
"Aku pulang."
Baru saja dirinya memasuki sebuah rumah besar dan tiba di Ruang Utama. Seperti biasa, disini terlihat sepi dan sunyi seperti dihuni tanpa Manusia. Tapi ia tahu jika Hyunjae tidak meninggalkan rumah karena tiga mobil masih terparkir dengan rapi di basement.
Kedua tangannya saling merapat dan meniupnya karena hawa dingin. Kakinya berjalan menuju ruangan biasa yang mereka tempati.
Sebuah kantung plastik ia letakkan di atas meja Ruang Tengah dan mulai memperhatikan sekitar.
"Hyunjae?" Panggilnya.
"..............." panggilannya itu sama sekali tidak mendapatkan jawaban.
Wanita beriris pink itu melepaskan syalnya dan juga mantel yang mengurung tubuhnya lalu mulai mencari keberadaan Hyunjae.
"Di mana laki-laki itu?" Ia mulai menaiki tangga dan memeriksa di lantai atas.
Kedua kakinya bergerak cukup cepat dan berakhir di sebuah kamar, yaitu kamarnya dan juga kamar Hyunjae.
"Hyunjae, apa kau disini?" Tanya Lazel setelah membuka pintu.
Rambut peraknya masih terlihat butiran salju, namun saat tiba di rumah yang dia lakukan adalah mencari keberadaan Hyunjae.
"Apa dia pergi bersama dengan para wanitanya?" Ucapnya asal.
Saat memperhatikan sekitar, sesuatu membuatnya berpaling, yaitu tindik milik Hyunjae yang terletak begitu saja di atas meja kosong.
Tangannya meraih benda kecil tersebut, "tindik? Mengapa dia meletakkannya disini?" Bingungnya.
Cklek!
Di tengah-tengah kesibukan Lazel yang memikirkan tindik itu, seseorang muncul dari balik pintu kamar mandi, "haah~ aku merasa tidak mandi se-"
"Huh?"
Kedua tatapan mereka saling bertemu dan seketika terdiam, namun disaat-saat tertentu, tatapam mereka menjalar ke arah yang lain.
Seseorang keluar dari kamar mandi dan kini hanya mengenakan handuk di sekeliling pinggangnya. Sehingga menampilan keseluruhannya tanpa sehelai kain, termasuk lekukan tubuhnya yang besar.
"GYAAAAA!!"
...◇• •◇...
Setelah usai pertemuannya dengan para karyawannya, ia langsung bergegas kembali. Karena saat ini Rumah Utama dihuni oleh lintah darat dari planet lain. Oleh karena itu Lazel tidak memberanikan diri untuk mengambil resiko atas apa yang dilakukan Hyunjae nantinya.
Ian juga belum kembali, pria muda satu itu sudah berada di rumah temannya dan akan kembali sebelum sore.
Dan kini... sesuatu yang sedikit mengharukan atau sedikit histeris sedang terjadi dan saling membingungkan keduanya.
"Kenapa kau telanjang?!" Tanya Lazel yang terduduk di atas ranjang melihat kehadiran Hyunjae yang begitu santai.
Kedua tangannya yang besar terlipat ke depan dan menatap Lazel dengan kedua iris abu-abunya, "telanjang itu tidak memakai apapun, dan memperlihatkan a-"
"Diaaam!" Dengan cepat tangannya menutup mulut Hyunjae secara paksa agar tidak melanjutkan kalimatnya.
Kedua tatapan mereka saling bertemu satu sama lain dalam jarak yang cukup dekat. Karena sebelumnya Lazel bertindak untuk membungkam mulut Hyunjae dengan cara menggunakan tangannya, otomatis kedua tatapan mereka begitu dekat.
"Ah~ maaf, aku hampir membuatmu tidak bernapas." Ucap Lazel yang langsung melepaskan tangannya dari mulut Hyunjae.
"Hm, seharusnya kau meminta maaf sambil berlutut di hadapanku sambil mengatakan kalimat Tuan di depan namaku."
"Bajing*n, apa kau berniat merendahkanku hah?" Kini tangannya mulai bertindak lagi dan menekan kedua pipi Hyunjae dengan kuat.
"M-Memangnya kenapa? Bukankah yang salah harus melakukan apapun?" Hyunjae mencoba untuk melepaskan tangan kecil itu dari wajahnya, namun tertahan karena tenaga Lazel yang kuat.
__ADS_1
Tangannya yang menggenggam wajah itu semakin erat seiring bertambah rasa kesalnya, "dari mana definisi seperti itu datang hah?!"
