
Ada orang yang mengatakan, jika orang pertama yang dicintai akan sangat sulit melepaskan jika dirinya pergi atau kita yang akan pergi meninggalkannya.
Tidak begitu buruk, meskipun itu mitos atau fakta. Namun ada seseorang yang pernah merasakannya.
Merasakan untuk mencintai dan dicintai hanya untuk ditinggalkan untuk selamanya. Sungguh masa yang singkat dan diakhiri dengan takdir yang mengerikan.
Bahkan kata perpisahan pun sama sekali tidak terucap, dan maut mengambil nyawanya begitu saja.
...◇• •◇...
"Yo, Wonhae," sapanya. "Sial! Perjalanan kesini lumayan lama, jalanan begitu licin sehingga aku tidak sampai begitu cepat." Ucapnya kesal.
Ia berlutut di hadapan makam itu lalu meletakkan bunga yang ia beli pada bagian-bagian makam itu.
"Hehe~ aku membelinya," senyumnya. "Lagipula kau menyukainya kan? Haruskah aku membawakan kupu-kupu untukmu?" Kedua iris pinknya begitu cantik dan memukau.
Senyuman yang ada di wajahnya pudar begitu saja, rambut-rambutnya juga mulai terhias dengan butiran salju. Bibir merahnya semakin memerah, serta kulitnya yang berwarna pucat semakin pucat layaknya salju.
"Meskipun sepuluh tahun berlalu... aku masih sulit melupakanmu," tatapannya kembali sendu, namun ia enggan menundukkan wajahnya. "Hihi karena aku masih mencintaimu." Senyumannya kembali terukir namun terlihat menyedihkan.
Ia kembali berdiri dan memberikan tatapan datar dan dingin, "aku tahu kau membenci diriku yang sekarang ini, tapi... aku melakukannya demi kedua orang tuaku, Adikku dan juga dirimu,"
"Meskipun aku tahu kau akan sulit menerimaku kembali, tapi aku tetap mencintaimu, aku sama sekali tidak peduli pendapatmu mengenai diriku yang brengs*k ini."
Mungkin hari semakin sore, dan dirinya mulai merasa semakin kedinginan. Bahkan yang tersisa hanyalah batu nisan, namun ia masih berat untuk melangkah pergi dari sana.
"Tenang saja... aku akan mencari pelakunya, tidak peduli selama apapun itu,"
"Sampai jumpa." Ucapnya dengan dingin yang mengitari dirinya.
...◇• •◇...
Setelah melakukan beberapa hal, akhirnya ia kembali ke rumah, namun pandangannya kini menemukan sesuatu aneh, karena sebuah mobil asing terparkir di sana.
"Mobil? Apakah itu temannya Ian? Ayah? Ibu?" Lazel segera keluar dari mobil, "tidak... mereka tidak akan melakukan apapun tanpa memberitahuku." Ucapnya yakin.
"Selain..."
Sepertinya sangat mudah untuk menebak pemilik mobil asing itu. Dan tidak akan mudah untuk menanggapi atau meladeninya.
Cklek!
"Aku pula-"
"Kau baru kembali?" Seseorang menyela ucapannya, siapa lagi kalau bukan Hyunjae.
Lagi dan lagi, sambutan yang menjengkelkan terjadi.
Lagipula dirinya sudah mengalami masalah ini berkali-kali, jadi tidak perlu mencari masalah atau mulai membicarakan sesuatu secara panjang lebar, "ya." Jawabnya singkat.
"Selamat sore Nona Lazel~"
"????" Lazel mendapatkan sambutan hangat dari seorang wanita yang sempat ia kenal, "sepertinya wanita ini adalah orang yang sama seperti waktu itu." Batin Lazel.
"Ya." Setelah memberikan jawaban yang singkat, ia bergegas ke atas sambil membawa beberapa makanan untuk Cherry dan juga Gilver.
"..............."
...◇• •◇...
Setelah kembali ia langsung mengganti pakaiannya lalu pergi menuju kandang Cherry dan Gilver, namun sebelum dirinya turun, ia menemukan Cherry yang seketika muncul entah dari mana.
"Huh? Cherry, dimana Gilver?" Tanya Lazel pada kucing berbulu orange itu.
Ia memandangi sekitar, siapa tahu Gilver ada di sekitar Cherry, namun sayangnya ia tidak melihatnya.
"Ck! Sebenarnya aku tidak begitu menyukai kucing, tapi entah mengapa Gilver begitu menyukaiku, dan sekarang dia pergi entah kemana." Gerutunya kesal.
