Lost Feeling

Lost Feeling
Humans Are The Place Of All Evil


__ADS_3

Kedua matanya terbuka lebar, bulu-bulu matanya terlihat menegang dengan iris pinknya yang menyala terang. Nafasnya sempat terhenti untuk beberapa detik, ia segera menyadarkan dirinya sendiri.


Kletak!


"AW!" Pria itu seketika berlutut di hadapannya dengan kedua tangan yang memegang kepalanya sambil meringis kesakitan.


"M-Mesum! Ingat! Aku bukanlah Heul!" Ujar Lazel yang baru saja memelayangkan kepalan mautnya pada kepala Hyunjae.


"Ck! Kau selalu membawa Heul dalam setiap pembicaraan." Tutur Hyunjae dengan kesal.


"Mau bagaimana lagi..." wanita itu meraih masker dan juga topi sebagai penyamaran. "Dia adalah satu-satunya wanita yang sering ku jumpai. Bahkan aku pernah mengantarmu ke hotel untuk bertemu dengannya."


"!!!!"


"Jadi... memangnya apa yang patut di-"


"Lupakan hal itu." Sela Hyunjae dengan wajah yang terlihat tertekuk ke bawah.


"Lupakan?" Lazel menatap tajam pria berjaket hitam itu, "kau pikir kepalaku adalah komputer? Begitu mudahnya me restart segalanya dengan mudah?" Sambungnya dengan kesal.


Seharusnya hari ini ia akan menjadi hari yang cukup untuk mereka, tanpa orang lain di dalamnya. Namun Lazel selalu menyangkut pautkan segala hal dengan Heul. Pada akhirnya Hyunjae tidak bisa mengelak atau memberikan alasan bodoh pada Lazel. Wanita itu sangat cerdik, dia tahu apa yang sedang ia katakan, tanpa harus memandang perasaan orang lain.


Perkataan ataupun kalimatnya selalu berhadapan dengan fakta, oleh karena itu Hyunjae tidak bisa membalas apapun.


Yang paling mengenal dirinya adalah Lazel seorang. Ada ataupun tidak adanya wanita itu, ia selalu berada dimana-mana, dalam situasi apapun, serta dalam hal apapun.


"Ayo."


"Ayolah~ sebenarnya aku tidak perlu-"


"Kalau begitu," Hyunjae menunduk dan menatap Lazel dengan kedua matanya yang berlinang. "Aku akan mengambil semua boneka yang ada di rumahmu, lalu akan mengadukannya pada Ibu." Ujarnya dengan wajah yang hampir menangis.


"Dasar anak kecil! Kau bukan anak kecil bodoh!" Teriakannya menggema pada bassement tersebut.


...◇• •◇...


Setelah memperdebatkan dan merundingkan masalah kecil, akhirnya Lazel mau tak mau akan menemani Hyunjae untuk berbelanja.


dengan langkah malasnya ia bergerak dan berusaha untuk menghindari aduan Hyunjae pada Ibu Nezra.


Ia berjalan tepat di belakang Hyunjae dan terus mengekori dirinya layaknya anak kucing.


Tatapannya beralih pada seorang pria tinggi yang berjalan lebih dulu darinya, "..............." mulai dari ujung kaki hingga kepala, begitu juga sebaliknya.


Ia memperhatikan tubuh besar Hyunjae yang sangat berbeda dengan para pria pada umumnya. Awalnya wanita bertopi hitam itu mengira jika hanya dirinya yang berbeda, memiliki tinggi yang harusnya dimiliki oleh laki-laki. Tapi... setelah bertemu dengan Hyunjae, pria itu jauh lebih tinggi dan juga besar dari tubuhnya.


"Heh??"


Setelah menghabiskan waktunya dengan memperhatikan Hyunjae dari belakang. Ia langsung merasakan sesuatu yang aneh.


Kedua kakinya terhenti dan menatap sipit ke arah Hyunjae dan juga dirinya secara bergantian, "tunggu dulu, mengapa setelan yang dia kenakan, sama dengan..." setelah memperhatikan pria itu dan juga dirinya, akhirnya kejanggalan pun ditemukan.


"K-Kita memakai setelan yang sama?!" Ucapnya dengan suara yang kuat.


"Huh??" Pria berambut hitam dengan tindik rantai berbuah salib itu menoleh ke belakang karena teriakan yang dibuat oleh Lazel.


Hyunjae melihat Lazel yang berdiam diri dan berdiri cukup jauh darinya. Ia pun melangkah dan mendekat ke arah Lazel lalu menarik tangannya, "apa yang kau lakukan?! Jangan berteriak!" Ujarnya dengan suara yang penuh dengan tekanan.


