lazel, mereka hanya yakin bahwa Gyuu tidak mungkin akan membuat Lazel dalam bahaya.


Kedua kakinya melangkah lebih dulu lalu berhenti mendadak sehingga membuat Gyuu, Hyunjae dan Hyunji yang berjalan beriringan membuat mereka ikut berhenti.


"Hyunjae, aku akan bicara denganmu nanti." Ucapnya singkat lalu pergi begitu saja.


...◇• •◇...


Undangan ini bukan hanya sekedar makan malam bersama saja. Selain mengundang tamu yang begitu penting, semuanya sudah menduga bahwa ada sesuatu yang ingin disampaikan Eun pada para tamunya.


Sesuai dengan harapan, dia mengucapkan beberapa hal penting, salah satunya adalah keberhasilan mereka dalam bekerja sama atau mendirikan saham  terbesar di Negara Rusia.


Sebagai bantuan, Putranya juga ikut membantu.


Wanita berjas hitam itu tengah duduk di salah satu kursi yang telah di sediakan, "ck! Ternyata ini adalah alasan dibalik menghilangnya dirimu." Batin Lazel dengan kesal.


Acara berjalan dengan mulus tanpa hambatan, Egis yang awalnya merupakan sosok biasa, pada kenyataannya adalah jika dirinya merupakan Putra satu-satunya dari keluarga Hojung, dimana keluarga tersebut memiliki hubungan erat serta saingan besar dengan Pietra.


Lazel masih tidak menyangka jika Egis atau Gyuu itu memiliki pemikiran yang dangkal. Bahkan sifatnya itu sangat jauh berbeda dengan Hyunjae. Menurut apa yang dia lihat, Hyunjae lebih kekanak-kanakan, mudah terpancing emosi dan hal lainnya. Namun terkadang pria itu terlihat arogan dan juga menakutkan.


Sedangkan Gyuu, pria itu memiliki kejujuran yang luar biasa, senyum di wajahnya selalu terlihat ceria. Hal itu membuat Lazel sedikit senang untuk melihatnya.


"Untuk beberapa hal... aku yakin," kini ia mulai berpikir pada masalah utamanya, "selain memiliki rencana yang gagal, kau juga memperhatikan kehidupanku, bukan?"


Mendengar tentang Gyuu yang mengetahui kebenaran dari dirinya dan juga Hyunjae. Sedikit membuat Lazel semakin waspada. Ia sedikit menduga bahwa urusan ini akan melibatkan urusan pribadinya. Setidaknya Lazel tidak ingin hal itu terjadi.


...◇• •◇...


Ia melihat Lazel yang terus membungkukkan tubuhnya di hadapan Adam dan juga Nezra. Ia menduga bahwa Lazel saat ini menjelaskan segalanya pada mereka.


Saat ini malam semakin larutn, dan angin malam sangat buruk bagi tubuh.


Dan kini... yang ada di hadapannya adalah Gyuu. Pria yang pernah menghubungi Lazel, sekaligus pegawai dari perusahaan wanita itu.


Ia tahu bahwa pertemuan dengannya pasti tidak berjalan dengan baik.


"Aku tidak tahu apa tujuanmu, tapi..." tanpa angin, badai, hujan atau apapun itu. Untuk pertama kalinya Hyunjae mengeraskan rahangnya hanya karena permasalahan kecil seperti ini. "Jika kau menyeret Lazel ke dalam sesuatu yang berbahaya, aku tidak akan memaafkanmu." Sambungnya dengan sebuah peringatan keras.


"Hahaha~ tenang saja, aku tidak mungkin membuatnya dalam bahaya." Jawab Gyuu yang memasang wajah tenang.


Hyunjae tak habis pikir, bagaimana bisa Lazel ceroboh dalam hal mudah seperti ini. Jika dirinya tahu bahwa selama ini Gyuu berada di dekat Lazel, mungkin ia tidak akan segan-segan untuk memelayangkan kepalannya pada pria itu.


Karena tidak ingin membahas apapun, Hyunjae pun pergi meninggalkan Gyuu.


"Ah! Hyunjae-"


"Panggil aku Tuan atau Pak!" Selanya yang langsung menoleh ke belakang.


"Dasar pria pemarah," tutur Gyuu dalam hati. "Mungkin kita bertiga akan menjaga rahasia yang sama." Ujarnya dengan wajah yang ramah.


"Hah?? Apa maksudmu? Aku tidak paham."

__ADS_1


"Ya... setelah ini, mungkin tidak akan semudah yang berlalu." Batin Gyuu sambil menatap jauh ke arah Lazel.


"Hei! Katakan padaku! Ada apa! Hei!"


__ADS_2