
Mobil merah itu baru saja memasuki ruang perbaikan. Entah mengapa melihat kehancuran mobil itu membuatnya kembali berpikir yang tidak tidak, terutama paska kecelakaan Lazel dengan mobil favoritnya.
Hampir semuanya mendapatkan remukan yang luar biasa. Bagian belakang yang terdapat bekas tabrakan yang kuat, sedangkan bagian depan yang hancur karena tabrakan kuatnya pada pembatas tugu dan membuat beberapa batu menjatuhinya.
Saat ini mobil tersebut sangat mengerikan untuk dilihat, dan hebatnya lagi Lazel masih selamat meskipun sedikit sulit untuk mengeluarkannya dari sana.
Setelah kejadian itu, Hyunjae memutuskan untuk tetap berada di sisi Lazel hingga dirinya kembali siuman. Dia juga mulai bertekad untuk tidak akan membiarkan pria bernama Wonhae itu membahwa Lazel nya.
Sebesar apapun rasa suka Lazel pada Wonhae bukan menjadi penghalang bagi Hyunjae yang sudah menghabiskan waktu bertahun-tahun dengan wanita itu. Tapi... bertahun-tahun yang dia gunakan hanya untuk wanita lain dan meninggalkan Lazel sendirian.
"Apa kerusakannya begitu parah?" Tanya Hyunji yang muncul dari belakangnya.
"Ya, seperti itulah." Jawab Hyunjae dengan tatapan yang fokus pada mobil merah tersebut.
Hyunjae dan Hyunji memutuskan untuk membawa mobil Lazel ke sebuah bengkel besar untuk memeriksa mobil tersebut dan mendapatkan perbaikan lagi.
"Bagaimana perasaanmu?" Tanya Hyunji pada Adiknya yang terus memasang wajah suram.
"Aku akan membuat Lazel tetap berada di sisiku."
Hyunji sedikit terkejut dengan jawaban yabg diberikan Hyunjae, "benarkah? Tapi bagaimana jika dia tidak menginginkannya?"
"Aku tidak peduli."
".............."
Sejauh ini banyak perubahan pada Hyunjae meskipun hal itu sangat terlambat baginya. Namun pria itu berusaha untuk tetap tenang dan menunggu Lazel kembali sadar.
...◇• •◇...
Jendela kecil itu memberikan hembusan angin yang lembut, bunga yang berada di dalam vas itu terus terganti di setiap harinya atau semakin bertambah, sehingga meramaikan ruangan tersebut.
Perpaduan langit dengan rambutnya sangat unik, wanita yang ada di hadapannya itu masih memejamkan matanya tanpa memberi tanda untuk terbangun.
Seperti laporan harian sebelumnya, kondisi Lazel tidak berubah dan masih sama seperti pada masa awal. Namun kemungkinan kesadarannya akan tertunda sedikit karena benturan di kepalanya serta rasa syok sebelum mengalami kecelakaan.
Yang membuat Hyunjae masih dalam keadaan tenang adalah, kondisi Lazel yang masih dapat bernapas. Hal itu saja sudah membuatnya bahagia.
Ia sudah meminta pada Ibunya untuk menggunakan ruangan khusus untuk Lazel dan juga dirinya, sehingga ia bisa melakukan apapun di dalam sana layaknya rumah sendiri.
Hyunjae kembali duduk di samping wanita cantik itu, tangannya yang besar mulai menyentuh lembut perut Lazel yang mengingatkannya tentang kerusakan rahim.
"Kau selamat itu sudah lebih dari cukup, setidaknya aku masih ingin bertengkar denganmu." Ujarnya dengan nada yang lembut.
...◇• •◇...
"Kau... Ian bukan?"
"Hm?" Seseorang yang mengajaknya berbicara membuatnya menoleh.
"Kau...?"
"Aku adalah salah satu teman Kakakmu, Vicy." Ujar Vicy dengan memberikan sapaan untuk Ian.
"O-Oh senang bertemu dengamu," Ucap Ian sembari menundukkan tubuhnya sebagai tanda hormat. "Aku ingat bahwa dia adalah salah satu orang yang telah membantu Kak Lazel dan Hyunjae."
"W-Wah... dia sopan sekali." Batin Vicy yang merasa senang dengan tindakan Ian padanya.
Pada akhirnya mereka berjalan beriringan menuju ruangan dimana Lazel dirawat.
Vicy hanya mendengar Ian dari mulut ke mulut. Pria itu dikenal sebagai Adik kandung Lazel, bahkan ciri-ciri mereka sangat sama. Setelah berkali-kali mengunjungi Rumah Sakit, akhirnya ia bisa bertemu langsung dengan pria itu.
Semenjak Kakaknya harus berada di rumah sakit, Ian lebih sering menyempatkan dirinya untuk pergi berkunjung. Ia juga memiliki sedikit firasat bahwa kecelakaan itu disebabkan oleh sesuatu. Meskipun dia merasakan seperti itu, namun ia enggan untuk bertanya dan lebih memilih untuk menunggu Kakaknya.
