
"Tidak, aku tidak akan membiarkanmu pergi."
"Aku menghargai kebaikan kalian, tapi aku memiliki sesuatu yang harus ku lakukan."
"Lakukanlah maka kembali lagi kesini."
Ruang Tengah kini terdengar sedikit kericuhan, terutama suara Ibunya yang begitu kuat.
Bahkan Ian hampir tidak bisa memberi perlawanan, "t-tapi..."
"Ada apa ribut-ribut?" Tanya Hyunjae sambil membawa Lazel dengan memegangi kedua pundaknya.
Semua mata tertuju pada arah tangga, dimana Lazel dan Hyunjae memunculkan dirinya.
"Ian, dia ingin meninggalkan rumah."
"Huh?" Lazel terlihat terkejut saat mendengar apa yang terjadi.
Melihat Kakaknya yang baru saja turun kembali membuatnya khawatir, "Kak, aku tidak mungkin berada disini terlalu lama, lebih baik-"
"Kau disini." Sambung Lazel yang berjalan perlahan mendekat ke arah Adiknya.
"Tapi-"
Kedua tangannya menggenggam kedua lengan Ian, "aku tidak bisa mengawasimu jika kau jauh dari pantauanku, setidaknya Ibu Nezra dan Ayah A-"
"Aku tahu kau khawatir, tapi... kau juga tidak bisa memaksakan kehendakku." Ujar Ian yang berusaha meyakinkan Kakaknya.
"..............."
"Aku hargai kebaikan kalian, tapi aku tidak ingin tinggal disini." Kini Ian memperjelas lagi ucapannya.
"Baiklah." Kini Adam menyahut.
"Hah?! Kau setuju dengannya?!" Sela Nezra yang tidak setuju dengan kuputusan Ian dan juga Adam.
"Bisakah kau memegang sebuah janji?"
"Janji?"
"Pergi dan kembali, jangan lakukan itu jika kau hanya memberatkan Kakakmu." Jelasnya.
"????"
"S-Seperti biasa, ucapan Ayah memang sulit dimengerti." Bisik Hyunji pada Hyunjae yang berdiri di sampingnya.
"Oke, intinya aku tidak akan membuat Kak Lazel khawatir dan kembali membuatnya merasa bersalah karena tindakan cerobohku." Ujar Ian yang tersenyum di hadapan Kakaknya.
"..............."
...◇• •◇...
Kepergian Ian sedikit berat untuk ia terima. Adik satu-satunya, satu-satunya orang terkedat yang dia miliki, satu-satunya keluarga yang dia miliki.
Tetapi... kehadiran Keluarga Pietra memang begitu menyenangkan. Namun, Lazel sudah mengetahui sebuah akhir dari cerita ini, akan ada waktunya dimana orang yang menganggap dirinya sebagai keluarga dan Putri, dalam sekejap membenci dirinya.
Oleh karena itu, tidak perlu bermain permainan yang menyangkut tentang keluarga. Kalimat yang tidak sesuai dengan kondisi.
Tidak ada yang namanya keluarga dengan penuh drama. Itulah yang ia lakukan selama sepuluh tahun.
Nezra menggenggam kedua tangan Lazel yang duduk di sebelahnya, "Lazel, apa kau lapar? Aku bisa-"
"Miaaw~"
Nezra beralih pada kucing yang terus menggesekkan bulunya di kakinya.
"Aku hampir lupa, siapa kucing berkaki pendek bertubuh bulat ini, dan..." Nezra mengangkat kucing berbulu lebat itu dan memperhatikannya secara bergantian dengan Lazel. "W-Warna mereka hampir sama." Tukasnya.
"B-Benar." Sahut Hyunji yang ikut mengamati.
"Dia Gilver, Lazel yang mendapatkannya." Sahut Hyunjae yang baru kembali dari teras.
"Waah~ benarkah? Aku tidak menyangka jika kau menyukai kucing."
"T-Tidak juga." Jawab Lazel.
Pria berjaket itu duduk di hadapan Lazel, "benar juga... dia tidak begitu menyukai kucing."
Tanpa sadar hari hampir sore, hari berlalu begitu saja setelah mendapatkan masalah yang berat. Terutama Lazel, dalam sekejap ia dapat mengendalikan dirinya dan berhenti menangis, meskipun itu hanyalah topeng yang ia gunakan untuk menutupinya dari orang lain.
"Ibu, aku akan membawa Lazel ke kamar. Tolong bawakan makanan juga untuknya." Ujar Hyunjae yang beranjak dari tempat duduknya dan meraih Lazel yang ada di hadapnnya.
