Lost Feeling

Lost Feeling
Proof


__ADS_3

Hyunjae berubah, sisi buruknya yang dulu sudah tidak terlihat lagi. Selain itu, ia juga sudah menyatakan perasaannya pada Lazel, meskipun pernyataannya sedikit kurang masuk akal. Berulang kali dirinya berniat untuk mengulang pernyataan tersebut, namun sepertinya rasa malu mulai menguasai dirinya.


Setelah melakukan beberapa pekerjaan, dirinya akan pergi ke tempat penahanan bersama Lazel. Disana mereka ingin mencari tahu lebih mengenai bukti yang diucapkan oleh Adam.


"Bahkan jika kau menyukaiku... tidak ada alasan khusus jika aku memiliki perasaan yang berbeda denganmu."


Jujur saja... awalnya Hyunjae berpikir jika waktu yang mereka habiskan dapat merubah sedikit perasaan Lazel padanya. Memang mengalami perubahan, namun wanita itu tidak akan pernah meletakkan perasaannya pada orang lain. Lagipula... orang terakhir yang mendapatkan keistimewaan tersebut hanyalah Wonhae.


"Apa Anda baik-baik saja? Anda terlihat kelelahan."


"Aku baik-baik saja," Hyunjae mengusap wajahnya. "Apa ada masalah saat aku meninggalkan perusahaan?"


"Tidak ada Tuan."


"Lalu? Bagaimana dengan Perusahaan Aplic?"


"Karena mereka hanya berpusat pada perhiasan, jadi tidak ada masalah lebih tentang itu. Keamanan mereka juga selalu terjaga, Sekretaris Byul mengerjakan segalanya dengan baik." Jelasnya.


"Hm... begitu," Hyunjae berpikir sejenak. "Mulai beberapa hari ke depan aku akan sedikit sibuk dengan urusan lain, bisakah aku menyerahkannya padamu?"


"Baik Tuan. Tapi, tidak baik juga perusahaan terus dijalankan tanpa Direktur."


"Aku paham, untuk saat ini lakukan yang terbaik."


"Baik Tuan."


...◇• •◇...


"N-Nona kita bisa melakukannya mulai besok, tidak perlu hari ini."


"Tidak, aku akan melakukannya hari ini."


Yana hampir tidak tahu apa yang harus dia lakukan untuk menghentikan Nonanya.


Lazel bersikeras untuk menggerakkan kedua kakinya, padahal dirinya baru kemarin keluar dari Rumah Sakit. Lebam pada kedua pahanya membuatnya tidak dapat berjalan atau kesulitan dalam berjalan. Namun Lazel tidak ingin terus menerus berada di atas kursi roda.


Selain itu, Lazel saat ini memiliki banyak sesuatu yang dia pikirkan. Terutama tentang Adiknya.


Satu-satunya orang yang tidak memahami apapun adalah Ian. Lazel berusaha untuk tidak menyeret Adiknya dalam masalah ini, lagipula ia harus membuat Ian fokus pada dirinya sendiri yang akan berlanjut ke Perguruan Tinggi.


Untuk saat ini rahimnya baik-baik saja, beberapa saat lalu nyerinya memang terasa namun tidak separah dugaannya. Tapi yang lebih sulit adalah kedua kakinya, padahal hanya lebam sehingga membuatnya kesulitan dalam bergerak.


Lazel memegang sebuah ganggang pintu sebagai alat penahan tubuhnya.


Cklek!


"Aku pu-"


"Waaah!"


"Nona!"


Dengan cepat Hyunjae menangkap tubuh itu.


"Hei, apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Hyunjae yang terlihat kesal.


"Belajar jalan." Jawabnya dengan raut wajah yang datar.


"Memangnya kau ini anak kecil?" Ia sama sekali tidak menyangka akan mendapatkan jawaban seperti itu, "Yana, mengapa kau-"


Lazel membungkam mulut Hyunaje dengan tangannya, tangannya itu menjepit kedua sisi pipinya dengan kuat, "jangan pernah menyeret orang lain dalam masalah apapun, kau paham?" Ujarnya dengan geram.


"P-Paha-sakit! Lepaskan tanganmu!"


...◇• •◇...


"Dengar, kau baru kemarin meninggalkan Rumah Sakit. Jadi jangan terburu-buru dalam mengambil tindakan." Ujar Hyunjae yang saat ini sedang menceramahi Lazel.


Lazel mengadahkan wajahnya ke atas dan memperlihatkan ekspresi penderitaan, "bokongku keram... aku tidak bisa melakukan apapun." Ucap Lazel yang hampir membuat Hyunjae melepas tawanya.


Lazel yang berada di atas sebuah sofa kecil di kamarnya hanya berdua dengan Hyunjae. Pria itu mendekat ke hadapannya dan membentangkan kedua tangannya di antara tubuh Lazel.