...◇• •◇...
Suara pintu bergeser terdengar, lalu muncullah Nezra dari balik pintu tersebut.
"Hyunjae, ikut aku. Aku harus melihat lukamu." Ucapnya pelan pada Hyunjae yang sedang duduk di samping Lazel.
"Tapi..."
"Cepat."
"Ck! Ini sudah tidak-"
"Jangan bertingkah seperti anak kecil di hadapan Lazel." Sela Nezra dengan tatapan tajamnya.
"I-Ibu menakutkan jadi aku harus pergi bersamanya." Ujar Hyunjae yang berbicara pada Lazel.
...◇• •◇...
"A-Aw!"
Plak!
__ADS_1
Tangannya baru saja memberi pukulan pada pipi Hyunjae.
"Jangan berpura-pura, aku tidak sebaik Lazel." Ujar Nezra yang mengganti perban Hyunjae dan memberikan olesan obat.
Hyunjae memegang pipinya yang terasa panas dan memberikan tatapan kesal pada Ibunya, "tapi ini benar-benar menyakitkan! Bahkan Lazel tidak pernah menyakitiku." Ujar Hyunjae pada Ibunya yang keras kepala.
"Huh! Untuk apa Lazel berbaik hati pada pria sepertimu." Ejek Ibunya dengan ekspresi jeleknya.
"Apa Ibu saat ini sedang memprovokasiku?"
"Hah?! Jangan menilai buruk Ibumu sendiri!"
"Tapi Ibu yang memulainya duluan!"
"@#&@#&@#&!"
"..............." Hyunji yang tidak jauh dari mereka harus pasrah mendengar keributan di antara Ibunya dan juga Adiknya.
Tapi Hyunji tahu jika Ibunya berusaha untuk mengajak Hyunjae berbicara, karena setelah kejadian yang menimpa Lazel, pria itu selalu terdiam.
"Tunggu dulu, sejak kapan kau memakai dua anting?" Ujar Nezra yang menarik kepala Hyunjae.
"Apa yang Ibu lakukan?!"
Tangannya mencengkram wajah anaknya sendiri tanpa belas kasih, "hei! Bukankah aku sudah melarangmu untuk melubangi daun telingamu?! Mengapa kau melakukannya lagi?!"
"Ini adalah hadiah pemberian Lazel." Ucap Hyunjae dengan pose wajah yang menyombongkan diri.
Nezra menepuk punggung berotot itu dengan pelan, "pilihan Menantuku memang tidak salah." Ujarnya dengan air mata yang berlinang.
"Apa mereka berdua masih waras?" Pikir Hyunji yang menyaksikan adegan itu dengan kedua matanya sendiri."
...◇• •◇...
Seorang Ibu pasti memiliki banyak cara untuk menenangkan anak mereka. Hyunjae yang awalnya terlihat suram kini mulai memberi kecerahan sedikit di wajahnya.
Saat ini yang tersisa hanyalah Hyunjae dan Ian. Sedangkan yang lain harus melakukan pekerjaan untuk menggantikan Lazel sementara.
Tanganya memainkan rambut perak itu, "aku kesepian... mungkin Gilver juga merasakan hal yang sama,"
"Kapan kau terbangun hah? Ibu baru saja memarahiku,"
"Tapi setelah aku memberitahunya mengenai anting yang kau berikan dia langsung terdiam."
...◇• •◇...
Sedangkan disisi lain, sebuah kabut hitam mulai memberinya sebuah jalan. Meskipun terlihat jelas namun samar-samar ia melihat ke belakang bahwa ada begitu banyaknya orang yang berusaha untuk memanggilnya.
Dan di hadapannya hanya ada seseorang dengan wajah yang sangat jelas. Bahkan ia bisa merasakan jika sosok itu berdiri menghadapnya dengan ekspresi tersenyum.
Disaat ia mulai mengejar, sosok itu menjauh, meskipun begitu di wajahnya tetap nampak senyuman indahnya.
Mulutnya yang mulai bergerak tanpa bersuara seakan-akan memberikan sebuah kalimat untuknya.
Lekukan bibirnya semakin terlihat jelas, "tidak... kau tidak boleh ikut."
Bagaikan setruman yang kuat sehingga membuatnya terbangun, "!!!!"
Kedua matanya terbuka dan menemukan langit-langit putih. Dalam jangka waktu yang dekat sangat hebat jika dirinya dapat terbangun begitu cepat.
"????" Meskipun seluruh tubuhnya masih terasa lemas untuk digerakkan, namun ia merasa jika ada seseorang yang menggenggam tangannya dan juga rambutnya.
"Hyun... jae." Ucapnya di dalam hati.
Ia melihat dengan jelas jika pria itu sedang tertidur dalm posisi merebahkan wajahnya pada ranjang yang dia tiduri.
Mengingat kejadian dimana pria itu menghalanginya untuk menyakiti orang lain dengan menggunakan tubuhnya sendiri sebagai penghalang. Saat itu ia hampir berpikir bahwa pria bodoh itu akan mati.
