
Setelah melewati hari-hari yang menengangkan dan juga masalah kesedihan. Akhirnya usai dengan sambutan Natal di akhir tahun. Secara keseluruhan, semuanya tidak menghilang begitu saja. Mungkin saja beberapa orang masih merasakan dan meratapi kesedihan di balik senyuman palsunya.
Sesuai dengan pendapat dan juga saran darinya, pesta tetap terjadi meskipun tidak semewah tahun lalu. Ia tidak ingin menjadi penghalang untuk kebahagiaan orang. Lagipula kebahagiaan orang-orang itu berbeda, jadi jangan pernah menyalahkan mode bahagiaanya atau seperti apapun yang sedang mereka bahagiakan. Karena seluruh Manusia memiliki selera yang berbeda.
Acara setiap tahun itu dilakukan secara mendadak, bahkan di hari natal mereka baru saja menghias pohon berbentuk kerucut tersebut.
Bintang yang berwarna kuning layaknya Dewa terletak di pucak, bola-bola di setiap sisi bercahaya bagaikan Malaikat yang menuntun para Manusia untuk pergi menuju bintang itu.
Serta Manusia yang percaya akan Tuhan, merapatkan kedua tangan mereka dan mengucapkan setumpuk harapan. Serta Manusia yang tidak mengharapkan apapun, hanya bergantung pada takdir yang memang jatuh pada diri mereka.
Dan merasa putus asa...
...◇• •◇...
Tidak ada yang begitu istimewa. Apakah Natal termasuk dalam hal itu? Entahlah, apapun yang mereka lakukan, jika semua itu dilakukan dengan niat serta hati yang baik. Dalam kondisi apapun, hal itu pasti akan menjadi sesuatu yang sangat menyenangkan.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasakan sesuatu dan sensasi meriah tanpa orang yang dia sayangi.
Jika terus merasa bersedih, rasa sedih itu hanya akan mengambil waktu berhargamu, yang mungkin saja bisa kau gunakan untuk sesuatu yang lebih penting lainnya.
Rasa terpuruk hanya akan membuat kondisimu melemah. Terus berpikir bahwa dirimu tidak berguna dan merasa putus asa, padahal takdir ingin melihat, sampai mana batasan yang bisa kau capai dengan penyakit ini.
Hilangkan semuanya... tapi jangan pernah melupakannya. Maafkan semuanya... tapi jangan pernah kembali berpaling.
Sulit dilakukan... dan sebuah pengorbanan pun terjadi... yaitu, hati.
...◇• •◇...
Cukup lama tidak merasakan sensasi hangat secara langsung dari sebuah matahari, serta merasakan cahaya malam dari bulan.
Cahaya berkelip dimana-mana, nyanyian merdu memenuhi kota. Keramaian tiada henti. Saat ini pejalan kaki lebih banyak dibandingkan pengemudi.
Bukankah hal bagus menikmati malam natal dengan memperhatikannya dengan jelas?
Kedua kaki mereka melangkah secara berirama, syal menutupi kedua lehernya, serta hawa hangat selalu keluar dari rongga mulutnya setiap kali berbicara.
"Meskipun tokonya berada di dekat sini..." kepalanya terus menoleh ke segala sisi. "Entah mengapa aku masih sedikit asing dengan area ini."
"Apa mungkin karena aku sering menggunakan kendaraan?" Pikirnya, "tidak tidak, itu tidak bisa dijadikan alasan." Tukasnya.
"Hm? Ada apa?" Tanya Hyunjae yang memperhatikan tingkah Lazel.
"Tidak ada, hanya saja aku cukup asing dengan area ini." Ujar wanita berjaket hitam tersebut.
"Hm~ Ibu sering membeli minuman disini, dia juga menyarankanku untuk pergi membelinya di dekat sini. Ku dengar minuman yang mereka jual beraneka macam."
"Minuman... ya... masalahnya, aku tidak tahu bisa meminumnya atau tidak, mencobanya saja aku tidak mau." Batinnya merinding.
...◇• •◇...
Saat ini Lazel dan Hyunjae sedang pergi ke sebuah tempat yang tidak jauh dari kediaman mereka. Karena Natal dan Tahun Baru, biasanya, dari kebanyakan orang, mereka berjalan kaki untuk melakukan aktivitas.
Hal itu justru lebih menyenangkan dibandingkan membawa kendaraan. Karena secara langsung dapat menikmati kemeriahan kota.
Jauh atau dekat jarak yang mereka tempuh. Itu tidak akan terasa karena acara tahunan seperti ini.
