Lost Feeling

Lost Feeling
Full Of Entertainment


__ADS_3

"Hei gemuk! Tangkap ini!"


"Namanya adalah Gilver dasar sialan!"


Sebuah boneka mini berbentuk wortel baru saja dilemparkan ke arah lain dan memerintahkan kucing bulat itu untuk mengambilnya.


"Cih! Nama apa-apaan itu." Tukas Hyunjae dengan ekspresi yang menyebalkan.


"Bajing*n ini..."


Beristirahat atau bersantai seperti ini sangat jarang terjadi. Biasanya mereka berdua sangat sibuk meskipun sedang merayakan sesuatu.


Saat ini Lazel tengah menikmati cokelat panasnya sambil bersantai di atas sofa, sedangkan Hyunjae tak ada bosan-bosannya bermain dengan Gilver, yaitu kucing yang memiliki warna bulu yang serupa dengan warna rambut Lazel.


"A-Anu..."


"Hm?"


Seorang pelayan mendatangi Lazel yang tengah asik dengan ponselnya.


"Mengapa Nona dan Tuan tidur di kamar yang berbeda?" Tanya pelayan itu dengan bingung


BYUUR!


...◇• •◇...


"Memilih?"


"Y-Ya! Hyunjae dan aku bingung ingin memilih kamar yang tepat, jadinya kami akan mencoba kamar yang menurut kami pas." Lazel menjelaskannya tanpa ada persiapan atau dialog yang sudah terekam di pikirannya.


Kedua pasangan tanpa mencintai itu baru saja mendapatkan masalah kecil, masalah itu bisa saja menjadi masalah besar saat pelayan rumah utama mengadu pada Nezra.


Pelayan itu cukup bingung dengan apa yang dijelaskan oleh Lazel, "tapi... Nona Nezra sudah menentukan kamar Anda dan juga Tuan."


"What?" Ucap Lazel dan Hyunjae bersamaan.


"I-Ibu sudah merencanakan hal ini sejak lama!!" Batin Hyunjae.


"Gawat! Gawat! Gawat! Apa yang harus ku katakan!!" Saat ini yang jauh lebih gila adalah Lazel, ia tidak sempat berpikir untuk mengucapkan alasan yang tepat pada pelayan ber-IQ tinggi.


"Haha~ untuk apa kau khawatir?" Kini Hyunjae mengambil alih pembicaraan, "meskipun kami berdua memiliki selera yang berbeda, itu tidak akan mengubah keadaan, benar bukan sayang?" Pria itu merangkul tangan kananya ke atas pundak Lazel sambil tersenyum hangat.


"UUEEEEEEEEEK!!" Ia tak bisa membayangkan jika Hyunjae akan mengambil langkah yang ekstrim, "haha~ ya begitulah." Jawabnya dengan tubuh yang bergidik ngeri.


"Baiklah kalau begitu, semua pelayan akan selalu berada di dapur, dan ada pula waktunya kami membersihkan ruangan depan," pelayan itu menjelaskan segalanya dengan detail. "Kalau begitu silahkan beristirahat~"


"Oh! Satu lagi, kediaman para pelayan bukan disini, melainkan rumah yang berada di belakang mansion ini."


"B-Baiklah."


Setelah menjelaskan beberapa hal pada kedua Majikannya, pelayan itu kembali ke dapur dan meninggalkan ruangan depan.


Keduanya pun nampak tegang.


"S-Sepertinya kita mendapatkan masalah baru." Ujar Lazel.


...◇• •◇...


Di sebuah kamar yang lebih besar dibandingkan kamar sebelumnya. Akhirnya ruangan itu menjadi kamar tidur mereka berdua.


Lazel yang tengah duduk di atas kursi kayu berukuran sedang, dari sana ia dapat melihat kekesalan Hyunjae pada situasi yang menimpa mereka.


Kedua tatapannya terlihat kembali normal, "tenang saja," kini dirinya tahu harus melakukan apa. "Aku akan membantumu sehingga aktivitasmu di luar rumah tidak diketahui siapapun." Jelasnya.


Hyunjae memalingkan wajahnya, "hm? Apa yang kau katakan?"


"Huh? Bukankah kau sedang memikirkan hal itu?" Kini yang berbalik bingung adalah dirinya.


"Aktivitas di luar? Tidak juga. Yang aku khawatirkan adalah..." pria itu bangkit dari sisi ranjang dan menyandarkan dirinya pada meja yang terletak di sebelah Lazel. "Mereka bisa bingung karena tindakan kita."


"Dia tidak mengkhawatirkan kebiasaannya? Apakah-"


"Lagipula saat selesai bekerja aku bisa memiliki waktu luang, jadi aku bebas pada waktu itu." Jelas Hyunjae yang menatap Lazel dengan tatapan biasa.


"..............."


"Lagipula saat mulai malam Natal hingga pergantian tahun Ibu pasti memulangkan para pelayan."


