Lost Feeling

Lost Feeling
Visit


__ADS_3

Seseorang datang dengan pakaian yang sama, namun di bagian luarnya ia memakai mamtel besar yang memiliki bulu-bulu padat di area kerahnya.


"Apa kau bercanda? Bahkan menyingkirkanmu dariku saja sudah sangat sulit." Ujarnya dengan wajah yang kesal.


Tersisa satu jam lagi untuk menuju kesana. Saat ini Lazel dan Hyunjae tengah bersiap dan beberapa menit akan berangkat.


Hyunjae memiliki warna kulit yang putih, namun tidak seputih kulit Lazel. Hanya saja dirinya itu lebih spesifik untuk disebut manis. Tubuh besarnya itu berdiri tegap, wajahnya yang tampan dihias dengan kacamata bundar yang memiliki rantai di dua sisi ganggangnya serta dengan dua buah tindik yang berasal dari pemberian Lazel.


Wanita berambut perak itu sempat berpikir, dia tidak menyangka jika Hyunjae menyukai benda pemberiannya. Padahal waktu itu dirinya benar-benar kehabisan ide untuk berpikir mengenai hadiah.


"Sepertinya Ibu akan tiba di waktu yang sama dengan kita." Ujar Hyunjae setelah memperhatikan jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Pekerjaan beliau sangat padat, bahkan harus mengunjungi Rumah Sakit terlebih dahulu." Sahut Lazel yang mulai mencari sepatunya.


"Oh Lazel." Pria berambut hitam itu memanggil Lazel.


"Hm?" Tanpa menoleh, ia hanya menyahut.


"Mengenai Heul, mengapa kau-"


Dengan secepat kilat ia mengarahkan wajahnya pada Hyunjae, "hentikan, aku sama sekali tidal ingin membahas hal itu," sela Lazel dengan wajah muaknya. "Yang kulakukan entah salah atau benar, tapi kau selalu menerkam diriku yang polos ini!" Ujarnya dalam hati.


...◇• •◇...


Suasana malam yang selalu cantik dengan berbagai macam cahaha yang bersemburat dari mana-mana. Wanita beriris merah muda itu hanya meluruskan pandangannya ke depan sambil berpikir mengenai sebuah keluarga yang akan mereka datangi.


Hojung memiliki hubungan yang cukup baik dengan Pietra. Oleh karena itu, setelah berdiam diri beberapa tahun, akhirnya mereka kembali bersuara. Namun Hyunjae dan lainnya menganggap mereka sebagai orang yang licik.


Lazel tidak begitu mengingat wajah mereka, terutama Kepala Keluarga yang mereka miliki.


"..............." samar-samar Hyunjae melihat ke samping jika Istrinya itu terus memasang wajah datar seperti sedang memikirkan hal lain, "kau baik-baik saja?"


"Ah! Ya." Bahkan mendengar Hyunjae berbicara saja sudah membuatnya terlonjak kaget.


"Apa kau memikirkan Heul?"


Lazel hanya memalingkan wajahnya sambil berpikir keras, "hah? Darimana pemikiran itu datang?"  Batinnya, "hei, apa di pikiranmu itu hanya ada Heul? Kau terus membahasnya di sepanjang waktu."


"Kenapa memangnya? Kau cemburu?" Pria dengan sebagian rambutnya terusap ke belakang itu menyeringai dan memperlihatkan kedua taringnya.


"Cemburu? Pada mu?" Lazel mendekatkan wajahnya pada Hyunjae, "apa kau yakin?" Ujarnya dengan wajah yang tidak meyakinkan.


"Huft... aku berusaha untuk tidak berkomunikasi lagi dengannya," ucapnya dengan nada datar. "Namun gadis itu selalu menggangguku."


"..............." Lazel mengeritkan kedua dahinya, sepertinya dari ucapan Hyunjae terdapat beberapa kalimat yang keliru.


Kini wajahnya mulai terlihat serius, "apa aku harus mengambil tindakan keras padanya? Sikapnya sudah membuatku-"


"Haah~ entah kau muak atau apapun itu. Kau yang memulai, sulit pula untuk menghentikannya, apalagi jika dia benar-benar menyukaimu." Sela Lazel dengan wajah acuh tak acuh.


"Hm... bagaimana jika kau ada di posisiku?" Tanya Hyunjae yang masih menempelkan kedua tangannya di stir mobil.


"Aku akan menghajarnya." Jawabnya dengan singkat.

__ADS_1


"Y-Ya sudah kuduga." Bahkan dari ekspresinya saja sudah membuat Hyunjae yakin, bahwa Lazel sama sekali tidak bisa membuka hatinya kembali.