Untuk sesaat mereka akan berdebat terlebih dahulu, lalu seketika pembahasan mereka mulai habis atau salah satu dari mereka yang mengalah, maka perdebatan akan berakhir.
...◇• •◇...
"Ck! Berdebat denganmu memang tidak ada akhirnya." Tukas Lazel lalu melepaskan tangannya dari Hyunjae.
"Pipiku~" lirihnya.
Sepertinya wanita berambut perak itu tidak ingin melanjutkan perdebatan tidak berguna dengan Hyunjae, oleh sebab itu ia memutuskan untuk pergi dari sana.
Tetapi... apa yang ingin dia lakukan tidak tercapai. Seluruh tubuhnya sama sekali tidak bergerak di hadapan Hyunjae, karena tanpa ia sadari tangan besar milik Hyunjae sudah mengunci tubuhnya agar tetap melekat pada tubuh pria itu.
Tatapan wanita itu kembali kesal dan memperlihatkan urat-urat kesalnya, "Hyunjae, kali ini apa yang kau lakukan?"
"Membalas perbuatanmu." Jawabnya dengan tersenyum.
"Hah? Apa? Memangnya apa yang ku lakukan?" Jawaban yang diberikan Hyunjae kepadanya semakin membuat dirinya kesal.
"Hm~" telunjuknya mengarah pada mulut dan juga hidungnya serta mengarah pada perutnya yang terlihat begitu menggiurkan.
"Hooooi! Aku bisa memaklumi apa yang dilakukan tangan emasku padamu! Tapi apa-apaan dengan perutmu hah?! Apa kau berniat sombong hanya karena memiliki tubuh yang bagus? Kalau be-"
"Aku lapar. Kau meninggalakan rumah tanpa makanan." Selanya yang meletakkan wajahnya di atas pundak Istrinya.
"L-Lepaskan aku dasar sialan! Dan bukankah biasanya kita selalu memesan makanan?" Ucapnya kesal.
"Yah~ itu memang, tapi setidaknya kau melakukannya untukku." Ucap Hyunjae dengan nada sedih.
"Jangan bercanda! Memangnya kau siapa hah?!" Ia masih berusaha untuk melepaskan dekapan Hyunjae darinya, "heii!! Rambutmu membasahi pundakku!" Teriaknya.
"Aku sudah mengurus Cherry dan juga Gilver selama kau pergi, sekaligus membersihkan kandang mereka."
"..............."
...◇• •◇...
"Jadi... apa yang kau ingin aku lakukan?" Tanya Lazel yang menghentikan pergerakkannya dan membiarkan Hyunjae menenggelamkan wajahnya di pundaknya.
"Kau harum sekali. Aromamu sama sekali tidak hilang semenjak kau pergi dari rumah. Kupikir aku akan mencium aroma lain." Ucap Hyunjae.
"Huft... kau pikir aku wanita liar yang terus bermain dengan para pria? Bahkan menyentuh mereka saja aku enggan." Batinnya.
Mereka terus berdiri semenjak dirinya kembali, dan kedua kakinya begitu lelah.
Tangan kanannya mengelus punggung besar itu, "bereskan dirimu, aku akan memanaskan makanan yang kubawa." Ujarnya.
"Hm? Kau membawa makanan?"
Lazel merasa jika mood Hyunjae seketika kembali, "ya, awalnya itu untuk Ian. Tapi karena melihat keadaanmu yang begitu memprihatinkan mau tak mau makanan itu menjadi milikmu."
"Tapi aku lebih senang seperti ini."
"Haah~ di Musim Dingin seperti ini, bukanlah hal yang baik untuk membiarkan tubuhmu terus terbuka," jelasnya. "Apalagi dengan rambutmu yang masih terlihat sangat basah." Sambungnya.
"Baiklah." Pria itu langsung melepaskan dekapannya dari Lazel dan berpaling ke belakang.
"Whoaa~ dia langsung menurut," batinnya sangat terpukau. "Baiklah kalau begitu, keringkan rambutmu dan kenakan pakaianmu lalu turun ke bawah."
Setelah meyakinkan Hyunjae, Lazel memutuskan untuk meninggalkan kamar dan juga Hyunjae.
Selepas kepergian Lazel dari sana Hyunjae belum juga kembali berpaling, karena saat ini wajahnya sedang tak terkendali.
__ADS_1
Tangannya memegang dadanya sendiri, "m-memangnya apa yang salah?"
...◇• •◇...
Jika hanya memanaskan, siapapun pasti bisa melakukannya. Karena tidak memiliki keahlian memasak, ia sering memesan makanan, dan saat kembali ke rumah, dia juga membawa makanan dari sana.
Rambut perak itu tergerai panjang dengan beberapa ikatan yang membuat rambutnya terlihat cantik.