"Ya... kau benar."


"Hm? Ada apa denganmu?"


"Aku akan pergi keluar untuk membeli beberapa pita kupu-kupu." Ucap Lazel yang meraih mantelnya dan menggunakannya.

__ADS_1


"Haah~ apa tidak besok saja? Malam ini mungkin akan mulai turun salju."


"Tenang saja," wanita itu tetap bergerak dan berhenti di samping pria beriris abu-abu itu. "Kau tidak perlu mengkhawatirkan diriku." Sambungnya.


Setelah itu wanita berambut perak itu meninggalkan kamar dan meraih kunci mobil yang ada di atas meja Ruang Tengah.


Di lantai atas, tepatnya di kamar yang disediakan untuk mereka berdua. Hyunjae dapat melihat kepergian Lazel dari atas sana.


Tanpa menolehkan wajahnya wanita itu langsung memasuki mobil dan melesat pergi meninggalkan mansion.


Kedua alisnya bertaut, "apa yang terjadi padanya?"


...◇• •◇...


Kedua tangannya fokus memegang stir mobil, pandangannya terus tertuju pada layar kaca depan mobil. Salju belum memperlihatkan buih-buihnya, namun dingin sudah mulai terasa.


Sebenarnya alasan itu bukanlah alasan yang sebenarnya, meskipun tujuan memang sama.


Akhirnya ia tiba di sebuah toko yang menjual aneka macam aksesoris mulai dari kepala hingga ujung kaki. Semuanya terlihat lengkap.


Tubuh dan juga kepalanya terlindungi dari hawa dingin, saat memasuki toko mungkin penghangat mulai diaktifkan, oleh karena itu cuacanya tidak begitu buruk saat memasuki toko tersebut.


"Kupu-kupu..." kedua matanya mencari area dimana mereka menjual pita kupu-kupu atau benda apapun yang bersangkutan dengan kupu-kupu.


Bruk!


"????" Saat mulai memasuki arena yang cukup ramai, secara tak sengaja dirinya menabrak punggung seseorang.


Pria itu berbalik dan mengucapkan maaf yang seharusnya tidak perlu diucapkan, "ah~ maaf-" ucapannya terhenti, senyumannya mengembang. "Bos?"


Lazel menutup kedua matanya sendiri, "astaga wajahmu lagi dan lagi." Ucapnya yang merasa lelah dengan wajah Egis.


...◇• •◇...


Kedatangannya ke toko aksesoris membuat  dirinya bertemu dengan salah satu pegawai kantornya, dan orang itu hampir ia lihat sepanjang hari saat keluar dari rumah.


Ia memperhatikan pilihan Egis, "Bunga? Apa kau ingin membelikan sesuatu untuk Istrimu?"


Di samping aksesoris itu, mereka juga menjual buket bunga yang beraneka macam bentuk dan warna.


Pria bertopi hitam itu sangat terkejut, "I-I-Istri?! A-Ap-Apa maksudmu?!" Tanya Egis sangat gugup.


"Oh, kau belum menikah rupanya." Ujar Lazel dengan wajah yang polos.


"H-Hm, maafkan aku." Batinnya sambil mengangguk


"Aku ingin membelikan sesuatu untuk Ibuku, bukankah sebentar lagi Natal akan tiba?" Jelas Egis sambil memperhatikan pilihannya.


"Hm~ Anak yang baik," pujinya. Hal itu membuat dirinya mengingat seseorang. "Tidak seperti lintah dari planet asing sepertinya."


"Aku sulit menentukan hadiah, jadi aku khawatir apakah tahun ini akan menjadi hadiah yang baik?"


Sepertinya ia menyadari jika Egis tidak begitu terbiasa dengan hadiah yang selalu dia berikan pada Ibunya.


"Haha~ tentukan saja pada warna yang memang cocok untuk Ibumu." Ujar Lazel yang memberikan sedikit solusi untuk Egis.


Pria beriris cokelat itu nampak berpikir, "mungkin... biru?"


Kedua alisnya tertekuk saat mendapatkan jawabannya, "mungkin?"


"Ah~ Ibuku sudah tiada semenjak aku lahir."


"!!!!"


"Santai saja~ aku tidak begitu mengingat wajahnya, aku hanya memiliki fotonya, dan wajahnya sangat mirip denganku! Hahaha!"


"Aku tidak ingin bertanya tentang Ibu pada Ayah, setiap kali aku membicarakannya, beliau pasti menjawabnya dengan senyum yang dipaksakan."


Ternyata... ada seseorang yang lebih merasa kehilangan dibandingkan dirinya. Bahkan Egis kehilangan Ibunya di waktu melahirkan, namun pria itu masih bisa tersenyum dan tertawa seperti orang-orang normal.


Selama ini... dirinya telah mengenal Egis tanpa tahu latarbelakang keluarganya.


...◇• •◇...


