
Pada perjanjian pertama... ia akan mengakhiri hubungan palsu ini setelah mendapatkan sebagian bisnis kekuasaan di Amerikan Serikat. Dan yang kedua, masing-masing dari mereka memiliki urusan sendiri dan tidak ada yang boleh mencampurinya.
Selain kedua janji itu, ada sebuah kesepakatan lain. Dimana posisinya akan mendapatkan dua kali lipat keuntungan. Yaitu kekuasaan dan juga mata-mata. Kekuasaan sudah pasti berkaitan dengan apapun yang berhubungan dengan kekayaan, sedangkan mata-mata, dirinya dapat mencari atau mengamati pergerakan orang lain dengan cara yang mudah.
Meskipun terdengar mudah, namun keduanya juga memiliki sisi yang sulit. Dimana sebuah alasan di balik pernikahan sama sekali tidak boleh tersebar sebelum waktunya, dan yang terpenting, mereka tidak boleh membiarkan Nezra mengetahui hal ini.
Nezra merupakan sosok wanita yang berpegang teguh pada kejujuran. Masalah ringan atau apapun itu, meskipun dalam keadaan berbohong, setidaknya itu hanya untuk memberikan sebuah kejutan besar. Akan tetapi... jika kebohongan itu menyangkut kehidupan, entah apa yang akan dia lakukan.
Meskipun tidak diperkenankan untuk menyukai satu sama lain, permasalahan itu merujuk pada masing-masing hati. Entah akan ada perubahan rasa atau apapun itu, namun salah satu dari mereka telah mengorbankan perasaannya. Sehingga kemungkinannya untuk meletakkan perasaan pada orang lain, mustahil.
...◇• •◇...
"................"
Dari jarak yang tak begitu jauh, untuk saat ini ia mengamati pergerakkan seseorang. Dia akan melakukannya jika dirinya bertepatan saja, sesuatu yang mustahil dilakukan oleh wanita sepertinya untuk mengamati sepanjang waktu.
"A-Aku tidak menyangka jika Anda adalah Putra dari Keluarga Hojung."
"Hahaha~ maaf karena sudah berbohong."
"Tidak! Kau hanya ingin menyembunyikan identitasmu dari Bos bukan?"
"Menurutku itu wajar-wajar saja. Bagaimanapun juga, Bos sangat mengerikan, apalagi saat dia mulai memperlihatkan lekukan di dahinya."
"Shh! Nanti ada yang mendengar!"
Suara gosip itu sangat terdengar jelas di kedua telinganya. Bagaimana tidak, kendaraannya dan juga kendaraan milik Gyuu hanya memiliki jarak beberapa langkah saja.
Wanita berambut perak itu tengah berdiri dan menyandarkan tubuhnya di mobil merahnya sambil mengejamkan mata untuk mendengarkan ocehan para gadis itu.
Saat ini Gyuu sedang berada di tengah-tengah kerumuman para kaum wanita.
Mengenai identitas Egis yang sebenarnya sudah tersebar luas, atau mungkin ada beberapa manusia yang belum mengenal dirinya. Tapi... untuk saat ini dirinya belum menemukan sesuatu yang berbeda dari Egis atau Gyuu.
Awalnya dia berpikir, bahwa sifat serta tindakan Gyuu pada dirinya sebelum ia mengenal pria itu terlihat tulus dan disaat mengetahui siapa dirinya, ternyata dirinya tetaplah dirinya. Yang membedakan dirinya dengan sebelumnya hanyalah sebuah nama dan identitas lainnya.
Sepertinya hal ini patut disyukuri, setidaknya sosok yang mungkin bisa menjadi 'teman' itu memiliki kepribadian yang sama dengan sebelumnya.
Tangannya menggenggam ponsel yang baru saja ia keluarkan, "baiklah, aku harus pergi," ujarnya dengan memperhatikan jam dari layar ponselnya. "Mungkin Hyunjae sudah tiba di rumah."
Ia memasuki mobil itu setelah membunyikannya dari balik kunci yang dia genggam.
Mobil itu langsung bergerak sesuai keinginan pembawanya dan melewati Gyuu serta para wanita yang berdiri.
Seolah merasa tak peduli, mobil merah itu lewat begitu saja tanpa menyapa atau memberi sapaan apapun.
"A-Astaga! I-Itu Bos bukan?"
Para gadis ataupun wanita bergitu riuh saat melihat mobil yang paling mereka kenal baru saja lewat tanpa memberikan sinyal apapun.
