
Sebuah tragedi yang tidak pernah di duga. Kecelakaan yang dilakukan dengan sengaja pada saat sebelumnya, itu bukanlah main-main. Selain memiliki resiko yang tinggi, hal itu juga bisa menewaskan orang dalam satu kali tabrakan.
Jika Lazel melewati satu detik saja dalam menyelamatkan Hyunjae, mungkin nyawa pria itu tidak dapat tertolong lagi.
Mobil yang Hyunjae bawa saat mengunjungi Perusahaan Lazel secara keseluruhan remuk dan hancur. Tepat di bagian depan, dimana kursi pengemudi berada, tempat itu secara keseluruhan hancur.
Kali ini... peran Lazel dalam menyelamatkan Hyunjae sangatlah penting.
...◇• •◇...
"Jadi begitu..."
Nezra sudah mendengar semuanya dari Hyunjae sendiri dan mengenai semua tindakan nekat Lazel.
Seperti keputusan yang sebelumnya, untuk saat ini mereka tidak melibatkan Kepolisian, ada kemungkinan besar jika Polisi tidak berkutik saat melakukan investigasi. Oleh karena itu Hyunjae menyerahkan masalah ini pada Adam, yaitu Ayahnya sendiri yang berposisi sebagai Ketua Mafia Malam.
Sedangkan pada keadaan saat ini. Hyunjae membawa Lazel ke Rumah Sakit milik Ibunya yang tidak cukup jauh dari perusahaan Lazel.
Mendengar kabar buruk seperti itu tentu saja membuat Nezra terkejut. Bahkan Hyunji yang ikut serta tidak dapat mempercayai jika ada seseorang yang berani mencelakai salah satu anggota keluarganya.
Akan tetapi... semua kekacauan besar itu berhasil di hentikan oleh Lazel sendiri, meskipun di seluruh tubuhnya terdapat luka dan juga memar.
"Dokter Nezra, ini." Seorang pria dengan kemeja putih yang sama dengannya mendatangi mereka sambil menyodorkan beberapa lembaran Rontgen dari hasil kamera X-Ray.
"Ok, terima kasih." Nezra meraih lembaran tersebut dan menganalisanya sendiri.
Kedua alisnya tertekuk setelah mengetahui hasil dari pemeriksaan tulang tersebut, "oh! Tulang pergelangan kaki bagian kanannya retak." Ucap Nezra langsung.
"Ha?!"
"Ck! Diamlah kalian. Ini rumah sakit, bukan rumah kalian," sahut Nezra yang menyerahkan lembaran Rontgen pada Hyunjae. "Tidak perlu dipertanyakan lagi. Lazel bukan hanya menendang manusia, namun kakinya juga mengenai bagian mobil, tentu saja hal itu akan membuat kakinya terluka." Jelas Nezra.
Saat ini mereka berada di depan sebuah ruangan dimana di dalam ruangan itu terdapat Lazel yang sedang melakukan pemeriksaan tulang pada seluruh bagian tubuhnya. Alhasil, yang mereka dapatkan adalah keretakan tulang di pergelangan kakinya.
"Saat itu... Lazel benar-benar tidak memperdulikan dirinya,"ujar Hyunjae yang nampak sedikit frustasi. "Bahkan saat itu aku tidak menyadari apapun, Lazel berlari lalu berteriak padaku untuk memegang tangannya,"
"Setelah itu... hanya dalam satu detik sebuah mobil asing yang mungkin memiliki berat dua kali lipat menabrak mobil yang ku kendarai dengan kecepatan tinggi."
Nezra dan Hyunji tidak bisa mengatakan apapun. Mendengar tentang usaha Lazel untuk menyelamatkan Hyunjae benar-benar diluar pemikiran. Bahkan wanita itu sama sekali tidak memberi kelonggaran pada mangsanya.
Nezra menundukan wajahnya dan melirikkan kedua pandangannya pada kedua Putranya secara bergantian, "kupikir Lazel... dan juga Adam sudah memberitahu hal lainnya pada mereka berdua." Batinnya.
...◇• •◇...
Cklek!
Seorang wanita berambut perak yang terduduk di atas kursi roda baru saja menunjukkan dirinya dari balik pintu, "oh, kalian ada disini." Ucapnya yang menatap beberapa orang di sekitarnya.
Nezra menghampiri Lazel dan tersenyum padanya, "hahaha~ rasanya aku ingin menamparmu." Ujarnya dengan halus.
"I-Ibu sepertinya kau tidak perlu tersenyum." Sahut Hyunji.
Lazel mendapatkan sambutan dari keluarga dari Suaminya sendiri. Mereka begitu baik dan berharap banyak mengenai kesembuhan atas dirinya.