Lazel memutuskan untuk mencari Gilver, karena tidak menemui di lantai atas, pada akhirnya ia mencari di bawah, dimana tempat kandangnya berada.
__ADS_1
Saat berada di tengah-tengah tangga ia mendengar erangan kucing, selain Cherry, Gilver juga berada di rumah itu. Wanita beriris perak itu langsung menuruni anak tangga secepatnya.
"Gil-"
"Wahh~ kucing yang lucu."
"..............." ia mendekati sofa dan mendapati seorang wanita yang ia kenal sebagai wanita simpanan Hyunjae sedang bermain bersama kucingnya.
Akan tetapi, kucing berbulu perak itu sepertinya ingin melepaskan diri, namun Manusia itu enggan melakukannya. Bahkan disana ada Hyunjae bersamanya.
"Gilver, kemari." Titahnya.
"Miaw!"
"E-Eh!"
Dengan gesit, kucing itu melepaskan diri dengan paksa lalu berlari ke arah Lazel dan melompat ke arah pundaknya.
"Aku tidak menyangka jika panggilan itu berhasil, padahal aku baru saja mencobanya." Batin Lazel sambil mengelus kepala Gilver yang ada di pundaknya.
Setelah mendapatkan Gilver, ia pun kembali ke atas, namun lagi lagi seseorang mencegahnya.
"Lazel, bisakah kau membiarkan Heul bermain dengan Gilver?" Tanya Hyunjae yang merasa tidak nyaman dengan tindakan Lazel pada wanitanya.
Wanita berambut perak dengan pita merah yang berada di belakang kepalanya itu menoleh dan memberikan tatapan masa bodoh, "kau bertanya seperti itu. Maka jawabanku tidak." Ucapnya dengan tegas.
"Hah? Bagaimana bisa kau menjadi sosok egois seperti itu."
"Hm, memangnya kenapa? Dan jika kau membutuhkannya mengapa kau tidak memanggilnya sendiri?"
"..............."
"Hyunjae, sudahlah, kau tidak perlu berdebat. Aku baik-baik saja." Ujar wanita yang dipanggil dengan sebutan Heul.
"Hm~ pemikiran yang bagus, aku menyukai jalan pikir wanita itu." Setelah mengucapkan beberapa pujian, Lazel pun langsung meninggalkan mereka yang berada di Ruang Tengah.
...◇• •◇...
Saat ini dirinya tengah memberikan makanan untuk kedua bola bulu itu.
Malam baru saja tiba, namun ia merasa sangat lelah.
"Kalian berdua bisa bermain setelah makan, oke." Ucap Lazel lalu meninggalkan Cherry dan Gilver.
Sebelum meninggalkannya, ia menyempatkan diri untuk mengelus tubuh kedua kucingnya.
Di sela-sela rasa senang dua Makhluk itu, Lazel memilih untuk kembali ke kamarnya dan segera tidur. Earphone ia gunakan sebagai pengantar tidur dan juga tidak mendengar suara berisik lainnya.
...◇• •◇...
Sepertinya rasa lelahnya begitu terasa, sinar biru menerobos kamar itu dan memberikan cahaya indah di malam hari.
Tidak ada yang mengganggu dirinya, selain merasakan jika ada sesuatu yang menghimpit perutnya. Mungkin itu salah satu faktor terbangunnya ia di malam hari.
Kedua matanya terbuka begitu saja dan menundukkan kepalanya ke arah perutnya.
"Tangan?" Ia melihat tangan seseorang yang besar dan juga nampak urat-uratnya. "!!!!" Refleks ia menyingkirkan tangan itu darinya sehingga membuatnya berdiri.
Ia berdiri membelakangi cahaya biru itu dan menatap sinis pada pria yang tertidur di hadapannya itu, "sejak kapan dia berada disini?" Pikirnya.
Tidak ada hal yang baik jika terus bersama, Lazel memutuskan untuk pergi meninggalkan kamar itu bersama dengan selimut yang menutupi tubuhnya.
Tap!
Sebuah tangan berhasil menangkapnya. Tapi sayang... hal yang sama tidak akan kembali terjadi.
Dengan paksa ia menarik tangannya kembali meskipun itu terasa sangat sakit. Setelah berhasil melepaskan diri, ia pun bergegas keluar.
"..............." pria itu terbangun saat Lazel meninggalkan ruangan itu. Karena Hyunjae sempat terbangun sebelum Lazel.
__ADS_1
...◇• •◇...
Pagi pun tiba, sosok berambut perak itu baru saja keluar dari kamar milik Ian dan turun ke bawah untuk memesan makanan.
