Lost Feeling

Lost Feeling
Puzzles


__ADS_3

Terbangun di tengah malam sudah menjadi hal biasa baginya jika mengambil istirahat di awal waktu.


Wajah putihnya serta kedua iris matanya mengarah pada jendela yang terus memperhatikan dirinya di tempat yang sama. Kedua bulu matanya yang cukup panjang itu terlihat datar.


"Pelakunya telah tiada... jalan yang kami tempuh pada akhirnya menemukan jalur yang buntu."


Ia telah meletakkan rasa apresiasi pada musuh, meskipun terus bermain di balik latar, namun sebuah niat dan tekad yang besar, mereka berhasil menghilangkan jejak.


Meskipun hanya firasat. Dirinya merasa jika kejadian disaat Wonhae kehilangan nyawanya sama dengan permasalahan saat ini, dimana Hyunjae mulai mendapatkan sambutan maut dari orang yang tidak dikenal.


"Omong kosong..." wajah yang masih terlihat lurus itu mendelikkan atau menurunkan tatapannya dan menemukan sosok pria dengan piyama hitamnnya tengah tertidur menghadap dirinya. "Memangnya siapa dirimu, sehingga aku harus khawatir pada nyawamu,"


"Sebanyak apapun waktu yang kumiliki... sebanyak apapun kesempatanku hidup, aku tidak akan pernah berdiam diri tanpa menemukan seseorang yang telah membunuh Wonhae,"


"Lebih jelasnya... aku sama sekali tidak peduli padamu, mungkin saja dengan pencarian ini, Ayah Adam bisa memecahkan kejadian sepuluh tahun yang  lalu,"


"Jika dia menemukannya... maka urusanku denganmu selesai disini,"


"Orang terdekat...  ya, itu memang benar. Karena disaat ini aku masih membutuhkan uangmu,"


"Tapi tenang saja... aku tidak pernah berniat untuk membenci dirimu."


...◇• •◇...


Perasaan kami hanya saling tumpang tindih. Tidak ada kemajuan ataupun kemunduran. Lagipula masa bodoh dan rasa tak peduli sudah tertanam di dalam benakku.


Jadi... aku tidak pernah peduli pada orang lain.


...◇• •◇...


Adam tetap meneruskan mata pencahariannya. Selama apapun itu, kasusnya pasti bisa didapatkan. Tanpa siapapun yang tahu, salah satu dari mereka mengambil kesempatan dan menggunakan pada orang-orang itu sebagai pijakan baginya.


Lazel Pietra... seorang wanita yang terlahir dengan segala kemirisan dalam hidupnya. Bahkan tidak pernah mendapatkan pengakuan dari keluarga besarnya sendiri. Tidak ada siapapun yang menerimanya selain dirinya sendiri.


Pertemuannya dengan keluarga baru, tidak ada yang spesial dari suasana itu. Jika mereka sudah mengetahui sisi gelap serta drama yang terus terjadi selama sepuluh tahun.


Dalam sekejap... lirikkan mata mereka tidak berbeda dengan apa yang dia  alami.


...◇• •◇...


"Nona... kami akan mengirimkan berkasnya pada Anda satu jam lagi."


"Selama itu? Apa tidak bisa dipercepat?"


"Jika dipercepat, hasilnya mungkin kurang memadai."


"Baiklah... lakukan sesukamu."


Setelah menghabiskan berhari-hari di rumah. Akhirnya Lazel dapat kembali bekerja dan melanjutkan bisnis keluarganya. Sebagai tanda terima kasih, hanya ini yang bisa ia lakukan.


Semua kembali normal. Ruangan Direktur itu kini kembali terisi setelah mengerjakan semuanya di rumah. Setelah mendapatkan izin dari Hyunjae, semuanya nampak berjalan mulus, meskipun  pria tu selalu mengeluhkan hal yang tidak penting.


Dan lagi, hampir dua bulan lebih, ia tidak pernah berkomunikasi dengan Egis. Setelah dicari tahu, ternyata pria humoris itu sedang melakukan perjalanan jauh bersama dengan keluarganya.


Tapi tetap saja, setidaknya manusia pirang itu mengucapkannya dari awal, sehingga tidak membuat Bosnya menunggu.


Meskipun hari-harinya dilalui bersama dengan Hyunjae dan juga beberapa masalah lainnya. Jika Egis datang... pria itu selalu memberikan sesuatu yang berbeda. Jika dikatakan secara terang-terangan. Lazel saat ini sangat merindukan sosok pria itu.


Tangannya yang terus bergerak di hadapan layar laptop. Namun pikirannya kemana-mana, salah satunuya memikirkan pria bernama Egis.


"Hojung akan melakukan pertemuan besar di rumahnya." Ucap Byul.


