Lost Feeling

Lost Feeling
Cunning


__ADS_3

Sepertinya ia akan tiba di malam hari, sembari menunggu penumpang lain turun, kedua matanya untuk sejenak menutup dan menghilangkan rasa letihnya.


Wanita berambut perak itu kembali terbangun, "tidak... aku tidak boleh tertidur disini," tangannya bersusah payah mengusap wajahnya sendiri. "Aku tidak ingin bermimpi seperti itu lagi di tempat seperti ini." Ia menyanggahkan kepalanya ke jendela sambil memandangi luar.


Langit benar-benar gelap, tak menunggu begitu lama, akhirnya bus itu melewati halte yang dekat dengan villanya.


Ia dapat merasakan jika seluruh tubuhnya sakit dan juga lelah.


Setelah turun dari bus, ia harus berjalan kaki untuk masuk ke wilayahnya. Disana tidak begitu gelap, beberapa lampu hias dan lampu jalan menerangi bagian yang gelap. Hawa dingin malam hari mulai terasa gilanya.


Kedua tangannya menutupi dirinya sendiri dan mempercepat langkahnya.


Tak lama kemudian terlihatlah sebuah gerbang besar dengan dua Villa di dalamnya.


"????" Namun langkah kakinya melambat karena seseorang tengah berdiri disana dengan mantelnya, "..............."


Sepertinya dirinya sudah tidak mampu untuk memulai perdebatan. Dengan ekspresi yang sama, dan perasaan yang sama, ia terus berjalan tanpa menghiraukan apapun yang ada di sekitarnya.


"Apa kau tidak bersama supir?" Kini pria berambut hitam itu mulai berbicara.


Sedangkan Lazel merasa tak peduli, dan bergegas memasuki gerbang.


"Jika mereka tidak datang saat kau memanggilnya, aku bisa mema-"


"Cukup," Lazel menyela pembicaraan Hyunjae dengan dingin, bahkan wajahnya enggan menoleh. "Jangan membuat keputusan seenaknya di dalam masalahku." Sambungnya.


"Seenaknya? Aku tidak bisa membiarkan seseorang me-"


"Kubilang cukup, aku tidak ingin memperdebatkan apapun denganmu." Dirinya tak lagi peduli pada apapun yang akan menjadi bahan sindiran Hyunjae padanya.


"Kau selalu selalu dan selalu membuat diriku merasa bersalah."


"..............."


"Kau memang tidak mempermasalahkannya tapi aku tidak bisa menyangkalnya."


"Kau... dan diriku, kita berdua memiliki pemikiran yang berbeda, jalan yang berbeda. Namun akan bertemu dalam satu tujuan," tubuhnya membalik dan membelakangi cahaya. "Jangan pernah merasa bersalah pada semua tindakan cerobohku, silahkan urus masalahmu sendiri, karena aku, bahkan tidak ingin menyentuh masalahmu sedikit pun."


...◇• •◇...


Sosok wanita dengan piyama putihnya baru saja keluar dari kamar mandi, setelah berendam beberapa waktu, tubuh dan pikirannya kembali membaik. Rambut peraknya tergerai bebas, di kamar nuansa kupu-kupu itu begitu cantik dipandang.


Matanya tengah mencari sesuatu di dalam ruangan tersebut, "aku kan meninggalkan ponselku di Ruang Tengah."


Ia mengambil piyama lebih tebal lagi untuk menutupi tubuhnya lalu meninggalkan kamar untuk mengambil ponselnya.


Saat kakinya mulai menuruni anak tangga, sebuah suara berhasil membuatnya terkejut.


Tubuh mungil berbulu itu akhirnya menunjukkan dirinya dari balik pilar rumahnya. Bulu peraknya menjadi sorotan utama.


"Aku hampir melupakannya." Wanita cantik dengan rambut yang tergerai panjang itu segera menuruni anak tangga dan meraih kucing itu ke dalam dekapannya.


"Wah, kau sudah bersih." Tangannya mulai mengelus tubuh kucing itu dengan lembut.


Setelah mengambil ponselnya kembali, ia kembali ke atas dan membawa kucing itu.


...◇• •◇...


Setelah melewati hari yang berat, akhirnya permasalahan besarnya pun dimulai. Dimana kedatangan keluarga lain yang akan menghebohkan keadaan.


Mungkin saja salah satu dari mereka masih menyembunyikan identitas sebenarnya.


...◇• •◇...


Pagi hari...


Setelah sekian lamanya, akhirnya matahari dapat memperlihatkan cahayanya. Sebelumnya selalu turun hujan di sepanjang waktu.


Baru saja mobil merah itu melewati dirinya tanpa menoleh atau melakukan sesuatu, dan meninggalkan kediamannya secepat mungkin.


"..............."


Pria berpakaian rapi itu sudah siap untuk melakukan aktivitas, "ayo ke rumah Ibu."


