Lost Feeling

Lost Feeling
Go On Vacation


__ADS_3

Di dalam sebuah Villa, terdapat dua manusia yang terus saling mengutuk satu sama lain. Keduanya terus membela diri masing-masing dan menganggap diri mereka sendiri benar.


Akhirnya suara kucing menghentikan pertengkaran mereka.


Sebuah meja yang ingin melayang seketika berhenti disaat Lazel menyadari kucingnya berada di dekatnya, "oh, kau disini." Ucap Lazel yang meraih kucingnya lalu meletakkan benda maut itu.


Hyunjae kembali duduk dan melipat kedaua tangannya, "apa-apaan, kau memelihara Anoa dirumah?"


"Apa matamu rusak?"


Setelah keadaan membaik, akhirnya Hyunjae mengatakan tujuannya dan semua perkataannya itu sesuai dengan yang diucapkan oleh Ibunya.


Setelah mendengar alasan yang sebenarnya, Lazel menjauh dan memeluk kucing itu dengan erat, "menjijikan, apa mereka meminta dirimu untuk pergi liburan denganku?"


"Berhenti bersikap seperti itu!" Teriak Hyunjae yang merasa lebih kesal.


"Mereka ingin pergi ke sebuah desa di Akhir Tahun nanti, jadi kita berdua akan mengurus rumah utama." Jelas Hyunjae.


Sepertinya baru saja Lazel kehilangan harapannya, "terus... apa hubungannya dengan liburanku?" Tatapannya seketika kosong.


"Lebih tepatnya, Ibu tidak ingin mengajak kita, dan membiarkan kita berdua liburan disini sambil menjaga Cherry."


Kedua tangannya mengepal jaket Hyunjae dengan kedua mata yang berkaca-kaca, "tidaaaaaaak! Aku ingin ikut! Aku akan me-"


Tap!


Bagaikan sulap, uang dengan ketebalan bukan main-main tergeletak di atas meja.


Hyunjae menatap Lazel, "sebenarnya aku juga menginginkannya, jadi aku akan mengaturnya."


Tangannya langsung menyambar bagai kilat, "aku akan menghubungi Ibu Nezra agar perjalanan mereka lancar," ucap Lazel yang langsung terhipnotis dengan uang. "Ah! Benar juga! Bukankah Ibu dan A-"


"Oh, aku lupa mengatakannya, Ibu Lena dan Ayah Gion akan ikut bersama mereka.


"..............."


...◇• •◇...


Semenjak Hyunjae mengucapkan kalimat terakhirnya, semuanya terasa hampa dan juga sulit untuk menolak jika hal itu kemauan kedua orang tuanya.


^^^"APUAAA?! IBU DAN AYAH PERGI LIBURAN?!"^^^


Tangan kannya menggenggam jaket Hyunjae yang duduk di sampingnya, "ya, bahkan mereka tidak ingin mengajakku."


^^^"Yahh... kalau begitu aku bisa lebih lama di Jerman."^^^


"Coba saja jika kau berani." Ancamnya.


Saat ini mereka berada di bandara untuk mengantar kepergian keluarganya yang ingin pergi ke sebuah desa sebagai refresing di hari libur.


Kini yang menjadi tokoh menyedihkan adalah Lazel, wanita itu tidak bisa berhenti dari kalimat 'ikut' dan 'kumohon' pada keluarganya.


Pada akhirnya ia melemparkan kekesalannya pada Ian yang berada di Jerman, dan ternyata reaksi anak itu hanya dibagian awal saja.


Pria itu menghembuskan nafasnya, "dasar tidak tahu malu, kau mengadu pada Adikmu sendiri?" Sindir Hyunjae pada Lazel yang sedang menghubungi Ian dan mengadu perihal tindakan orang tua mereka pada dirinya.


Tangan kananya yang mengepal kuat pada jaketnya berubah arah dan menuju pada daging pinggangnya lalu mencubitnya dengan kuat, akibat ulahnya itu, Hyunjae merasa kesakitan lalu membalasnya dengan menggenggam kedua pipi Lazel dengan kesal.


"Huh??" Nezra dan yang lainnya sudah selesai melakukan check in pada barang bawaan mereka lalu kembali dan menemukan kedua anaknya yang sedang menebar keromantisan mereka di tengah-tengah kerumunan.


"Mereka pasti sedang bertengkar." Batin Hyunji.


Nezra pun berlari ke arah dua anaknya sambil tersenyum, "haha~ mesra-mesranya di rumah saja disaat kami tidak ada~" ucapnya terang-terangan.


Lena dan Gion menghampiri Putri mereka yang beberapa saat yang lalu terus keras kepala agar dapat ikut dengan mereka.


"Bukankah Hyunjae ada disini, kalian bisa liburan bersama." Ujar Lena sambil mengusap wajah Anaknya.


