Lost Feeling

Lost Feeling
Don't Care


__ADS_3

Keadaan akan kembali normal, kehidupan mereka akan dijalani masing-masing. Semuanya pun akan kembali pada pekerjaan masing-masing. Bahkan tidak berhak untuk mengetahui apapun yang dilakukan pihak lain.


Tidak pernah memiliki kenangan disana sudah biasa baginya, lagipula memang tidak ada hal yang perlu dikenang.


"Apa kau memberitahu kepulangan kita pada Ibu dan Ayah?" Rambut peraknya terlihat semakin cerah dengan cahaya matahari.


"Tidak," wajahnya kembali menatap dirinya. "Kau?"


"Tidak, bahkan Ian juga tidak tahu."


Pemberitahuan mengenai pendaratan pesawat telah terdengar. Seperti biasa, keduanya langsung memakai pengaman.


...◇• •◇...


Pesawat bernuansa cokelat dan hitam itu baru saja berhenti mendarat. Kedatangan mereka disambut dengan masing-masing Asisten yang sudah menunggu Tuan mereka.


Dan mulai kali ini, keduanya akan kembali berjalan di arah yang berbeda dan akan bertemu di tujuan yang sama.


"Selamat datang Nona Direktur, Tuan Direktur." Salam Byul yang berada di bawah tangga pesawat.


"Ayo pe-"


"Lazel."


Pergerakkannya terhenti, Hyunjae memanggil dirinya dan membuatnya berbalik serta menatap pria itu dengan wajah biasa.


Dari balik sakunya ia mengeluarkan sebuah benda berbentuk tabung mini berwarna silver lalu terlihat beberapa corak kupu-kupu di bagian tubuh tabung tersebut, "aku tidak tahu, apakah kau menyukainya."


Di balik kacamata hitamnya kedua matanya berbinar saat mendapatkan sesuatu dari Hyunjae, "i-ini..."


"Kau menyukai kupu-kupu bukan? Jadi apa salahnya memberikan sesuatu yang menjadi kesukaanmu?" Ujar Hyunjae yang melipat kedua tangannya di depan dan tersenyum menampakkan taringnya.


"Tapi aku tidak memiliki apapun untuk diberikan padamu." Kini Lazel memberikan wajah bersalah.


"Tenang saja, lagipula aku tidak memikirkan apapun mengenai hal itu."


"Musim Dingin." Selanya.


"Hm?"


"Aku akan membalasnya di Musim Dingin." Ujarnya dengan membalas senyuman pria itu.


...◇• •◇...


Wajahnya menatap datar ke arah jendela dan memperhatikan pemandangan dari sana, "ada berapa pertemuan dan rapat yang harus ku hadiri?"


"Totalnya ada dua puluh Nona." Jawab Byul yang sedang fokus menyetir.


"B-Baiklah," jawabnya dengan ragu-ragu. "Kira kira... apa aku bisa mengatasinya?" Pikirnya.


Sepulangnya dari Amerika, Lazel langsung mengunjungi Kantor dan melanjutkan beberapa pekerjaan yang sudah lama tertunda.


Sejujurnya ini membuat Byul khawatir. Dia tidak bisa membuat Nonanya merasa lelah, apalagi setelah melakukan pekerjaan berat di negara lain.


"!!!!"


Mobil mereka berhenti secara mendadak, hal itu membuat Lazel terkejut.


Tangan kanannya meraih kursi pengemudi, "Byul, ada apa?" Tanya Lazel.


Byul menoleh, "fyuh~ maaf Nona, ada seekor kucing di depan." Lirihnya sambil meminta maaf atas tindakan cerobohnya.


"Kucing?"


Wanita bertubuh tinggi itu keluar dari dalam mobil dan berjalan ke arah depan mobil.


Kedua irisnya mendapatkan Seekor kucing berwarna perak tengah tergeletak, entah bernyawa atau tidak jika diperhatikan terus menerus rasanya kasihan sekali.


"Warnanya seperti rambutku," ucapnya. "Hah~ sepertinya tidak ada cara lain."


Ia menggunakan jas luarannya sebagai pembungkus dan juga selimut. Perlahan ia rangkuh kucing tersebut dalam pelukannya lalu kembali ke dalam mobil.


"Byul, setelah kau membawaku ke kantor, pergilah menuju kediaman ku dan berikan kucing ini pada pelayan yang ada disana."


"Baik Nona," jawabnya dengan ramah. "Hihihi~ Nona sangat baik!" Batinnya.


"????!"


...◇• •◇...

__ADS_1


"Selamat datang kembali, Nona Direktur."


Setelah melakukan perjalanan yang lumayan panjang, akhirnya dirinya dapat kembali. Cukup melelahkan jika langsung pergi ke kantornya tanpa beristirahat.


