Lost Feeling

Lost Feeling
Such a Good/Bad Night


__ADS_3

Di bawah basemen yang cukup gelap dan tidak begitu ramai dengan orang-orang.


Sudah beberapa menit yang lalu, mobil berwarna hitam dengan plat asing memundurkan kendaraannya. Kedua tangannya memutar stir mobil dengan baik dan mengambil posisi tempat parkir yang tepat dan pas.


Kemejanya sudah terbuka sebagian tepat di dadanya. Sebelum memasuki lobi, keduanya harus bergantian lalu masuk ke dalam kamar yang sudah tersedia.


Nuansa krim mewarnai lorong-lorong kamar.


Tindik yang bergantung di daun telinga kanannya terus bergoyang mengikuti langkah yang ia berikan. Tangan yang tidak begitu kurus dan cat kuku yang berwarna merah. Pakaian wanita asing itu sangat terbuka dan juga terlihat seksi.


Mendapatkan keuntungan di tengah-tengah keadaan sepi seperti itu. Secara bebas ia menggoda pria yang ada di sampingnya sembari berjalan menuju ruangan mereka yang sudah didapatkan.


Tangannya merangkul lengan besar milik pria itu dan menempelkan lekuk-lekuk tubuh seksinya.


Setelah menulusuri koridor dan juga lift. Akhirnya mereka menemukan ruangan yang tepat.


Tatapan pria itu begitu dingin, namun semua wanita tetap akan tergila-gila pada tatapannya yang begitu menggoda. Tidak membutuhkan alasan apapun, malam masih begitu panjang. Tidak akan pernah tahu bagaimana mendapatkan cinta hanya untuk satu malam... karena pria yang wanita itu temui tidak pernah bertahan dengan satu wanita saja.


...◇• •◇...


Di sela-sela kesenangan yang Suaminya berikan pada wanita lain.


Saat ini Istri satu-satunya tengah asik mendengar ocehan dari pria yang ada di sampingnya dalam keadaan menyetir.


Sosok rupawan dengan permata pink itu mungkin memang Istri satu-satunya yang Hyunjae miliki. Namun dia bukanlah wanita satu-satunya yang Hyunjae miliki.


Akan tetapi, apakah ada raut kecewa dalam wajahnya?


Tentu saja tidak. Perempuan berambut perak dengan aura yang luar biasa itu sama sekali tidak peduli tentang apapun selain pada dirinya sendiri dan juga keluarganya.


Tatapannya memang tidak menatap wajahnya atau menatap jalanan dari depan kaca, melainkan berpaling. Tangan kirinya menyanggah jendela sambil menompang wajahnya, dalam posisi seperti itu, meskipun dirinya tidak dapat melihat Egis secara langsung, setidaknya pantulan dari jendela sangat membantu.


"Kau pikir aku adalah Tamu Terhormat dari acara besar yang Tuan Hyunjae adakan? Tidak~ tidak~ aku hanya menemani kenalanku saja~" ujar Egis sambil menggelengkan wajahnya.


"Tapi kenapa kau menghilang begitu saja?!" Kini secara jelas Lazel menatap ke arah Egis dengan wajahnya yang selalu terlihat kesal.


"Haha~ aku tidak begitu bisa menjauh dari kenalanku, karena kami sudah sepakat agar tidak terpisah."


Seketika wajah curiga timbul, "oho~ kenalanmu itu begitu romantis~" goda Lazel yang memberikan wink di salah satu matanya.


Tangannya hampir saja membuat jalur baru, "r-romantis?? Aku pergi bukan dengan seorang wanita kau tahu!"


Tangan kanannya menutupi mulutnya, "oh, maaf." Ucap Lazel yang sama sekali tidak tahu.


"Tapi tetap saja! Kau itu mengambil sepatuku dengan sengaja bukan?!" Bentaknya.


"Hehe~ aku melakukannya karena tidak menyangka akan bertemu denganmu disana."


...◇• •◇...


Awalnya ia berpikir akan kembali menuju rumah menggunakan bus yang ada di halte. Tapi Egis datang dan memberikannya tumpangan. Sebenarnya bukan masalah baginya jika menaiki bus, tapi setelah pemberhentian, sudah pasti bukan tepat di depan gerbang rumahnya, melainkan halte. Lalu kedua kakinya akan kembali berjalan seperti sebelumnya.


"Ngomong-ngomong, kenapa kau sendiri disana? Bukankah kau bersama dengan Direktur?"


"Kau tahu~ dia itu adalah pria yang memiliki kesibukan yang begitu padat," ia menjawabnya dengan mudah, meskipun dirinya sendiri tahu bahwa bukan itulah faktanya. "Pada akhirnya aku memutuskan untuk kembali terlebih dahulu, dan meninggalkannya."