__ADS_1
"Oh! Oke!" Dengan girang Nezra pergi ke dapur.
"Tapi... aku bisa membantu Ibu." Ujar Lazel.
"Lebih baik kau membantuku." Balas Hyunjae yang memegang tangan Lazel.
"Hm? Apa kau sedang mengerjakan sesuatu?"
"Tidak, cukup bantu aku dengan mematuhi ucapanku."
"Baiklah."
Saat ini Pelayan belum kembali ke rumah, merekan juga harus menikmati masa liburan di hari Natal.
"..............." Hyunji hanya bisa menatapi dua pasangan itu dengan wajah datarnya.
"Kasihan." Lirih Adam yang berusaha menahan tawanya.
"Hentikan itu Ayah!" Teriak Hyunji dengan kesal.
...◇• •◇...
"Haah~ aku baik-baik saja, tindakanmu ini terlalu berlebihan." Ucap Lazel yang mendaratkan tubuhnya di atas ranjang.
"Tidak juga." Sahutnya sambil meraih selimut.
Lazel menghentikan tangan Hyunjae dengan menggenggamnya, "tapi aku tidak sakit." Balasnya.
Hyunjae menatapnya dengan tatapan biasa, ia mengangkat jari telinjuknya, lalu ia tempelkan pada dada Lazel.
"Bagian ini pasti terasa sakit." Ucapnya pelan.
"..............." Lazel tidak memberikan balasan apapun. Karena apa yang dikatakan Hyunjae mungkin ada benarnya.
Pria itu meraih ponselnya lalu duduk di atas lantai dan menyandar pada ranjang.
"Kau tidak di atas?" Tanya Lazel yang menatap ke samping.
"Tidak perlu, aku disini saja." Ucap Hyunjae yang mulai memainkan ponselnya.
...◇• •◇...
Tangannya meremas selimut itu dengan kuat, serta tatapannya yang menunduk, "apa... yang dikatakan Ian padamu."
Hyunjae menghentikan aktivitasnya, mendengar kalimat itu dari Lazel, ia tidak menyangka jika Lazel akan tahu bahwa Ian bercerita sesuatu padanya.
"Kau mau tahu?" Kini Hyunjae kembali bertanya sambil menyandarkan kepalanya.
"Tidak juga..."
"Jadi?"
"Lupakan apapun yang dia bicarakan denganmu." Ujar Lazel dengan nada datar.
Otomatis tubuhnya berbalik dan menatap ke arah wanita berambut perak itu, "hah? Apa maksudmu lupakan-" seketika ia melihat sesuatu yang berbeda dari Lazel.
"Maaf, mungkin ini terasa sedikit kasar, tapi..." ia membalas tatapan Hyunjae dengan iris pinknya. "Kau memang tidak perlu mengetahui apa yang terjadi pada masa laluku."
"Alasannya?"
"Kau bukan siapa-siapa. Semua hanyalah drama. Dan apapun yang kau tahu bukanlah urusanmu." Lazel menjawabnya tanpa ragu sedikit pun.
Sedikit mengesalkan, tapi apa yang dikatakan oleh wanita itu memang ada benarnya. Dirinya bukanlah siapa-siapa, dan ia memang tidak memiliki hak untuk tahu.
Padahal Ian memotong pembicaraan mengenai pria bernama Sung Wonhae. Dan meminta dirinya untuk mendengarkannya sendiri dari Lazel.
Tetapi... setelah apa yang dia dapatkan. Sepertinya sangat mustahil untuk kembali mendapatkan pembahasan yang terputus.
"Apa aku boleh mengatakan satu hal padamu?"
"????"
"Siapapun pria itu, siapapun yang ada di masa lalumu... jangan membuat Ian merasa bersalah dengan apa yang akan kau lakukan di kedepannya."
Setelah itu Hyunjae berbalik lagi dan menatap lurus ke arah depan.
"Sudah kuduga... Ian pasti akan bercerita mengenai Wonhae." Batinnya.
...◇• •◇...
Di bawah lampu yang menggantung, semuanya berkumpul di ruangan biasa. Dan membicarakan sesuatu yang sedikit penting.
__ADS_1
Dalam Natal sebelumnya, Keluarga Pietra pasti tidak pernah melupakan keseruan ini. Tapi... untuk tahun ini sepertinya mereka tidak akan melakukannya.
"Tapi... mengapa kalian tidak merayakannya?" Tanya Lazel.
"Lazel... tidak mungkin kami merayakannya setelah apa yang terjadi pada Lena dan Gion."
"Mereka hanyalah masa lalu, ini adalah permasalah hati yang memang harus ku selesaikan sendiri."