"Yang lebih jelasnya, aku tidak mungkin terjatuh begitu saja, jangan anggap remeh diriku."


"..............."


Mobil merah di bawah cahaya lampu jalan itu melesat dengan cepat dan melewati kendaraan lainnya.


...◇• •◇...


Menurut Lazel... perasaannya pada Wonhae sudah cukup mutlak, untuk jatuh pada orang lain sepertinya akan sedikit mustahil. Hatinya sudah cukup terluka dengan masa lalu yang merenggut Wonhae darinya. Untuk sejauh ini, Lazel tidak pernah menyankut atau menceritakan Wonhae pada Hyunjae. Bahkan terkadang pria itu mengambil inisiatif untuk bertanya, namun hanya mendapatkan jawaban yang seadanya saja dari wanita tersebut.


Pelaku yang tak kunjung ia temukan semakin membuat dirinya depresi.


Setelah menempuh beberapa jalan, kini mereka hampir tiba di tujuan, meskipun mereka sedikit terlambat. Semua adalah kesalahan Hyunjae, jika pria itu tidak tidur terlalu lama, mungkin saja mereka akan tiba tepat waktu.


Wajahnya menatap layar ponsel yang berada di genggamannya. Cahaya biru itu menyorot wajah cantiknya, sehingga Hyunjae terus mencoba untuk mencuri perhatian dari wanita tersbut.


"Egis..." saat ini dirinya mulai berpikir mengenai seseorang yang sedikit cocok dengan dirinya. "Kira-kira kemana pria ini?"


Sejauh ini, yang ia rasakan mengenai kemiripannya hanya dengan Egis, yaitu salah satu pegawainya. Egis memiliki wajah yang unik, bahkan senyumannya itu hampir tidak pernah pudar. Hal itu mengingatkan dirinya pada sosok yang telah menghilang.


Akan tetapi... ia hanya merasa nyaman dan tidak lebih dari itu. Sedangkan bersama Hyunjae... ia selalu merasakan sesuatu yang aneh, namun hatinya terus menangkis atau berusaha menolak perasaan itu, sebuah kesalahan besar mungkin saja akan terulang kembali.


Sikap... tindakan... perilaku, semua itu adalah sisi buruk Hyunjae yang selalu mencoba dirinya untuk mengeluarkan amarahnya. Tapi... dengan mudahnya ia merasa sabar, bahkan terkadang dirinya merasa takut pada sisi lain yang Hyunjae tunjukkan.


"Huft... aku merindukan Egis, kira-kira kemana pria keparat itu pergi?" Batinnya khawatir.


...◇• •◇...


Namun Lazel tidak lepas dari ponsel, jarinya terus mengetik atau menggeser layar besar itu dengan wajah yang sedikit khawatir.


"L-Lazel, apa kau baik-baik saja?" Sepertinya ia memang merasakan sesuatu yang aneh dari wanita itu.


"A-Aku baik-baik saja." Jawabnya dengan sedikit rasa kejut.


"Hyunjae." Panggil Lazel.


"Ada apa?"


"Haah~ pemikiranku tidak lepas dari masalah awal," sebelum mereka benar-benar tiba di kediaman Hojung. Lazel ingin memastikan sesuatu pada Hyunjae. "Apa kau memang tidak ingin tinggal bersama Heul?"


Mendengar kalimat itu membuat tubuhnya bergejolak dan melebarkan kedua matanya.


"Apa ini berkaitan dengan Wonhae?" Tanya pria itu yang sedikit menutupi raut wajahnya, "atau... pria yang bernama Egis itu?"


"Jika iya? Dan jika tidak? Memangnya apa yang kau lakukan pada kedua jawaban itu?" Tatapannya terpusat pada Hyunjae yang menatap layar mobil dengan fokus, "dan sekali lagi ku peringatkan... jangan pernah menyamakan dirimu denganku atau bahkan dengan orang lain. Karena kau dan mereka, memiliki setitik perbedaan." Sambungnya dengan raut wajah yang tidak peduli.


"..............."


...◇• •◇...


Hari-hari yang mereka lewati bersama, awalnya Hyunjae menduga bahwa Lazel sudah melupakan tujuan awalnya dan berniat untuk hidup seperti biasa. Tapi... sepertinya wanita itu sama sekali tidak berniat untuk meninggalkan masa lalunya begitu saja. Hubungannya dengan Wonhae masih begitu dekat, meskipun pria itu sudah tidak ada di dunia ini.