"Bukankah dia bisa mengantarmu terlebih dahulu? Atau menyediakan mobil sekaligus supir pribadi? Atau-"

__ADS_1


"Ini keputusanku," iris pink itu melirik ke arahnya dengan mulut tersenyum. "Aku tidak bisa merepotkan dirinya hanya untuk kepulangan diriku." Keluhnya.


"..............."


Iris cokelatnya itu kembali menatap kaca pengemudi dengan fokus, meskipun apa yang ada di pikirannya begitu kacau balau.


Untuk beberapa saat, keduanya terdiam dan keadaan menjadi canggung, meskipun yang merasakannya hanyalah Egis seorang. Lazel merupakan wanita yang tidak pernah memulai pembicaraan tanpa sesuatu yang penting, jadi selama Egis berkicau bagaikan burung pria itu sendiri yang memulainya terlebih dahulu.


"!!!!" Mungkin nasib baik sedang bersama dirinya, sebuah ide terlintas di pikirannya.


Kini di hadapan mereka ada dua jalan yang berbeda. Jika berbelok maka mereka mengambil jalan ke arah kediaman Lazel berada. Jika mengambil jalan lurus, maka mereka akan menuju kota yang terdapat beberapa distrik.


Dengan santai kakinya menginjakkan gas sehingga melewati belokan tersebut.


Lazel yang mengharapkan waktu istirahat menyambut dirinya, kini usai. Egis berhasil mencari masalah dengannya.


Kini tatapan iblis mulai membuat pria itu merinding, "hei Egis, katakan padaku, mau kemana kau membawaku?" Tanya Lazel yang sudah siap mengepalkan tangannya.


"T-Tenanglah! Aku yakin kau akan menyukainya." Ujar Egis yang berusaha meyakinkan Bosnya.


Untuk beberapa saat dirinya memilih untuk diam dan membiarkan Egis membawa dirinya ke suatu tempat. Pria itu juga sudah berjanji jika Bosnya pasti akan senang.


Sebelumnya mereka sudah meninggalkan kota dan hampir memasuki wilayah kediaman Lazel dan Hyunjae. Namun Egis mempertemukan dirinya pada kota lagi. Jujur saja, ini hampir membuatnya marah.


Mungkin kesabaran yang dia miliki sangat terbatas, "Egis sialan! Sebenarnya kemana tujuanmu?!"


"Tadaaa~" akhirnya Egis membuka suara setelah berdiam diri dan mempercepat mobilnya, meskipun begitu susah mengemudi begitu cepat di daerah yang padat.


Kedua tangannya menempel pada jendela yang ada di sebelah kirinya dan memelototi salah satu kedai yang terletak di pinggir jalan, "t-tempat ini..." sebelumnya wajah yang ia tunjukkan begitu suram dan menakutkan, tapi setelah sampai pada tempat yang dituju, wajahnya seketika bersinar, dan hampir saja meneteskan air liur.


Kedua tangannya terlipat di depan dada, sambil tersenyum sombong, "hm! Hm! Aku cerdik bukan~"


...◇• •◇...


Waktu semakin larut, hingga saat ini rembulan tidak menunjukkan dirinya. Angin malam begitu sejuk, namun penyebab dari angin itu juga beresiko.


Di sebuah hotel yang dekat dengan perusahaan terkenal nomor satu di negara itu. Sepertinya malam itu tidak berjalan mulus seperti yang ia rencanakan.


Terlihat seorang pria tanpa busana atas menduduki sofa yang menghadap ke arah jendela serta pemandangan langit dan juga suasana kota. Ia membelakangi sebuah ranjang yang terdapat seseorang lagi, yang mungkin adalah pasangannya di malam itu.


Otot tulang rusuknya terbentuk dengan sempurna, begitupula perutnya yang tertera kotak-kotak. Sebatang rokok ada di genggaman yang sudah hampir habis.


Sepertinya itu bukanlah hisapan pertama. Tepat di sebuah meja yang ada di sampingnya,  tertera tempat berukuran kecil sudah tertumpuk dengan putung rokok.


Matanya yang menatap kota dan langit secara bergantian membuat dirinya mengingat kembali kejadian beberapa jam yang lalu, dimana dirinya dan Lazel bersama.


"Sebenarnya... waktu itu dia mencari siapa..."


Tentu saja ia menyadarinya, namun dirinya enggan bertanya.


Sangat jelas hanya melihat dari tingkah lakunya dan juga tatapannya yang selalu memperhatikan sekitar dengan teliti.