Para pegawai, kru dan juga staff yang berada disana langsung menyapa Bos mereka yang baru kembali.


Wanita berambut perak dengan kupu-kupu ungu itu berjalan di sepanjang koridor untuk memasuki ruangannya. Sejauh ini tubuhnya dalam kondisi baik, karena sebelumnya fisiknya tiba-tiba drop sehingga membuat hidungnya selalu mengeluarkan darah.


Semua ha itu sudah ia sadari, pekerjaan yang begitu banyak, lembur di hampir setiap hari, ia dapat merasakan efek samping dari semua kegiatan itu, dan pada akhirnya menyerang tubuhnya sendiri.


Hanya beberapa langkah lagi dirinya tiba di ruangannya yang penuh dengan tumpukan pekerjaan, "haah~ hari yang me-"


"Haahh~ aku tidak menyangka jika Lazel bisa mengerjakan semuanya sendiri."


"????" Sepertinya baru saja dirinya mendengar sesuatu dari dalam ruangannya.


Diam-diam ia mengintip dan mengamati siapa orang yang berani menginjakkan kakinya disana.


"..............." setelah mengetahui siapa yang ada disana, mendadak dirinya bingung apa yang harus diucapkan saat bertemu dengan pria itu. "Dia... masih disini..."


"Apa semua ini dapat selesai hanya dengan satu hari?" Pria berambut kuning itu terlihat kesulitas mengatur pekerjaan dari Bosnya, "aku mendengar dari Byul jika Lazel tidak pernah mengerjakan pekerjaannya di rumah. Luar biasa..."


Jujur saja... setelah melewati banyak hal di Amerika, dirinya sempat berpikir jika masalah yang disini akan lebih menyulitkan dibandingkan disana. Tapi kenyataannya tidaklah seperti itu, ada seseorang yang berhasil meringankan sedikit masalahnya. Dan hal itu bukanlah yang pertama kalinya.


Memang sulit untuk dipercaya, namun pria itu memang pintar untuk membuat dirinya tidak menduga sesuatu.


Tanpa orang itu sadari, seorang wanita sudah mengamatinya dari ambang pintu sambil melipat kedua tangannya di depan dada dengan wajah yang tersenyum.


Egis bangkit dari tempat duduknya lalu meregangkan seluruh badannya, "baiklah! Sisanya akan-"


"Ku selesaikan sendiri, dan terima kasih atas kerja samanya." Sambung Lazel yang berusaha menahan tawanya.


"!!!!"


Egis menatap ke arah pintu dengan wajahnya yang terlihat lelah.


Lazel kembali tersenyum, "aku tidak menyangka jika kau mengetahui banyak mengenai di-"


Seseorang memeluk dirinya sebelum ia menyelesaikan ucapannya.


"E-Egis?"


Kedua tangannya menggenggam erat pakaian Egis, "s-sesak." Lirihnya.


Kedua tangannya langsung melepas Lazel, "oh maaf! Tunggu, kau sudah pulang?!"


Kedua tangannya memegang kedua sisi pinggangnya dan menunjukkan wajah sombongnya, "tentu saja, tapi aku tidak memiliki waktu untuk memberitahumu." Ucapnya sengaja.


"Tapi kau memberitahu Byul!" Ucapnya dengan nada marah layaknya Anak Kecil.


"Hei, aku menghubunginya untuk menjemputku di bandara."


"Tapi aku bisa melakukannya juga!"


"????" Lazel merasa jika pria itu semakin keras kepala.


Tangannya menepuk pundak Egis dan membuatnya tenang, "huft... aku sudah mendengar banyak hal darimu melalui Byul, tidak mungkin aku merepotkan dirimu lagi." Ucapnya.


"!!!!" Spontan Egis memalingkan wajahnya.


Lazel heran saat melihatnya, "hei, mengapa kau mengalihkan wajahmu?" Wajahnya jadi penasaran karena tindakan Egis padanya.


"T-Tidak apa-apa."


Lazel merasa jika Egis meyembunyikan sesuatu darinya, "apa-apaan itu," kedua tangannya memegang wajah Egis dan memaksanya untuk menatap wajahnya. "P-Perlihatkan wajahmu dasar sialan!"


"T-Tidak mau!"


"Anak ini..." ucapnya dengan kesal.


...◇• •◇...


Tangannya memeperhatikan tumpukan dokumen yang telah diselesaikan oleh Egis dan juga Byul. Kedua matanya memperhatikannya dengan teliti


"Whoaa aku tidak menyangka jika Byul dan Egis berperan banyak dalam hal ini."


Drrt!


Di tengah-tengah kesibukannya, ponselnya berdering.