"Baik Tuan."


Pagi ini Hyunjae mendapatkan pesan dari Nezra dan meminta dirinya untuk pergi kesana tanpa memberitahu atau membawa Lazel. Ia tidak tahu, sepertinya ada suatu masalah sehingga Lazel tidak boleh mengetahuinya.


Oleh karena itu dirinya akan pergi ke rumah Ibunya.

__ADS_1


...◇• •◇...


"Lazeeeel!"


"Panggil aku Bos!" Ucap Lazel sambil memukul kepala Egis cukup kuat.


Kedua tangannya memegang kepalanya yang sakit, "t-tafi kau pernah menyuruhku untuk memanggilmu seperti ini saja."


Pagi-pagi seperti itu, Lazel mendapatkan sambutan meriah dari Egis. Pria dengan rambut emas dan juga iris cokelat itu memiliki semangat yang tinggi, bahkan hampir di setiap waktunya ia mengganggu dan menghantui Lazel.


Beberapa rapat dan pertemuan akan diadakan secepat mungkin, jika terus menundanya pekerjaan akan terus mengikuti dirinya.


Saat ini mereka sedang berjalan ke dalam ruangan Direktur.


Kedua matanya menelusuri wajah Lazel dan juga penampilannya, "wah~ kau memang selalu berpenampilan seperti kupu-kupu." Ujar Egis yang memperhatikan segalanya dari Lazel.


Setelah tiba di depan ruangannya, wanita itu membentangkan tangan kanannya untuk menghalangi Egis mengikutinya, "kembali ke tempatmu."


"Tydak aku tydak-"


Brak!


Tangannya menutupi wajahnya, "memalukan."


...◇• •◇...


"Ibu?" Hyunjae baru saja tiba di kediaman Ibu dan Ayahnya. Dan ternyata semua orang tengah duduk di Ruang Tengah dengan wajah yang sedikit suram, "ada apa dengan mereka?"


Seperti biasa, Adam memang selalu diam. Dirinya akan ikut bicara jika menyangkut hal yang penting.


"Hyunjae... ada yang ingin ku bicarakan denganmu." Ucap Nezra yang tengah duduk di samping Suaminya.


"A-Ada apa?"


"Haah~ kasihan sekali kau ini." Ucap Hyunji di tengah-tengah kesunyian


"Hyunjii!! Kau merusak suasananya!" Teriak Ibunya sambil memelayangkan bantal ke arah Putra tertuanya.


"Sebenarnya apa yang ingin kalian bicarakan?" Tanya Hyunjae dengan wajah datarnya.


"Hehehe~ Hyunjae, aku ada sesuatu untuk dikatakan padamu." Ucap Nezra dengan wajah manis bertabur licik.


...◇• •◇...


Saat ini ia mengambil waktu istirahat, karena kedua kakinya sudah tak terasa lagi, "k-kurasa aku akan mati." Lirihnya yang sudah merasa tak sanggup.


Melakukan pertemuan dan rapat di waktu yang bersamaan, wanita itu hampir stres karena lonjakan pekerjaan yang menggunung. Tubuhnya yang sudah menyatu dengan sofa yang empuk sama sekali tidak bisa membuatnya bangkit kembali.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk."


"Bos, ini minumanmu."


Seketika wajahnya terlihat masam, "Egis? Kau lagi?" Keluhnya.


"Memangnya kenapa?" Tanya pria beriris cokelat itu dengan polos.


"Kau pikir sudah berapa kali aku melihat wajahmu seharian penuh ini."


"H-Haha~"


Lazel mendapatkan secangkir minuman dingin yang dibawakan Egis untuk dirinya. Awalnya Byul yang akan mengantarnya, namun gadis itu memiliki masalah lain, sehingga harus mengerjakan yang lain dan meminta bantuan perihal minuman pada Egis.


"Apa pekerjaan disana begitu padat?" Tanya Egis yang duduk di hadapan Bosnya.


Tangan kanannya terkepal dan memukulnya ke atas sofa, "saangat, bahkan mereka tidak membiarkanku bernapas sedikit pun," ucapnya kesal. "Sialan Para Tetua itu!" Kutuknya.


Lazel melihat Egis yang sepertinya sangat ingin diajak bicara.


Wanita itu tersenyum tipis, "bagaimana dengan keluargamu?"


"Hm? Keluargaku? Yaah, mereka tiba tanpa memberitahuku."


"Hm..." ia memperhatikan Egis dengan seksama. "Kau... Anak tertua bukan? Atau bisa dibilang Anak satu-satunya."


"W-Wah! Kau mengetahuinya?" Tanya Egis yang mendadak keringat dingin, "L-Lazel tahu? Apa benar dirinya tahu?"