"Kenalannya?" Hyunjae berpikir semakin keras, "tapi, biasanya dia akan bertanya padaku."


Ia benar-benar mengeluh di sepanjang waktu, "haah~ aku memikirkan sesuatu yang tidak penting." Gumamnya.


...◇• •◇...

__ADS_1


Senyumannya tidak pudar semenjak kedatangannya di kedai itu.


Egis juga berhasil meyakinkan Bosnya, walaupun dirinya sempat keringat dingin atas ucapannya sendiri. Karena dia sangat mengenal kepribadian Bosnya seperti apa.


"Ini untuk kalian~ masing-masing dua porsi."


"Terima kasih!" Ucap Lazel yang melebarkan senyumnya pada Bibi penjual ramen.


Egis berhasil membawa Lazel sebuah tempat dimana mereka pernah menyantap ramen panas di bawah rintikan hujan. Tempat itu juga merupakan tempat favorit mereka, jadi cukup menyenangkan jika bisa menyantap ramen itu bersama dibandingkan sendirian.


Rasa lelah yang awalnya menghantui dirinya sekilas menghilang dan hawa nafsunya terhadap makanan meningkat dengan drastis.


"Hihihi~ aku akan menghabiskan semuanya." Kekeh Lazel.


Kedua iris cokelatnya itu menatap Lazel dengan senang, "syukurlah, jika dia menyukainya." Batinnya.


"Daripada terus menatapku seperti itu, lebih baik segera habiskan ramenmu sebelum dingin." Ujar Lazel yang begitu peka terhadap tindakan Egis.


"Oh~ sebelum itu." Dari awal ia sudah memikirkannya, dan akhirnya rasa khawatirnya memang terjadi.


Pria itu meminta Lazel untuk membelakanginya sementara, dalam mood yang begitu baik, wanita berambut perak itupun menggangguk patuh.


Kedua tangannya meraih kedua rambut Lazel yang berada di depan, lalu ia kaitkan dengan pita kupu-kupu yang ada di belakang kepalanya.


Setelah itu wajahnya tersenyum tulus tanpa memperlihatkannya pada Lazel, "bukankah lebih nyaman seperti ini?" Ujarnya.


Ia terkejut dengan apa yang dilakukan Egis pada dirinya, dirinya merasa lebih baik dibandingkan sebelumnya, "whoaa~ benar, kau sudah membantuku," perlahan ia memperbaiki posisinya sambil menahan rok gaun itu agar tidak terbuka. "Terima kasih~" ucapnya yang begitu tulus.


"!!!!"


"Baiklah! Malam ini aku akan makan dengan puas!"


Rasa ketertarikannya pada ramen lebih dari apapun, sebenarnya hal itu sangat bagus bagi Egis. Karena saat ini wajahnya sama sekali tidak terkendali, sebisa mungkin jika di hadapan Lazel ia akan bertingkah seperti biasa.


Tangan kirinya menutupi sebagian wajahnya yang memerah sambil menatap tangan kirinya, "r-rambutnya lembut sekali." Batinnya.


Rasanya begitu menyenangkan mendapatkan apa yang telah ia berikan. Menyembunyikan rasa senangnya dengan sebuah senyuman, lalu senyumannya itu kembali terbalas dengan hal yang sama, namun terlihat lebih indah.


Pria itu sedikit berpikir mengenai tingkah laku dari Bosnya. Bos yang begitu emosian, namun pengertian. Serta kebahagiaannya yang begitu mudah tercapai. Hanya sesuatu yang begitu sederhana, Lazel dapat membalasnya dengan lebih.


Tetapi... di sebagian perasaan yang senang itu, ada beberapa bagian yang begitu membingungkan, sehingga membuat dirinya bersedih dan tidak bisa menerima situasi yang ia lihat. Kedua matanya hanya bisa melihat tanpa mendengar.


Oleh karena itu... akan lebih baik dirinya menjadi sebuah pohon yang membawa kesenangan bagi seseorang yang terlibat dengan kesedihan.


"!!!!"


"Ada apa?!" Egis terkejut melihat Lazel yang tiba-tiba tersedak saat memakan ramen.


Krak!


"B-Bos?!"


Tangannya menggenggam sumpit yang baru saja ia patahkan dalam sekali genggaman, "s-sial! Harus kuakui, pada saat listrik padam, aku hampir memanggil nama pria keparat itu." Batinnya kesal.


Sedangkan Egis menatap Bosnya dengan merinding.


Lazel membuang sumpitnya lalu mengganti yang baru, "ayolah~ ini hanya sebuah sumpit." Ucapnya santai.

__ADS_1


__ADS_2