Seperti yang sudah diketahui, Natal sudah berlalu. Mendeskripsikannya saja sangat sulit, karena hampir perayaan itu terjadi seperti hari-hari biasa. Oleh karena itu di Tahun Baru, tepatnya hari terakhir di tahun akhir. Nezra berusaha untuk membuatnya sedikit meriah, karena mereka memiliki waktu sebelum temponya.
Keduanya memasuki sebuah toko yang berada di gang kecil. Tempatnya begitu terang, lampu berwarna-warni memeriahkan tempat itu.
__ADS_1
Tetapi... jika diperhatikan sekali lagi, tempat itu sedikit terlihat ilegal. Selain area yang hampir tidak ketahui, tempat itu terletak di sebuah gang yang ditutupi oleh pohon besar.
"Apa kau menunggu lama?" Tanya Hyunjae yang baru saja keluar dari toko itu dan membawa beberapa minuman dalam sebuah tas.
"Tidak." Gelengnya.
Wanita berpita kupu-kupu itu hanya berdiri di depan toko dan menatap ke arah langit. Ia enggan untuk ikut memasuki toko tersebut. Oleh karena itu Hyunjae lah yang akan membelinya sendiri.
...◇• •◇...
Awalnya Hyunjae akan pergi seorang diri atau bersama dengan Ian. Tapi... setidaknya ia ingin membuat Lazel sedikit merasa tenang dengan hiasan meriah di kota. Meskipun sedikit diragukan, hampir sepanjang perjalan senyumannya terlihat, namun tidak senada dengan hatinya.
Siapa saja pasti sulit untuk melepaskan diri dari masa lalu.
Hyunjae masih merasa jika Lazel belum lepas dari masalah kedua orang tuanya. Namun, ia berusaha untuk tidak membahasnya lebih dalam, sampai wanita itu akan menceritakannya sendiri.
Setelah semua masalah yang menimpa Lazel, sosok diri Lazel yang sebenarnya seolah-olah terlihat. Rasa emosi, tangisan, serta penderitaan. Ditambah dengan masalah sepuluh tahun yang lalu itu.
Hyunjae tidak menyangka jika kecelakaan besar sepuluh tahun itu, yang hanya melibatkan satu nyawa. Ternyata orang itu adalah kekasih atau orang yang pernah Lazel sukai.
Sebenarnya ia ingin kembali bertanya mengenai kasus pria bernama Sung Wonhae. Tapi... Lazel sudah memberikan dirinya sebuah peringatan agar tidak mencampuri urusannya.
Mau tak mau... untuk saat ini ia akan memilih diam.
...◇• •◇...
"Whoa~ Lazel lihatlah." Ujar Hyunjae yang mengarahkan telunjuknya pada sebuah kolam yang terletak di tengah kota.
"Huh?" Karena peralihan itu membuatnya menoleh
Tap!
"D-Dingin!!" Kejutnya, "Hyunjae sialan! Apa yang kau lakukan!"
Lidahnya terjulur keluar dan memasang ekspresi jelek, "wleee~ kau seperti Anak hilang jika seperti itu." Ejek Hyunjae yang menjauh dari Lazel.
"Kemari kau bajing*n!" Ucap Lazel dengan kesal.
"Hei, mulutmu itu kasar sekali, apa aku harus memasukannya di dalam mulutmu juga-"
"!!!!"
Bruak!
Lemparan itu berhasil meleset karena Hyunjae menghindar secepat mungkin.
Ia memperhatikan bola salju yang Lazel lempar ke arahnya.
"..............." Hyunjae hanya memperhatikannya dengan keringat dingin. "B-Bagaimana bisa wanita itu memadatkan salju dengan kepalan tangannya, bahkan saat menyentuh tanah... hampir semuanya tidak pecah."
Tapi... apa yang dia lihat, wanita itu perlahan kembali menjadi dirinya yang dulu. Sungguh waktu yang singkat, namun ia berusaha sebaik mungkin untuk membuat Lazel melupakan segalanya sebelum meninggalkan Rumah Utama.
Seperti rencana yang pernah mereka bicarakan. Setelah Tahun Baru usai, maka mereka harus kembali secepat itu. Yang berarti adalah esok hari, dimana tahun akan berganti dan Musim Dingin akan berakhir, mungkin.
...◇• •◇...
"Ck! Kau sangat menjengkelkan."
"M-Maaf," ucap Hyunjae sambil mengusap dahinya. "Aku harus bersyukur jika yang dia pegang adalah salju, bukan pedang." Batinnya.
