
Gerbang terbuka dengan otomatis dan membuat mobil hitam mengkilap itu memasuki arena Villa. Mobil tersebut berhenti tepat di depan Villa milik Lazel, karena terlalu sering kesana bahkan hampir tinggal bersama, Villa pribadinya sendiri tak pernah terurus dengan baik.
"Sepertinya aku harus menanyakan pada Lazel mengenai rumah," ujar Hyunjae yang melepaskan seat belt dari tubuhnya. "Aku penasaran, seperti apa rumah mewah pilihannya."
Ia melangkah keluar dan mengunci otomatis mobil tersebut.
Cklek!
"Lazel, aku pulang~" ucapnya dengan sedikit bernada.
"..............."
Ia memperhatikan sekitar yang nampak sepi.
"Hm?" Gilver terbangun dari tidurnya dan mulai mengganggu Hyunjae serta terus bersuara. Hyunjae pun meletakkan makanan itu di atas meja Ruang Tamu dan membawa kucing itu bersamanya menuju Ruang Tengah, "ada apa Gilver? Apa kau melihat Lazel? Dia-"
Hyunjae melebarkan kedua matanya dan juga terkejut saat melihat Yana dengan beberapa makanan di atas meja yang masih terlihat berantakan. Melihat sesuatu yang seperti itu sangatlah janggal, oleh sebab itu Hyunjae bergegas mendekati Yana yang kini terlihat tak sadarkan diri.
"Yana, Yana! Apa yang terjadi?!" Hyunjae berusaha membangunkan Yana yang tak sadarkan diri di atas meja makan, lebih tepatnya adalah tertidur.
Hyunjae membasahi tangannya lalu ia percikkan ke hadapan Yana.
Perlahan wanita itu terbangun meskipun efek sampingnya masih begitu terasa.
"Yana! Apa yang terjadi?! Dimana Lazel?!" Tanya Hyunaje dengan heboh.
Yana yang terbangun sama hebohnya seperti Hyunjae.
"N-Nona!-" Yana memperhatikan minuman yang diberikan Lazel padanya. "Minuman ini..." Yana mencoba untuk mencium sedikit aroma minuman tersebut.
"!!!!" Ia menjauhkan minuman itu hingga terjatuh ke lantai.
"Ada apa?"
"O-Obat! Minuman ini mengandung obat tidur." Ujar Yana yang langsung menutup kedua hidungnya.
"Apa yang kau..."
Belum mendapatkan perintah dari Hyunjae, Yana berlari begitu saja menuju lantai atas sembari berteriak memanggil nama Nonanya.
Bruak!
Beberapa pintu ruangan terbuka dengan kuat sehingga menimbulkan suara bantingan yang cukup keras.
"Lazel!" Bahkan Hyunjae mulai mengikuti Yana untuk mencari keberadaan Lazel.
Yana menjelajah semua ruangan yang ada di lantai atas, sedangkan Hyunjae mencarinya di lantai bawah.
"Tuan! Bisakah Anda menghubungi Nona?!" Ujar Yana dari lantai atas.
"Menghu-" Hyunjae sekilas mengingat dimana dirinya juga berniat menghubungi Lazel saat berada di kedai ramen. "Tidak... ponselnya tidak bisa dihubungi." Kini Hyunjae nampak histeris dengan menghilangnya Lazel.
...◇• •◇...
Duak! Duak!
Ia mengetuk pintu itu dengan sekuat tenaga, bahkan hampir dipastikan jika kepalan itu bisa saja menghancurkan pintu tebal yang ada di hadapannya.
"I-Ibu bukalah pintunya!" Suara Hyunji terdengar sangat jelas dan juga kuat yang mengarah pada ruangan Ibunya yang tertutup rapat.
"Ck! Bisakah kau diam!" Sahut Nezra dengan kesal.
"IBU! LAZEL DAN IAN MENGHILANG!"
"!!!!" Nezra membuka pintunya dan bergegas keluar dari ruangannya.
"Apa... apa yang kau katakan..." kini Nezra menatap Hyunji dengan tatapan yang tak percaya.
"Lazel dan Ian menghilang! Aku baru mendapatkan kabar dari Hyunjae!" Jelas pria tersebut dengan wajah yang panik.
"Menghilang?! Itu tidak mungkin karena-"
__ADS_1
"Ibuuu! Bahkan dia tidak bisa menghubungi Lazel maupun Ian! Saat ini Hyunjae mencoba untuk pergi ke rumah lama mereka."
"A-Apa kau sudah menghubungi Ayahmu?"
"Ya, dia akan memeriksa beberapa tempat di kota ini."
...◇• •◇...
Mereka bergegas keluar dari dalam mobil dan mulai mengetuk pintu rumah tersebut.
Yana mengetuk pintu tersebut dengan kasar, "Nona! Apa Anda di dalam?!"
