
"Aku tahu jika dia menyukai uang, tapi... apa maksudnya?"
Kalimat Lazel yang berhasil membuat dirinya sendiri di ambang kebingungan.
"Tapi... jika aku memenangkan taruhan ini... dia akan mempertimbangkan nasihat yang ku berikan padanya."
Untuk saat ini, permasalahan yang baru saja terjadi akan menjadi tujuan samping setelah Lazel mendapatkan apa yang menjadi keinginannya.
...◇• •◇...
"Pertemuan?"
"Hm, jika mereka adalah saingan dari Perusahaan Pietra. Sudah pasti jika-"
"Hei, aku baru saja mendapatkan undangan dari Keluarga Hojung. Bahwa kita semua akan hadir dalam pertemuan yang akan di adakan dua hari lagi." Ucap Hyunji yang baru saja tiba di ruang tengah.
"H-Hyunji?" Lazel terkejut setelah kedatangan Hyunji serta membacakan surat penting secara langsung.
"Hm? Lazel? Kau disini." Ujarnya sambil mencari tempat kosong.
"Selamat kau berumur panjang." Sahut Hyunjae pada Kakaknya yang mengambil tempat di sampingnya.
"Kau disini juga?"
"Ekspresi macam apa itu."
Sebelumnya, saat Lazel masih berada di kantor, ia memutuskan untuk menghubungi Hyunjae mengenai Keluarga Hojung. Oleh karena itu Hyunjae memutuskan untuk membicarakannya di Rumah Utama saja.
"Menurutmu? Apa kau akan hadir Lazel?" Tanya Nezra yang menatap Lazel dari dekat.
"Tentu saja, aku sangat penasaran dengan mereka. Alasan lainnya adalah karena aku hampir melupakan Kepala Keluarga mereka." Jelasnya.
"Hm... kalau begitu aku juga akan ikut." Sahut Hyunjae yang mengangkat tangan kanannya.
"Bukankah kau ada pertemuan malam ini?" Tanya Lazel dengan raut wajah bingung.
"Tidak mungkin aku membiarkanmu melihat Putra mereka! Itu akan merusak pandanganmu!" Kini Hyunaje terlihat agresif dibandingkan sebelumnya.
"Hei, jangan menilai orang sembarangan." Ujar Lazel pada pria yang duduk di hadapannya.
"Itu fakta! Dia adalah pria yang arogan! Berwajah dua!" Ucapanya dengan lantang. Ia berusaha meyakinkan Lazel bahwa pria yang mereka bahas bukanlah sosok yang baik.
"Jangan mengatakan itu! Padahal cibiranmu tidak ada bedanya sama sekali dengan sifatmu!" Tuturnya dalam hati, "hah? Aku tidak peduli, rasa penasaranku sudah meluap." Ucapnya yang berusaha menahan amarah.
"..............." Hyunji hanya memperhatikan dan menyimak kedua pasangan Suami Istri tersebut.
"Hm~ hm~" sedangkan Nezra nampak menikmatinya dengan wajah yang tersenyum ceria.
...◇• •◇...
Di dalam sebuah kendaraan yang kini sedang melaju dalam kecepatan sedang. Setelah membuat keputusan bersama, akhirnya mereka semua akan pergi menuju pertemuan itu.
Pietra yang kini sebagai marga terhormat bukan berarti berdiri tanpa saiangan. Namun saingan mereka tidak begitu berbahaya, meskipun memiliki anggota keluarga yang sedikit, mereka mampu untuk bersaing dan saling menjulurkan lidah satu sama lain.
"Apa yang kau pikirkan?"
"Bisakah kau memberitahu pada Ja Heul untuk tidak terus menerorku?"
"Dia masih menghubungimu?"
"Ya, dan semua ini karena dirimu. Jika kalian memiliki masalah selesaikan sendiri dan jangan ikut campurkan diriku pada permasalahan kalian,"
"Lagipula wanita itu cukup imut dan juga mengesalkan," Lazel mencoba untuk sabar atas tindakan Heul yang selalu membuat dirinya menghela nafas begitu panjang. "Ku harap jika dirinya tidak mencoba untuk mencari tahu mengenai diriku."
"Memangnya apa yang terjadi jika Heul mencari tahu tentangmu?" Tanya Hyunjae yang fokus pada jalanan.
"Akan kubuat dirinya tidak bisa memikirkan apapun tentang diriku. Jujur saja, ini sangat menjengkelkan."
"Kau ini memang wanita yang sadis." Batinnya.
Tangan kanannya yang menyanggah pada jendela mobil yang tertutup dan menompah pipinya, "taruhan... kira-kira siapa yang akan menang."
Selain mencari sebab akibat dari kematian Wonhae, dan juga mengenai penyerangan brutal pada Hyunjae. Disisi lainnya taruhan pun tercipta.
