Lost Feeling

Lost Feeling
Lazel Giving Gift


__ADS_3

Pernafasannya sedikit terganggu, sebuah benda empuk yang kira-kira berukuran melebihi manusia itu berhasil membuat wajahnya terhimpit rapat.


Rasa kantuk yang masih merasuki kepala membuatnya enggan untuk bergerak dan menyingkirkan benda itu.


Hingga langkah kaki mulai terdengar samar memasuki kamar dan mendekat ke arahnya.


"Sebenarnya apa yang dilakukan oleh orang aneh ini." Suara seseorang dengan nada yang berat.


Boneka besar itu berhasil di singkirkan dan nampaklah sosok wajah putih dengan rambut perak yang terkapar dimana-mana serta kedua mata yang terbuka lebar menatap dirinya.


"GYAAAAH!!"


...◇• •◇...


"Ya, kami akan tiba malam ini."


^^^"..............."^^^


"Hyunjae pasti mengetahuinya, lagipula aku tidak pernah mengunjungi kediaman mereka."


Hari libur seperti ini seharusnya menjadi hari santai bagi semua orang yang memiliki kesibukan di setiap waktu. Namun tidak dengan kedua pasangan ini, mereka harus menghadiri sebuah pertemuan yang dilakukan oleh Keluarga Hojung.


Karena hanya berkaitan dengan pertemuan, maka Lazel tidak perlu memakai pakaian yang mewah atau gaun aneh lainnya, jas seperti biasa akan menjadi setelannya malam ini.


Sebelum itu ia harus menghubungi Ibunya terlebih dahulu dan membicarakannya. Setelah itu Lazel mendapat kabar dari Ibunya jika mereka akan berangkat lebih dulu.


Tangannya baru saja mematikan panggilan tersebut, "Hyunjae, aku akan mengajak Ian dan kedua teman-" ucapannya terhenti saat melihat reaksi Hyunjae yang belum menghilang. "HEI! ADA APA DENGAN WAJAHMU ITU?!"


"Wajahmu itu sangat menyeramkan! Bagaimana bisa kau memiliki wajah seperti itu?" Tanya Hyunjae yang masih merasa was-was mengingat kejadian sebelumnya.


"Hah?! Memangnya ada apa dengan wajahku?!"


Pagi mereka pun dihias dengan keributan maut.


...◇• •◇...


Kamar dengan nuansa jingga dan krim itu kini terlihat lebih rapi. Sebuah lemari dan beberapa rak yang kosong semakin ramai dengan pendatang baru. Saat ini kamar itu layaknya kamar seorang bocah perempuan. Belum lagi boneka jerapah dan beruang yang berada di kedua sisi ujung ranjang.


Awalnya Hyunjae memutuskan untuk memindahkan para boneka itu ke ruangan lain, namun Lazel menolaknya dengan keras. Mau tak mau ia harus terdiam dengan keputusan Sang Gorila.


Wanita dengan kuncir kuda itu baru saja menyelesaikan urusannya pada kebersihan kamar.


"Miaaw~"


Wajahnya menoleh ke belakang dan melihat siapa yang mendatangi dirinya, "Gilver~" ujarnya halus sembari mengangkat tubuh berbulu itu ke dalam pelukannya.


"Kau mau makan? Apa Hyunjae tidak memberimu makan?" Wajahnya kini terlihat semakin bodoh saat berbicara dengan seekor kucing, "hn?" Tatapannya beralih pada sebuah meja mini yang ada di samping ranjangnya.


...◇• •◇...


Kedua kakinya menelusuri tangga yang menuju ke ruang bawah. Ia memperhatikan langkahnya dengan membawa Gilver di dalam kedua tangannya. Namun seketika kucing bulat itu melompat ke arah lain dan berlari meninggalkan dirinya.


Lazel awalnya nampak bingung, namun setelah melihat siapa yang muncul ia jadi paham dengan apa yang terjadi, "Hyunjae... pantas saja Gilver pergi dariku."  Batinnya kesal.


Salah satu tangannya memasuki saku celananya dan mengeluarkan sebuah benda yang masih terbungkus rapi dengan plastik bening.


Setelah tiba di Ruang Tengah, ia melemparkan benda itu ke atas meja, tepat di hadapan Hyunjae yang kini sudah bercumbu ria dengan seekor binatang.


"Hm? Apa itu?" Pria itu membangkitkan tubuhnya dan meraih sebuah benda kecil yang dilemparkan oleh Lazel.


"Banyak yang terjadi saat hari natal, setidaknya aku bisa membalasnya dengan ini." Jelasnya dengan membawa cemilan untuk Gilver.