"Syukurlah... kupikir Bos akan berhenti dan mulai memarahi kita karena bergosip tentangnya."
__ADS_1
"..............." melihat kehadiran Lazel yang pergi begitu saja membuatnya sedikit sedih. Inilah kenyataan yang sama sekali tidak dia terima. Kenyataan mengenai dirinya membuat hubungannya dengan Lazel merenggang.
Untuk saat ini tidak ada yang tahu, apakah Lazel merasakan hal yang sama? Atau hanya perasaan Gyuu saja?
Yang lebih terpenting adalah, wanita itu akan menjelaskannya pada Hyunjae terlebih dahulu. Mungkin... kalimat maaf sedikit sulit untuk diterima.
...◇• •◇...
Posisi duduknya saat ini terlihat tegang, bahkan ruangan yang sudah tersedia dengan pendingin itu masih membuatnya berkeringat. Beberapa jam yang lalu, dirinya mendapatkan sebuah pesan singkat dan apa adanya dari Lazel. Wanita yang berstatus sebagai Istrinya itu meminta padanya untuk langsung pulang ke rumah, karena ada sesuatu yang ingin di sampaikannya.
Jaket besar berwarna hitam itu tergeletak di tangan sofa. Kini yang tersisa hanya kemeja putihnya yang berlengan panjang terlipat setinggi sikunya.
Suara pintu terbuka memunculkan sosok unik yang memiliki paras yang rupawan. Namun Hyunjae masih sulit menganggapnya seperti apa.
"Aku pulang." Ujarnya dengan nada datar yang menggema di Ruang Utama.
Suara ketukan high heels yang dia kenakan ikut menggema, hingga dirinya tiba di Ruang Tengah dan mendapatkan Hyunjae yang sudah menunggunya.
"Maaf membuatmu menunggu."
"Tidak apa-apa," pria itu menghilangkan rasa gugupnya dengan melonggarkan sedikit kerahnya. "Jadi? Apa yang ingin kau katakan?"
"..............." wanita yang berdiri tak jauh di hadapannya itu meletakkan tas hitam ke atas meja yang mungkin berisi dengan laptopnya.
"Maaf." Ucapnya tanpa basa-basi.
Keadaan yang awalnya membuat Hyunjae gugup, kini seketika membuatnya lebih santai, terlebih lagi setelah mendengar Lazel meminta maaf padanya. Meskipun dirinya tidak mengetahui alasan dibalik tindakan wanita tersebut.
Kedua matanya sedikit tersorot heran, "maaf? Untuk?" Kini pria bertubuh besar itu bertanya balik.
"!!!!" Baru saja mendengar nama itu membuat Hyunjae berdiri dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah Lazel, "ada apa?! Apa dia mencari masalah denganmu?! Sudah kuduga, bajing*n itu pasti-"
"Diamlah, bukan itu maksudku." Sela Lazel dengan nada yang halus.
Lazel melihat ekspresi Hyunjae yang sedikit kesal untuk dilihat.
"B-Barusan itu suaramu bukan?" Tanya Hyunjae yang menempelkan kedua tangan besarnya di kedua lengan atas Lazel.
"M-Memangnya kenapa?" Pertanyaan dan raut wajahnya itu membuat perasaannya menjadi tak enak.
"H-Halus sekali, bahkan ini pertama kalinya bagiku untuk mendengar suara normal seperti para perempuan pada umumnya," tuturnya dalam hati. "Suaramu berbeda."
"Ck! Aku memanggilmu bukan untuk membahas hal ini." Sahutnya kesal dan menyingkirkan kedua tangan itu darinya.
"O-Oh~ maaf maaf~"
Hyunjae pun mulai menunggu Lazel untuk mengatakan sesuatu padanya.
"Pria itu... dia mengetahui bentuk hubungan ini." Ucap Lazel dengan raut wajahnya yang datar. Namun jauh di dalam lubuk hatinya ia sedikit merasa takut.
Pria yang berdiri di hadapannya itu tidak memberikan balasan apapun, melainkan memperlihatkan wajahnya yang sangat terkejut.
__ADS_1
Lazel memejamkan kedua matanya sekejap setelah memahami tatapan Hyunaje pada dirinya, "sepertinya dia akan marah." Ujar Lazel dalam hati.
"Sejauh ini aku hanya bisa melihatmu dengan wanita lain... hal ini memanglah bukan masalah, tapi..."
"Jika hubungan aneh ini diketahui oleh orang lain karena kelalaianku, sepertinya hal yang lumrah bagimu untuk marah."
