
"..............."
Tatapannya mengarah pada sebuah lantai yang sebelumnya terdapat pecahan gelas. Lazel berpikir sejenak, larangan Hyunjae mungkin saja berhubungan dengan serpihan kaca yang masih tersisa.
Untuk pertama kalinya ia berpikir secara logis dan positif. Hal itu juga karena Hyunjae sendiri, meskipun sulit untuk dipercaya, namun... perubahan pada Hyunjae sangatlah besar. Dan itu semua terjadi setelah kepergian Lena dan juga Gion, kedua orang tua dari Ian dan juga Lazel.
Akan tetapi... perubahan itu membuat Lazel berpikir lebih dalam. Alasan? Sebab? Akibat? Memangnya apa yang pria itu alami sehingga dirinya sangat berbeda? Dan apa yang terjadi pada Lazel sehingga dirinya memikirkan sesuatu yang tidak masuk akal.
"Kasihan... rasa peduli... empati..." tangan kanannya terkepal kuat begitu saja. "Memangnya siapa yang membutuhkan perasaan seperti itu."
Suara langkah kaki menuruni anak tangga dan membuat Lazel tersadar dari lamunannya. Ia melihat Hyunjae yang kembali dengan pakaian yang rapi, bahkan ia sudah mempersiapkan penyamaran agar tidak dikenali banyak orang.
Wanita beriris merah muda itu tidak memberikan tanggapan apapun, namun kedua alisnya yang tertekuk sudah dapat mengapresiasikan pemikirannya.
"Aku akan pergi." Ujarnya dengan singkat yang memasuki ruangan lain untuk mengambil kunci mobil.
Mendengar ucapan seperti itu membuatnya sedikit kesal sehingga memusatkan emosinya, "pergi? Lalu... apa yang dia maksud untuk menyuruhku tetap disini?"
"Mungkin aku akan kembali di malam hari, atau larut. Oleh karena itu kau tidak perlu menungguku."
"Haha~ terima kasih atas perhatiannya, tapi..." wanita berparas cantik itu beranjak dari duduknya. "Aku tidak pernah menyambutmu untuk kembali atau pergi." Sambungnya dengan tatapan tidak peduli.
Secara tiba-tiba, situasi mereka kembali merenggang.
...◇• •◇...
Mungkin hampir tiga bulan lebih. Lazel adalah wanita yang teliti, apapun yang terjadi di sekitarnya entah dalam keadaan sadar atau tidak, ia tahu jika Hyunjae sedikit berbeda dengan yang dulu.
Tatapan sinis dan saling merendahkan selalu menghujani keduanya. Namun... setelah banyak hal yang terjadi, pria itu sudah sekian lama tidak memperlihatkan kebengisannya.
Awalnya ini hanya pendapat apa yang ada di dalam pikirannya saja. Bisa saja Hyunjae melakukannya secara diam-diam sehingga tidak ada yang tahu apapun mengenai aktivitasnya.
Dan baru dia sadari, jika selama ini tindakan Hyunjae membuatnya kesal. Lazel sama sekali tidak membutuhkan perhatian, kasih sayang, atau bahkan rasa prihatin. Semua perasaan yang tidak berguna itu mungkin akan menggoyahkan hatinya.
Karena apa yang telah dia jalani sejak kecil, semua kehidupannya tidak seringan kehidupan orang lain. Bahkan di umur yang masih sangat muda, dirinya harus bertengkar hebat dengan Ibunya karena tindakan tak sesuai dari keluarga besarnya sendiri.
Salah satunya adalah perasaannya belakangan ini. Setiap Hyunjae melakukan sesuatu yang membuatnya tak nyaman, ia merasa jika akan ada saatnya ia akan berada di bawah pria itu, oleh karena itu, sebelum pikirannya terus terbawa arus, ia harus menyadarkan dirinya sendiri.
Bahwa tidak ada yang dia butuhkan selain uang.
...◇• •◇...
Baju mewah, mobil mewah, rumah mewah, apapun yang diinginkan selalu terwujud, bahkan uang selalu pandai untuk berbicara sehingga selalu mendapatkan umpan-umpan penjilat layaknya anjing.
Mendapatkan sesuatu yang luar biasa dalam bertahun-tahun, hanya karena dirinya berada di puncak bukan berarti ia melupakan identitas keluarganya sendiri.