"Sejak kapan kau dan aku memakai atasan serta bawahan yang sama?!" Tanya Lazel yang berbisik pada telinga Hyunjae.


Pria ith menegakkan kembali tubuhnya dan menatap ke arah Lazel yang memiliki tinggi di bawahnya, "kau menyadarinya?" Tanya Hyunjae dengan wajah yang kembali mendekat.


"Hm!" Angguknya.


"Baru menyadarinya?"


"Hm!"

__ADS_1


"Bodoh." Singkatnya lalu pergi begitu saja.


"??!!" Tubuhnya kaku setelah mendapat hinaan terang-terangan dari Hyunjae, "apa maksudmu dasar keparat!" Tutur Lazel yang mulai mengikuti Hyunjae yang berniat untuk meninggalkan dirinya.


"Hm? Tidak ada~"


"Bohong!"


...◇• •◇...


"Seperti itulah."


"Jadi kau merencanakannya dari awal!"


"Yup."


Tubuhnya terkulai lemah dan menyatu pada meja yang ada di hadapannya, "akuu tidak bisa berkata apapun lagi." Lirihnya.


Hyunjae sudah merencanakan ini dari awal, meskipun rencananya sedikit mendadak untuk dilakukan. Ia juga tidak menyangka jika Lazel akan mengenakan pakaian itu di luar rumah. Dapat di pastikan jika Lazel merupakan wanita yang simpel, dan tidak suka berbelit-belit.


Lagipula... Hyunjae sangat mengetahui selera Lazel. Oleh karena itu ia membelikan beberapa pakaian biasa untuk Istrinya itu.


Jaket polos yang berwarna hitam, dengan tali putih yang melingkar pada hood tersbut. Serta celana longgar yang memiliki panjang menutup mata kaki yang berwarna hitam pekat.


Lazel membuka resleting jaket yang ia kenakan di dalamnya ia mengenakan kaos putih bergaris hitam di dalamnya. Sedangkan Hyunjae memakainya dengan rapi, karena dia tidak mengenakan apapun di dalam jaket tersebut.


"Ini minumannya~" seorang perempuan dengan pakaian yang begitu lucu menghampiri mereka berdua dengan membawa dua minuman dingin.


"Terima kasih~" ucap Lazel dengan refleks lalu meraih minuman tersebut.


"Sama-sama~"


Di sebuah kafe kecil yang terletak di tengah-tengah mall. Mereka hanya menjual aneka macam minuman. Hyunjae dan Lazel memutuskan untuk beristirahat sejenak disana.


Lazel langsung menyambar minuman itu dan membuka seluruh penyamarannya. Rambut perak panjangnya pun terlihat cantik.


"Apa kau tidak khawatir?" Tanya Hyunjae yang hanya bisa memperhatikan tindakan wanita di sebelahnya itu.


"Hm? Tentang?" Ia bertanya balik.


"Bagaimana jika ada yang mengenalmu nanti? Bukankah kau cukup terkenal?" Ujar Hyunjae yang menurunkan maskernya ke bawah dagu dan menikmati minuman dinginnya.


"Tidak juga, jika mereka menggangguku, mereka harus menerima akibatnya."


"Bukan itu bodoh yang ku maksud!" Tutur Hyunjae dalam hati.


"Yang perlu di perhatikan adalah dirimu, bagaimana jika kau bertemu dengan para mantanmu."


"Mereka hanya mainan, tidak lebih dari itu." Ujar Hyunjae pada Lazel.


"Ck! Betapa bodohnya kalian ini." Tutur Lazel yang membuat ekspresi jelek di wajahnya.


"Hah?! Seharusnya mereka yang bodoh! Bukan diriku!" Sahut Hyunjae yang tidak setuju dengan ucapan Lazel.


"Hei sialan. Kau itu bermain dengan manusia, bukan dengan batu. Kau pikir mereka tidak memiliki perasaan?" Ucap Lazel yang hampir melemparkan es itu pada wajah Hyunjae.


"Yaah~ walaupun perkataanmu itu juga ada benarnya. Betapa bodohnya para wanita itu, haha!" Tawanya pelan.


"..............."


"Betapa bit*h nya hidup atau kepribadian mereka, bagaimana pun juga... mereka adalah manusia yang pasti memiliki perasaan."


Lazel bercerita begitu panjang lebar tanpa memikirkan dirinya, padahal saat ini pembicaraan mereka tertuju pada dirinya sendiri.


"Bagaimana dengan dirimu?" Tanya Hyunjae yang menghadapkan wajahnya pada Lazel.


"Aku?" Seringainya sambil menunjuk dirinya sendiri.

__ADS_1


"Ya."