"Jangan tiba-tiba mengagetkanku seperti itu!" Tukas Lazel yang berusaha menahan detakan jantungnya, "dan sejak kapan kau disini?!"


"Saya tidak meninggalkan ruangan ini Nona, dan sepertinya saya sudah memberitahukannya pada Anda selama lima kali."  Jelasnya.

__ADS_1


"B-Benarkah."


Bahkan Lazel tidak mengetahui jika Byul masih berada di sampingnya, ia juga tidak memerintahkan pada Asistennya untuk pergi,


...◇• •◇...


Menurut penjelasan dari Byul. Bahwa dalam beberapa hari yang datang, Keluarga Hojung akan mengadakan pertemuan besar di rumahnya. Karena mereka adalah saingat hangat Pietra, Lazel sudah menduga jika dirinya akan turut hadir.


"Aku hampir melupakan sosok mereka." Keluhnya yang melemaskan tubuhnya di atas kursi hitam tersebut.


"Ck! Seharusnya ini akan semakin mudah jika Hyunjae tidak berada di dekatku," ucapnya kesal. "Beberapa hari ini, wanita imut itu terus menghubungi diriku, dia sangat mengganggu diriku!" Kini raut wajahnya semakin kesal.


Rasa penasaran Heul yang ditumpahkan pada dirinya begitu serasi dengan apa yang ada di pikirannya. Hyunjae sama sekali tidak pernah keluar malam ataupun bekerja hingga tengah malam. Terlebih lagi... pria yang menganggap dirinya tampan itu selalu menganggu kehidupan Lazel


"Awalnya aku ingin membuat langkah besar dengan melepaskan Hyunjae ke tangan orang lain," seketika wajah putus asanya sangat terlihat. "Entah mengapa dia semakin menempel padaku!" Amuknya.


"Sepuluh tahun akan berganti... di tahun ini, maka semuanya akan menjadi sebelas tahun."


Wanita berjas hitam itu berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati dinding kaca serta memandang keseluruhan sambil berpikir.


Rambut peraknya terpantul bagaikan cermin dengan matahari yang menyorot dirinya. Serta pita kupu-kupu itu selalu terletak di tempat yang sama.


"Ck! Saat ini Keluarga Hojung yang menjadi amarah baruku! Bagaimana bisa mereka mengadakan pertemuan disaat aku sedang bertarung dengan pekerjaan?"


...◇• •◇...


"Hatchuu!"


"Hm? Apa Musim Dingin masih mempengaruhimu?"


"Tidak. Mungkin saja ada yang sedang mengutukku."


Di sebuah tempat yang di kelilingi dengan kolam renang. Dimana keduanya saling berbaring santai di Musim Semi. Apa mereka waras?


Pria yang kini tanpa pakaian atas itu mulai mengambil posisi duduk dan memperlihatkan tubuh besarnya.


"Bagaimana bisa Ayah mengatakan hal itu!" Tutur Putranya dengan kesal, "hei! Musim panas belum tiba! Dari mana kelapa hijau itu muncul?!" Herannya.


"Yaah~ bukankah kau menghilang tanpa memberitahukan padanya terlebih dahulu?" Ucapnya yang semakin terlihat santai.


"Haah~ aku hanya penasaran." Kini kedua tatapannya lurus ke depan.


"Terhadap?"


"Pendapatnya mengenai identitas asliku, serta niat awalku saat bertemu dengannya." Kini yang dia khawatirkan semakin mendekat dengan kenyataan. Kenyataan yang entahlah akan diterima atau tidak.


"Bolehkah aku memberimu jawaban?" Ia menoleh pasa Putranya.


"Hm? Memangnya apa jawaban-"


"Dia akan mengamuk bagai gorila yang kelaparan." Sela Ayahnya dengan seringai yang menjengkelkan iman.


"..............."


...◇• •◇...


Kembali pada situasi yang mulai terlihat serius, dimana kemungkinan buruk akan terjadi. Tapi... selama tujuannya tercapai, bukankah itu yang terpenting dari segalanya? Begitulah dia menggunakan otaknya dalam berpikir.


"Nona, beliau sudah tiba." Byul berdiri di belakang punggung Bosnya yang kini masih berdiri di hadapan dinding kaca. Setelah dirinya mendapatkan izin untuk masuk, disaat itulah ia melaporkan semuanya pada Atasannya.


"................"  wanita itu hanya memberikan punggung tegapnya dengan rambut yang terikat biasa ke belakang.


Rambutnya yang panjang layaknya ekor rubah sudah mencapai pinggulnya. Kuku-kuku yang bercat hitam itu masih tidak mengalami perubahan.


"Persilahkan dia masuk." Ujarnya tanpa menoleh sedikit pun.

__ADS_1


Wanita yang berstatus sebagai Asistennya itu masih berdiri di belakangnya dengan posisi tubuh serta wajah yang formal, sembari menunggu perintah selanjutnya dari Atasannya, "Baik Nona." Angguknya.