"Hyunjae? Ada apa denganmu?" Tanya Nezra yang hanya melihat Putra keduanya yang berdiri dan menatap mereka.
"Apa kalian bisa meninggalkanku sebentar?"
"Tidak! Aku akan-"
Hyunji menutup mulut Ibunya dengan rapat lalu tersenyum penuh tanda di wajahnya, "Ibu, ayo pulang. Bukankah orang yang sakit akan lebih cepat pulih jika tidak ada yang mengganggunya?"
"Benarkah? Kenapa aku tidak tahu?" Nezra bertanya balik.
"Y-Yah... mungkin saja Ibu sedikit kelelahan oleh karena itu tidak mengingatnya dengan jelas." Jelas Hyunji sambil mengiring Ibunya untuk pergi dari sana.
__ADS_1
Hyunjae tahu jika Hyunji mencoba untuk membantu dirinya agar bisa berbicara secara leluasa dengan Lazel.
Kini Hyunjae beralih pada wanita yang memakai kursi roda, "Lazel, mengapa kau melakukan ini?"
Kedua tatapannya berbeda, terlihat khawatir namun sedikit mengandung amarah kecil.
"Tentu saja menyelamatkanmu, memangnya apa lagi." Jawab Lazel dengan santai.
"Apa kau tidak pernah berpikir jika tindakanmu itu berbahaya?"
"Aku tidak akan membiarkan orang terdekatku terluka, bukankah aku mengatakan hal itu? Kau mendengarnya juga bukan?"
Pria itu tersenyum dan menutup kedua matanya sendiri, "Terdekat? Bagaimana bisa kau menganggap orang yang kau benci sebagai orang terdekat?" Kekehnya.
"Benci? Apakah aku sekejam itu sehingga harus membencimu? Lagipula kau juga telah membantu diriku."
Pria bertubuh besar itu secara tiba-tiba mendekap tubuh Lazel ke dalam pelukannya.
"Hei, apalagi yang kau lakukan?" Tanya Lazel yang sedikit bingung dengan tindakan aneh Hyunjae.
"Begitu banyaknya wanita yang bersamaku... entah mengapa hanya melihat kedua matamu yang berpaling membuat diriku begitu berat untuk menerimanya." Kalimat yang tidak mungkin atau mustahil untuk keluar dari mulutnya.
"Aneh... orang itu berada di bawah kendali orang lain. Jika saja aku mengetahui orangnya..." tanpa sadar, ia mengepal erat tangannya sendiri sambil memikirkan pelaku yang hampir membuat Hyunjae kehilangan nyawannya.
"Kau baik-baik saja?"
"Tentu saja! Kakiku hanya terluka sedikit dan mereka membuatku harus duduk di tempat seperti ini," tukas Lazel dengan wajah kesalnya. "Lagipula yang ku khawatirkan adalah dirimu. Aku tidak tahu apa yang akan di pikirkan oleh Ibu Nezra jika dia kehilangan dirimu." Sambungnya dengan wajah serius.
"..............." bahkan disaat seperti ini wanita itu masih mengkhawatirkan kondisi dan perasaan orang lain, padahal...
Apa yang Hyunjae lihat saat ini adalah beberapa luka kecil yang menghiasi wajah putihnya. Bibir merah seperti darah itu terlihat sedikit lecet. Beberapa plester juga tertempel di wajahnya.
Mungkin beberapa serpihan kaca atau mobil mengenai wajahnya saat berlari mengejar pelaku.
"Intinya kau baik-baik saja. Itu sudah membuatku sedikit lebih baik." Ujar Lazel dengan nafas lega yang terdengar darinya.
...◇• •◇...
^^^"..............."^^^
"Tenang saja. Dia pasti akan mendengarkan ucapanku." Dengan tatapan yang mengarah pada Lazel.
"Huh??"
Setibanya mereka di rumah, Hyunjae mendapat panggilan dari Ayahnya. Lazel yang ada di hadapannya hanya bisa mendengar suara Hyunjae saat berbicara.
"Apa yang Ayah katakan?" Tanya Lazel yang mengadahkan wajahnya ke atas.
"Dia bertanya mengenai dirimu." Jawab Hyunjae yang kembali mendorong kursi roda tersebut.
"Hm... wajahnya begitu datar dan dingin, bahkan aku tidak bisa menebak apa yang dia pikirkan." Ucap Lazel.
Hyunjae masih berada dalam fase sebelumnya, dimana rasa frustasi masih menyelimuti dirinya.
Lazel yang mengalami semuanya sendiri masih bisa menunjukkan senyumannya dan juga ucapan kasarnya seperti biasa.
...◇• •◇...
"DASAR BAJING*AN! KAU DARI MANA SAJA HAH?! KARENA MU AKU HARUS MENGULANG PEKERJAANKU!"
