
Kedua tangannya menggenggam wastafel putih itu dengan erat. Entah sudah berapa kali wajahnya basah karena air yang mengalir dari sana. Di hadapkan dengan sebuah cermin besar, wajah yang menunduk, kedua tangan yang gemetar, dada yang terasa sesak.
"Aku harus segera keluar-"
Suara pecahan terdengar kuat karena berada di kamar mandi, kedua iris pinknya menatap dengan panik.
Tubuhnya perlahan menunduk dan membersihkan serpihan kaca dari sebuah gelas yang sebelumnya ada di sampingnya.
Cklek!
"Ada apa?!" Kedatangan Hyunjae membuat dirinya semakin panik. "Apa yang kau lakukan..." wajah pria itu terlihat sama kagetnya, lalu berjalan mendekati Lazel yang menatap dirinya dengan gemetar.
Tangannya meraih wanita itu dari lantai, "pergilah, aku yang akan mem-"
Wajahnya masih terlihat menunduk, "bisakah, kau berhenti bertindak seolah-olah kau ini baik?" Ujar Lazel setelah berdiam diri.
Kedua alisnya bertaut serta memasang wajah kesal, "apa maksudmu..."
Kekangan tangannya yang memegang pergelangan Lazel semakin kuat.
"Jujur saja, aku muak melihatnya."
"Ck! Aku tidak tahu apa yang sedang kau alami, tapi aku tidak bisa membuat dirimu dalam bahaya-"
"Apa karena Ibu Nezra? Ayah Adam? Hyunji? Termasuk-"
"Ya ya~ semua itu ada benarnya tapi," pria berpakaian santai itu menggenggam kedua tangannya di kedua lengan Lazel dan menatapnya lekat. "Alasan lain adalah kau ini lemah." Ucapnya dengan yakin.
"Huh? Tunggu, apa maksudmu." Wajahnya mulai menatap Hyunjae.
"Yaah~ memang seperti itu dirimu. Setelah mengalami beberapa masalah, kau masih beranggapan kalau dirimu masih sanggup untuk menerima situasi yang buruk."
"Itu bukan karena diriku yang lemah, melainkan diriku yang siap untuk menerima hal buruk." Lazel mencoba untuk membuat Hyunjae menarik kata-katanya kembali.
"Haaah?? Alasan macam apa itu? Bukankah sama saja itu dengan lemah?" Ekspresi Hyunjae saat ini benar-benar mengesalkan, "ayolah~ kau tidak perlu menyembunyikannya,"
"Aku tahu jika kau lemah tapi aku manganggap dirimu kuat,"
Pria itu terus berucap seolah-olah memprovokasi lawan bicaranya, "tapi... seberapa lemah dirimu itu, kau selalu berusaha-"
Duak!
"Ack!" Kakinya terasa ngilu karena pijakan kuat dari kaki Lazel.
"Dasar bodoh!" Wanita itu akhirnya pergi dari hadapannya dan meninggalkannya sendiri.
Tubuh besarnya bersandar di dinding, lalu kedua tatapannya menatap punggung wanita itu yang menjauh darinya, dan menyempatkan dirinya untuk tersenyum kecil, "pfft... mau sekeras apapun dirimu, aku jauh lebih tahu apa yang tepat bagimu." Ujarnya dengan sombong.
...◇• •◇...
Jika dihitung dengan benar, hari ini sudah menginjak satu bulan dua minggu. Kedua pasangan yang selalu sibuk itu masih berada di Amerika untuk menyelesaikan tujuan mereka.
Tercium aroma masakan dari ruang tengah, dimana makanan cepat saji mereka pesan beberapa waktu yang lalu.
"Hei! Itu makananku!"
"Hah?? Bukankah kita bisa berbagi?"
"Berbagi?!" Ia beranjak dari duduknya lalu merampas makanan yang ada di tangan pria itu, "maaf saja, tapi aku enggan membaginya denganmu." Ucapnya kesal.
"Dasar pelit!" Ujar Hyunjae yang hanya mengginggit sebuah sendok.
Lazel menatapnya tanpa peduli, "memangnya kenapa? Kau tidak terima?" Ujarnya yang terlihat sombong hanya karena makanan.
"Hiks!"
"Jangan membuat diriku merasa aneh dengan sikapmu itu!" Baru saja tangannya melemparkan bantal ke arah wajah Hyunjae.
...◇• •◇...
Masih di tempat yang sama, wajahnya diam-diam mengamati orang itu lalu mengingat kejadian yang lalu.
Saat ini Lazel tengah memakan makanannya tanpa menghiarukan Hyunjae.
Kedua tangannya melipat ke depan dada, "sikapnya berubah, aku tahu itu," ia mencoba memperhatikannya dengan lekat. "Meskipun aku bertanya... belum tentu dia akan menjawabnya,"
"Yaah... setidaknya dirinya kembali seperti semula."
