Lost Feeling

Lost Feeling
Might Be a Bad Season


__ADS_3

"Ayahku bekerja sebagai supir di sebuah perusahaan..."


"Meskipun kami tidak mewah seperti orang lain, tidak tampil memukau seperti artis, tapi kami dapat mengisi perut di setiap harinya..."


"Kami tidak peduli terhadap cacian orang mengenai keluarga yang kumiliki..."


"Tetapi... kebencian yang tertanam di dalam diriku semakin memuncak, sehingga menimbulkan keinginan kuat untuk bertindak di luar pikiran."


"Rencana dan strategi yang kami rancang...hingga kini tidak ada seorang pun yang tahu, terkecuali orang yang bersamaku dan juga orang yang tidak bersamaku..."


"Salah satu dari mereka... aku membuatnya untuk tutup mulut, dan membiarkan alurnya terus berjalan, hingga sebuah akhir memunculkan ceritanya sendiri."


...◇• •◇...


Mereka yang mencoba untuk kaya akan merasakan segala proses, mulai dari termudah hingga tersulit.


Tetapi... mereka yang hidup bermula dari kekayaan tidak akan pernah merasakan sulitnya berada di alur proses, yang akan membuat akal seseorang berpikir, jika hidup bukan hanya pada kekayaan.


...◇• •◇...


Semua orang khawatir mengenai mengendara di malam hari yang bersalju, seluruh kendaraan yang bermula dari roda dua hingga seterusnya menurunkan kecepatan mereka sehingga membuat keamanan semakin terjaga.


Mungkin saat ini kemacetan dan juga lampu merah membuatnya selamat dari rasa emosi yang ingin menguasai dirinya.


Jika ia tidak memenuhi panggilan itu, mau sampai kapan dirinya akan terus bersembunyi? Mau sampai kapan mereka akan terus berbicara bagaikan orang bodoh?


Tidak akan ada hasil tanpa bertindak.


Ia mencoba menenangkan dirinya dengan mengusap wajahnya berkali-kali dan merilekskan pikirannya.


"Sulit bertemu orang-orang breng*k itu, meskipun aku berhasil melakukannya, kekesalan yang kurasakan tetap sama," sorot matanya begitu tajam, layaknya pedang yang akan siap membelah apapun. "Aku membiarkan mereka demi Ayah, Ibu dan juga Ian."


"Aku tidak ingin mereka bersedih karena kecerobohanku dalam mengendalikan emosi."


Semakin dirinya memikirkannya, semakin sulit pula emosi yang ia jaga.


Tetapi... mungkin situasi masih berpihak padanya. Ponsel yang ia letakkan di hadapannya berdering yang menandakan bahwa ada seseorang yang menghubungi dirinya.


Seketika dirinya tersadar dari apa yang akan dia pikirkan dan meraih ponsel tersebut.


Sebelum melihat siapa nama yang tertera di layarnya, ia berharap jika orang itu bukanlah Hyunjae, pikirannya belum begitu stabil untuk berdebat dengan pria itu.


"Egis?"


Kedua alisnya yang terus tertekuk, serta kedua sorot matanya yang tajam seketika memudar karena panggilan tersebut.


"Halo?"


^^^"Haha~ kau sedang apa? Aku berada di kedai pinggir jalan untuk menikmati ramen. Apa kau mau kesini juga?"^^^


"A-" sikapnya yang awalnya terlihat jauh lebih baik kini kembali suram, tapi tidak separah sebelumnya, "aku berada di rumah, dan... sedang melakukan sesuatu untuk dikerjakan."


^^^"Benarkah? B-Berarti aku sedang mengganggumu, hehe~ maafkan-"^^^


"Aku akan tiba dalam sepuluh menit." Selanya. Tangan kirinya langsung mengganti gigi mobil lalu mengubah arah.


^^^"Kau akan kesini? Haha itu-APA?! Sepuluh menit?! Bukankah rumahmu dan kedai ini membutuhkan waktu yang lebih? Dan musim dingin-"^^^


Tut tut tut


Egis yang tengah duduk disana merasa resah dan khawatir mengenai Lazel yang mengendara di kecepatan rata-rata.


...◇• •◇...


"Yo!"


Ia mendengar sapaan khas dari Bosnya, ia pun mengalihkan tubuhnya dan juga wajahnya untuk membalas sapaan dari Bosnya, "La-"


Lazel menemui Egis yang mengenakan mantel tebal berwarna hitam serta memakai topi dan masker seperti biasa.


"Hm?" Ia bingung karena pria itu tiba-tiba memutuskan ucapannya dan terus menatapi dirinya, "ada apa?" Tanya Lazel pada Egis.


