Lost Feeling

Lost Feeling
Crowded


__ADS_3

"Ya, Gyuu ada disini." Ucap Ian pada sambungan ponsel yang menempel pada telinganya.


^^^"Apaaaa!! Buat perlindungan untuk Lazel! Jangan biarkan kepala jeruk itu menyentuh Istriku!"^^^


"Waaah~ kucing ini gemuk sekali... bulu-bulunya mirip seperti..." Vicy mengubah arah pandangannya menuju Lazel yang sedang berbincang dengan Gyuu dan juga Kara. "M-Mirip Nona!" Tutur Vicy dalam hati.


Saat ini di rumah Lazel dipenuhi dengan banyak orang. Dimana mereka datang untuk menghibur dirinya dan mengajaknya bercerita mengenai beberapa hal.


Khususnya Kara, wanita itu saat ini sedang mengalami masalah percintaan yang mungkin hanya cinta sepihak.


"Oh, kau menyukai Hyunji bukan?" Ujar Lazel tanpa membuat sensor pada kalimatnya sendiri.


"Shh! Apa yang kau katakan!"


"Waaa, kau menyukai Hyunji? Kalau tidak salah dia adalah Kakak Iparmu bukan? Lazel."


"Ya. Yang lebih parahnya adalah, awalnya aku menduga bahwa Kara menyukai Hyunjae."


Byuur!


Minuman karya Gyuu tersembur begitu saja.


"A-Apa yang kau katakan! Aku tidak mungkin menyukai sosok sadis sepertinya!"


"Hm, aku setuju." Angguk Gyuu.


Untuk sesaat  rasa penatnya sedikit menghilang. Berbicara dengan banyak orang memang menyenangkan, bahkan dirinya hampir lupa dengan beraneka macam masalah yang menimpa dirinya.


"Lazel, kau tidak perlu berkecil hati mengenai rahimmu." Kini Kara mulai mengungkit masalah yang lain.


"Kara, bisakah kau tidak membahas hal itu?" Ujar Gyuu yang merasa khawatir pada kondisi Lazel.


"Diam Gyuu, itu karena kau tidak memahami perasaan tentang para wanita." Ucapnya tajam.


"Aku tidak begitu memikirkannya, lagipula..." Lazel memang tidak memperdulikan masalah itu. Justru dirinya memang tidak pernah memikirkan hal seperti itu. Namun ia tahu betul apa yang dikhawatirkan Kara terhadap kondisinya saat ini.  Apalagi ia adalah seorang wanita.


"Lagipula?" Kara masih penasaran dengan potongan kalimat itu.


"Hm??"


"Mungkin takdir memang menetapkan diriku untuk seperti ini." Ucapnya dengan sedikit keluhan.


"Lazel... kau ini semakin aneh saja." Ujar Kara dengan wajah jeleknya.


Semenjak kecil Lazel selalu dijauhi oleh beberapa orang. Hari semakin hari hampir semua orang yang mengenal dirinya selalu berpaling menjauh. Hal itu menjadi sulit baginya untuk memahami perasaan orang lain dalam lingkup pertemanan.


Akan tetapi... setelah mendapatkan kalimat tersulit dalam hidupnya, ia tidak menyangka jika ada sesuatu yang dia sembunyikan dapat diketahui begitu mudah. Disini Lazel mulai memahami bagaimana pentingnya perasaan seperti itu. Namun, di waktu yang bersamaan dirinya juga melakukan kesalahan yang besar, dimana ia membohongi teman-temannya dan Adiknya sendiri.


"Aku tidak tahu... apa pendapat mereka mengenai hal ini..."


...◇• •◇...


"Ngomong-ngomong... bagaimana bisa kau menyukai Hyunji?" Tanya Gyuu yang tidak mendengar sosok seperti  Kara menyukai seseorang.


"Dia baik! Tampan! Hal hebatnya lagi adalah... dia peduli pada semua orang!" Ucapnya dengan bangga.


"Apa perbedaannya dengan ungkapan di awal kalimat itu?" Sahut Lazel.


"Jangan bilang kau sudah menyukainya sejak dulu." Tebak Gyuu


"Yap, bahkan aku rela berada di bawah perintah Tuan Hyunjae untuk semakin dekat dengan Saudaranya."


"Itu tidak ada hubungannya sama sekali." Tutur Lazel dalam hati.


Ia memperhatikan dan mendengarkan cerita Kara tentang rasa sukanya pada Hyunji. Lazel berusaha untuk memahami teori tersebut dan menghubungkannya dengan perasaan Hyunjae padanya. Karena sejak lama ia sudah meninggalkan atau melupakan perasaan seperti itu.


Menurut apa yang dia dengar dari Kara mengenai alasan rasa sukanya pada Hyunji begitu simpel dan singkat. Hanya karena berbaik hati dan juga... tampan.


Lazel mulai memikirkan sisi Hyunjae yang berusaha ia samakan dengan Hyunji, "Hyunjae... baik?"