Kali ini ia akan mengubah slogan itu, uang yang awalnya digunakan sebagai pembicara, maka Lazel akan menggunakan uang itu sebagai kesombongan dan juga dendam. Meskipun dirinya sombong, angkuh atau memiliki sisi yang buruk, wanita itu sama sekali tidak pernah melupakan awal pijakannya, awal dimana dirinya hidup dan menjalaninya hingga mencapai titik ini.
...◇• •◇...
Suara lonceng kecil terus berbunyi dan mengitari seluruh ruangan nan luas itu. Gilver, merupakan kucing yang Lazel dapatkan di jalan yang kosong. Awalnya ia mengira jika kucing itu adalah kucing biasa, namun setelah merawatnya lebih dari dua minggu, ternyata kucing itu memiliki spesies yang berbeda, atau memiliki campuran di dalam dirinya sehingga memiliki bulu yang tebal serta badan yang bulat.
Kepergian Hyunjae kembali membuatnya bertanya-tanya. Pertengkaran mereka terjadi begitu saja setelah Lazel menjelaskan tentang Gyuu.
__ADS_1
Ada seseorang pernah mengatakan sesuatu padanya, bahwa pertengkaran atau perbedaan pendapat di dalam Rumah Tangga itu sudah menjadi sesuatu yang biasa. Terkadang mereka membutuhkan suatu penjelasan yang sesungguhnya dan mencoba untuk saling mengerti.
Akan tetapi... kepergian sosok yang dia cintai masih meninggalkan luka yang sangat dalam. Untuk membukanya kembali masih terasa sulit, luka yang belum sembuh sepenuhnya tidak mungkin ia membukanya begitu saja dan membuatnya semakin parah.
Lagipula hal itu merupakan sesuatu yang telah dia korbankan. Perasaan hanyalah kalimat manis yang berujung pahit, karena pertemuan selalu berhadapan dengan perpisahan.
Apapun yang dia temui akan pergi meninggalkannya, walaupun hal itu kembali terjadi... kejadian sebelumnya tidak akan berubah.
...◇• •◇...
Kedua tangannya terlipat ke depan dan menatap kosong ke layar televisi yang tidak dalam keadaan menyala.
Tatapannya terlihat sayu dan juga sedikit lesu.
Di sebuah tangga yang menuju lantai atas, terdapat sebuah tembok berukuran besar. Dimana sepasang Suami Istri itu berfoto bersama dan memajangnya pada tembok tersebut.
Gaun putih yang terlihat elegan, senyuman manis yang terhias di wajahnya, serta rambut perak panjangnya yang terlihat indah.
Foto tersebut merupakan hari dimana dirinya dan Hyunjae menikah dan saling mengucapkan janji yang mustahil akan dikerjakan oleh keduanya.
Perasaanya khawatir, hampir delapan jam Hyunjae tidak kembali ke rumah. Seharusnya ia tidak perlu mengkhawatirkan sosok seperti pria itu.
Selain perasaan khawatir, ada perasaan lain yang membuat jantungnya terkadang berdetak dengan cepat.
Sebuah ponsel putih itu tak jauh dari jangkauannya.
Dengan tergesa-gesa ia meraih ponsel itu lalu mulai menggeser layar besar tersebut.
...◇• •◇...
Saat ini ia hanya memastikan, memastikan yang sebenarnya. Apa yang terjadi pada dirinya sudah ia alami berulang kali. Tindakan yang dulu dia lakukan dan sempat menghentikannya kini mulai berjalan lagi dengan beberapa wanita asing yang menempel pada tubuh besarnya.
Sejauh ini... tubuh yang dia miliki hanya untuk para perempuan di luar sana. Bukan hanya untuk satu wanita favorit miliknya.
Dirinya terduduk begitu saja dengan kedua tangan yang tersandar pada belakang sofa. Pakaian atasnya kini berserakan dimana-mana, yang menyisakan dirinya hanyalah sebuah celana yang masih terpasang rapi.
Namun tangan-tangan lentik itu mencoba untuk menggodanya dan berusaha untuk mencuri perhatian pada wajah dinginnya yang terus memandang dingin ke arah lain.
Ikat pinggang yang berwarna hitam itu berhasil terlepas. Kira-kira mereka terdiri dari tiga orang. Dimana mereka terus meraba apapun yang dimiliki oleh Hyunjae.
Rambut hitamnya yang awalnya terusap rapi, kini hampir menutupi pandangannya.