Wanita itu mengambil posisi duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Aku terkejut melihatmu datang dengan pakaian seperti itu." Ujar Egis yang mulai bertingkah aneh.


Ia memperhatikan dirinya sendiri, "ah~ benar juga, sebelum pergi meninggalkan rumah aku tidak mengganti pakaian. Lagipula itu sangat merepotkan." Keluhnya.


Lazel memutuskan untuk tidak mengatakan apapun pada Egis mengenai dirinya yang pada awalnya tidak berada di rumah. Karena lebih baik seperti itu, dan dirinya tidak perlu membawa orang lain untuk memasuki masalahnya sendiri.


Egis memesankan beberapa makanan berkuah untuk Lazel. Dan semua pesanannya sangat sempurna, sesuai dengan seleranya.


Daripada harus menghabiskan waktu di rumah seorang diri atau akan melihat Hyunjae yang tiba dalam kondisi buruk, lebih ia menghabiskan waktunya di luar dengan menyantap ramen.


"Apakah liburanmu menyenangkan?" Kini Egis memulai pembicaraan mereka.


"Tidak juga, seluruh keluargaku pergi ke sebuah desa untuk menghabiskan liburan, tapi mereka tidak membawaku!" Jawab Lazel dengan kesal.


"Semuanya?"


"Hm! Hm!" Angguknya.


"Apakah Tuan Hyunjae juga ikut?"


"Jangan memanggilnya seperti itu, panggil dia seperti biasa."


"K-Kurasa tidak sopan jika memanggilnya seperti itu."


"Haah~ terserahmu saja. Dia tidak ikut, seluruh keluarga kami hanya menyisakan diriku dan juga dirinya."


"B-Benarkah?"


"Ya, bahkan kami harus tinggal di Rumah Utama hanya untuk mengasuh seekor kucing."


"Baguslah, kau bisa menghabiskan waktumu dengannya." Ucapnya yang mulai tersenyum seperti biasa.


"H-Hampir saja aku menceritakan segalanya secara jelas," batinnya. "Yah, begitulah." Balasnya dengan senyuman yang sama.


Bergaul dengan Egis membutuhkan kehati-hatian dalam berbicara. Saat dirinya mulai berbicara tanpa henti, maka seluruhnya akan terbuka. Hanya satu kalimat yang salah, maka akan membuat masalah besar.


Ia memperhatikan wanita berkepang itu dengan kupu-kupu di belakang kepalanya, "memang benar...  jika Ian memiliki rambut yang panjang seperti Lazel, aku pasti kesulitan dalam membedakan mereka."


...◇• •◇...


"Satu porsi lagi."


"L-Lazel, apa perutmu baik-baik saja?"


"Hm? Baik. Lagipula aku belum makan dari tadi."


"Belum makan dari tadi... apa tidak makan sekitar beberapa jam akan membuatnya memakan semuanya yang ada disini?"


Egis sudah menyelesaikan makanannya dari tadi, namun wanita berpita kupu-kupu itu masih berdiam diri di tempat dengan rongga mulut yang masih sanggup menerima makanan.


Jika dilihat baik-baik, ia seperti mendapati Lazel dalam masalah. Namun ia tahu, jika wanita itu berusaha untuk tidak membiarkan orang lain mengetahui masalah yang menimpa dirinya.


Penampilannya begitu memukau, wajahnya pucat yang mirip dengan salju, namun ekspresinya begitu terpaksa mengenai keadaan.


Tangannya menyentuh bagian pipi Lazel yang meggembung, "kau seperti tupai." Ujarnya.


"Hahaha~ Ibuku juga berkata seperti itu." Ujar Lazel sambil memberikan senyuman pada Egis.


Entah mengapa... hari semakin hari dirinya semakin melemah di hadapan wanita itu. Mulutnya yang ramai layaknya kebun binatang, sikapnya yang sama sekali tidak feminim, serta kelakuan yang terus membuat orang lain jantungan.


Tetapi... di hadapan manapun, mereka selalu menilai bahwa Lazel adalah perempuan yang baik, meskipun hati dan tindakan saling tolak belakang, terkadang emosi yang dia keluarkan selalu berkaitan dengan rasa perhatiannya.


Mungkin itu adalah salah satu faktor dimana orang-orang memuji dirinya.


Tujuan awal yang sudah ditentukan entah menghilang ke arah mana, dan terbentuk tujuan lain yang membuat dirinya tertarik pada orang itu.


Jika bisa, pria berambut kuning itu berharap jika dirinya adalah seseorang yang pertama kali bertemu dengan Lazel. Mungkin dirinya adalah pria yang paling beruntung di dunia.