"Mengapa kau meninggalkan kamar?" Tanya Hyunjae yang tiba-tiba berada di sisi tangga, sepertinya ia tengah menunggu kehadiran Lazel.
"Apa tidak ada kalimat sapa di pagi hari?" Ujar wanita itu dengan wajah santainya.
"..............."
Lazel mendapati tatapan Hyunjae yang tidak sedang bercanda, "karena aku tidak ingin bersamamu." Jawaban yang sangat singkat dan jelas.
"Apakah bersamaku begitu buruk?" Kini ia bertanya lagi.
"Ya." Dan Lazel menjawabnya dengan mudah dipahami.
Sepertinya pagi hari ini tidak akan berjalan lancar seperti biasa.
Keduanya pun duduk di Ruang Tengah sambil menunggu pesanan datang. Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya yang mereka tunggu pun tiba.
Makan pagi hanya diiringi dengan gemingan alat makan tanpa bersuara seperti biasa.
Suara nontifikasi di ponselnya pun berdering.
Ia pun mengetik sesuatu di layar tersebut, lalu menyelesaikan makannya dengan cepat.
"Kau mau kemana?" Tanya Hyunjae yang heran pada tingkah laku Lazel.
"Bukan urusanmu." Sergahnya.
"Ah~ kalau tidak salah namanya Egis Bukan?"
"..............." ucapan terakhir itu benar-benar membuatnya berhenti bergerak.
"Haha! Apakah aku benar? Bukankah aku hebat dalam-"
"Tutup mulutmu," sela Lazel dengan kedua alis yang tertekuk, serta tatapannya mengarah pada Hyunjae dengan kesal. "Sudah berapa kali ku katakan padamu, jangan mengatakan apapun jika dirimu tidak mengetahuinya." Ucapnya dengan penuh penekanan.
Sepertinya Lazel mulai terpancing emosi karena ucapan Hyunjae.
Pria berpakaian tebal itu beranjak dari duduknya dan menatap ke arah Lazel, "tidak mengetahuinya? Mengapa tidak? Bukankah kita ini sama?"
"Dasar bajing*n, jangan pernah menyamakan dirimu denganku." Kini amarahnya benar-benar terlihat.
"Memangnya sesuatu yang berbeda darimu itu dapat dinilai dari sisi yang mana?" Tanya Hyunjae dengan tatapan remehnya sambil mendekatkan dirinya pada wanita beriris pink itu.
"..............."
"Tidak menjawabnya? Bukankah aku benar?"
"Aku diam karena tidak ingin beradu mulut denganmu." Ucap Lazel yang berusaha menahan rasa kesalnya.
Sepertinya Hyunjae memang berniat untuk menggali rasa emosi Lazel yang sudah bersusah payah ia tahan, "haha~ kenapa? Apa kau-"
BUAK!
Baru saja sebuah kepalan kuat melayang dan membuat dirinya sedikit terdorong ke atas, serta lantai yang kini mulai terhias dengan tetesan darah.
Meskipun mendapatkannya dari seorang perempuan, namun rasa sakit itu tidak bisa di sepelekan. Bahkan Hyunji meletakkan apresiasinya pada Lazel, sebagai wanita pertama kali memiliki kehebatan dalam bertarung, selain pria.
"Aku bisa menerima jutaan hinaan mu padaku," tangannya itu kembali terkepal. "Tapi aku tidak akan tinggal diam jika kau membawa orang lain dalam masalah ini." Sambungnya dengan wajah penuh amarah.
Untuk pertama kalinya, Lazel mengangkat tangannya pada Hyunjae, pada Suaminya sendiri.
"Kau hebat dalam bertarung, tapi ada satu hal yang patut kau syukuri," Hyunjae meraih sebuah tisu yang ada di atas meja lalu membersihkan darah itu dari mulutnya lalu menatap pada Lazel. "Kau adalah perempuan, jadi aku tidak bisa membalas perbuatanmu."
"Kalau begitu singkirkan mengenai pria atau wanita! Anggap saja diriku ini adalah pria, pria yang sangat kau benci, bahkan tidak ada keraguan bagimu untuk membunuhnya." Sahut Lazel dengan suara lantangnya tanpa merasa gugup sedikit pun.
"..............." kini Hyunjae mulai menyadari, mengapa Hyunji yang memiliki prinsip ketat seperti itu dengan mudahnya memberikan apresiasi pada Lazel.
__ADS_1
Karena wanita itu bukanlah sekedar kuat, apapun yang menjadi pusat emosinya, dia tidak akan memikirkan apapun selain berhasil melampiaskan amarahnya.
l