__ADS_1


Hyunjae yang hanya ingin memuaskan rasa penasarannya begitu sulit untuk kembali bertanya.


Ia tidak tahu, apakah perasaannya itu sama dengan perasaannya pada wanita lain? Jika iya mengapa mendapatkan setitik perhatian dari Lazel begitu sulit?


Mungkin pernyataan ini sedikit egois, namun ia sempat berpikir dan bertindak, jika Lazel akan memperhatikan dirinya seperti wanita lainnya. Meskipun hal itu sudah berjalan dengan apa yang dia inginkan. Namun Lazel terus melakukannya tanpa perasaan, seolah-olah apapun yang Hyunjae lakukan padanya bukanlah hal yangs serius.


Tujuan awalnya begitu buruk, yaitu membuat Lazel menjadi salah satu dari para wanita yang pernah ia tiduri. Tapi... semuanya keliru. Mendapatkan Lazel memang mudah, namun hatinya sangat rapat, sehingga tidak membiarkan siapapun menyentuh isi hatinya.


Sebuah Mansion atau Villa dengan nuansa emas itu cukup cantik. Kedua tangga lengkung yang menjadi alihan menuju lantai kedua.


"Hojung... entah mengapa aku sangat penasaran dengan keluarga ini." Batin Lazel kedua alisnya yang tertekuk.


Mobil atau kendaraan lain memenuhi halaman Hojung, Lazel dan Hyunjae sudah menduga hal ini, bahwa mereka pasti akan mengundang orang penting lainnya.


Sebelum turun dari mobil, Lazel dan Hyunjae memperlihatkan wajah kesal mereka, "dasar pencari perhatian!" Ucap mereka secara bersamaan.


"Huh?" Lazel menolehkan wajahnya, begitupula dengan Hyunjae, "mereka benar-benar bajing*n bukan? Rasa kesalku datang begitu saja setelah tiba di Mansion mewah ini." Ucapnya pada Hyunjae yang memasang wajah bingung.


"Y-Ya." Hyunjae menjawab semampunya saja.


...◇• •◇...


Kediaman mewah itu dipenuhi dengan orang-orang lainnya. Beberapa menit yang lalu, sebuah mobil hitam yang berisi Bodyguard Hyunjae akhirnya tiba. Hal itu membuat Lazel merasa kegirangan.


Sebelum memasuki Ruang Utama, Lazel mendekatkan dirinya pada Hyunjae dan berbisik di telinganya, "hei Hyunjae! Kara akan datang bukan?"


"Ya, dia juga datang." Jawabnya dengan sedikit senyuman.


"Hihihihi." Tawanya pelan.


"Huft..." Hyunjae hanya tidak bisa membaca jalan pikiran yang dimiliki oleh Lazel. "Terkadang dirinya terlihat tegas, dan seketika kembali seperti biasa."


Di sisi lain, seorang pria yang masih terlihat muda itu masih mengurungkan dirinya di dalam sebuah ruangan.


Wajahnya masih tidak bisa tenang, hal itu akan membuat penampilannya menjadi buruk. Padahal hari ini adalah hari yang selalu ia tunggu.


"Gyuu? Apa kau bisa keluar? Kupikir para tamu akan senang saat melihatmu." Ujar Ayahnya dari balik pintu.


"A-Aku akan keluar saat Keluarga Pietra datang." Ucapnya pada Ayahnya yang berada di depan pintu.


"Oh, baiklah."


"Arghh!! Apa yang sudah ku katakan?! Bagaimana bisa aku menjelaskan identitasku pada mereka?!" Kini Putra satu-satunya di Keluarga Hojung terlihat depresi dengan kenyataan yang akan dia perlihatkan, terutama pada wanita itu.


Ia tidak bisa menenangkan hatinya dan juga dirinya. Setelah tidak pernah memberi kabar dan juga alasan yang sesuai, dirinya akan memunculkan diri layaknya orang yang tidak memiliki dosa sama sekali.


"Apaa yang haruus ku katakaaan?!"


...◇• •◇...


Sesuai dengan perhitungan mereka, Bodyguard yang akan mengawal Lazel dan Hyunjae tiba di Kediaman Hojung. Setelah kehadiran Kara membuat Lazel mengedipkan matanya sebagai tanda sinyal.


Kara pun membalas hal yang sama pada Lazel.

__ADS_1


Setelah mendapatkan kehadiran anak buahnya, mereka pun siap memasuki Ruang Utama yang sudah diarahkan oleh petugas yang berdiri di Pintu Utama.


"Ayo masuk." Ujar Hyunjae.


__ADS_2