"Sampai jumpaaaa~"


Ia membalas sapaan itu dengan lambaian tangan.


Perpisahan mereka terjadi di depan toko itu, sebenarnya ia dapat memberikan tumpangan untuknya, tapi ternyata pria itu membawa kendaraan.


Awalnya dia berpikir jika dapat bertemu dengan Egis mereka akan menikmati ramen seperti sebelumnya. Namun ternyata... ada sesuatu yang lebih penting dibandingkan keinginan pribadinya.


Yang ia ketahui secara mendasar mengenai pria itu adalah kebaikannya dan juga ketulusannya.

__ADS_1


Dalam masalah apapun, dia masih bisa menghibur orang lain.


"Hm~ pria yang baik."


...◇• •◇...


"Aku pu-"


"Dari mana saja kau?"


Sosok pria dengan tubuh kekar itu berdiri tegap dengan kedua tangan melipat di depan dada.


"??!!"


Kedatangannya seperti memergoki Istrinya yang ketahuan berselingkuh dengan pria lain.


Hyunjae begitu berisik, Lazel pun langsung memperlihatkan barang yang ia beli, "aku membeli beberapa barang." Ujarnya yang memegang sebuah kantung mini berwarna pink berisi aksesoris kupu-kupu.


Ia memperhatikan isi dari kantung tersebut, "kupu-kupu semua?"


"Kenapa? Memangnya kau mau menggunakannya juga?"


Tangannya mengusap wajahnya dan juga rambutnya secara bersamaan, "tidak~ tidak~ wajahku yang tampan ini akan bercampur dengan keimutan."


"Hah? Kesemutan? Kakimu keram?"


Tangan kanannya mencengkam kedua pipi Lazel dengan erat, "bicara denganmu memang tidak menciptakan sesuatu yang baik." Ucap Hyunjae dengan kesal.


"M-Memangnya apa yang salah dari ucapanku hah??" Dengan upaya yang ia miliki, dirinya berusaha menjauhkan tangan besar itu dari wajahnya.


"Dasar wanita tidak tahu diri."


"Dasar pria tidak tahu malu."


Keduanya saling melempar tatapan kesal.


...◇• •◇...


"PWAHAHAHAHA!!!!"


"Kyuuuu~"


"HAHAHAHAHA!!!"


Hyunjae membuat wajah imut dengan kedua tangan yang berada di bawah dagunya.


"Kyuuu~ kyuuu~"


"HAHAHAHA!! Menjijikan! Mati saja sana!" Tawanya diiringi dengan kutukan terhadap Hyunjae.


"Mulutmu itu! Apa aku harus menutupnya secara paksa?!" Teriak Hyunjae yang mendadak kesal.


Lazel menggunakan beberapa aksesorisnya pada Hyunjae dan meminta pria itu untuk berpose imut seperti gadis-gadis muda pada umumnya.


Hasilnya begitu di luar pikiran, Lazel memenuhi Ruang Utama dengan tawanya yang semakin kuat seperti hewan kehilangan kendali.


Di sela-sela tawanya, ia mencoba untuk meraih ponselnya, "a-apa aku harus mengirimnya pada Ibu?" Seketika ia menyadari sesuatu, "oh! Ini bukan ponselku," ucapnya yang sadar atas kesalahannya,


"BWAHAHAHAHA!!" Wanita itu kembali tertawa.


"..............." Hyunjae yang memangku Cherry dan Gilver secara bersamaan menatap ke arah Lazel yang sedang menggila.


Sepertinya dalam waktu dekat mereka akan bersenang-senang terlebih dahulu dan menghabiskan Natal masing-masing. Tapi... terkadang waktu tidak bisa memandang mereka hanya satu dari satu.


Ia mengusap air matanya dan kembali duduk dengan benar, "H-Hyunjae! Cepat kembali berpose! Aku akan mengambil gambarmu dan mengirimkannya pada Ibu Ne-"


"Kyuuuuu~"


"BWAHAHAHAHAHAHAH!!" Semakin Hyunjae bertingkah, semakin menjadi pula tawanya.


Pria itu menatap Lazel dengan merinding, "wanita ini sudah kehilangan kewarasannya."


...◇• •◇...


Bulan sudah mulai terlihat, langit kehilangan cahaya cerahnya menjadi jingga kemerahan dan kekuningan.


Pria berjaket abu-abu itu baru saja menuruni anak tangga dan membawa selimut tebal.


Setelah tiba di dekat sofa, ia meletakkannya dan menutupi tubuh Lazel yang tertidur pulas dengan para kucing.


"Orang ini tertidur setelah tertawa seperti orang gila." Kekehnya.


Untuk sementara ia membiarkan ketiga makhluk itu untuk terlelap sebelum salju turun.

__ADS_1


Hyunjae merebahkan tubuhnya di siso sofa yang lain, "haah~ aku lelah."


__ADS_2