Yang ada di pikirannya saat ini hanya melakukan apa yang bisa dilakukan. Dan terus melangkah maju.
__ADS_1
...◇• •◇...
Sepertinya kesabaran yang ia coba tahan akhirnya keluar, "ck! Bisakah kau kembali ke rumahmu sendiri?!" Bentaknnnya pada Hyunjae.
Pria berjas hitam itu berdiri di belakang Lazel, "tidak, aku-"
"Memangnya apa yang kau inginkan sehingga terus tinggal denganku?"
"Tidak ada, hanya saja-"
"Segera urus Heul sebelum aku yang mengurusnya." Sela Lazel yang langsung naik ke atas.
"..............." pria itu tidak bisa mengatakan apapun selain menatap punggung wanita itu yang semakin jauh dengan dirinya. "Dia terlihat berbeda." Gumamnya.
...◇• •◇...
Tangannya terus menyumbat kedua rongga hidungnya. Di atas meja yang terletak di sampingnya di penuhi dengan tisu dengan bercak-bercak merah.
"Sial! Mengapa ini terus terjadi?" Ujarnya yang kini sedang merebahkan tubuhnya di atas sofa mini sambil mengadahkan kepalanya ke atas.
Saat dirinya mulai berganti di kamar, tanpa sadar jika kedua hidungnya kembali mengeluarkan darah atau mimisan sehingga mengotori kemeja yang ia kenakan.
Cklek!
"Lazel, apa kau melihat ka-" Hyunjae menjatuhkan ponselnya dan membulatkan kedua matanya. "A-Apa yang terjadi padamu?!" Kedua kakinya langsung berjalan mendekati wanita yang kini masih mengenakan kemeja putihnya.
"Mimisan," jawabnya singkat. "Awalnya aku ingin menyembunyikan hal ini darinya." Ucapnya dalam hati.
"Kemarilah, aku akan-"
"Tidak tidak. Kau belum melepas pakaianmu, bisa saja bercaknya akan mengenai kemeja yang kau kenakan." Sela Lazel yang merasa sakit di kepalanya.
"Baiklah, kalau begini bisa bukan?" Tanya Hyunjae yang dalam beberapa saat terdiam.
"Huh? Apa yang-KAU LAKUKAN?!" Seketika tubuhnya berdiri dari tempat duduk itu dan menatap Hyunjae dengan rasa tak percaya apa yang dilakukan pria itu.
"Kenapa kau menjauh?" Ia bertanya kembali dengan raut heran di wajahnya.
Kedua tangannya terkepal, "apa kau tidak waras?! Bagaimana bisa kau langsung melepas pakaianmu begitu saja!" Di tengah-tengah teriakannya ia tak menyadari jika kedua rongga hidungnya kembali mengeluarkan darah.
"Aku tahu kau terkesipu dengan tubuhku, tapi untuk saat ini hentikan dulu pendarahannya." Tukas Hyunjae dengan tangan kiri yang terletak pada pinggangnya serta tangan kanan yang mengusap rambutnya.
"Kemarilah." Ujar Hyunjae dengan celana panjang yang masih ia kenakan.
"Tidak, aku bisa melakukannya sendiri," tolaknya. "Siapa juga yang mau menyerahkan diri pada penjahat!" Yang Lazel lihat saat ini adalah seorang penjahat yang ingin menangkap dirinya hidup-hidup.
Saat ini Hyunjae telah melepaskan kemeja putihnya karena alasan Lazel sebelumnya. Dan kini tubuhnya itu sedang berdiri tegap dengan kedua lengan besarnya dan juga otot perutnya yang terlihat jelas.
Rambut hitamnya masih terlihat rapi, namun meskipun tidak hal itu tidak membuat wajahnya terlihat buruk. Kedua matanya memberikan sorot tenang dan memiliki iris abu-abu, dan ada saatnya kedua tatapannya itu mendadak sipit.
"Apa aku harus menangkapmu?" Tanya Hyunjae yang menghamburkan lamunan Lazel.
"I-Itu dia! Tatapan sipitnya membuat perasaanku tidak enak!" teriaknya dalam hati. "A-Aku bisa melakukannya sendiri." Ucapnya dengan keteguhan hati.
"Ck! Sepertinya tidak ada cara lain." Tukasnya.
"Huh??"
Pria bertindik itu meraih ikat pinggangnya lalu melepaskan bagian depannya secara perlahan.
"GYAAAAHHHHH!!!"
...◇• •◇...
"..............."
Akhirnya kesunyian pun tiba. Dimana kedaiaman beserta di dalamnya.
Saat ini Hyunjae melakukan hal yang sama lagi, yaitu mendudukan Lazel di atas pangkuannya. Tangan kirinya menahan kepala Lazel yang mengadah ke atas, sedangkan tangan yang lain terus mengusap darah yang masih mengalir di kedua rongga tersebut.
