Lost Feeling

Lost Feeling
Ian Zoclis


__ADS_3

"Ibu, aku berangkat."


"Hati-hati~"


Matahari terletak sangat tinggi sehingga memberikan rasa panas yang membara.


Terlihat seorang pria dengan kaos hitamnya sedang berjalan sendirian di sebuah distrik yang cukup ramai. Rambut peraknya terkibas karena kuatnya angin, bulu mata yang tipis itu melindungi kedua irisnya yang berwarna pink caramel.


Ia memiliki seorang saudara kandung perempuan yang jauh lebih tua darinya. Wanita itu memiliki ciri-ciri yang sama dengan dirinya, bahkan jika tidak diperhatikan dengan benar, banyak orang yang mengira jika ia adalah Kakaknya.


Kedua saudara itu saling menyayangi satu sama lain. Sang Kakak kini sudah menikah dan melanjutkan masa bahagianya bersama pasangannya, namun Kakaknya masih setia untuk melakukan apapun demi Adiknya.


Oleh karena itu sebagai imbalan, dirinya akan belajar lebih giat dan membanggakan Kakaknya. Meskipun Kakaknya sama sekali tidak pernah memaksakan kehendaknya.


Dan pria itu adalah Ian Zoclis, anak kedua dari keluarga Zoclis.


...◇• •◇...


Kedua kakinya berdiri di depan Zebra Cross sambil menunggu lampu merah dan membuat pejalan kaki melanjutkan aktivitas mereka.


Ian hanya mengenakan kaos hitam polos dan celana sepanjang lutut dengan warna abu-abu serta topi hitam yang kini mulai melindungi kepalanya dari panas matahari.


"Waah~ lihat itu, bukankah dia Adik dari Direktur Pietra's Aplic Enterteiment?"


"Wajahnya sangat tampan!"


"Tentu saja! Bukankah Kakaknya juga memiliki paras yang luar biasa?"


Bisikan para gadis muda terdengar jelas di kedua telinganya. Siapa sangka jika orang-orang masih mengetahui identitasnya meskipun memiliki penyamaran yang kurang sempurna. Rambut peraknya, serta warna irisnya saat membuka kedua matanya, semua itu sudah jelas ciri-ciri dari Kakaknya sendiri.


Setelah menempuh beberapa jarak yang tidak begitu jauh, akhirnya ia tiba di sebuah Universitas yang terkenal, disanalah tujuannya saat ini.


"Ah! Disini Ian!" Salah satu temannya yang sudah tiba disana berteriak memanggil namanya.


Ia pun membalas lambaian itu lalu berlari ke arah mereka.


Pria bertopi itu akhirnya bergabung dengan teman-temannya. Kira-kira mereka berjumlah empat puluh lebih, yang berati mereka semua berada di kelas yang sama atau teman satu kelasnya.


"Mengapa kau lama sekali?" Tanya temannya yang mengeluh atas keterlambatan Ian.


"Haah?? Setidaknya dia tidak terlambat." Salah satunya membela.


"Haha~ aku begitu santai saat berjalan." Kekehnya pelan.


Pada siang hari itu, mereka akan mengunjungi Universitas terkenal di negara itu, tempat itu juga merupakan tempat Kakaknya kuliah saat masih menjadi Pelajar. Menurut rumor dan info, Universitas itu tidak mengambil atau menerima Mahasiswa yang sembarangan, meskipun mereka berasal dari kalangan miskin, namun tempat berkualitas itu menginginkan pola pikir mereka bukan dari dana. Oleh karena itu Pemerintah banyak memberikan apresiasi untuk Universitas tersebut.


...◇• •◇...


Di dalam ruangan yang amat besar, hampie besarnya dengan aula. Namun beberapa pajangan sejarah tertata dengan rapi.


"Hei Ian, bukankah kau akan berkuliah disini?" Tanya temannya.


"Hm? Aku tidak begitu yakin, ka-"


"Memangnya kenapa? Bukankah kau adalah Adik Ipar dari seorang Direktur Muda? Untuk apa kau pusing memikirkan perihal dana?" Sahut seorang gadis yang memiliki umur yang sama dengannya.


"Ya, itu benar. Seharusnya kau tinggal minta saja." Gadis penyindir itu tidak sendiri, ada seorang pria lainnya yang mendukung dirinya.


"..............." ia memang tidak memberikan langkah apapun, namun kedua matanya seolah-olah sedang meneliti keadaan.


