Lost Feeling

Lost Feeling
Error


__ADS_3

"Benarkah?"


^^^"..............."^^^


"Syukurlah... kurasa aku juga harus memberitahu Lazel tentang ini."


^^^"..............."^^^


"Tenang saja, sejauh ini dia baik-baik saja. Lagipula aku tidak akan membiarkannya pergi kemanapun."


^^^"Aku masih meragukanmu... Hyunjae."^^^


"..............." pria itu terdiam dan memasang wajah suram. "Sampai jumpa." Ucapnya lalu memutuskan sambungan itu.


Hyunjae sejauh ini sudah menyadari perbuatannya. Bermain dengan begitu banyaknya wanita di belakang Lazel. Padahal wanita itu tahu apa yang dia kerjakan, namun Lazel tetap memilih diam dan tidak ikut campur.


Yang dia lakukan memanglah salah, tapi bukan berarti ia dapat menyerahkan semuanya pada wanita di luar sana. Mereka tak lain hanya sebuah mainan yang dapat memuaskan dirinya. Seperti yang sudah diketahui sebelumnya, Hyunjae tidak pernah memiliki niat untuk memuaskan hasratnya melaikan ingin dipuaskan.


Oleh karena itu dirinya selalu terkontrol baik meskipun banyak godaan dari wanita yang menginginkan lebih darinya.


"Ngomong-ngomong dimana Lazel?"


Tidurnya terganggu begitu saja saat ponselnya berdering dan mendapatkan Ayahnya yang menghubungi dirinya. Pertanyaan yang ia ujarkan sebelumnya, kini sudah mendapatkan jawaban.


Selain itu... Adam sendiri yang berstatus sebagai Ayahnya masih belum meletakkan kepercayaannya pada Putranya sendiri.


"Baiklah, saat ini aku ingin melihat Lazel."


...◇• •◇...


Di Ruang Tengah beserta lampu hias yang menggantung di langit-langit. Lazel terdiam seperti memikirkan hal yang lain, namun ia tidak dapat bergerak untuk melakukannya sendiri.


"Selesai~"


"Hm? Memangnya apa yang kau lakukan?" Tanya Lazel yang dari tadi tidak merasakan apapun karena terus melamun dan berpikir.


"Mengepang rambut Anda~" ucap Yana dengan penuh semangat.


Lazel meraih rambutnya ke depan dan melihatnya sendiri, "hahaha~ terima kasih."


"Disini kalian rupanya." Ujar seseorang dengan suara yang menggema.


Keduanya menoleh dan melihat Hyunjae yang muncul.


Pria berkaos hitam itu berjalan mendekati kedua wanita tersebut, "Yana, bisakah kau meninggalkan kami? Ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengan Lazel."


"Tentu saja!" Jawabnya dengan semangat.


"Ada ap-" saat Lazel menolehkan wajahnya ia harus bertemu dengan wajah lain.


"Kau cantik juga." Ujar Hyunjae yang membulatkan kedua matanya di hadapan Lazel, karena saat ini jarak wajah mereka sangat dekat.


"K-Kau hampir menyentuh wajahku. Lagipula aku sudah mendengar kalimat itu darimu secara langsung."


"Hehehe~"


"Ada apa?" Kini Lazel mulai beralih pada inti pembicaraan, "bukankah kau ingin mengatakan sesuatu?"


Hyunjae menjelaskan semuanya secara perlahan, dimana ia meminta bantuan Ayahnya untuk terus menanyakan beberapa hal pada Paman Luo mengenai masalah sepuluh tahun yang lalu, kecelakaan kedua orang tua Lazel dan pendapat mereka mengenai Lazel.


"Jadi... apa kau berpikir bahwa kematian kedua orang tuaku ada hubungannya dengan Paman?" Tanya Lazel yang langsung memahami keadaan dengan cepat.


"Awalnya aku berpikir begitu, tapi ternyata tidak."


"Lalu bagaimana dengan Ian?"


"..............." setelah melihat ekspresi Lazel. Hyunjae sama sekali tidak ingin melanjutkan ucapannya. Setelah kehilanhan Ayah dan Ibunya, Lazel sama sekali tidak menginginkan sesuatu yang bisa mengancam keselamatan Ian


"Hei."


"Selain dirimu, mereka juga membenci Ian karena selalu berlindung di belakangmu, dan menjadikanmu layaknya sosok Pahlawan baginya."


"Intinya mereka tidak berniat untuk menyentuhnya bukan?"

__ADS_1


"Y-Ya, lagipula saat ini Ayah sama sekali tidak meringankan hukuman yang diberikan pada Keluarga Besar-"


Lazel memegang kepalanya sendiri dan memasang raut kesakitan.


"A-Apa kau baik-baik saja?"


"Aku tidak tahu mengapa aku hidup dengan keluarga seperti ini, disaat seseorang sedang kesusahan sudah pasti jika keluarga mereka berpatisipasi untuk mendukung. Tapi mengapa hanya keluargaku yang seperti ini,"


"Aku tahu jika benci itu pasti ada, tapi mengapa mereka harus melibatkan orang lain dalam hal ini?"