"Aku bisa menebaknya hanya dari caramu berbicara, tindakan dan juga perlakuanmu." Ujarnya dengan sombong

__ADS_1


"L-Luar biasa."


Waktu istirahatnya semakin menarik jika dilakukan sambil berbincang. Dan sepertinya Egis sangat menikmati waktunya dengan Lazel.


"Ngomong-ngomong Bos..."


"Huh? Ada apa?"


"Mengapa posisi dudukmu seperti itu."


"Huh?"


Egis semakin heran dengan posisi duduk Lazel yang semakin menyusut ke bawah.


"Oh, ini namanya menyatukan diri, aku juga tidak bisa bangkit karena tidak memiliki cukup tenaga."


"O-Oh..."


...◇• •◇...


"Hm~ sudah lama aku tidak datang ke negara ini."


Hojung, sebuah marga dari Keluarga sama besarnya dengan Pietra. Namun mereka juga memiliki sedikit perbedaan, menurut rumornya, mereka memiliki satu orang Putra yang sempat tinggal di Amerika bersama dengan Putra kedua Pietra.


Di atas sebuah gedung, dan helikopter yang berada di belakangnya.


Kedua matanya mencari kemana-mana dengan tangan kanan yang menutupi cahaya matahari, "ku dengar Putraku juga ada disini."


Keduanya bersaing baik dan adil. Meskipun terkadang terjadi sesuatu yang menghebohkan.


"Aku hampir melupakan wajahnya karena tidak pernah menghubungi Ayahnya sendiri, dasar Anak Pendosa!"


Mungkin saja... kedatangan keluarga kali ini akan membuat sedikit masalah.


...◇• •◇...


Asisten Byul baru saja menyelesaikan masalah kecil, dan kini sedang mencari seseorang, "ah! Egis, apa kau melihat Nona Lazel?" Tanya Byul yang menemui Egis dari tempat Lazel.


"Shh!" Tangan telunjuknya berdiri di hadapan bibirnya, "haha~ dia tertidur, mungkin karena lelah. Apa kita bisa membiarkannya sebentar?"


"Hm..." Byul memperhatikan jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Baiklah, tapi jika sudah waktunya tolong bangunkan Nona." Pintanya.


"Baik."


Terlihat dari balik pintu yang pernah rusak itu  Bos mereka yang tertidur karena lelah.


Egis seperti hidup dalam bayangan, wajahnya begitu ceria di hadapan orang lain, termasuk di hadapan Lazel. Namun disaat dirinya menjauh, topeng itu seolah-olah terbuka, dan dirinya juga terus merasa bersalah.


Perkataan Vicy padanya juga selalu menghantui pikirannya. Memang sebuah keharusan untuk tidak terlalu dekat dengan seseorang yang sudah memiliki pasangan hidup.


Akan tetapi... Egis memandang Lazel layaknya wanita yang tersesat, dan tidak memiliki siapapun. Dirinya terlalu tahu apa yang terjadi pada Lazel sehingga sulit untuk mendengarkan nasihat yang diberikan Vicy.


Kedua sorot matanya tidak seperti biasa, ekspresinya terlihat sedih, "aku penasaran, mengapa kau seperti ini... Lazel."


...◇• •◇...


Sepertinya baru saja menikmati Musim Hujan dan panas. Kini tanpa disadari Musim Dingin akan tiba di Akhir Tahun. Dimana Natal dan juga Tahun baru akan diadakan.


Semua orang menunggu momen yang menyenangkan itu, lalu membeli setumpuk kembang api dan menerbangkannya ke atas langit.


Hal itu sangat berbeda dengan apa yang terjadi pada wanita berambut perak itu.


Rambut peraknya terikat asal ke belakang, kedua kakinya ikut terangkat ke atas sofa, kedua tangannya mengepal di depan wajahnya. Serta kedua matanya melebar sambil merapalkan sesuatu.


"Aku ingin liburan... aku ingin liburan... aku ingin liburan... aku ingin liburan." Kalimatnya semakin di dengar semakin suram.


Seseorang yang berada di sampingnya hampir kehilangan kesabaran, "berisik!" Teriaknya.


"Mau apa kau datang kesini dasar lintah tak tahu diri!" Sembur Lazel pada pria berjaket hitam yang duduk di sampingnya.


"Kau ingin liburan bukan? Maka akulah sumber harapanmu itu." Ucap Hyunjae dengan percaya diri.


"Dasar arogan berwajah ampas, kau pikir aku akan tertipu dengan omongan busukmu itu." Ucap Lazel yang menunjukkan jari tengahnya.


"Hoi! Hinaanmu padaku banyak sekali!"


"Itu bagus! Sesuai dengan wajahmu yang menjengkelkan itu!"


"@#&@#&@#&@#&!!"

__ADS_1


Sebelum mengatakan tujuannya, seperti biasa... ritual pun dimulai.


__ADS_2