"Jika dalam kondisi seperti ini, kau seperti habis memikirkan hal yang mesum saat melihat tubuhku." Ucapnya dengan jujur.
"Apa kau ingin aku menamparmu?" Ancam Lazel.
"Bercandaa~" sergahnya. "Lagipula kau tidak mungkin merasakan hal seperti itu." Batinnya.
__ADS_1
Di atas ranjang yang terlihat rapi, Hyunjae mendudukkan dirinya di pinggir ranjang tersebut. Saat ini wajah mereka sama-sama saling mendekat namun tidak saling memperhatikan.
"Apa kepalamu sakit?"
"Tidak."
"Kau serius?"
"Aku tidak ingin mengulanginya lagi."
Setelah beberapa waktu kemudian, Lazel merasa jika kedua hidungnya sudah tidak mengeluarkan darah lagi.
Tangan kirinya meraih pundak pria itu, "Hyunjae, kurasa ini sudah membaik." Ujarnya yang mencoba memperbaiki posisi kepalanya.
"Benarkah?" Ia perlahan memperbaiki posisi Lazel seperti semula, "..............." ia melihat sekilas jika dahi Lazel sedikit tertekuk seperti menahan sakit.
"Haah~ sepertinya kau bisa keluar sekarang." Ujarnya yang kembali berdiri.
"Lazel..."
"????"
"Ayo ke rumah sakit."
"Untuk?"
"Memeriksa keadaanmu."
"Tidak."
"Tapi-"
"Yang berhak mengetahui diriku sakit hanya aku seorang." Selanya.
"..............."
...◇• •◇...
Kedua kakinya mulai menuruni anak tangga sambil membawa Gilver di pelukannya. Belakangan ini dirinya selalu mimisan tanpa sebab apapun. Hyunjae yang mencoba membawa dirinya untuk pergi ke Rumah Sakit pun mendapat tolakan dari wanita itu.
"Hei, mengapa begitu panas disini." Tanya Lazel pada dirinya sendiri.
"Entahlah... kurasa pendinginnya rusak." Sahut Hyunjae yang sudah terlebih dahulu tiba di Ruang Tengah.
"Hah?! Bukankah sebentar lagi Musim Panas akan tiba?!" Ucapnya yang nampak depresi.
Wanita berkaos hitam itu mempercepat langkahnya dan melepaskan Gilver dari tangannya.
"Bagimana bisa pe-" ucapannya terhenti saat menemukan Hyunjae dalam keadaan yang sama. "MENGAPA KAU TIDAK MEMAKAI PAKAIANMU?!" Kejutnya.
"Hah~ bukankah panas? Aku tidak bisa mengenakan pakaian di tengah-tengah bencana." Jawabnya dengan sedikit lemas.
Saat ini Hyunjae mulai bermain dengan Gilver yang baru saja terbebas dari kurungannya. Lazel yang melihatnya sedikit merinding, keringat dan bulu menjadi satu.
"Ck! Aku akan memanggil petugas." Ujar Lazel yang bergegas menjauh dari Hyunjae.
Pria berwajah lesu itu menolehkan wajahnya ke arah jendela, dimana Lazel tengah mendinginkan tubuhnya melalui angin sepoi-sepoi yang berhembus lewat.
...◇• •◇...
"Bagaimana?"
"Mereka sudah ku hubungi," jawab Lazel yang mulai kembali dan merebahkan tubuhnya di atas sofa. "Mungkin... sekitar setengah jam mereka akan tiba."
"Tidak... tidak bisa... aku tidak sanggup dengan rasa panas ini." Ucapnya yang seperti orang yang hampir mati dehidrasi.
Ia memperhatikan manusia setengah telanjang itu dengan tatapan mirisnya, "Manusia ini mengesalkan sekali, lagipula hari ini memang panas, tapi... dasar norak." Batinnya.
Musim Semi tidak memiliki waktu panjang seperti musim lainnya. Karena musim ini hanya menumbuhkan bunga-bunga dan juga tumbuhan yang mengering atau berguguran saat menjelang Musim Dingin.
Dan musibah yang menimpa Hyunjae saat ini hampir menyamai dengan musim panas.
Biasanya yang lebih depresi atau lebih tertekan dengan hawa panas adalah Lazel, namun saat ini Hyunjae yang bahkan sudah membuka pakaian atasnya terus mengeluh karena panas.
Tubuhnya yang kekar itu sama sekali tak berdaya, Gilver yang biasa selalu dekat dengannya kini pergi ke teras untuk menacari udara segar.
__ADS_1
Pikirannya yang buntu, seketika mendapatkan sebuah ide yang membuat otaknya mendingin.
"Lazel, ayo berenang." Ajaknya pada wanita berambut perak tersebut.