Hyunjae mendekatkan dirinya pada Lazel dan  mengusap rambut Lazel dengan lembut.


"Kau... bagaimana denganmu?" Tanya Lazel yang mengangkat wajahnya dan menatap Hyunjae.


"A-Aku tidak apa-apa... alasannya tidak jauh berbeda dengan Wonhae."


...◇• •◇...


Beberapa hari ini kondisi Lazel tak jauh berbeda disaat kedua orang tuanya meninggalkannya dan juga Adiknya. Wajahnya penuh dengan tekanan dan juga stres yang berkepanjangan.


Tidak ada seorang pun yang bisa memahami Lazel. Hidup sendiri tanpa bantuan orang lain serta harus menjaga Adiknya. Menikah dan memiliki kekayaan yang hampir tak terbatas bukan berarti dirinya dapat lolos begitu saja dari rasa depresi yang menghujani dirinya.


Tirai masih terbuka sedikit dan membuat cahaya luar menyinari sebagian tubuhnya yang terlelap di atas ranjang.


Kedua matanya terpejam rapat, luka di wajahnya belum pulih total. Bahkan luka di bagian dahinya masih terbalut dengan perban. Bibirnya masih harus mendapatkan obat oles di setiap harinya. Beberapa sisi wajahnya yang harus mendapatkan perawatan ringan.


Saat ini wajah Lazel sangat berbeda dari yang dulu. Meskipun senyum di wajahnya tidak memudar, namun tutur kalimatnya selalu membuat orang-orang terdiam.


Pria dengan rambut hitam itu masih terjaga dan terus memantau keadaan Lazel. Sebelumnya wanita itu pernah berbicara jika rasa nyerinya mulai terasa saat di malam hari, oleh karena itu Hyunjae tidak akan membiarkan dirinya tertidur.


"Aku mengetahuinya... tapi aku selalu menganggap bahwa semua itu bukanlah apa-apa,"


"Menderita karena keluarganya sendiri, kehilangan sosok yang dia cintai selama bertahun-tahun, lalu... kepergian kedua orang tuanya sehingga meninggalkan kedua anaknya,"


"Jika aku berada di posisinya, mungkin aku tidak sanggup untuk melanjutkan hidup."


Hyunjae meraih tangan putih itu dan memegangnya perlahan, "aku ada di sisimu saat ini, jadi... kau tidak perlu menanggung semuanya seorang diri."


...◇• •◇...


^^^"@#&@#&@#&!!"^^^


"Jangan berteriak! Dan jangan membawa kepala kuning itu kesini!"


Di pagi hari yang baik, Hyunjae disambut dengan sebuah panggilan dari seseorang. Lazel hanya menatapnya dari kejauhan dengan wajah datarnya.


"Siapa?" Tanya Lazel.


Pertanyaan seperti itu membuat Hyunjae menunjukkan layar ponselnya di hadapan Lazel, "K-Kara dan juga Vicy!  Aku tidak berbohong! Aku berkata jujur! Lagipula hanya ada kau di ha-"


"Tenanglah, aku tidak memiliki pemikiran sejauh itu, sela Lazel. "Jadi, apa yang mereka katakan?"


"Mereka akan bermain kesini, untuk menghiburmu jadi aku memperbolehkannya." Jawab Hyunaje sambil memakai jasnya.


"Kara? Bukankah dia harus bekerja denganmu?"


Hyunjae menoleh dan memberikan Lazel tatapan serius, "mulai saat ini aku tidak akan membiarkan satu wanita pun mendekati diriku."


"Kau semakin aneh, serius."


Hyunjae melanjutkan aktivitasnya lalu berjalan ke arah Lazel yang baru saja usai mandi. Wanita itu juga sudah bersiap untuk beranjak dari duduknya.


"Ku bantu?" Tawar Hyunjae yang belum merapikan rambutnya.


"Sebenarnya tidak perlu, aku juga harus sembuh secepat mung-"


"Oke." Sela Hyunjae lalu mengangkat tubuh Lazel dengan kedua tangannya layaknya seorang Putri.


Lazel memasan wajah kesalnya dengan tangan yang memegang pada pundak pria bertubuh besar itu, "hei, apa kau benar-benar mendengarkanku? Lagipula rambutmu masih terlihat berantakan."


"Aku tidak akan menebarkan pesona selain pada Istriku sendiri."


"Cukup! Hentikan! Ucapanmu itu membuatku kesal!"

__ADS_1


...◇• •◇...


"..............." sesekali Lazel melihat ke bawah, ia memperhatikan ketinggian Hyunjae mengangkat tubuhnya. "A-Aku tidak akan mati kan jika terjatuh dari sini?"  Pikirnya.


"Kau takut? Jangan khawatir. Tubuhmu itu bukan apa-apa bagiku. Lagipula saat aku mulai menindihmu kemungkinan besar tubuhmu itu sama sekali tidak terlihat."