^^^"M-Maaf Lazel, ponselku tidak bersuara dan aku memiliki urusan mendadak lainnya. Oleh karena itu aku tidak sempat memberitahumu."^^^
"Ck! Kau membuatku kesal." Tukasnya.
Saat ini dirinya berada di ruang tengah sambil melakukan panggilan dengan Egis. Sebelumnya ia tidak bisa menghubungi pria itu, dan sekarang akhirnya panggilan mereka saling terhubung.
__ADS_1
Hyunjae yang duduk di sampingnya harus menutup kedua alat pendengarannya karena teriakan Lazel yang begitu kuat.
"Hah?? Darimana kau tahu?"
Hanya menebaknya saja. Hyunjae mengetahui siapa orang yang sedang Lazel hubungi.
Lazel memutuskan untuk menerima sebuah tindakannya. Oleh karena itu ia mencoba untuk melakukan hal yang sama dengan yang Lazel lakukan.
"Benar juga. Beritahu Byul jika aku akan tetap bekerja meskipun di rumah. Tapi aku tidak ingin mendengar alasan lainnya, disaat aku membutuhkanmu kau harus mematuhinya."
Setelah berbicara begitu panjang dengan nada yang tinggi akhirnya perbicangan mereka usai.
Kini Lazel mulai beralih pada Hyunjae yang duduk di sebelahnya, "Hyunjae, apa aku tidak boleh menggunakan tongkat saja? Menurutku ini sedikit be-"
"Tidak boleh." Selanya dengan memasang wajah serius.
"Hah? Kenapa tidak? Luka ini tidak begitu serius sehingga harus menggunakan kursi roda." Tukas Lazel yang ingin terlepas dari kursi roda.
"Untuk saat ini patuhilah ucapanku. Kakimu hanya retak, jadi tidak membutuhkan waktu lama untuk sembuh." Jelas Hyunjae.
"Hanya?? Apa kau ingin hal yang lebih padaku?" Tanya Lazel dengan urat-urat kesalnya.
"Tentu saja tidak..." keluhnya. Hyunjae beranjak dari tempatnya dan meletakkan telapak tangannya pada kepala Lazel. "Benar juga, aku harus keluar malam ini." Ujarnya.
"Baiklah." Jawab Lazel dengan wajah tenangnya.
"..............." perasaan yang sama pun kembali dia rasakan.
Ia merendahkan tubuhnya sehingga setara dengan wanita berpakaian tebal itu, "Lazel... kau tidak perlu menungguku, kau-"
"Baiklah, aku akan tidur terlebih dahulu." Selanya.
"K-Kau tahu rupanya."
"Tentu saja." Jawab Lazel dengan datar.
...◇• •◇...
Keadaan rumah seketika begitu sepi. Sebelumnya Hyunjae ingin memanggil pelayannya untuk menjaga Lazel, namun wanita itu menolaknya dengan tegas.
Karena untuk sementara ini ia membutuhkan waktu untuk sendiri sambil memikirkan sesuatu.
"Haah~ sepertinya aku sedikit beruntung," tatapannya mengarah pada pergelangan kakinya yang di baluti dengan perban putih. "Aku sama sekali tidak tahu... mengapa aku harus mengorbankan diriku sendiri hanya untuk menyelamatkannya?"
"Jika Hyunjae mati bukankah semua rencanaku akan berjalan lebih cepat?"
"Akan tetapi... aku sama sekali tidak bisa membayangkan hal buruk padanya,"
Dirinya masih mengingat alasannya yang ia ucapkan pada Hyunjae.
"Dibandingkan demi Ibu Nezra. Hal ini seperti demi keinginan pribadku. Meskipun aku belum mengetahui alasannya."
Hyunjae pergi beberapa menit yang lalu dan meninggalkan dirinya sendiri.
Kini hari hampir sore. Salju hampir terkikis secara keseluruhan, namun kejadian sebelumnya ia masih merasakan jika aspal masih sedingin dan selicin es.
Ia meraih ponselnya yang lain, yang berada di saku yang lain.
Kedua tatapannya terlihat datar. Irisnya menatap layar gelap itu dengan perasaan ragu.
Saat jarinya menekan tombol, layar ponsel itupun menyala dan memperlihatkan poto seseorang yang berada di lookscreen.
Kedua matanya mengamati seorang pria yang memakai kaos hitam dengan kalung salib melingkar di lehernya. Orang itu memiliki rambut hitam dengan iris biru menyala.
Senyuman yang ia tunjukkan dari layar ponsel selalu membuat Lazel meneteskan air matanya.
__ADS_1
"Wonhae. Setelah aku menemukan pelakunya... sepertinya di hari itu tidak akan ada keraguan lagi untuk... menemui dirimu."