Meskipun keadaan terus menyeret dirinya, namun wanita itu berusaha tegar dan terus berusaha agar tidak lemah di hadapan siapapun.


Antusias dalam menghadapi sebuah permasalahan. Berusaha menahan emosi yang ingin menguasai dirinya.


Tangan kanannya mulai terangkat dan bergerak ke arah Lazel. Tatapannya terlihat sendu dan juga merasa ingin menggapai permata itu, "apa aku boleh..."

__ADS_1


"Hyunjae?" Lazel melihat nama panggilan di layar ponselnya.


"!!!!"


"Ah, maaf, apa yang ingin kau katakan?" Tanya Lazel setelah menutup panggilan tersebut.


Egis berusaha tenang dari apa yang ingin dia lakukan kepada Lazel, "m-mengapa kau tidak mengangkatnya? Bagaimana jika dia khawatir padamu? Bukankah-"


"Ini masih siang, tidak mungkin dirinya khawatir." Sela Lazel yang menatap Egis dengan tenang.


"Tapi kau adalah Istrinya bukan? Wajar saja jika dia mengkhawatirkanmu." Egis berusaha untuk meyakinkan dirinya.


"Baiklah, mungkin apa yang kau katakan itu ada benarnya," ujar Lazel yang memperbaiki jubahnya. "Hm?"


Dirinya mendapatkan bantuan dari Egis, pria itu memperbaiki jubah Lazel dan juga rambutnya.


"Terima kasih." Ucap Lazel yang menolehkan wajahnya.


"H-Hahaha~"


Wanita dengan iris pink dibalik poni-poni peraknya melambaikan tangannya ke arah Egis dan mengucapkan sampai jumpa.


Mungkin pertemuan mereka untuk ke depannya hanya untuk makan dan juga kerja. Memang tidak perlu melakukan hal yang berlebihan pada seorang wanita yang sudah memiliki pasangan dalam hidupnya.


Ia memakai kembali maskernya, dan memperhatikan mobil merah yang berjalan di atas tumpukkan salju semakin menjauh.


"Lazel... aku akan selalu menemanimu, dan meringankan masalah yang terus mengangggu dirimu,"


"Hingga waktunya tiba, aku akan memperkenalkan identitas diriku yang sebenarnya."


...◇• •◇...


Mobil mewah itu baru saja tiba di depan mansion yang mewah.


Terlihat begitu sepi karena pelayan tidak bekerja, dan yang menempatinya hanya dirinya dan juga Hyunjae.


Mengenai Hyunjae, beberapa saat yang lalu, pria itu sempat menghubungi dirinya. Namun ia enggan untuk menjawabnya.


"Egis... aku tidak bisa terlalu banyak memberi alasan padanya, pria itu bisa saja menangkap situasi dengan cepat," ucapnya khwatir. "Padahal aku masih ingin disana..." keluhnya.


Sebelum keluar dari mobil, ia sempat meraih ponselnya dari saku dan memperhatikan waktu.


"Setengah jam yang lalu..." gumamnya. "Berarti hampir satu jam pria itu berada di rumah." Ujarnya.


Setelah itu ia bergegas keluar dari mobil dan melangkahkan kakinya ke dalam rumah. Karena di malam hari salju akan kembali turun, biasanya.


"Aku pulang." Ucapan yang sama setiap kali memasuki rumah.


"Aku sempat heran, kemana kau pergi."


Kini apa yang dia khawatirkan pun terjadi, pria bertubuh besar yang berdiri di hadapannya, seolah-olah harus tahu mengenai segala aktivitas apapun yang dilakukan.


"Dan aku sama sekali tidak heran kemana kau pergi." Balas Lazel dengan topik yang sama.


"Aku akan menarik ucapanku." Hyunjae beralih pada pembahasan lain.


"????"


"Selamat malam Nona Direktur~"


"..............." kedua tatapannya baru saja menemui wanita asing yang entah datang dari mana.


"Maaf, mungkin lebih baik jika aku membawanya ke rumah." Ucap Hyunjae dengan wajah tanpa bersalah.


Sedangkan Lazel masih mengamati wanita itu dengan pandangannya sendiri.


"Maaf mengganggu Nona Lazel~" wanita itu menyela dan menyambar pada Hyunjae.


Tangan kanannya mengusap dagunya dan tersenyum, "hm~ ternyata salah satu simpanan Hyunjae," balasnya dengan seringai.


"??!!"


"Silahkan nikmati waktumu disini~" ia mendekatkan dirinya pada wanita asing itu dan menyentuh pundaknya, "tapi... berusahalah untuk tidak menggangguku." Ucapnya dengan kedua tatapan yang penuh dengan aura keburukan.

__ADS_1


__ADS_2