"Tapi... setiap Natal dan Tahun Baru kalian tidak pernah menghabiskan waktu denganku." Rengek Lazel.


"Tidak pernah? Terus apa yang terjadi di tahuh lalu?"


"I-Itu tidak usah dihitung." Lazel mengalihkan pembicaraan


"Hahaha! Bukankah akan menyenangkan jika tidak ada yang mengganggu kalian?" Ujar Gion yang mengusap pucuk kepala Putrinya.


Nezra begitu senang mendapatkan gadis seperti Lazel. Dirinya begitu perhatian pada kedua orang tua mereka yang akan pergi darinya, meskipun sudah memiliki Rumah Tangga dan Tanggung Jawab yang lain.


"Tidak seperti kedua Putra-"

__ADS_1


"Hei, apa kau tidak mengucapkan apapun pada Ibumu?" Tanya Lazel pada Hyunjae.


"Hm? Tidak ada."


Duak!


Baru saja sebuah tas yang ia pegang menghantam kepala Hyunjae dengan kuat, "dasar anak tidak berguna!"


"Huh? Huh?? Apa salahku?!" Hyunjae menunjuk dirinya sendiri.


"Pfft! Dasar Adik yang bodoh." Ejek Hyunji.


"Apa kau bilang?!"


Nezra akhirnya berpaling pada Lazel.


"Haha~ kami akan pulang membawa hadiah~" ujar Nezra pada Lazel lalu memeluknya dengan erat.


Setelah melakukan beberapa perpisahan sementara, akhirnya pesawat yang mereka pesan pun tiba.


Hyunjae dan Lazel melihat kepergian mereka dari balik kaca yang besar.


"Baiklah, ayo pulang," ujar Hyunjae yang kembali memasang hood jaketnya. "????"  Ia merasa jika Lazel tidak bergerak dari tempatnya.


Pria itu melihat jika raut wajah Lazel tidak seperti biasanya. Kedua irisnya yang seperti berlian itu masih menatap ke atas langit.


"Haaah~ sepertinya aku akan mengurus anak kecil."


Ia melangkahkan kakinya dan mendekat ke arah Lazel lalu meletakkan dagunya di atas kepala Lazel, "apa yang kau khawatirkan hah?"


"Aku ingin ikut mereka." Ujar Lazel yang terdengar sendu.


Hyunjae memang benar, Lazel bersikap seperti bukan dirinya, "ayo pulang." Tangannya mengacak rambut perak itu.


"Hei! Jangan menyentuh kepalaku!" Kini Lazel mulai berkomentar mengenai tindakan Hyunjae padanya.


"Kenapa memangnya?"


"Kepalaku begitu suci dari para lintah, jadi jangan coba-coba untuk melakukannya lagi." Ucapnya dengan kesal.


Hyunjae mengulangi hal yang sama pada rambut Lazel.


Dengan sedikit usaha, akhirnya Hyunjae berhasil memancing Lazel untuk bergerak.


...◇• •◇...


Kedua tangannya baru saja meraih bulu-bulu perak itu ke dalam pelukannya, "ohohoho~ kemarilah sayang~" ujar Lazel pada kucing yang baru beberapa hari ia rawat.


"Oh, ada apa?" Sahut Hyunjae yang sudah berada di dalam mobil.


"Mati saja kau." Tukas Lazel yang menatap sinis ke arah Hyunjae.


Mereka menyempatkan diri untuk mengambil beberapa barang dan juga menjemput kucing tanpa nama tersebut.


Untuk sementara mereka akan tinggal di rumah utama yang jaraknya cukup jauh dari kediaman mereka.


"Ku dengar desanya tidak begitu jauh."


"Ya itu benar. Memangnya kenapa?"


"Apa aku boleh menyu-" tangan Hyunjae langsung menutup mulut Lazel.


"Shh!! Apa kau bisa berhenti merengek?"


"Sialan! Aku tidak bisa disini bersamamu!" Ucapnya kesal dan menepis kasar tangan itu dari mulutnya.


"Memangnya kenapa? Apa yang salah dariku?"


Wanita itu menoleh dan menunjukkan wajah yang trauma, "ya Tuhan... jika kau menanyakan pada seluruh hewan di bumi terutama lintah, mereka pasti tahu alasannya." Ucap Lazel dengan mulut berbisanya.


Terlihat urat-urat kesal Hyunjae mulai terbentuk, "hei, apa kau ingin bertengkar?"


Salju belum juga turun, namun hawa-hawa dingin sudah menusuk. Bahkan banyak orang di luar sana yang sudah menggunakan syal dan juga mantel berlapis-lapis.


"Untung saja ada kucing perak ini dan juga Cherry, kalau tidak... mungkin aku akan sedikit kesepian." Ucapnya dalam hati.