__ADS_1


"Ibu Nezra? Ah~ dia pasti ingin bertanya mengenai ke-"


^^^"Dasar anak nakal! Mengapa kau langsung pergi ke kantor?! Tidakkah kau merasa jika dirimu itu kelelahan?!"^^^


Tangan dan telinganya saling berjauhan, "t-telingaku..." ia tak menyangka jika Nezra menghubunginya disaat seperti ini. "I-Ibu, aku hanya..."


^^^"Cepat pulang dan beristirahatlah! Atau aku yang akan me-"^^^


"B-Baik aku akan pulang."


^^^"Hahaha~ Lazel memang anak yang baik~"^^^


Akan lebih baik jika tidak berdebat dengan Ibu Mertuanya lebih lanjut.


"Sudah hampir malam..." kedua matanya menatap jendela dengan langit yang semakin menggelap.


...◇• •◇...


Langkahnya terhenti di depan gerbang, ponsel yang ada di tangannya ia gunakan sebagai jam.


Hanya dirinya seorang diri, rambut peraknya terkibar karena angin yang berlalu. Jas yang ia kenakan ada bersama kucing, oleh karena itu hawa dingin begitu menusuk.


Hari ini cukup sampai disini, semuanya akan ia selesaikan di esok hari. Dari wajahnya saja wanita itu sangat yakin bahwa dirinya mampu untuk melakukan semuanya.


Wajahnya menatap sekitar dengan khawatir, "apa aku harus memanggil supir untuk kembali?"


"Ngomong-ngomong hari ini Egis harus kembali lebih cepat... memangnya apa yang terjadi." Tanya Lazel pada dirinya sendiri.


Sepertinya tidak ada cara lain, Lazel memutuskan untuk kembali menggunakan bus. Memanggil supir hanya menunggu lebih lama lagi, di waktu seperti ini mungkin bus sedang mencari penumpang.


Saat dirinya tiba di halte sepertinya keberuntungan sedang berpihak padanya, karena bertepatan dengan bus yang baru saja sampai disana. Wanita beriris pink itu merasa lega jika dirinya tidak perlu menunggu lebih lama.


Kedua kakinya melangkah masuk dan akhirnya mendapatkan bangku yang kosong, "hah~ setidaknya aku bisa bersantai sedikit." Lirihnya.


Sepanjang perjalanan, dirinya sempat berpikir. Sudah berapa lama ia tidak menaiki bus. Selama tinggal di rumah yang mewah, apapun selalu tersedia dengan bebas dan terkadang mendapatkan sesuatu yang berlebihan.


"..............." entah mengapa dirinya mengingat sebuah masa lalu yang menyesakkan. Walaupun waktu sudah berjalan begitu lama, bahkan dirinya sudah mendapatkan apa yang ia inginkan.


Tetapi... pada faktanya wanita itu sulit menemukan kebahagiaannya sendiri, kebahagiaannya yang sebenarnya.


Setiap memikirkannya, kedua matanya seperti tidak ada kehidupan. Tubuhnya kembali lemah seperti pada waktu itu.


Langit di petang hari begitu indah, wajahnya yang pucat memalingkannya pada jendela yang ada di sampingnya dan menyanggah wajahnya.


Ponsel yang ada di sakunya tiba-tiba berbunyi.


"Ck! Sudah berapa kali hari ini aku menerima panggilan? Apa mereka tidak menyayangi pul-"


"Egis?" Ucapnya saat melihat siapa yang menghubungi dirinya.


"Ada apa?"


^^^"Bos, apa kau sudah pulang?"^^^


"Kau menghubungiku karena itu?" Tanya Lazel dengan nada kesal.


^^^"Y-Yah... aku hanya merasa bersalah karena harus kembali terlebih dahulu."^^^


"Dia khawatir hanya karena itu?" Batinnya, "kau tidak perlu merasa bersalah seperti itu, tapi apakah kau baik-baik saja?"


^^^"Keluargaku datang, jadi aku harus menyambut mereka."^^^


Keduanya berbicara dengan santai, namun disaat Lazel mengalihkan wajahnya, ia menemukan Hyunjae dengan wanita asing, dan lebih luar biasanya lagi, mereka berada di depan hotel.


"..............." ia dapat melihat dengan jelas jika keduanya begitu bersenang-senang.


Bus yang ia naiki berhenti tepat di depan hotel tersebut, oleh sebab itu dirinya dapat melihat Hyunjae dan wanita asing yang di sampingnya.


^^^"Lazel?"^^^


"..............." pada akhirnya kedua tatapan mereka saling bertemu. Kedua wajah mereka sempat saling mengamati satu sama lain.


Lazel tahu jika Hyunjae terkejut melihat dirinya.


Akan tetapi... dengan wajah yang datar dan dingin serta tidak peduli, dirinya kembali berpaling seolah-olah tak saling mengenal.


^^^"Lazel, apa kau baik-baik saja?" Tanya Egis dengan nada khawatir.^^^


"Ya... aku baik-baik saja."

__ADS_1


__ADS_2