Perlahan ia tersenyum dan mengangkat perlahan tangannya ke atas kepala Hyunjae.
Ia berusaha mengambil posisi miring dan meraih tubuh Hyunjae ke dalam pelukannya.
"!!!!"
"Haaa~ ternyata seperti ini rasanya memeluk pria bertubuh besar." Ucap Lazel yang berhasil mendekatkan wajahnya pada kepala Hyunjae.
"L-Lazel..."
"Jangan bergerak, kau bisa melukaiku."
"..............."
"Bukan hanya menyelamatkanku... bahkan kau menungguku."
Setelah mengambil beberapa menit untuk memeluk pria itu, akhirnya Lazel membuka kedua tangannya dan membiarkan Hyunjae menatapnya.
__ADS_1
"Hiks!"
"K-Kau menangis?"
"Ku pikir kau akan meninggalkanku, bahkan aku tidak tahu harus berkata apa."
"..............." Lazel dapat melihat jelas wajah Hyunjae yang sangat terjaga di setiap malam.
Hyunjae menghapus air matanya, "a-aku akan memanggil Ibu dan menghubungi semua orang."
...◇• •◇...
Bagaikan anak ayam yang menyerbu makanan, semuanya pun berlarian menuju ruangan Lazel saat mereka mendengar kabar wanita itu yang kini sudah siuman.
Akan tetapi, untuk saat ini para perawat beserta Dokter akan memeriksa kondisi Lazel terlebih dahulu.
Dan kemudian...
"Laazeeeeel~" ucap Vicy dan Kara bersamaan. Bahkan mereka berdua harus memperlihatkan air mata.
"Kalian? Aku tidak menyangka jika kalian akan menungguku." Ujar Lazel yang kini dapat mengambil posisi duduk.
"Tentu saja dasar bodoh! Aku hampir tidak bisa berkata-kata saat mendengarmu mengalami kecelakaan!"
"Bahkan aku tidak menyangka jika kau dapat bangun secepat ini..." sahut Vicy yang ada di hadapannya.
"Kau ini sebenarnya mengharapkan apa?"
Vicy dan Kara pun memberikan pelukan pada Lazel dan memberi beberapa kalimat semangat atas apa yang terjadi pada rahimnya.
"Ayo keluar." Ujar Vicy pada Kara yang ingin mengambil posisi duduk di samping Lazel.
"Keluar? Tapi aku masih mau disini." Tuturnya dengan wajah tanpa dosa.
"Ha? Yang lainnya juga mau melihat Lazel."
"T-Tapi..."
Vicy pun harus menggunakan paksaan agar bisa menyeret Kara dari sana.
Karena tidak diperbolehkan beramai-ramai, pada akhirnya merekan harus mengambil giliran.
"Gyuu." Sapa Lazel saat melihat kehadiran pria berambut kuning itu.
"Dalam keadaan apapun aku masih menyukaimu." Ucapnya dengan wajah yang serius.
"Ya aku tahu. Kemarilah."
"????"
Sesuai dengan intruksi dari Lazel, Gyuu pun mendekat dan mengambil posisi duduk di samping Lazel.
"Kau sudah banyak membantuku, terima kasih." Ujarnya dengan tangan yang menempuk kepala Gyuu.
Mendengar kabar Lazel tentu saja membuat semua orang senang. Belum lagi begitu banyak orang yang ingin bertemu dengannya sehingga dirinya sulit bertemu dengan Ian.
...◇• •◇...
"Kakak?"
"Ahh~ ini dia yang ku tunggu."
Ian pun melebarkan senyumannya dan bersiap untuk mendekati Lazel.
"Bisakah kau juga memanggil Hyunjae kesini?"
"B-Baiklah."
Sesuai dengan permintaan Kakaknya, Ian pun memanggil Hyunjae.
Dan kini kedua orang itu berdiri di hadapannya dengan ekspresi bingung.
"Kalian berdua kemari." Ujarnya.
Lazel yang masih tidak bisa melakukan apapun hanya bisa duduk di atas ranjang dengan beberapa selang yang masih menempel di tangannya. Hyunjae dan Ian menundukkan wajah mereka.
Secara perlahan kedua tangannya mulai terangkat dan meraih wajah mereka mendekat ke arahnya.
"Maaf." Lirihnya sambil memberi pelukan kecil pada kedua orang itu.
Mendengar Kakaknya yang berbicara seperti itu membuatnya mulai menangis. Rasa khawatirnya melebihi apapun karena Ian belum siap untuk ditinggal lagi. Sedangkan Hyunjae... pria itu justru merasa bersalah pada keadaan Lazel saat ini.
Lazel membiarkan kedua orang itu untuk bersamanya dan bercerita banyak mengenai hari-hari yang berlalu.
Dan kemudian Lazel langsung menuju pada intinya, "bisakah kalian... memanggil Ibu Nezra kemari?"
__ADS_1