Sebelum hari ini tiba, ia sudah berpikir jika Hyunjae tidak mungkin selalu di rumah. Sedangkan dirinya... ia tidak memiliki siapapun selain keluarganya.


"Egis? Apa dia sibuk? Apa dia menghabiskan waktu dengan keluarganya? Atau dengan..." pikirannya tiba-tiba tersendat. "Tunggu... apa Egis sudah menikah?"

__ADS_1


Hyunjae yang fokus menyetir juga memperhatikan gerak-gerik Lazel yang aneh.


"Sebenarnya apa yang makhluk ini pikirkan?" Pikirnya.


...◇• •◇...


Akhirnya mereka tiba di gerbang utama dan memasuki halaman yang luas. Villa yang lebih besar dibandingkan miliknya dan juga Hyunjae.


Sebelum meninggalkan mobil, Lazel menutupi tubuh kucing itu dengan mantel yang ia kenakan, "ayoo masuk~ disini sangat dingin."


"Hm, ayo." Sahut Hyunjae.


Tatapan maut itu kembali terlihat, "berhentilah seakan-akan kau akrab denganku."


"Huh? Memangnya kau bicara dengan siapa?"


"Tentu saja dengan A-Kucingku."


Pria itu baru saja mendengar satu huruf yang keliru, "apa kau baru saja ingin menyebut Anoa?"


"T-Tentu saja tidak! Dasar bodoh!"


"Benarkah~" Hyunjae semakin mendekatkan wajahnya dan semakin mengejek Lazel.


Duak!


"Ack!" Tangannya memegang perutnya karena mendapat kepalan dari Lazel.


"Berisik!"


...◇• •◇...


"Whoaa berapa kalipun aku memasuki rumah ini selalu terpukau dengan kemewahannya." Ujar Lazel yang mengadahkan kepalanya ke langit-langit.


Kedua tangannya memegang kedua sisi pingganggnya dan tersenyum seolah-olah baru saja mendapatkan pujian dari Lazel, "hm! Tentu saja! Keluarga Pietra memang luar biasa."


"Diam lintah tak tahu diri, kau hanyalah bank jadi tutup mulutmu itu." Ucap Lazel.


Tangannya terkepal kuat, "dasar wanita yang mengesalkan..."


Hari ini adalah hari pertama libur musim dingin, oleh karena itu dalam satu hari penuh mereka tidak melakukan kegiatan di belakang meja dengan tumpukan dokumen-dokumen yang hampir di sama ratakan dengan tumpukan sampah.


"Ngomong-ngomong dimana aku tidur nanti?" Tanya Lazel yang menelusuri setiap tempat.


"Entahlah, pilih sesukamu saja." Sahut Hyunjae yang langsung menyantaikan dirinya di atas sofa dengan kucing perak itu.


Wanita yang berjaket abu-abu dengan celana kain panjang berwarna hitam masih belum menghentikan langkahnya untuk melepaskan rasa penasarannya. Sedangkan pria dengan jaket hitam dengan celana yang senada itu hampir sama gilanya dengan Lazel karena mulai berbicara pada hewan.


"Kau tidur di kamarku saja." Tawar Hyunjae pada Lazel yang terlihat bingung dengan pilihannya.


Ia menoleh, "kamarmu? Apa tidak bau rokok?"


"Hei! Kau pikir sudah berapa lama aku tinggal disini!"


"Kalau kau?" Ia bertanya balik.


"Aku akan tidur di kamar Hyunji." Jawabnya.


"Hm~ baiklah."


Sebelum memasuki kamarnya, Lazel berjalan mendekati Hyunjae dan meraih kucingnya dari tangan Hyunaje, "aku akan segera menyelamatkanmu dari predator, tenang saja." Ucap Lazel pada kucingnya.


"HEI!"


...◇• •◇...


"A-Aku akan mati ke-kedinginan." Ucap Lazel yang baru menyelesaikan mandinya.


Kedua kakinya bergetar tak karuan karena lupa menyalakan pemanas pada airnya.


Wanita berpakaian tertutup itu tengah duduk di atas sofa mini yang menghadap televisi sembari mengeringkan rambutnya dengan alat pengering.


"Perak? Oh tidak, hm..." ia memperhatikan kucingnya yang sedang bermain di bawahnya. "Kau memiliki warna bulu yang sama dengan rambutku, warna mata abu-abu serta pendiam..."


Ia bersikeras untuk memberikan nama untuk kucingnya, "perak dan abu-abu..."


"Oh! Gliver!"


Ia berdiri di atas sofa itu dan tertawa lepas, "hahahaha! Aku memang cerdas!" Seorang wanita yang memuji dirinya sendiri, yaitu Lazel.

__ADS_1


__ADS_2