__ADS_1
Lazel memiliki ciri khas tersendiri, begitupula dengan Adiknya. Mereka memiliki wajah, iris, warna rambut yang sama, yang membedakan hanyalah panjang rambut serta tinggi mereka. Meskipun Lazel adalah seorang perempuan, namun tinggi badan yang dia miliki melebihi Ian.
Rambut perak yang jarang dimiliki seorang manusia... begitupula dengan warna iris mata mereka yang berwarna merah muda seperti kaca dan juga berlian, namun kebanyakan dari mereka menyebutnya sebagai caramel.
Sebelum pergi berbelanja, mereka sudah menghabiskan waktu bersama di rumah, dan di malam hari, hampir tengah malam. Nezra yang memiliki kekuatan dalam menahan mabuk dari minuman terus merengek dan meminta kembali.
Mau bagaimana lagi, ini hanya setahun sekali, jika hari biasa, mungkin Adam akan berniat untuk mengikat Istrinya di pilar rumah.
Sedangkan Hyunjae...
"Sejauh ini... meskipun kami tidak begitu dekat, yah kami memang tidak pernah dekat. Aku tidak pernah melihatnya minum." Batin Lazel yang lebih dulu berjalan dibandingkan Hyunjae.
"Oh! Apa kau pernah minum?" Tanya Hyunjae.
"Tidak." Jawabnya.
"Benarkah? Kalau begitu syukurlah, karena aku membeli minuman ini hanya untuk Ayah dan Ibu, oh! Untuk Hyunji juga," raut wajahnya seketika kesal saat menyebut nama Kakaknya. "Sial! Seharusnya dia yang pergi, bukan aku!"
"Tapi... karena aku bersamamu, ya sudahlah, mau bagaimana lagi."
Lazel sedikit berpikir, pria di belakangnya itu baru saja menyebut kedua orang tuanya dan juga Kakaknya. Tapi...
Langkahnya terhenti sehinngga membuat Hyunjae yang berjalan dengan tatapan kemana-mana menabrak pelan tubuh wanita berambut perak itu.
"Hei, apa yang kau pikirkan?"
Wanita beriris pink itu menoleh ke belakang dan mengadahkan kepalanya, "apa kau tidak bisa minum?" Tanya Lazel yang langsung pada intinya.
"Kau ini... setidaknya bertanya apakah aku minum atau tidak. Mengapa kau langsung menyimpulkannya seperti itu?" Kedua tangannya terlipat di depan dada sambil mengomel ke arah lain. "Padahal aku harus terlihat keren meskipun tidak bisa meminum mereka." Sambungnya dengan wajah kesal.
"Hm... sudah kuduga." Ucap Lazel yang melanjutkan jalannya.
"Hah?? Apa maksudmu sudah kau duga? Apa kau menduga bahwa diriku ini lemah?" Ia mengikuti langkah Lazel sambil mengomel tiada henti, "hei! Jawab aku."
Untuk kedua kalinya, ia menghentikan langkahnya dan langsung berpaling ke belakang.
"Hyunjae... ada sesuatu yang ingin ku katakan padamu." Ujarnya.
"Hm?" Untuk sesaat ia melihat dari raut wajah wanita itu. Dari sorot matanya saja ia sudah mengetahui bahwa dia sedang serius.
"Apa?"
"Mengapa kau tidak tinggal bersama dengan Heul, wanita yang belakangan ini sering bersamamu."
"..............."
Pertanyaan yang sedikit ambigu, Hyunjae saja tidak menyangka jika Lazel akan bertanya mengenai hal itu. Terlebih lagi, ia bertanya pada waktu yang tidak pas.
"Aku sudah mengetahuinya, belakangan ini kau memang sering bersamanya. Kau terkejut bukan karena aku membahasnya secara tiba-tiba?"
"Tapi... aku berniat melangkah lebih cepat, sehingga semakin dekat dengan tujuanku, yang sesungguhnya."
Meskipun hanya dugaan dan juga sedikit beresiko. Wanita itu lebih memikirkan dirinya dan juga Ian, semakin lama ia menunggu, akan semakin banyak lagi kebohongan yang akan terucap.
Bahkan saat ini, Lazel sudah tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Ibu dan Ayahnya, saat mengetahui hubungan sepuluh tahun dengan tumpukkan drama.
"Alasanya?" Kini Hyunjae bertanya balik.
"Singkatnya, aku ingin melangkah lebih maju dan segera menyelesaikan semuanya dengan cepat." Jawabnya.
__ADS_1