Bahkan menjelaskannya saja terasa sesak di dalam dadanya. Dirinya sangat siap menerima cacian pahit dari Hyunjae atau pukulan kasar darinya.
"Yaa... lagipula... dari awal... ini adalah... kesalahan-"
Tubuhnya ditarik begitu saja sehingga membuat wajahnya menempel pada tubuh besar Hyunjae.
Badannya kaku begitu saja dan tidak menolak pelukan dadakan yang dilakukan oleh Hyunjae, "huh?? Apa yang-"
"Dia tidak mengancammu kan?! Dia tidak berbicara aneh mengenai dirimu kan?! Apa dia benar-benar mengatakan sesuatu yang tidak pantas bagimu?!" Kini suaranya benar-benar membara dan merambat ke seluruh tubuhnya.
Apa yang Lazel pikirkan sangat jauh dengan apa yang dia bayangkan. Padahal dirinya sudah menduga bahwa Hyunjae akan marah dan membuat dirinya tak terkendali. Tapi... apa yang dia dapatkan sangat terbalik dengan yang dia pikirkan.
Kedua tangannya berusaha melepaskan diri dari Hyunjae, "le-lepaskan dulu."
Hyunjae melepaskan pelukannya namun tetap menatap Lazel dengan lekat, "katakan padaku, apa dia mengancammu?" Wajahnya yang begitu dekat membuatnya dapat memperhatikan kedua iris mata yang dimiliki Hyunjae.
Kedua alisnya sedikit berkerut, "apa-apaan, kupikir kau akan marah atau memukulku." Sahut Lazel dengan wajah yang nampak bingung.
"Mengapa aku harus melakukan hal itu?"
"Yaah~ karena kau tidak ingin siapapun melihatmu atau melihatku bersama dengan pasangan masing-masing. Namun karena yang kualami saat ini adalah masalah yang cukup besar, aku berpikir bahwa tindakan seperti itu-"
"Tapi untuk apa? Sehingga aku harus menyakitimu?" Kini Hyunjae memang marah, namun amarahnya sedikit aneh untuk dilihat.
"Pernah kah kau berpikir? Jika Gyuu membuka mulut begitu saja, Ayah, Ibu, Ian, bahkan semua orang mungkin akan tahu mengenai hal ini." Ujar Lazel yang merasa aneh dengan tanggapan yang diberikan oleh Hyunjae.
"Jika dia melakukannya aku akan menghabisi nyawanya. Bahkan jika semua orang tahu, aku tidak mungkin melampiaskan amarah seperti itu." Jelas Hyunjae dengan kedua alis yang bertaut.
"!!!!" Lazel sangat terkejut. Pria yang berdiri di hadapannya seperti pria yang berbeda, sejauh ini dirinya selalu menerima cacian serta tuduhan tak karuan dari Hyunjae.
Namun... pria itu justru membuat alasan lain dan membuat jalan keluar di sisi lain.
Dibandingkan pernyataan suka dan cinta dari Gyuu, melihat perubahan Hyunjae yang begitu jauh membuatnya merasa senang. Bahkan lekukan bibir merah itu hampir saja memperlihatkan senyumannya.
Lazel sama sekali tidak memahami dirinya sendiri dan juga orang lain. Yang bisa dia bedakan hanya perasaannya pada Gyuu dan Hyunjae sangatlah berbeda.
"Tidak... jangan sentuh pria itu sedikit pun," ucap Lazel dengan raut serius. "Dia tidak melakukan apapun padaku." Sambungnya yang berniat ingin menenangkan Hyunjae dari amarahnya.
Pria itu melepaskan dan menjauh dari Lazel dan berdiri tegap serta dengan kedua tangan yang terkepal kuat. Dengan wajah yang menunduk, dirinya berusaha untuk meyakinkan sesuatu.
"J-Jika... jika aku memang memukulmu, a-apa kau akan membalasnya? Jika iya, maka-"
"Tentu saja tidak," selanya. "Bukankah disini akulah yang salah?" Ujarnya dengan tatapan yang mulai kembali seperti biasa.
"Hei... Lazel." Kini pria itu kembali memanggil dan menyebut nama Istrinya.
__ADS_1
"Hn?" Wanita itu hanya memberikan tanggapan singkat.
"Sebenarnya hatimu itu terbuat dari apa?" Tanya Hyunjae dengan wajah yang sedikit sedih namun masih memiliki sisi yang dapat tersenyum hangat.