
"Sampai jumpaa~"
Saat ini para pegawai atau pekerja lainnya berhasil menyelesaikan tugas mereka, sehingga sebelum malam tiba semuanya bisa kembali ke rumah masing-masing.
"Hei Nona, apa kau senggang?"
"Lazel! Ayo bermain."
"Kalian ini cepat sekali berubahnya," tutur Lazel yang baru saja keluar dari ruangannya dan mendapat sambutan dari dua orang yang cukup dekat dengannya. "Tapi maaf aku harus menolak ajakah kalian." Ujarnya dangan pandangan yang mengarah pada ponsel.
"Hm? Memangnya kau mau kemana?"
"Menemui Adikku."
"Ooh~ aku juga pernah mendengar jika kau mempunyai Adik, dan dia serupa denganmu." Ujar Vicy yang memberi komentar.
"A-Adik? Ka-Kalau begitu dia adalah pria yang kutemui saat berada di kampus." Batin Gyuu yang mulai mengingat kembali.
"Ada apa Gyuu?" Tanya Lazel yang memperhatikan pria berambut kuning itu.
"Ti-Tidak ada apa-apa, kalau begitu lain kali saja, pasti dia merindukanmu," ucap Gyuu dengan senyuman yang dipaksakan. "Lagipula aku lupa untuk memberitahu kalian jika Perguruan Tinggi Yhanxeng adalah milikku."
"Benar juga..." sahut Vicy yang mau tak mau menerima keputusan itu.
Perpisahan mereka terjadi di kantor, Lazel yang baru saja bekerja extra karena tertidur pada akhirnya bisa menyelesaikannya tepat waktu. Seperti yang dia ucapkan sebelumnya, ia akan mengunjungi Ian setelah sekian lamanya tidak bertemu. Apalagi Adiknya harus tinggal seorang diri.
Ia membuka pintu mobil itu ke atas lalu memasukan barang-barangnya di kursi sebelah, lalu beralih pada tempat kemudi.
"Sekarang mobil ini dipenuhi dengan aroma Hyunjae." Ujarnya dengan kedua tangan yang menggenggam stir mobil serta pandangan yang intens menatap ke depan.
Ia segera menyalakan mobil itu lalu menancapkan gas dan segera meninggalkan area perusahaan.
...◇• •◇...
Suasana sore saat ini cukup baik, langit belum begitu merah, sehingga masih memberikan udara sejuk di sekitar. Berbagai macam kendaraan yang memenuhi jalanan, serta berbagai lampu merah yang menjulang tinggi.
Tubuhnya bersandar santai pada kursi yang dia duduki, tangan kiri yang memegang stir dengan santai, serta tangan lain memegang gigi yang berada di samping kanannya.
"Aku harus menghubungi Hyunjae terlebih da-ck! Aku sedang membawa mobil." Decaknya kesal.
Mobil merah bergaya barat itu melaju perlahan sehingga melewati beberapa kendaraan lainnya.
...◇• •◇...
Belokan terakhir adalah sebuah jalan poros yang langsung menuju pada rumah lamanya, atau rumah asalnya. Memang tidak memiliki kemewahan apapun di dalamnya, tapi disanalah dirinya tumbuh dan berkembang bersama dengan Ian, Adik satu-satunya yang dia miliki.
Sebuah rumah biasa dengan atap berwarna merah, lekukan bibirnya dalam sekejap terlihat, "okee~ sampai~"
Sebelum Lazel keluar ia akan menghubungi Hyunjae terlebih dahulu untuk memberitahu pria itu bahwa ia akan sedikit lambat kembali ke rumah karena harus mengunjungi Ian terlebih dahulu.
"Mengapa dia tidak menjawab panggilanku?" Lazel berulang kali mencoba untuk menghubungi Hyunjae, namun tidak mendapatkan jawaban, "biasanya dia langsung menjawabnya dengan cepat."
Karena tidak mendapatkan jawaban dari Hyunjae, pada akhirnya Lazel akan mengirimkan pesan singkat.
"..............." kedua alisnya sedikit tertekuk saat melihat sebuah mobil hitam yang tidak asing sedang terparkir tak jauh, namun berada di sekitar rumahnya. "Milik siapa itu? Bagaimana bisa aku baru menyadarinya?"
...◇• •◇...
Drrt!
Dengan secepat kilat tangannya menyambar bagai petir untuk meraih ponselnya. Ia mendapatkan pesan dari seseorang yang beberapa menit lalu terus menghubunginya.
^^^"Aku akan mengunjungi Ian, maybe i'm late."^^^
Ia tidak bisa mengekspresikan wajahnya, "kenapa dia mengunjungi Iaaan?! Seharusnya aku yang akan pulang telaat!" Ucapnya dengan kesal.