Lazel menghentikan bayanyan wajah Hyunjae, "d-dia itu seperti penjahat, tidak ada yang berbeda dari mereka."


Namun... mendengar dan melihat wajah senang Kara saat menceritakan tentang Hyunji begitu unik. Bahkan dirinya sendiri tidak menyangka jika wanita yang lebih tua darinya itu belum menikah dan lebih memilih untuk meletakkan perasaannya secara diam-diam.

__ADS_1


"Hei Lazel!"


"H-Huh? Ada apa?"


"Lain kali cobalah bertanya padanya mengenai diriku!"


Ia menunjuk dirinya sendiri, "a-aku?"


"Hm! Kau itu wanita bermulut ringan. Jadi aku yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja jika kau yang bertanya." Ucap Kara dengan dua acungan jempol, bahkan Gyuu melakukan hal yang sama demi cinta Kara pada Hyunji.


"M-Mulut ringan?" Lazel tidak menyangka jika dirinya mendapatkan julukan seperti itu.


"Tentu saja, bahkan kau hampir  mengeluarkan hampir satu kebun binatang melalui mulut cantikmu itu." Puji Kara yang diikuti anggukan oleh Gyuu.


"Hm, bahkan saat dia bertengkar dengan Kak Hyunji. Aku selalu mendengar kalimat yang tidak pantas untuk di dengar oleh anak di usia ke bawah." Jelas Ian dengan wajah polos tak berdaya.


"Apa Nona tidak pernah bertengkar denganmu?" Tanya Vicy pada Ian.


"Bukan tidak pernah. Lebih tepatnya adalah karena aku takut padanya." Ian mengatakan semuanya dengan terang-terangan, hal itu dikarenakan memang sikap liar Saudaranya yang mampu berteriak pada siapapun.


"Pfft!"


"Jangan tertawa! Bahkan kalian sediri tahu bukan bagaimana jika dia marah!"


Semua orang tertawa, tentu saja mereka tahu bagaimana sisi liar Lazel saat dirinya murka. Bahkan Lazel tidak akan memperhatikan tua atau muda. Namun harus disayangkan, sejauh ini Lazel selalu memberanikan diri pada siapapun, tapi... tidak dengan Hyunjae.


Berulang kali pria berwajah arogan itu menatapnya dengan penuh nafsu, belum lagi seringainya yang sering nampak. Mengingatnya saja sudah membuatnya merinding.


...◇• •◇...


Cklek!


"Aku pu-LANG!" Ekspresi awalnya berubah saat melihat Gyuu sedang duduk bersama dengan Lazel, "bajing*n! Mengapa dia ada disini?!" Ucap Hyunjae sembari mengarahkan telunjuknya pada pria berambut kuning tersebut.


"Itu karena dia terus memasang wajah kasihan, mau tak mau kami juga membawanya kemari." Sahut Kara yang bergabung dengan Gyuu dan juga Lazel.


"Bukankah lebih baik kau kembali ke kamar dan mengganti pakaianmu? Apa kau mau makan siang? Mereka datang-"


"Menjijikan, enyahlah kau dari sini." Tutur Lazel dalam hati.


"Pergi!" Kini Hyunjae beralih pada Gyuu yang terus memasang wajah sombong.


"Haaah~ tidak mau~" jawabnya dengan raut yang meremehkan.


"Sialan! Apa kau berniat mencari masalah denganku?"


"Hm~ kau pikir aku takut~"


"Sejak kapan mereka mulai bertengkar?" Pikir Ian sembari memakan cemilannya.


"Aku penasaran... mengapa di dalam lingkungan ini terdapat dua Villa?" Tanya Vicy yang berdiri di hadapan jendela dan melihat Villa yang tertutupi oleh Rumah Kaca.


"Aku dan Hyunjae sama-sama sibuk, bahkan kesibukkan kami itu mutlak. Oleh karena itu kami membutuhkan fasilitas masing-masing untuk tetap bekerja dengan efektif." Jelas Lazel yang membuat semua orang mengangguk paham, kecuali Gyuu.


"Haah~ pantas saja kalian hingga kini belum memiliki seorang anak." Ucap Kara.


"Kara! Sudah ku katakan jangan membahas hal itu!" Sahut Vicy.


"O-Oh! M-Maaf."


"Tidak perlu dipikirkan~" ujar Lazel yang sama sekali tidak ada masalah dengan hal itu.


...◇• •◇...


"Di hari berikutnya ayo minum!"


"Kara, jangan menyamakan tempat ini seperti Bar!"


"Hweh! Tidak seru."


Kepergian Hyunjae untuk bekerja tidak begitu lama, karena dirinya juga harus memantau Lazel meskipun ada banyak orang yang membantu Istrinya. Hyunjae akan bekerja hingga siang lalu kembali ke rumah.


Kara, Vicy dan Gyuu sudah menentukan kesepakatan mereka, hingga Hyunjae datang, mereka akan tetap berada disana untuk menemani Lazel.