"..............."


"Itu adalah bayaran dari lampu tidur yang kau berikan."


Hyunjae tidak menyangka jika Lazel masih mengingat benda pemberiannya dan memberinya benda lain sebagai bayaran, "L-Lazel..."


"Menjijikan, jangan memasang wajah seperti itu,  Ucapnya kesal. "Gilver~ kemarilah~"

__ADS_1


"Tindik? Mereka sepasang?" Ujar Hyunjae setelah melihat sepasang benda kecil itu, "hm? Bukankah huruf ini seperti huruf nama depanku?"


Kedua kakinya pun mulai menyilang dan melebarkan tangan kirinya ke sandaran sofa, "aku merancangnya sendiri, sebenarnya benda itu sudah selesai, tapi apa boleh buat, aku selalu lupa untuk memberikannya pada-"


"Haha~ terima kasih." Sela Hyunjae yang memperlihatkan senyuman langka pada Lazel.


"..............." wanita beriris pink itu hanya membalasnya dengan tatapan biasa. "Kupikir kau hanya bisa menggertak, siapa kira jika kau juga bisa tersenyum seperti itu." Ucapnya dengan nada tak suka.


"Hm?!" Kepala pria itu langsung menoleh kembali dengan wajah ceria, "apakah senyumanku membuat wajahku semakin tampan?"


"Tidak."


"Apa kau terpesona saat melihatnya?"


"Tidak."


"Hei hei, apa kau senang pada senyumanku?"


"Bajing*n ini membuatku kesal." Tuturnya dalam hati.


"Tapi..."


"Ada apa?"


"Aku hanya melubangi daun telingaku di bagian kanan saja, karena selama ini aku hanya memakai tindik sebelah saja." Ujar Hyunjae yang mengamati hadiah pemberian Lazel.


Ia memasukkan kelingkingnya pada rongga telinganya dan menunjukkan wajah tak peduli, "ha? Kau bisa membuang sebelahnya, atau entahlah kau apakan benda aneh itu."


"Oh! Tunggu disini."


"Ha?"


...◇• •◇...


Wajahnya menatap layar ponsel dengan hampa, sembari menunggu Hyunjae yang tidak kunjung kembali.


"Apa sebenarnya yang dilakukan oleh orang itu..." ujarnya dengan nada malas.


Kedua mata Lazel terbuka lebar, "heh? Bukankah itu..."


"Aku akan melubangi sebelahnya." Ujar Hyunjae yang mengambil alat pelubang pada daun telinga.


"Kau serius? Bukankah Ibu Nezra melarangmu?"


"Dia akan terdiam setelah mengetahui siapa yang memberikan benda ini padaku."


"Oh, benar juga," sahutnya dalam hati. "Sulit dipercaya, tapi Ibu Nezra sangat terobsesi padaku. Mungkin tidak masalah bagi Hyunjae untuk melakukannya."


"Apa kau bisa melakukannya?" Pinta Hyunjae pada Lazel.


"Lakukan sendiri." Tolaknya mentah-mentah.


"Kau ini jahat sekali! Bukankah aku sudah membawamu ke kamar setelah kau tertidur pulas di dalam mobil?!"


"Ya! Aku akan melakukannya!"


Akhirnya wanita itu menjadi penurut setelah ribuan keluhan yang ia dengar dari Hyunjae.


"Kemarilah."


Hyunjae yang saat ini memakai kacamata, Lazel mengambilnya begitu saja dan memakainya pada matanya. Ia berusaha agar tidak membuat kesalahan saat memberi lubang pada daun telinga Hyunjae.


"Gzzz... rambutmu ini sudah panjang, lebih baik kau memotongnya." Ujar Lazel yang berusaha menyingkirkan rambut-rambut penghalang di telinga pria itu.


Jarak mereka sangat dekat, bahkan Hyunjae dapat melihat jelas leher jenjang Lazel yang putih tanpa sedikit noda.


Kedua matanya menyipit, "La-"


Ctik!

__ADS_1


"!!!!" Tubuh Hyunjae sedikit terkejut saat Lazel mulai melakukannya.


"Shh! Apa sesakit itu?" Kedua tangannya langsung memegang kepala Hyunjae dengan erat.


"Tidak, aku baik-baik saja." Ujar Hyunjae.


"..............." Lazel melihat sedikit darah yang menetes melalui daun telinganya, ia pun berinisiatif meraih kotak obat yang berada di bawah meja tersebut.


"Aku akan mengusapnya dengan alkohol." Ujar Lazel yang membuka kotak tersebut dan meraih botol putih beserta dengan kapas berukuran kecil.