__ADS_1
Di sela-sela Lazel menikmati makanannya, Hyunjae berdiri dari duduknya dan pergi entah kemana tanpa membawa ponselnya.
"Oh, aku akan membeli beberapa minuman," ucapnya sebelum meninggalkan kamar. "Wahh hari ini panas sekalii~"
"..............."
Kepergian Hyunjae membawa kesunyian, jika ada topik apapun yang mereka bahas, pasti akan bertemu dengan keributan.
Matahari begitu terik, bahkan masih di pagi hari panasnya sudah sangat terasa. Di dalam ruanhan bernuansa putih itu ia merapikan segalanya sendirian.
Tangannya meraih satu mangkuk yang masih berisi ramen instan, "ramen..." seketika pikirannya mengingat wajah pria bertindik itu.
"GYAAAH! ENYAHLAH!" Tangannya mengibas ke sembarang arah.
Drrt!
Kedua matanya melirik sinis ke arah ponsel berwarna abu-abu yang ada di atas meja, "hm? Apakah itu dari kekasih gelapnya?" Ucapnya remeh.
Ia meletakkan ramen tersebut di atas meja, lalu melihat siapa yang menghubungi Hyunjae.
"Oh!"
...◇• •◇...
"Hm~ hm~"
Di bawah terik sinar mentari, ia menutupi dirinya dengan jaketdan juga topi, sebagai tambahan dirinya juga mengenakan masker berwarna hitam.
Di sebuah kafe dengan desain unik, disana ia memesan beberapa minuman untuk dirinya dan juga Nyonya yang berdiam diri di hotel.
Baru saja gadis muda itu menyerahkan dua gelas minuman padanya.
"Thank you~ come again~" sapanya ramah.
Hyunjae membalasnya dengan senyuman di balik maskernya.
Jarak kafe yang baru saja ia datangi tidak begitu jauh dari hotel yang ia tempati. Secara refleks tangannya merogoh saku jaketnya, seketika kedua langkahnya terhenti.
"Ah, aku tidak membawa ponsel."
...◇• •◇...
Cklek!
"HYUNJAEEEE!!"
Seorang wanita berambut perak yang tergerai dengan kaos polos berlengan panjang berwarna cokelat berlari ke arahnya dengan wajah yang tersenyum.
Kedua tangannya mengambil posisi terbuka seperti akan memberikan sebuah pelukan sambutan untuk dirinya yang baru datang.
Dengan percaya diri yang tinggi dan juga rasa senang yang setengah-setengah karena gengsi, mau tak mau ia melebarkan kedua tangannya dan tersenyum malu-malu.
"A-Apa boleh bu-"
BUAGH!
Baru saja kepalan kuat mendarat tepat di perutnya, sehingga Hyunjae berlutut menahan sakit.
"Gila! Gila! Gila! Kita mendapatkan panggilan dari William!" Ucap Lazel dengan penuh semangat, "hei, kau kenapa?" Bertanya dengan wajah tanpa dosa.
Ia melepaskan masker dan topinya sehingga nampaklah wajah tampannya, "k-kenapa kau menghajarku?" Lirihnya sambil berdiri perlahan.
Kedua tangannya saling berpangku di depan dada, dan menatap remeh ke arah Hyunjae, "hm? Apa salah? Sepertinya sambutan seperti ini tidak asing," sepertinya dirinya baru saja menyadari sesuatu. "J-Jangan-jangan kau berharap jika aku akan memberikan pelukan selamat datang padamu." Ucapnya sambil perlahan menjauh dari pria itu dengan sekujur tubuh yang merinding.
"Jangan menghindariku seperti itu!" Teriaknya kesal, "huft... apa yang William katakan?"
"Kita bisa kembali!" Jawabnya dengan cepat dan juga senang.
"Hm? Bagaimana dengan konferensinya?"
"Ditunda, seperti biasa," kini tatapannya penuh dengan keseriusan. "Para Tetua sepertinya ingin melihat kita lebih berjuang lagi,"
"Lagipula tidak ada proses yang instan, jadi bersabarlah."
Lazel duduk di sofa dengan Hyunjae yang ada di hadapannya.
"Apa sepuluh tahun masih terlalu cepat bagi kita?"
__ADS_1
"Sebenarnya hal ini mudah saja jika mendapatkan kepercayaan yang kuat dari mereka."
Kepergian mereka menuju Amerika tidak pernah sia-sia. Meskipun belum menjalin kerja sama, Keluarga Pietra juga masih menjalankan bisnis mereka disana walaupun belum terbilang sempurna. Oleh karena itu mereka berusaha mengikat kontrak dengan Negara Amerika dan membantu serta mendukung perekonomian yang dikelola Keluarga Pietra.