"Apa kau mau aku memijat-"

__ADS_1


"Mesum." Selanya.


"Hei! Jangan katakan itu pada Suamimu sendiri!"


"Lagipula jangan mengatakan hal yang menjijikan, tuturnya dengan kesal. "Keluarlah, aku ingin berganti."


"Kalau begitu aku yang akan-"


"Jika aku bisa bergerak mungkin aku sendiri yang akan meyeretmu untuk keluar dari sini."


"..............."


...◇• •◇...


"Dari mana Ayah Adam tahu jika Paman Luo adalah pelakunya?"


"Bahkan Kepolisian menyerah untuk mencari tahu hal ini dan melemparkannya pada sebuah organisasi yang lebih handal,"


"Aku tahu dia adalah Kepala Mafia malam, tapi... sepertinya dia sudah bekerja dengan keras untuk mencari tahu masalah ini."


Hyunjae hanya terdiam saat Lazel mulai berpikir, ia tidak tahu pasti mengenai apa yang dipikirkannya. Namun ia merasa jika apa yang dia pikirkan itu berkaitan dengan masalah tahanan keluarganya dan juga Wonhae.


"Oh, aku lupa bertanya padamu. Apa kau memberitahu Ian tentang ini?" Tanya Hyunjae pada Lazel yang terus menatap jendela samping.


"Tidak." Jawabnya singkat


"Kenapa? Bukankah dia juga berhak tahu?"


"Tidak ada yang perlu ia ketahui, aku tidak ingin dirinya terlibat dalam hal ini."


"..............."


Keputusannya mungkin sedikit keliru untuk menyembunyikan semuanya dari Ian. Mau bagaimana lagi, Adiknya itu mungkin tidak akan tinggal diam dan mulai beraksi sendirian.


"Apa mau pergi sekarang?"


"Hm." Angguknya.


...◇• •◇...


"Apa kau gugup?" Tanya Hyunjae.


"Tidak."


"Lazel, apa kau serius untuk mencari masalah dengan Ibu?"


"Aku tidak berniat mencari masalah dengan beliau. Aku hanya mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi." Jawabnya.


Jawaban yang diberikan oleh Lazel memang benar apa adanya, namun Hyunjae masih memikirkan sesuatu yang lain. Pengungkapan Lazel begitu mendadak, bahkan saat dirinya sendiri belum dalam keadaan yang stabil.


Untuk saat ini mereka akan mengunjungi tempat tahanan yang cukup jauh dari Ibu Kota. Lazel ingin mendengar semuanya, termasuk alasan dibalik tindakan Pamannya pada Wonhae.


...◇• •◇...


"Sudah ku katakan berapa kali, aku sama sekali tidak mengetahui apapun mengenai pria yang bernama Wonhae,"


"Lagipula hingga kini Anda belum membuktikan apapun jika aku bersalah."


"Aku tidak melakukannya karena menghormati kondisi Lazel." Sahut Adam yang selalu bersabar untuk mendengar ocehan Luo.


Anggota keluarga besar Lazel terdiri dari Paman, Bibinya dan juga lima Sepupu yang tinggal bersama mereka. Namun saat ini yang paling termuda adalah Miel, beberapa saudara tertuanya telah menjalankan pekerjaan mereka masing-masing di tempat yang berbeda.


Mereka semua adalah sama, sejauh apapun yang lainnya pergi. Hal itu tidak akan merubah sikap buruk Paman Bibinya serta para Sepupunya.


Tidak seperti Ibunya, justru Miel menjadi pendiam dan sedikit tenang. Wajahnya terlihat sedang berpikir mengenai sesuatu.


"Aku tidak butuh basa basi Paman. Jadi bisakah selesaikan ini dengan cepat?" Ujar seseorang yang baru saja tiba bersama Suaminya yang mendampingi dirinya, "lagipula aku ingin berbicara dengan Miel secara empat mata. Tapi sebelum itu..."


Ia menatap pria itu dengan kedua matanya, "aku ingin mendengarkan semuanya dari Paman."


Adam yang melihat kedatangan Lazel langsung memberinya tempat duduk untuk berhadapan dengan Luo, Pamannya sendiri.


Di dalam ruangan yang cukup terang hanya terdiri dari beberapa orang saja yang memang memiliki kepentingan dalam urusan ini.

__ADS_1


"Pertama Wonhae... kedua Hyunjae," ia mengerutkan dahinya dan memperlihatkan gertakan giginya. "Mengapa kau melakukan ini?" Tanya Lazel yang hampir kehilangan kendalinya lagi.


Adam hanya bertugas untuk mengawasi mereka tanpa melakukan apapun pada pihak yang menjadi korban. Ia turun tangan dimana pihak lawan mulai melakukan pergerakkan.