"Haha~ aku tidak memiliki waktu untuk omong kosong seperti itu," seringainya dengan wajah yang terlihat meremehkan manusia lainnya. "Untuk apa meletakkan perasaan pada manusia? Mereka adalah tempat dari sebuah kebohongan... penderitaan... rasa sakit... serta kebusukan lainnya." Jawabnya dengan keterbukaan.


"Lalu... bagaimana perasaanmu pada Wonhae pada sepuluh tahun yang lalu? Tidak, Lebih tepatnya sebelas tahun yang lalu."


Pria itu semakin memusatkan wajahnya pada Lazel dan memberikan tatapan menunggu.


"Jika aku tidak pernah mengalaminya... aku tidak mungkin mengatakan ini padamu." Ujarnya dengan tatapan yang dingin.


Setelah mendapatkan jawaban yang dia inginkan. Pria itu kembali ke posisinya dan fokus meminum minumannya. Rambut hitam yang terturun hingga menutupi dahinya serta kedua alisnya, bibir kemerah-merahan yang dia miliki begitu menggairahkan saat dilihat. Rahang yang besar serta tindik yang selalu berubah-ubah di setiap waktu.


Penampilan biasa yang selalu diperlihatkan oleh Hyunjae lebih mempesona dibandingkan bentuk formalnya dengan jas hitam yang selalu menutupi seluruh tubuhnya.


Mungkin sangat sulit untuk diakui, namun setelah perut favoritnya pada Ian, kini Hyunjae memiliki dua atau bahkan tiga kali lipat lebih panas dibandingkan milik Adiknya.


"Luar biasa..." ucap Lazel tiba-tiba dengan tangan yang terus menggoyangkan minuman itu.


"Hm?"


"Untuk pertama kalinya aku menjawab pertanyaan yang tertuju pada privasi diriku."


"Benarkah?"


"Bahkan Ayah dan Ibuku tidak mengetahui apapun mengenai diriku, apalagi Ian. Walaupun aku memang berniat menyembunyikan ini dari mereka." Jelasnya.


Kini gilirannya lagi, ia menolehkan wajahnya dan meletakkannya pada telapak tangannya yang menyanggah pada meja, "tapi... di hadapanmu... sulit bagiku untuk membuat karangan atau tetap terdiam setelah mendapatkan pertanyaan darimu."


Byuurr!!


Semburan dari aroma serta rasa kopi menghiasi wajah putihnya serta bagian depannya.


"M-Maaf!" Kini Hyunjae panik dan segera membersihkan wajah putih itu dengan sapu tangan yang telah dibawakan oleh salah satu pelayan yang ada disana.


"Hei, apa kau dendam padaku?" Tanya Lazel yang masih berusaha untuk tersenyum tenang.


"Tentu saja tidak! Kalimatmu itu membuatku terkejut kau tahu!"


"Memangnya apa yang ku katakan padamu??" Pikirnya heran.


Lazel hanya merasakan jika wajahnya terus terusap, dengan sapu tangan. Sepertinya noda itu tidak akan menghilang jika Hyunjae terus melakukan hal yang sama.


"Aku akan pergi ke kamar mandi." Ujarnya yang langsung berdiri dari duduknya.


"Aku akan menemanimu."


"Diamlah disini, aku akan kembali." Sahut Lazel dengan sedikit darah tinggi.


"B-Baik."


Kepergian Lazel membuatnya merasa lega, wajah merahnya juga mendadak muncul. Jika wanita perak itu tidak pergi, mungkin dirinya akan menahan malu lebih dalam lagi.


Tangan kanannya menutupi wajahnya yang memerah dan kembali mengenakan maskernya.


"D-Dia bilang aku adalah orang pertama yang mendapatkan jawaban darinya," ucapnya dalam hati. "HAHAHAHAHA! Rasakan itu Wonhae! Akhirnya aku satu langkah lebih dulu dibandingkan dirimu." Ujar batinnya dengan membara.


...◇• •◇...


Di sebuah kamar kecil atau toilet yang tersedia, sosok wanit berambut perak itu tengah berdiri di depan cermin dan menunjukkan wajah datarnya.


"Apa wajahku begitu jelek? Sehingga minuman mencuar begitu saja dari mulutnya?"


Perlahan ia membuka jaket itu, lalu ia membasuh wajahnya serta beberapa bagian depan rambutnya.


Minuman manis itu hanya mengenai wajahnya dan juga jaketnya di bagian kanan, sehingga baju dalamnya tidak ternodai.


Setealah mengeringkan wajahnya dan juga rambutnya. Jaket hitam itu ia kenakan pada pinggangnya, lalu yang ia kenakan saat ini di tubuhnya adalah kaos biasa yang memiliki corak hitam di tengahnya.

__ADS_1


"Hm~ begini lebih baik." Ujarnya yang memperhatikan dirinya sendiri di pantulan cermin.


__ADS_2