"Hm? Tidak perlu, sudah tidak-"


"Ck! Diamlah." Selanya.


Pria berparas tampan itu hanya duduk terdiam dan membiarkan Lazel memberikan alkohol pada daun telinganya.


Setelah itu dia meraih tindik lainnya dan memasangkannya pada sisi telinga lainnya.


Lazel turun dari sofa dan menatap wajah Hyunjae dengan tindik yang ia berikan, "hm~ sepertinya pilihanku tidak salah." Ucapnya dengan perasaan sombong.


"Miaaw~"


"Hm? Ada apa Gilver? Apa kau mau pup?" Lazel beralih pada kucing peliharaannya, "kandangmu berada di dapur, sana pergi." Ujar Lazel dengan menunjukkan jari telunjuknya pada dapur.


"..............."


...◇• •◇...


Ia menggunakan layar ponsel Lazel sebagai cermin selagi wanita berambut perak itu pergi ke dapur entah melakukan apa.


"Sepertinya dia sudah memperhitungkan berat serta ukurannya," Hyunjae memperhatikan tindik itu dari layar ponsel. "Pilihannya memang tidak buruk." Seringainya.


Tindik berwarna hitam dengan buah huruf 'H'. Ukuran yang benda itu miliki tidak begitu besar, dan buah pada tindik itu juga tidak terlalu berat, sehingga Hyunjae dapat mengenakannya dengan nyaman.


"La la la la~" akhirnya wanita berwajah cantik itu kembali dengan sebuah es krim cokelat di tangannya.


Lazel mengambil posisi duduk yang tidak jauh dari Hyunjae. Dia melihat pria dengan rambut hitam itu terus menebarkan pesonanya di depan layar ponsel.


"Mengapa kau senyum-senyum sendiri?" Tanya Lazel yang merasakan sesuatu yang aneh pada Hyunjae.


Tangan kirinya mengusap rambut hitamnya ke belakang dengan ekspresi wajah yang tak biasa, "tidak ada apa-apa, hanya saja aku heran... bagaimana bisa pria seperti ku ini memiliki wajah sangat tampan?" Ucapnya dengan rasa kepercayaan yang tinggi.


"Aku menyesal karena bertanya." Gumamnya lalu memakan es tersebut dengan satu lahapan yang besar.


Hyunjae hanya memperhatikan raut serta ekspresi Lazel yang begitu senang pada sesuatu yang manis. Salah satunya adalah es krim yang kini membuatnya menginginkannya juga. Tapi... seluruh stok yang ada di dalam kulkas adalah milik wanita itu.


"Ini hari libur, mengapa kau tidak bermain ke luar?" Tanya Hyunjae yang berusaha menyambar es milik Lazel.


"Kau pikir aku anak kecil." Jawabnya sambil menepis tangan besar Hyunjae yang berusaha mengembat ke arah esnya.


"Ya, menurut pribadiku iya," jawabnya dalam hati. "Tentu saja tidak. Atau kau bisa memanggil Kara dan juga temanmu yang satunya."


"Bolehkah?!" Wajahnya terangkat dan menatap serius ke arah Hyunjae.


"T-Tentu saja boleh."


"Apa dia tidak bekerja?" Tanya Lazel dengan tangannya yang mengetik ponselnya dengan cepat.


"T-Tidak, aku meliburkan para Bodyguard," ia melihat reaksi Lazel yang begitu bersemangat. "Sepertinya dia sangat senang." Pikirnya.


"Karaaaa~ mau bermain ke rumahku? Ajaklah Vicy bersamamu." Ujarnya yang menempelkan ponsel putih itu di telinganya.


^^^"..............."^^^


"Hyunjae? Hahaha! Anggap saja dia tidak ada," jawabnya dengan asal-asalan. Ia menjauhkan ponsel itu darinya. "Hei kau! Jika mereka datang pergilah ke kamar!" Ucapnya pelan dengan kedua mata yang mengancam.


"O-Oke." Bahkan dirinya tidak dapat bertanya mengenai alasannya.


"Hm! Aku akan menunggu kalian." Angguknya.

__ADS_1


Sebelum meninggalkan Ruang Tengah, pria bertubuh tinggi itu sempat tersenyum senang sehingga harus menutup wajahnya sendiri dan berusaha menyamarkan senyumannya dari Lazel.


"????" Ia juga melirik pada es krim yang tergeletak begitu saja. Dengan kecepatan kilat, tangannya menyambar es itu lalu menikmatinya sendiri dan berlari ke atas.


__ADS_2