"Ian! Bisakah kau-" Hyunjae memperhatikan sesuatu yang membuat mereka berdua mustahil untuk terus berteriak. "D-Dikunci?" Hyunjae meraih gembok tersebut dengan tangan yang gemetar.
"Apa mereka benar-benar pergi? Tapi kemana?" Lirih Yana yang semakin merasa khawatir pada Nonanya.
"Yana, tanyakanlah hal ini pada orang-orang di sekitar." Ujar Hyunjae.
"Baik."
Hyunjae mengeluarkan ponselnya dan mulai menghubungi beberapa kontak yang dia kenal, salah satu dari mereka adalah teman Lazel.
^^^"Oh, tumben sekali kau-"^^^
"Hentikan basa-basimu! Apa kau melihat Lazel?" Sela Hyunjae yang saat ini tidak ingin memulai perdebatan.
^^^"Lazel? Bukankah dia sudah kembali?"^^^
"Kembali? Apa maksudmu?"
^^^"Hah? Apa kau tidak tahu jika Lazel sempat mengunjungi rumahku bersama dengan Kara?"^^^
"Dia mengunjungimu? Sejak kapan? Bahkan aku tidak mengetahuinya."
^^^"Tenanglah, aku akan menghubungi Vicy dan juga Kara."^^^
"Setelah itu datanglah ke Rumah Utama Keluarga Pietra."
...◇• •◇...
Belakangan ini sikap Lazel memang terlihat aneh. Terkadang emosi yang dia tunjukkan tidak begitu stabil dan selalu berusaha untuk menetralkan amarahnya sebisa mungkin.
"..............." Yana memperhatikan Tuannya dari balik kaca spion. Dimana Hyunjae terlihat frustasi dengan menghilangnya Lazel dan juga Ian.
"Kalian mengenal Istriku dan Adik Iparku yang bernama Ian bukan?"
^^^"..............."^^^
"Cari mereka, dimanapun itu cari mereka sampai dapat. Selebihnya akan ku kirimkan informasi mengenai mereka berdua."
Hyunjae menggunakan akses apapun yang bisa dia lakukan demi mencari Lazel dan Ian yang pergi entah kemana.
"Yana, kita akan pergi ke Perusahaan Pusat." Titah Hyunjae pada Yana yang saat ini menyetir mobilnya.
"Tidak! Untuk saat ini kita akan mendengarkan informasi terlebih dahulu dari beberapa teman Nona."
Hyunjae yang awalnya merasa murka saat ini semakin terbawa emosi karena mendapatkan pertentangan dari seorang Pelayan, "kau membantahku?"
"Tidak ada hal yang bagus jika semuanya berjalan tanpa rencana, lagipula yang saat ini kita butuhkan adalah jejak, bukan bayangan,"
"Tolong kendalikan sedikit rasa emosi Anda. Bahkan Saya sendiri tahu jika Nona Lazel tidak akan membiarkan Anda dalam keadaan seperti ini."
...◇• •◇...
"Tidak menemukannya?!"
^^^"..............."^^^
"Y-Ya, aku akan akan bicara dengan mereka."
Nezra tidak menyangka jika pencarian Adam tidak berfungsi. Ia mulai berpikir jika Lazel sudah merencanakan hal ini sejak lama, karena tidak mudah mengelabuhi sosok seperti Adam yang merupakan Leader dari Mafia Malam.
__ADS_1
Adam terus memberikan kabar pada Nezra mengenai pencariannya, namun yang mereka dapatkan hanya kabar yang semakin memburuk. Lazel dan Ian sama sekali tidak ditemukan dimanapun.
Sedangkan Hyunjae melakukan pencariannya seorang diri dan belum memberikan kabar sedikit pun.
"L-Lazel benar-benar menghilang?" Vicy sama sekali tidak menduga bahwa kabar yang diberikan Gyuu bukanlah bahan candaan. Bahkan ia langsung bergegas menuju kediaman Pietra untuk memastikannya secara langsung.
Setibanya disana, Vicy juga melihat kehadiran Kara dengan raut wajah yang sama seperti dirinya.
Kara terus menggigit kukunya, "tidak mungkin, memangnya apa yang terjadi sehingga dia melakukan hal bodoh seperti ini?"
Suara deruman mobil terdengar, lalu hentakan kaki mulai mendekati mereka dengan sedikit riuh.
"Apa kalian menemukan Lazel?" Tanya Hyunjae yang diikuti oleh Yana dengan wajah yang panik.
Wanita berambut hitam itu terkejut melihat kedatangan Putranya. Ia pun segera mendekat dan berusaha menenangkannya.
"H-Hyunjae..." Nezra, bahkan semuanya terkejut dengan penampilan Hyunjae yang tidak seperti biasanya. Pria itu terlihat menyedihkan dan terus merasa panik karena kehilangan Lazel di waktu yang mendadak.