Tidak memerlukan waktu yang lama untuk memanaskan makanan.
Wanita itu berpaling dan mencunci tangannya, "hm? Mana pria itu?" Sepertinya ia belum melihat kehadiran Hyunjae.
"Jangan bilang jika dia masih melamun." Ucapnya sambil mengepalkan tangan.
Karena tidak melihat kehadiran Hyunjae, mau tak mau Lazel harus kembali ke atas dan memastikan apa yang terjadi pada pria berambut hitam itu.
...◇• •◇...
Cklek!
"Hyunaje! Aku sudah-" ucapannya terhenti saat membuka pintu kamar. "..............." ia memperhatikan sesuatu jika seseorang tengah terbaring di atas ranjang.
Ia melangkahkan kakinya ke sisi ranjang dan melihat sosok tubuh kekar itu tengah teridur tanpa busana atas.
"Hah?? Kupikir dia mendengarkan ucapanku." Ujar Lazel dengan kesal.
Pria itu teridur dengan tubuh telungkup serta selimut tebal yang menutupi bagian bawahnya. Kedua tangannya yang memeluk bantal itu terlihat berotot dan juga besar, belum lagi punggung kekar yang dimilikinya.
Rambut hitamnya sebagian tersingkir dan memperlihatkan kedua matanya yang terpejam.
Lazel mendaratkan bokongnya di sisi ranjang itu lalu melipat kedua tangannya di depan dada, "ck! Memangnya apa yang membuatmu begitu lelah? Hanya mengurus dua hewan itu apakah membuat tenagamu terkuras seperti ini?"
"Bahkan aku yang membersihkan dan juga mencunci tidak pernah terkapar seperti orang mati." Sindirnya.
Setiap membersihkan rumah atau mencunci, Ian dan Hyunjae tidak pernah membantu, yang mereka lakukan hanyalah menambah beban Lazel yang hampir menua karena amarah.
Tetapi... pada dasarnya wajah yang dimiliki Lazel seperti gadis berumur belasan tahun. Itu karena wajah Lena dan Gion yang sama sekali tidak berubah seiring bertambahnya usia.
Wanita beriris pink itu mengurungkan niatnya untuk membangunkan Hyunjae dan berniat untuk kembali ke bawah serta membiarkan pria itu untuk tidur lebih lama.
"Sepertinya aku melakukan sesuatu yang sia-sia," gumamnya. "!!!!" Saat ingin beranjak dari sana, tangan kirinya tiba-tiba digenggam oleh sebuah tangan yang besar, lalu menariknya ke atas ranjang.
Ia sangat terkejut, bahkan hampir berteriak, tatapannya mengarah ke atas dan melihat wajah Hyunjae dari dekat, "Hyunjae? Kau bangun?" Tanya Lazel yang kini berada di dalam dekapan pria bertubuh besar itu.
"Hm? Ya." Jawabnya sesingkat mungkin.
"Hah? Jawaban macam apa itu?" Pikirnya, "dan... lepaskan aku! Mengapa kau melakukan ini lagi?!" Lazel meronta di dalam pelukan Hyunjae.
Nafas yang menderu begitu hangat dirasakan, bahkan Lazel tahu jika Hyunjae kembali tertidur.
"Tapi mengapa tenaganya sekuat ini?!!" Batinnya amat kesal.
Setelah memikirkan beberapa cara untuk pindah dari sana, akhirnya sebuah ide terlintas di pikirannya, sehingga berniat untuk melakukan sesuatu di luar akal.
Ia menekuk lututnya, lalu-
"Jangan berbuat sesuatu yang aneh, karena aku tidak memakai pengaman apapun." Pria itu kembali bersuara dan menyadari apa yang akan dilakukan oleh Lazel.
"Diam kau bajing*n! Kau pikir ini salah siapa?" Wanita itu semakin kesal dibuatnya, namun seketika ia memikirkan sesuatu dari ucapan Hyunjae barusan, "pengaman? Apa maksudnya?"
Untuk membuat ucapan Hyunjae menajadi jelas, ia berusaha untuk memperhatikan sekitar, dan tanpa di sengaja, di sampingnya sendiri, di sebuah meja, disana terletak kain putih yang sebelumnya dikenakan oleh Hyunjae.
Seketika Lazel menjadi anak penurut yang kembali tenang di dalam dekapan Hyunjae. Sesaat kedua matanya tertuju ke bawah sana dan mulai keringat dingin.
__ADS_1
"..............." tanpa sepengetahuannya, Hyunjae tersenyum tipis saat melihat Lazel yang berhasil ia jinakkan.