"Aku tidak pernah olahraga semenjak beberapa masalah menimpaku."


"Jika kau sembuh bukankah kita bisa melakukannya bersama?"


"Tidak mau."


"Huh? Kenapa?"


"Kau pikir aku mau memperlihatkan tubuhku padamu?"


"Yaah~ terdengar menyedihkan, padahal aku adalah sosok yang berhak melihatnya secara keseluruhan."


Duak!


"Mengapa kau sangat suka mencari masalah denganku?"


Hyunjae mendudukan Lazel ke atas Sofa lalu mengambil posisi duduk di samping wanita itu dan mulai merapikan rambutnya secara naluri tanpa cermin.


"Hebat, tanpa cermin." Ujar Lazel yang memperhatikan Hyunjae merapikan rambutnya.


"Aku sudah memilikimu, jadi untuk apa cermin?"


"Kau ini benar-benar..."


Lazel tahu jika selama ini Hyunjae berusaha untuk merubah situasi dengan memuja dirinya dan mengucapkan beberapa kalimat manis. Lazel sangat mengetahui hal itu, namun dirinya berusaha untuk tidak tenggelam terlalu cepat.


"Aku akan berangkat." Ucap Hyunjae yang kini nampak lebih rapi, ditambah dengan kedua antingnya sehingga membuat dirinya terlihat seperti Mafia.


"Hm." Angguk Lazel.


"................" keduanya saling terdiam. Lazel menunggu kepergian Hyunjae, sedangkan pria itu sama sekali tidak meninggalkan tempatnya sedikitpun.


"Apa lagi yang kau tunggu?" Tanya Lazel yang hampir frustasi dengan sikap Hyunjae.


"A-Aku tidak ingin berpisah denganmu." Lirihnya dengan kedua mata yang berlinang.


"PERGI!"


...◇• •◇...


Bagaikan terlahir kembali, Hyunjae sama sekali tidak pernah memamerkan perasaan bahagianya pada siapapun. Tapi... saat ini ia tidak bisa menyembunyikan apapun, semenjak ia mulai menyambung kembali hubungan yang tenggelam itu.


Kedua tangannya menggenggam stir dengan serius, namun pandangannya teralihkan oleh sebuah cincin perak yang ia kenakan di jari manisnya. Harus ia sadari, selama ini dirinya tidak menyadari jika sebuah cincin pernikahan melingkar di jari manisnya.


Wajahnya seketika memerah, "kyaa! Aku malu." Ucapnya dengan menutup wajahnya sendiri.


Yang dia inginkan sangat simpel dan mudah. Dimana ia dapat mendengar dan melihat amarah serta amukan dari Lazel seperti biasa. Disaat Lazel mulai bertingkah seperti itu, Hyunjae merasa jika perlahan Lazel kembali pada masa-masa dulu.


Lampu merah kini berubah menjadi hijau. Hyunjae dengan hati yang penuh bunga merasa jika hari-harinya begitu menyenangkan dan sangat ringan untuk di jalani.


"Aku tidak sabar untuk pulang~"


...◇• •◇...


Perlahan ia menelusuri segala tempat dengan kedua kakinya sendiri. Dan kembali beraktivitas seperti biasanya. Sesuai dengan penjelasan Dokter sebelumnya, bahwa dirinya dapat pulih cepat dalam waktu satu minggu. Meskipun masih mendapatkan keraguan, namun Lazel tidak ingin membuang-buang waktunya.


Hubungannya dengan Nezra dan juga Adam masih sangat sunyi. Bahkan mereka hampir tidak pernah berbicara satu sama lain. Ia juga mendengar beberapa kabar dari Hyunji mengenai Nezra. Untuk saat ini, Ibu Mertuanya tidak mengeluarkan pendapat apapun ataupun komentar.


Yang jelas dirinya mendapatkan sebuah pesan singkat dari Hyunji atas perintah Ibunya, dimana Nezra ingin mendengar semuanya dari Lazel secara langsung. Entah mengenai masa lalu atau apapun, hal itu sebagai pertanggung jawaban selama sepuluh tahun lebih.


"Kau begitu bersemangat untuk sembuh, tapi jangan paksakan dirimu." Ujar Kara yang bersantai di atas sofa dengan beberapa cemilan.


"Aku ingin membuat minuman, aku haus." Ujar Gyuu yang langsung pergi begitu saja menuju dapur.


"Kak, lebih baik kau istirahat sejenak." Tutur Ian yang saat ini tengah bersantai dengan Kara.


"N-Nona, jika Tuan Hyunjae mengetahui ini, mungkin beliau akan murka." Ucap Vicy yang selalu mengekori Lazel kemanapun dirinya pergi.

__ADS_1


Lazel dapat melihat semuanya, dimana ada begitu banyak orang yang menyukai dirinya, yang mau menemaninya, "mereka orang-orang yang baik, tapi... mungkin adalah kesalahan besar bagi mereka yang meletakkan kebaikan itu padaku."


__ADS_2