"Kenapa kau mengatakan hal ini?" Nezra sedikit merasa heran dengan setiap kalimat yang diucapkan oleh Lazel.
"Ibu, Ayah... aku akan kembali ke rumah." Ujarnya.
"Ha?!" Nezra terkejut bukan main, "HEI HYUNJAE! APA KAU YANG MEMINTA HAL INI PADA LAZEL?!" Protes Ibunya yang hampir memelayangkan vas bunga pada Putranya.
"Tidaaaak! Bahkan aku juga terkejut saat mendengarnya!" Teriak Hyunjae yang menggunakan tubuh Hyunji sebagai perisai.
Rencananya, Nezra akan memulangkan Hyunjae dan Lazel setelah Tahun Baru. Tapi... Lazel meminta padanya untuk segera kembali ke Villa.
"Baiklah... aku akan kembali setelah Tahun Baru usai." Kini Lazel sedikit mengalah dengan keadaan.
Ia juga tidak ingin Hyunjae mendapatkan masalah hanya karena keputusannya.
"Uuuuu~ Lazel kita memang baik~" Nezra memeluk Lazel dengan erat.
...◇• •◇...
Wajahnya menatap ke arah jendela dengan tatapan dingin. Belakangan ini, Lazel lebih sering menghabiskan waktunya dengan menatap langit-langit dan melamun memikirkan sesuatu.
Dari jauh ia melihat wanita berambut perak dengan kupu-kupu biru membelakangi dirinya dan menatap ke arah langit.
Tangannya meraih selimut yang ada di atas ranjang lalu berjalan mendekati Lazel.
"Kau tidak dingin?" Hyunjae datang dan menutupi tubuh Lazel dengan selimut yang ia bawa.
"Tidak, aku baik-baik saja." Lazel meninggalkan tempat dan pergi menuju ranjang.
"..............." pria berpiyama hitam yang memperlihatkan tubuhnya itu hanya terdiam melihat sedikit perbedaan dari Lazel.
Lazel kini berbaring dengan tubuh yang membelakangi dirinya.
Pria itu menatap ke arah Lazel, "u-um... apa aku-"
"Boleh." Selanya.
"Huh?? Memangnya kau tahu apa yang ingin ku katakan?" Tanya Hyunjae yang meninggikan tubuhnya dengan sikut dan menatap lebih dekat ke arah Lazel.
"Yang begitu terobsesi dengan wangi ku hanyalah dirimu. Jadi mudah saja menebak apa yang ingin kau katakan." Jelas Lazel.
"Kalau begitu..."
Ia dapat merasakannya, merasakan sebuah tangan besar mulai memeluk tubuhnya.
"Apa kau memakai pengharum hingga satu ton?" Tanya Hyunjae yang mencium aroma wangi pada rambut perak Lazel.
"Apa kau ingin aku merusak gigimu?" Ancamnya.
"Haha~ sepertinya kau sudah mulai kembali ke sifatmu yang dulu." Tawa Hyunjae yang berada di tengkuk lehernya.
Wajah yang sedang berpaling, tidak menatap satu sama lain. Yang ia rasakan hanyalah kesedihan dan hal dingin lainnya. Rasa sakit it tentu saja masih begitu terasa. Namun, takdir mencoba untuk merubuhkan hatinya sehingga membuatnya terus-menerus merasakan sebuah penderitaan.
Tatapannya terlihat begitu dingin, dan juga datar. Seolah-olah menjadi wanita yang kehilangan hatinya.
...◇• •◇...
Langit yang memberikan warna redup, memasuki kamar itu sebagai sedikit penerang. Di tengah malam membuatnya terbangun dan mulai memikirkan banyak hal.
Tubuhnya terduduk di atas ranjang dan menundukan pandangannya.
Pria yang ada di sampingnya itu sudah tertidur pulas. Seperti tidak merasakan apapun. Dengan mudahnya ia beranjak dari atas sana dan kembali berdiri di depan jendela.
Dress putihnya dengan rambut perak yang terkibar cantik. Layaknya sebuah boneka mati yang selalu berdiri di tempat yang sama.
Ia menatap langit dengan raut menantang. Kedua tangannya yang berada di kedua sisi tubuhnya terkepal erat.
Sosok kedua tatapan itu jauh berbeda dengan sebelumnya.
"Aku akan mengakhirinya secepat mungkin... setelah aku menemukan pelakunya maka..."
Tubuh itu berbalik dan menatap ke arah Hyunjae.
"Semuanya akan selesai." Sambungnya dengan iris pinknya bagai cahaya kilat.
__ADS_1