"Itu salahmu sendiri karena perasaan curiga." Tutur seseorang yang ada di hadapannya.
__ADS_1
"Itu wajar saja bukan? Bagaimana bisa aku tidak curiga jika dia bersama orang lain, ponselnya juga, dan dirinya tengah tertidur? Kau pikir aku bisa menerimanya?!"
"Anak ini sungguh merepotkan." Batin Hyunji.
Setelah usai dengan pekerjaannya, Hyunji mendengar jika Adik laki-lakinya mengunjungi kantornya seorang diri. Sesuatu yang cukup langka, tapi apa boleh buat, ia harus menyambut kedatangan Hyunjae.
Dan... saat ia tahu apa alasannya, ternyata Hyunjae terlibat pertengkaran sepihak dengan Lazel. Dimana salah satu dari mereka memberi tanggapan biasa, dan pihak lainnya berpikir yang mencurigakan, sehingga menimbulkan perasaan tidak suka atau kesal. Dan orang yang mengalami negatif thingking itu adalah Hyunjae.
Datang dari kota, menelusuri panjangnya perjalanan, serta melalui hutan yang gelap, pada akhirnya datang hanya karena mengadukan apa yang Lazel lakukan padanya.
"Ayolah, anak ini pasti ingin mengeluarkan keluh kesahnya," batin Hyunji yang menatap datar ke arah Hyunjae. "Hyunjae, apa kau benar-benar membenci Gyuu hanya karena dia menyukai Lazel?"
"H-Hm! Sepertinya."
Hyunji sedikit menelah penjelasan Hyunjae yang mengatakan bahwa Gyuu menyukai Lazel dan rasa kesalnya pada pria itu. Namun saat ini Lazel juga bagian dari rasa kesalnya.
"Kau..." Hyunji menurunkan kakinya lalu mendekatkan wajahnya pada Hyunjae dan menatapnya dengan dalam, "cemburu bukan?"
"!!!!"
...◇• •◇...
"K-Kakak!"
"Apa yang kau lakukan disini?" Kedua alisnya terlihat datar serta tatapan yang memberikan aura yang sedikit dingin, "Ian, mengapa dia ada disini?"
"Haah~ aku sudah mencoba untuk menyuruhnya pergi, tapi dia enggan untuk melakukannya. Aku juga tidak mungkin melakukan kekerasan pada seorang perempuan." Jelas Ian.
"..............." setelah mendengar penjelasan dari Adiknya, Lazel sepertinya memaklumi hal itu. Bagaimana pun juga... perempuan yang kini ada di hadapannya adalah Sepupu yang lebih tua darinya, dan juga seseorang meletakkan perasaannya pada Hyunjae.
Mobil yang terparkir di depan itu ternyata adalah milik Sepupunya, yaitu Miel. Sebenarnya Lazel juga tidak merasa asing dengan kendaraan itu, dan ternyata Miel adalah pemiliknya. Hal itu sudah menjadi dugaan mudah bagi Lazel.
Bahkan saat memasuki rumahnya, ia langsung membukanya begitu saja. Dan kini semuanya berkumpul di ruang televisi untuk berbincang.
Lazel melepaskan kacamata yang menggantung di pangkal hidungnya, "Kak Miel, apa ada yang kau butuhkan?" Tanya Lazel yang ikut duduk di hadapan wanita dengan drees biru tersebut.
"Hm~" Lazel cukup tertegun dengan pemandangan lama itu, dimana senuah tatapan keji dilemparkan pada dirinya dan juga pada keluarga kecilnya.
"Hei, jaga kata-katamu itu." Sahut Ian dengan wajah yang kurang bersahabat.
"Baik~ baik~ maaf~" Miel mengambil tasnya lalu berdiri dari duduknya. "Sepertinya aku hanya akan menjadi pengganggu bagimu." Ucapnya dengan kedua pandangan yang mengarah pada Lazel.
"Dia pergi begitu saja? Lalu untuk apa dia kemari?" Batin Ian.
Lazel ikut beranjak dari duduknya dan mengantar kepergian Miel, lebih tepatnya adalah, ia tahu jika wanita itu menyembunyikan sesuatu darinya dan enggan untuk mengucapkannya.
"Apa kau tidak ingin mengatakan apapun? Aneh melihatmu pergi tanpa memberikan cibiran pada kami." Ucap Lazel yang bersandar pada dinding rumah dan menatap Miel yang memunggungi dirinya.
"Ku akui tindakan ku di masa lalu itu sungguh menyedihkan, tapi tenang saja, aku tidak berniat untuk bermain dengan trik seperti itu. Aku hanya ingin memberimu peringatan." Jelasnya tanpa menolehkan wajah sedikit pun.
Salah satu alisnya terangkat, "peringatan?"