"Ck! Ck! Ck! Inilah yang ku benci dari kotoran  seperti kalian." Kini temannya kembali menyahut dan membela Ian secara terang-terangan.


"Argo? Memangnya kami pikir kami tidak mengetahui trikmu?" Kini yang terkena imbasnya adalah Argo sendiri.


"Wahh~ apakah aku terlihat seperti memiliki trik?" Pria bernama Argo itu terus membalas ucapan para sampah itu.

__ADS_1


"Meskipun begitu, Ian tetaplah Ian, jika Kakaknya adalah Presdir atau siapapun, Ian tetaplah dirinya sendiri, derajatnya tidak akan mengubahnya menjadi Manusia Super." Sambung Kim dengan wajah yang tenang namun dengan perkataan tajamnya.


Pada akhirnya pengganggu pun berlalu dan meninggalkan tiga pria itu.


"Haah~ kau ini," tangannya mengepal dan ia pukul pelan di lengan Ian. "Mengapa kau selalu terdiam jika mulut bebek itu menyindirmu terus?" Tanya Kim dengan raut wajah masamnya.


"Hm? Menyindir?" Ian bertanya balik dengan wajah polosnya.


"Apa kau tidak sadar?" Tangan Argo sudah mengambil ancang-ancang untuk menghajar wajah tampan milik Ian.


Kim langsung menahannya sambil menempelkan tangan kanannya pada dahi Argo, "A-Argo! Sadarlah wahai monster dari alam ketujuh!" Ucap Kim dengan sembarangan.


"Haha~ lagipula Kakakku kan memang kaya, jadi apa salahnya?" Ucapnya dengan wajah tersenyum tulus.


"Orang ini memang mengerikan." Batin Argo dan Kim bersamaan.


...◇• •◇...


Seperti ucapan dua mulut maut yang berbisa itu mengenai Ian yang tampan. Itu adalah fakta, karena Lazel, Kakaknya memiliki paras yang cantik dan indah, sedangkan Adiknya seperti Idola-Idola di masa yang mendatang.


Dan bukan berarti hidupnya akan damai dari perhujatan pada netizen dan juga curhatan hati dari para gadis-gadis muda.


Seperti yang terjadi hari ini, sepertinya sekolah mereka bukanlah sekolah satu-satunya yang mengunjungi Universitas terkenal itu. Beberapa saat yang lalu, bus dari sekolahan lain datang beramai-ramai.


Sehingga salah satu gadis dari sekolah asing mendatangi dirinya dan mengungkapkan perasaannya secara langsung pada Ian tanpa berkenalan terlebih dahulu.


Kim dan Argo menatap kedua insan itu dengan wajah datar dan biasa, seolah-olah tahu apa yang akan menjadi jawaban Ian untuk gadis malang itu.


"Maaf, aku lebih menyukai Kakakku dibandingkan dirimu." Jawaban dari Ian benar-benar membuat gadis berponi gelombang itu bingung.


"Sudah kuduga." Ucap Kim dengan kedua tangan terlipat di depan dada


"Hm, sudah kita duga." Angguk Argo yang menyetujui ucapan Kim.


...◇• •◇...


"Kyaaa! Ian melepas topinya!!"


Kim mendekatkan wajahnya pada Argo, "apa gadis-gadis di kelas kita memang histeris seperti itu?"


"Entah mengapa aku cemburu." Ujarnya dengan aura suram yang mengelilingi dirinya.


Pada akhirnya Kim dan Argo mengusap rambut mereka ke belakang dengan gaya cool.


"OUUEEEEEEEKK!!"


"KYAAA! MATAKU BERJAMUR!"


"T-TIDAK! PENGLIHATANKU AKAN DIAMBIL!"


"OOOI! APA SEBURUK ITU WAJAH KAMI?!" Protes Kim dan Argo di hadapan para gadis sekelasnya.


Perdebatan mereka sama sekali bukan urusan Ian, pria itu menulikan kedua pendengarannya dengan mengenakan Earphone Bluetooth sambil menyibukkan dirinya menatapi sekitar.


Kini beralih pada seorang pria berjas rapi, jika ciri-cirinya disebutkan, maka inisial orang itu sudah bisa ditebak.


Terlihat dari jauh ia sedang berbicara dengan seseorang yang begitu menghormati dirinya. Pria itu terlihat cukup ramah dan mudah diajak bergaul.


Sehingga sebuah angin membuat dirinya bertemu dengan sosok yang kini belum ia temui dalam beberapa minggu.