"Ibu, apa Ayah sudah menemukan Lazel?" Tanya Hyunjae pada Ibunya dengan tatapan yang penuh harapan, "Kara, Vicy, Gyuu atau Hyunji. Apa kalian sudah mendapatkan lokasi Lazel? Kalau begitu-"
"Kami tidak menemukannya," lirih Nezra dengan tangis yang perlahan pecah. Kedua tangannya menggenggam erat kedua tangan Putranya. "Bahkan Ayahmu juga tidak menemukan Lazel maupun Ian."
...◇• •◇...
Langkahnya begitu tidak bertenaga, wajahnya terlihat sangat hampa dan juga putus asa. Tangannya baru saja membuka pintu kamar itu dengan berat hati, lalu memperhatikan keadaan kamar yang rapi seperti biasa.
Lantai berwarna cokelat itu mulai dihiasi dengan tetesan air mata. Kedua matanya memerah, hatinya terasa sesak layaknya mendapatkan pukulan kuat.
Boneka-boneka yang pernah ia belikan untuk Lazel masih tertata rapi di atas lemari-lemari mini. Boneka beruang dan jerapah masih berada di kedua sisi yang sama, dimana Lazel dan dirinya selalu menggunakan salah satu boneka itu sebagai benda yang mereka peluk.
Pria berjas hitam dengan kondisi yang cukup berantakan itu mulai mendekati lemari pakaian dan membukanya secara perlahan.
"..............." hatinya terasa lebih sakit, isakannya semakin terdengar keras, air matanya terus berjatuhan tanpa henti. Kedua matanya menemukan sebuah tempat yang kosong, dimana tempat itu sebelumnya adalah milik Lazel.
Ia menelusuri setiap tempat yang dulunya dipenuhi dengan barang wanita itu. Mulai dari pita unik yang selalu dia kenakan di setiap harinya, hingga apapun yang berkaitan dengan dirinya.
"Jika kau sulit menemukan kupu-kupu seperti ini, maka kau akan sulit mencariku."
Sebuah kupu-kupu yang sudah menjadi simbol kepribadian Lazel. Hal itu melambangkan jati diri Lazel yang hidup bagaikan serangga bersayap cantik, namun sayap yang mereka miliki sangatlah rapuh.
"Kau adalah wanita yang tidak berperasaan, aku penasaran, faktor apa yang membuat dirimu seperti orang rendahan."
Bahkan tanpa sadar ia pernah mengatakan hal sekejam itu. Lalu seiring berjalannya waktu dengan mudahnya ia mengungkapkan perasaannya pada seorang wanita yang dulu selalu dia benci.
"Bagaimana mungkin... wanita lain ingin satu tempat dengan wanita yang lain."
Seharusnya ia menyadari bagaimana perasaan Lazel yang terus tahan terhadap segala tindakan liarnya.
Selain masa lalu yang menyedihkan, Lazel dan dirinya juga pernah mengalami hal-hal yang menyenangkan. Dimana keduanya selalu berdebat karena hal kecil dan selalu mengejek satu sama lain
"HAHAHAHA!! Menjijikan! Mati saja sana!"
"Mulutmu itu! Apa aku harus menutupnya secara paksa?!"
Dirinya mengingat semuanya dengan jelas. Namun mengapa... mengapa harus sekarang memori itu mulai terputar? Rasa senang yang dia rasakan saat ini sama sekali tidak berguna, karena sosok emosial yang dia cintai saat ini entah pergi kemana.
Tubuhnya tersadar begitu saja pada sebuah lemari pakaian dan membuatnya terkulai lemah di atas lantai.
"..............." tatapannya mengarah pada sebuah kertas mungil yang berwarna biru langit. Ia meraih kertas tersebut lalu membukanya dan mendapatkan beberapa kalimat singkat.
...'Terima kasih, dan maaf.'...
Tangisnya semakin menjadi, dimana kertas itu tergeletak sebelumnya juga terdapat sebuah cincin emas yang dulu pernah ia berikan kepada Lazel tepat pada hari pernikahan mereka.
Cincin itu tergeletak begitu saja dan membuat Hyunjae semakin frustasi. Padahal ada sesuatu yang ingin ia perbuat, ia ingin mengulang dan memulai segalanya. Dan ternyata... Lazel pergi begitu saja disaat Hyunjae mulai merasa jika Lazel perlahan akan mulai menerima dirinya.
Cahaya langit yang berwarna jingga menyinari keseluruhan ruangan tersebut dan menyorot pada dirinya yang memegang dadanya sekuat mungkin bersamaan dengan cincin yang ditinggalkan oleh Lazel.
Seorang pria seperti dirinya menangis begitu kuat di ruangan yang sepi. Tangan kanannya mulai meraih rambut serta wajahnya, lalu ia usap bersamaan dengan air mata yang mengalir.
Satu hal yang benar-benar dia rasakan saat ini yaitu... kehilangan.
__ADS_1
...[ SEASON 1 END ]...
^^^Waiting for season 2~^^^