"Kau tidak menjawabnya? Apa aku harus bertanya pada Miel?" Ujar Lazel yang melirikkan matanya ke arah Miel.


"Miel? Untuk apa kau berbicara dengannya?"


"Firasat," jawabnya singkat. "Seseorang pernah memberiku beberapa kalimat untuk tidak melihat perubahan seseorang begitu cepat."


"Kau memang pandai merangkai kalimat, Lazel," kini Miel mulai menyela pembicaraan dengan mendekat ke arah kaca pembatas. "Jujur saja aku memang tidak menyukaimu atau akan selalu memusuhimu. Tapi bukan berarti aku senang melakukannya dengan hal kotor."


Miel menunjukkan sebuah chip kecil yang kemungkinan berisi data asing atau tak dikenali.


"Sesuai dengan ucapanmu sebelumnya. Semuanya adalah rencana dari Ayahku."


"!!!!"


...◇• •◇...


Ia sedikit terkejut saat melihat kehadiran Ibunya yang sedang menyendiri di Ruang Tengah. Awalnya ia berpikir jika beliau akan pergi mengunjungi tahanan dan bertemu dengan pelaku yang membunuh Wonhae dan  yang hampir membuat nyawa Hyunjae melayang.


"Apa Ibu mau ku antar?" Tawar Hyunji pada Ibunya yang duduk melamun di atas sofa.


"Hei, Hyunji." Panggil Nezra.


"????"


"Apa kau percaya jika Lazel mengatakan itu? Bukankah dia terlihat sedikit aneh?" Tanya Nezra yang mulai kembali pada akal sehatnya


"..............." menyerahkan masalah emosi Ibunya pada Ayahnya memang bukanlah hal yang sia-sia. "Apa Ibu memiliki sedikit penyesalan?"


"Penyesalan?"


"Ibu hanya belum memahami situasinya saja, namun jauh dari apa yang ku dapatkan. Posisi Lazel sangatlah menyedihkan,"


"Selain membohongi kalian, dia juga membohongi kedua orang tuanya sendiri  hanya untuk balas dendam. Ibu tahu bukan jika takdir seseorang sudah ditentukan? Oleh karena itu jika bukan karena menjadi anggota Keluarga Pietra, apakah Lazel mampu merawat Adiknya?"


"Mampu menyingkirkan omongan kasar?"


Hyunji berniat untuk membantu Nezra mendinginkan pikirannya agar tidak mudah terganggu oleh apapun.


Dan apa yang dia lihat hari ini, ia merasa jika Ibunya sedikir menyesali ucapannya saat itu.


...◇• •◇...


"Dengan keahlian yang kupunya, aku dapat menguak informasi sedalam apapun. Salah satunya berpacu dengan kamera pengintai." Jelas Miel pada Lazel yang duduk di hadapannya dengan wajah yang penuh luka.


Miel menunjukkan beberapa chip yang lain, dimana disana tertera tulisan  tahun yang sangat lama.


"Lazel... kita bisa saja terus bersaing, tapi aku membenci cara yang seperti ini." Ujar Miel dengan wajahnya yang tersenyum kecil.


"Miel, apa yang kau lakukan?"


"Ayah, aku sudah memutar semua bukti-bukti kesalahanmu pada kedua chip tersebut," ucap Miel dengan tegas pada Ayahnya sendiri. "Sudah cukup kau membuat orang lain terlibat." Sambungnya dengan wajah serius.


"R-Rekaman?! T-Tapi bukankah..."


"Sangat mudah bagiku untuk melakukannya, lagipula aku tidak pernah menyukai tindakan kotormu."


Plak!


Ibunya hanya bisa menatap kedua orang itu secara bergantian. Namun setelah melihat Luo menampar Miel, hal itu membuat Ibunya tidak senang.


"Hentikan Luo." Ujarnya sembari melindugi Miel di dalam pelukannya."


"Kau..."


"Aku tidak menyangka jika Ibu juga ikut handil dalam hal ini." Ucap Miel dengan wajahnya yang putus asa.


"................" wanita itu hanya terdiam dan tidak memberikan ucapan apapun sebagai perlawanan.


"Apa kau tahu... bukankah sudah sewajarnya orang rendah itu diperlakukan layaknya ternak? Lagipula kalian hanya aib bagi keluarga ini. Terutama perlakuan kasarmu pada semua orang,"

__ADS_1


"Melihatmu mendapatkan dukungan serta keberuntungan dari orang lain. Itu sangat menjijikan."


Kini Luo benar-benar mengatakan semuanya. Mulai dari rasa kesalnya dan rasa tak sukanya pada keluarga kecil Lazel.


__ADS_2