"Jadi... kapan kita akan kembali."
Kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya dan menatap bagaikan berlian ke arah Hyunjae, "sekarang!" Jawabnya dengan secepat kilat.
"..............." Hyunjae menatap wanita itu seolah-olah tahu apa yang akan keluar dari mulutnya sebagai jawaban, "huft... beaok saja, hari ini aku ingin berkeliling dan menjadi sedikit hiburan." Ujarnya dengan santai.
"Ah~ ya, tentu saja." Seketika rasa keegoisannya menghilang setelah Hyunjae mengatakan alasan pribadinya.
"Hm? Apa kau tidak keberatan?"
"Hei, kau pikir aku ini orang yang seperti apa??" Ucapnya kesal.
"Kalau begitu tidurlah lebih dulu malam ini, aku akan kembali."
Yah... memangnya untuk apa mereka berbagi rasa? Hal bodoh seperti itu sama sekali tidak pernah terlintas di pikiran kedua pasangan tersebut. Apa yang menjadi jalan mereka, akan mereka gunakan sebagai pijakan untuk meraih puncak. Sedangkan apapun yang menghalangi mereka akan disingkirkan bagaimanapun juga.
"Oh, minumannya aku lupa."
"Kau membeli minuman dingin?" Setelah mendapatkannya secara gratis dari Hyunjae tatapannya begitu hampa, "bagaimana kau bisa lupa dengan minumannya?! Sekarang tidak dingin lagi!" Lazel protes dengan perubahan suhu pada minumannya.
"Jangan salahkan diriku! Bukankah kau yang datang, berlari sehingga menghajar diriku?!"
"Yaa~ itu memang benar. Tapi jangan berpaling dari kesalahan!!"
"Memangnya yang salah disini siapa hah?!"
"@#&@#&@#&!!"
...◇• •◇...
Di bawah bintang dan juga bulan, cahaya mereka begitu biru dan juga terang. Ia sedang duduk di sebuah sofa mini yang terletak di balkon, udara malam memang tidak begitu baik, namun malam belum begitu larut.
Lagipula... mengambil tindakan seperti itu bisa menghilangkan rasa stressnya untuk sejenak dan berusaha melupakan semua masalahnya.
Beberapa saat yang lalu Hyunjae sudah meninggalkan hotel dan pergi entah kemana.
Meskipun dirinya begitu hebat dan juga bersemangat di hadapan Hyunaje. Namun hatinya begitu rapuh semenjak mimpi buruk itu kembali menghantui dirinya.
Sudah bertahun-tahun... meskipun begitu, perasaannya sama sekali tidak bisa berubah. Kenangan pahit yang harus membuatnya berubah seketika menjadi wanita yang buruk.
Memangnya ada cara yang mudah untuk melupakannya? Jika ada tidak mungkin dirinya mengambil tindakan yang merepotkan.
Dan kini... dirinya hidup tanpa perasaan, kasih sayang, bahkan cinta. Semua itu adalah omong kosong yang tidak berguna yang akan membuat dirinya kembali terjatuh.
"Haah~ aku merindukan rumah~" keluhnya dengan mengadahkan wajahnya ke atas langit. "Kupikir aku bisa kembali malam ini."
"Egis..." ingatannya mulai mengarah pada pria humoris itu. "Benar juga, apa dia baik-baik saja? Bukankah dia terlalu dekat denganku?"
"Semoga saja porsi makannya tidak berkurang." Kekehnya.
...◇• •◇...
"Hatchu!" Kepalanya menoleh kesana kemari, "huh? Huhh??" Ia terbangun bersamaan dengan bersinnya.
Tangannya mengusap rambutnya, "sial, aku tertidur." Ucapnya kesal.
Plak!
Dengan gesit tangannya memukul kuat tangan yang lain dan memperlihatkan seekor nyamuk yang sudah tak bernyawa.
"Dasar nyamuk sialan, apa darahku begitu manis hah?" Bahkan kutukannya ia timpalkan pada nyamuk itu.
Perlahan ia bangun dan menutup pintu balkon lalu merebahkan tubuhnya di atas sofa.
Ia menatap jam dinding, yang sudah menunjukkan larut malam. Hidupnya begitu hampa, dan juga sangat sunyi. Biasanya di Villa ada Yana dan juga pelayan lainnya, sehingga dirinya memiliki teman bicara.
"Oh! Aku akan menghubungi Ian! Tapi..." semangatnya seketika menghilang. "Ini sudah larut ma-"
Drrt!
Tangannya meraih ponsel yang ada di sakunya dan melihat siapa yang menghubunginya di malam hari.
Wajahnya yang suram seketika kembali menampakkan senyumnya, "haha~ baru saja aku ingin melakukannya." Ucapnya senang.
__ADS_1