...◇• •◇...


Meskipun keduanya hampir bertemu di setiap hari, rasa kecanggungan serta rasa waspada selalu mengintai dirinya. Pertemuan itu... bahkan tidak ada siapapun yang mengetahuinya selain kedua orang itu sendiri.


"Apakah kau masih bisa bertahan di fase seperti ini?"


"Pertanyaan macam apa itu," kekehnya. "Tenang saja... setelah mendapatkan jawabannya, aku akan pergi." Sambungnya dengan santai.


Saat ini mereka melakukan perbincangan yang sama sekali tidak boleh diketahui oleh siapapun. Meskipun yang dia hadapi saat ini adalah dia, Lazel sama sekali tidak pernah menganggap jika masalah yang dia hadapi sangatlah serius. Walaupun di dalam lubuk hatinya, ia begitu bimbang dan terus terang merasa takut jika licinnya jurang akan membuatnya terjatuh sebelum sampai pada tujuan.


Pria itu selalu berwajah dingin. Namun semua orang berpendapat jika pria yang sudah berumur itu memiliki hati yang baik. Kedua alisnya terlihat tertekuk, wajahnya sama sekali tidak membuang dua orang yang dia kenal.


"Kedatanganku hanya mencoba untuk meyakinkanmu." Kini pria berjenggot dan berkumis itu mulai membuka suara terlebih dahulu.


"????"


"Apa kau tidak ingin mencoba untuk menyukainya?"


"..............."


"Perasaanmu sama sekali tidak akan pernah menemukan jalan keluar, jika kau terus bersikeras seperti ini." Jelasnya.


Lazel menanggapinya tanpa jawaban serta pandangan yang masih terlihat datar. Namun seketika, sorot kedua matanya terlihat dingin, "jadi... apa aku harus membiarkan kasus ini terlewat begitu saja? Lalu apa gunanya perjanjian ini terjadi?"


"Bukan seperti itu, aku hanya mencoba untuk membuat dirimu melupakannya, setelah itu cobalah untuk menyukai-"


"Tidak akan pernah dan mustahil untuk terjadi," sela Lazel dengan wajah yang serius. "Aku hanya berjalan sesuai dengan perjanjian, bukan atas kemauan Anda sendiri." Sambungnya yang lebih serius.


Lazel adalah batu, jika dirinya bertemu dengan batu yang lain, maka sifat keras kepalanya akan terus membulat, sehingga sulit untuk memberikan masukan apapun padanya.


Pria yang duduk di hadapan Lazel itu kembali berpikir, "ayo bertaruh."


...◇• •◇...


Pertemuan empat mata yang selalu mereka adakan tidak pernah dilalui tanpa perselisihan. Tapi... untuk terakhir kalinya, atau bahkan hal ini memang adalah tahap akhir dari semuanya. Dengan satu jawaban yang yakin, ia menerima taruhan itu.


Taruhan yang diujarkan tidak terdengar serius, melainkan seperti situasi pada anak kecil pada umumnya.


Tetapi... jika salah satu menang, maka taruhan pun diserahkan.


"Pria tua itu... ucapannya semakin menantang saja," akibat dari pertaruhan yang diucapkan, Lazel merasa jika keduanya tidak akan berhasil atau memang mustahil untuk terjadi. "Apapun yang ada di pikirannya, aku hanya perlu menerima taruhan itu, disaat semuanya selesai, taruhan ini pun sia-sia."


...◇• •◇...


"Ayo taruhan." Ajaknya tiba-tiba.


Alisnya bertaut, "taruhan?"


"Aku akan bertaruh. Jika dia akan mencarimu ke manapun, bahkan jika harus membuat dirinya dalam kondisi skarat sekalipun."


Mendengar taruhan itu membuat Lazel tidak berkutik, "dia... tidak bermain-main dalam taruhan ini," batin Lazel dengan sorot datar di wajahnya.


"Giliranmu."


"Kalau begitu... aku bertaruh pada nasihat yang Anda berikan." Seringainya.


"H-Huh?!" Kejutnya.


"Aku tidak bisa mengikut campurkan orang lain dalam masalah ini, jadi aku mempertaruhkan dengan nilai yang sama. Bukankah dengan ini kita merasa sama-sama untung?"


Pria itu sama sekali tidak memahami apa yang diucapkan atau apa yang sedang ditaruhkan oleh Lazel.


"Bingung? Ayolah~ Anda tahu sendiri bukan, jika aku sangat mencintai uang? Dengan begini untungnya sama bukan?" Lazel melonggarkan sedikit teka-tekinya.

__ADS_1


"K-Kau!"


Mungkin hingga waktunya tiba, kalimat ini akan terus menjadi teka-teki.


__ADS_2