Dalam sesuatu yang bergairah seperti ini, Hyunjae ingin 'dipuaskan' bukan 'memuaskan'. Oleh karena itu dirinya tidak pernah bertindak di luar akal pikiran. Meskipun dirinya sangat tahu apa yang diinginkan oleh para wanita satu ranjangnya.
Bertahan pada satu wanita itu sangat mustahil dilakukan, apa yang pria itu inginkan pasti terjadi, entah menggunakan cara kasar atau cara apapun.
"Dia menyukaiku, begitulah yang ku dengar."
Kalimat yang berusaha ia lupakan terus bergeming di dalam pikirannya. Wanita manapun tidak pernah membuatnya harus frustasi hingga separah ini.
Rabaan dari tiga wanita itu yang terus menjelajahi lekukan tubuhnya sama sekali tidak terasa.
Salah satu perempuan yang mungkin masih memiliki umur yang sangat muda itu mengambil alih dan duduk pada pangkuan Hyunjae, sehingga kedua belahan itu sangat terlihat jelas di matanya.
__ADS_1
Dengan pikirannya yang masih sulit untuk berjalan mulus, ia mulai menurunkan kedua lengan besarnya itu. Tangan kanannya meraih tubuh perempuan tak berbusana itu untuk mendekat ke arahnya, dengan tatapan yang cukup gelap, sisi tangan yang lain ingin meraih bawahnya, mungkin karena gairah dua perempuan yang terus menggoda dirinya.
Drrt!
Tindakannya berhenti begitu saja, tatapannya sedikit tersadar meskipun itu bukanlah keinginannya.
Dengan suasana hati yang buruk, mungkin ia akan meredamkan apapun yang akan mengganggunya.
Tepat di layar ponsel yang cukup gelap itu, ia melihat setumpuk pesan yang masuk, dan kini panggilan pertama dari orang yang sama. Karena yang memanggilnya adalah salah satu orang yang penting, mau tak mau dia harus mengangkat panggilan tersebut.
"Kalian, diamlah." Ujar Hyunjae sebelum mengangkat panggilan tersebut.
"Ada apa?" Tanya Hyunjae dengan suara beratnya.
^^^"Ada apa dasar bodoh! Kau dimana saja hah?!"^^^
"Apa urusanmu?"
^^^"Aku juga tidak ingin menghubungimu walaupun planet akan jatuh, namun Lazel baru saja menghubungiku dan menanyakan tentangmu."^^^
"!!!!" Kedua matanya terbuka lebar saat mendengar nama wanita itu dari Kakaknya sendiri.
^^^"Hei! Apa kau dengar?! Dia tidak menghubungimu karena dia pikir kau akan sibuk dengan pekerjaan, bisakah kau-"^^^
"Apa... apa yang wanita itu katakan." Sela Hyunjae yang perlahan mulai memperbaiki posisinya.
^^^"Entahlah... jika kau penasaran kenapa kau tidak menanyakannya secara langsung? Asalkan kau tahu... dia sangat khawatir saat mengucapkan namamu."^^^
"..............."
^^^"Jadi-"^^^
Panggilan itu putus begitu saja, Hyunjae sengaja melakukannya.
Tangannya itu mengusap wajahnya dengan perlahan lalu tanpa sadar menyentuh anting pemberian dari Lazel. Ia menyeringai dan memperlihatkan wajahnya yang kembali tenang.
"Haaah~" ia menghela nafas begitu panjang, rambut hitam itu ia usap ke belakang sehingga memperlihatkan wajah serta tubuhnya yang amat menggoda.
"Menyingkir dariku." Ujarnya pada ketiga perempuan itu. Salah satunya pada perempuan yang berada di pangkuannya.
"K-Kenapa? Apa kami melakukan sebuah kesalahan?"
"Apa kami tidak membuat Anda nyaman?"
"Menyikirlah sebelum aku menyingkirkan kalian." Kini ia mengulangi ucapannya dengan wajah yang serius.
Tatapannya membuat ketiga perempuan itu merinding ketakutan dan segera menjauh sebisa mungkin.
Tubuh kekar itu berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati dinding kaca yang dapat memperlihatkan kondisi kota malam yang indah. Ia memperbaiki celananya dan meraih kembali pakaiannya.
Sebelum melangkahkan kaki dari sana, ia mengeluarkan setumpuk uang lalu meletakkannya begitu saja.
"Jika aku melihat kalian lagi... anggap saja itu adalah hari dimana terakhir kali untuk hidup." Ujarnya dengan tatapannya yang tajam.
__ADS_1