__ADS_1


"Hm? Kupikir kalian membawa kendaraan masing-masing." Ujar Lazel yang berdiri di terasnya.


Kara mengarahkan jempolnya ke belakang, dimana tempat Gyuu berdiri, "kami memiliki supir disini, jadi jangan khawatir." Ucapnya dengan serius.


"Aku bukan supir kalian! Lagipula kalian sendiri yang mengemis padaku untuk menumpang!" Sahut Gyuu dengan kesal.


"Pfft!" Hyunjae menutup mulutnya dengan ujung-ujung jarinya, "c-cocok."


"Hah?! Walaupun kau adalah Suami Lazel, aku tidak akan segan-segan untuk menghajarmu."


"Kau pikir aku takut?!"


Semua orang begitu berisik, suara mereka menggema dimana-mana. Tawa, canda berlangsung di waktu bersamaan. Mereka melakukan segala hal dengan mudah tanpa memikirkan apapun, sedangkan Lazel... wanita itu selalu membandingkan bagaimana jika semua temannya tahu mengenai masalahnya dengan Hyunjae dan juga Keluarga Pietra lainnya.


"Enaknya~ Ian masih berada disini." Ujar Vicy yang kini sudah berada di dalam mobil dan menatap Ian di samping Lazel berdiri


".................."


Ian yang mereka kenal adalah sosok yang baik, ramah dan juga sopan tapi...


"Haha~" seringainya.


"!!!!" Ketiga manusia yang berada di dalam mobil itu terkejut bukan main saat melihat sisi lain dari Ian.


"S-Sial! Selama ini kita telah tertipu oleh parasnya yang rupawan dan juga baik!"


"Aku ingin membahas sesuatu dengan Ian perihal Kuliahnya, oleh karena itu aku menyuruhnya untuk tinggal." Sahut Lazel.


Setelah mengucapkan beberapa kalimat perpisahan, mobil kuning itupun meninggalkan Villa Lazel dan mendekati gerbang utama, dimana mereka akan benar-benar meninggalkan kediaman Lazel dan juga Hyunjae.


"Ayo masuuuk~" ujar Hyunjae sembari memegang pundak Lazel dan juga Ian.


...◇• •◇...


Sepi... itulah yang dia rasakan. Tapi, rasa kesalnya mungkin juga bangkit, karena para Manusia yang sudah pergi itu tidak merapikan atau membersihkan sisa-sisa makanan yang dibawa.


"Dasar mereka." Keluh Lazel.


"Kak, apa yang ingin kau katakan?" Tanya Ian yang mulai membantu Kakaknya untuk mengambil posisi duduk.


"Aku akan berganti." Ucap Hyunjae lalu berjalan menuju lantai atas.


"Kapan kau mulai berkuliah?" Tanya Lazel yang menatap Adiknya dengan lembut.


"Setidaknya aku akan mulai saat kau sembuh." Jawabnya.


"Apa kau tidak masalah dengan ini?"


"S-Sebenarnya tidak juga," Ian sedikit terkejut dengan respon Kakaknya. "Kupikir dia akan menolaknya dan memintaku untuk segera Kuliah."


"Haah~ kalau begitu syukurlah. Aku tidak bisa memantaumu jika dalam keadaan seperti ini." Jelas Lazel yang memperhatikan dirinya sendiri.


Ian tidak menyangka jika sosok hebat selain kedua orang tuanya mendapatkan pengalaman pahit seperti ini. Kakaknya selalu terlihat hebat di hadapan semua orang kini tidak bisa melakukan apapun karena luka yang dia dapatkan dari kecelakaan.


Hatinya begitu sakit saat melihat wajah kembarannya itu penuh dengan luka. Entah luka kecil atapun besar, namun gores-goresan kecil membuat wajah Lazel tidak seperti dulu.


"Kak..."


"Hm?"


"Kau tahu bukan jika yang ku miliki saat ini hanya dirimu." Ucap Ian dengan wajah yang menunduk.


"..............." alisnya bertaut saat mendengar Ian yang mulai membahas sesuatu mengenai dirinya.


"Bahkan di umur berapa pun aku masih tetap membutuhkanmu, tapi mengapa kau terus mengalami hal-hal yang memungkinkan jika kau akan meninggalkanku?"


"Aku tidak tahu alasannya tapi hal ini sungguh berat untuk ku terima,"


"Ayah dan Ibu... mereka mungkin akan memarahimu habis-habisan, tapi... tapi..."


Perlahan kedua tangannya terangkat dan memeluk pria yang memiliki wajah yang sama dengannya. Ia mengusap kepala Ian dengan penuh kasih sayang.


"Apa kau tahu... hal yang paling sulit untuk ku terima adalah kepergian Ibu dan Ayah. Sedangkan hal yang sama sekali tidak bisa ku terima, maupun dalam keadaan hidup ataupun mati adalah... kehilangan dirimu."

__ADS_1


__ADS_2