"Lazel, kau adalah wanita yang baik meskipun wajahmu sangat menjegkelkan."
"Apa itu pujian?"
"Tapi... terkadang hal yang membuatmu baik itu bisa saja menusukmu dari belakang."
"..............."
"Setiap orang yang mendapatkan maaf darimu itu... tidak akan pernah berubah dan akan tetap seperti itu. Sehingga keinginannya terpenuhi."
Setelah mengucapkan beberapa hal yang rumit, akhirnya Miel bergegas pergi dari sana.
...◇• •◇...
Miel Juu, dia merupakan Sepupu Lazel dan juga Ian yang berasal dari Paman dan juga Bibinya. Tingkah lakunya tidak jauh dari pohon asal mereka. Tapi Lazel menyadari sesuatu, bahwa Miel adalah tipe wanita yang santai pada situasi apapun dan selalu berubah-ubah sesuai hatinya.
__ADS_1
Menang atau kalah itu bukanlah masalah baginya asalkan hal itu dapat membuat dirinya terhibur.
Pernyataan cintanya pada Hyunjae sebelum Lazel menikah mendapat penolakan besar dari pria itu dengan menggunakan alasan akan menikahi Lazel. Awalnya hanya sebuah alasan untuk menghindar, namun pada akhirnya ucapan itu menjadi kenyataan karena memang itulah tujuan utama Keluarga Pietra.
"Kak?"
"Kak??"
"KAK!"
Mendengar Ian yang berteriak memanggil namanya, Lazel pun terkejut dan menoleh ke arah Ian dengan kesal, "bisakah kau tidak berteriak?"
"Apa yang dikatakan Miel? Apa dia membuatmu marah?" Tanya Ian yang menatap wajah Kakaknya dengan jarak yang dekat.
"Tidak," jawabnya singkat. "Yah~ memang itulah yang kurasakan saat ini, tapi... bukan berarti kami harus lengah darinya." Batinnya.
Kedatangan Miel memang buruk, awalnya Ian berharap jika kehadiran Kakakknya akan membuat dirinya sedikit terhibur, namun Miel mengacaukan semuanya dan membuat Lazel terus melamun memikirkan sesuatu.
"Ian." Panggilnya.
"Hm? Ada apa?"
"Jangan pernah menerima atau mematuhi ucapan mereka, apapun itu... jangan pernah mempercayai atau mendengarkan."
"Ya aku tahu, tapi mengapa tiba-tiba kau mengatakannya?"
"Setiap orang yang mendapatkan maaf darimu itu... tidak akan pernah berubah dan akan tetap seperti itu. Sehingga keinginannya terpenuhi."
Kalimat terakhir yang diucapkan Miel membayangi kepalanya.
"Hanya berjaga-jaga saja, dan seharusnya kau sudah mengetahui alasannya tanpa harus ku beritahu."
...◇• •◇...
"Apa kau yakin?"
"Ya, aku sudah mengatakannya bukan?"
"Tidak, maksudku jika kau sibuk, kau tidak harus-"
"Aku akan datang, tenang saja."
"Baiklah."
Malam pun tiba, bahkan Lazel memesan makanan untuk makan malam bersama Ian. Karena waktu yang mereka miliki untuk bersama sangat terbatas.
Tapi... setelah semuanya selesai, mungkin dirinya dan juga Ian akan kembali bersama.
Saat ini Lazel harus pulang, lagipula besok adalah haru kelulusan Ian lalu ia akan meletakkan Ian pada sebuah perguruan yang pernah ia tempati saat dulu.
Dengan jendela kaca yang masih terbuka serta lampu jalanan yang terang menyorot mereka berdua.
"Baiklah, kalau begitu-"
"Aku merindukanmu..." ujar Ian dengan kedua tangan yang menancap pada jendela kaca mobil Kakaknya dan menatap Kakaknya dengan wajah sedih.
"Hei, kau sudah besar, bagaimana bisa harus bersedih dengan hal seperti ini?"
"Tidaaak! Mengapa kau tidak bisa lebih lama?! Kenapaaa?!" Saat ini Ian terlihat frustasi dengan kepergian Kakaknya.
Ia mengusap kepala bayi besar itu, "ayolah~ besok kita akan bertemu lagi."
"Oh, aku lupa. Kalau begitu pulanglah." Ucap Ian yang menjauh dari Lazel.
"HEI!"
"Ahahahaha~ hati-hati di jalan~ sampaikan salamku pada Kak Hyunjae." Lambaian tangannya ia arahkan pada Lazel lalu memasuki rumah dengan cepat.
__ADS_1
Lazel hanya memberikan senyum sebagai balasan, ia pun segera menutup jendela mobilnya lalu menancapkan gas dan segera pergi.