"Kalau begitu Saya serahkan penja-" kedua matanya langsung berpaling dan melebarkannya selebar mungkin sehingga apapun yang ada di hadapannya terlihat jelas.


"T-Tuan?-"


"D-Dia kembali?!" Teriaknya dengan kuat, "a-aku akan pergi! Dan terima kasih atas kerja samanya!" Setelah itu ia berlari meninggalkan security yang dia tugaskan untuk mengawasi para kunjungan agar tidak tersesat.

__ADS_1


Kedua langkahnya berlari begitu cepat, wajahnya tersenyum lebar, kedua tangannya sudah terbuka lebar untuk memberikan sambutan yang hangat.


"LAAAAAZZEEEEL!!!!" Teriak Egis dengan kesenangan melewati batas, "kau akhirnya kem-"


"Hm?" Pria dengan kaos hitam itu menoleh karena seperti mendengar seseorang memanggil Kakaknya.


"..............." seketika langkahnya terhenti dan menatap sosok yang tak begitu asing di hadapannya. "GYAAAHHHH!!! LAZEL MENGALAMI REVOLUTION!!" Teriaknya histeris.


...◇• •◇...


Di sebuah lobi lantai dasar, beberapa pria berkumpul bersama, terutama Egis yang menjadi faktor kesulitan.


"J-Jadi kau adalah Adik laki-lakinya?" Ujar Egis yang memperhatikan detail dari kepala hingga ujung kaki pria yang menyebut namanya Ian, "jika diperhatikan dari jauh maupun dekat, mereka terlihat mirip, sangat!" Batinnya.


"Apa Kakakku tidak pernah membicarakanku padamu?" Tanya Ian dengan wajah tak berdosa.


"Tidak pernah." Pertanyaan barusan sangat menusuk hati Egis.


"Jadi siapa kau?" Tanya Ian.


Dengan bangga ia berdiri dan bersiap untuk memperkenalkan dirinya, "aku adalah bawahan Lazel, namaku Egis Par-"


"Aku tidak bertanya mengenai namamu." Sela Ian dengan masa bodoh.


"Entah mengapa kalimat itu mengingatkan diriku pada sosok yang asli." Pikirnya kesal.


"Ternyata kau hanyalah Anjingnya saja."


"Hei bocah! Jaga bicaramu!" Akhirnya Egis berhasil menunjukkan kekesalannya pada Ian.


"Huh? Memangnya kau siapa bagi diriku yang super manis dan tampan ini?" Ucapnya sombong.


"Aku adalah Kakak Ip-Teman dari Kakakmu." Jawabannya seketika hampir memasuki portal menuju dunia lain.


"Mulut pria ini seperti hujan, mudah sekali terpeleset," batin Ian. "Kak Egis bukan?"


"K-Kak! Copy Monster ini barusan memanggilku Kakak bukan?!" Kebahagiaannya saja sudah terlihat jelas di depan wajahnya. "Ekhem! Ya, ada apa?"


"Apa yang kau lakukan disini?"


"Apa yang kulakukan disini?" Ia mengulangi pertanyaan Ian dengan wajah bingung, "Universitas ini adalah milikku."


"Huh?"


"S-Sialan."


...◇• •◇...


Mobil mewah bergaya barat dengan warna kuning itu terparkir di depan gerbang. Seorang pria baru saja memasuki mobil tersebut dengan bantuan dari para Bodyguard nya.


"K-Kalau begitu aku pergi dulu." Ujar Egis yang terlihat kaku.


"Baiklah~ sampai jumpa~" Kim dan Argo melambaikan tangan mereka dengan raut wajah seperti penjahat.


"I-Ian, Kim dan Argo... kalian bisa menjaga rahasia bukan?" Kini wajah Egis seperti mendapatkan bencana terbesar dari seumur hidupnya.


Kim melipat kedua tangannya, dan bertingkah keren di hadapan Egis, "hm... aku dan Argo mungkin akan melupakannya dalam satu jam ke depan." Ucap Kim.


"Syukur-"


"Tapi Ian mungkin akan mengingatnya hingga akhir hayat." Sambung Kim.


"Jangan mengatakan hal seperti itu!" Sahut Egis.


"Baik Tuan, aku tidak akan mengatakannya." Ucap Ian dengan posisi menunduk hormat

__ADS_1


Egis menggenggam jendela mobil yang terbuka sebagian dan menatap Ian, "kau baik padaku setelah mendengar kekayaanku bukan?!"


__ADS_2