Lost Feeling

Lost Feeling
Family & Hope


__ADS_3

Tangannya melempar bola karet itu ke sembarang arah, "oi bulat jelek, berkaki pendek dan bermulut bau, tangkap bola ini."


DUAAK!!


Baru saja bola basket mendarat cukup kasar di wajahnya.


...◇• •◇...


Awalnya ia berpikir jika mendapatkan kucing liar yang tidak memiliki keistimewaan seperti kucing-kucing pilihan lainnya.


Namun setelah mendapatkan perawatan yang baik, ternyata kucing itu dipenuhi dengan bulu-bulu yang lebat, belum lagi kedua kakinya yang terlihat pendek, dan tubuh mungil layaknya bola dari Kutub Selatan.


Tetapi dengan bulu peraknya, ia dapat dibedakan dari kucing lain. Terkadang Lazel dan Hyunjae tidak menyadari jika Gilver berada di dalam rambutnya.


Meskipun tidak begitu menyukai kucing, tapi dari sudut pandang Hyunjae, Lazel cukup rajin dan teliti saat memberikan makan pada kedua Tuannya.


"Tuan... Nona..."


"????" Kedua manusia itu menoleh saat beberapa pelayan mendatangi mereka dengan barang-barang bawaan.


Lazel beranjak dari tempatnya dan berjalan ke arah para pelayannya, "kalian mau kemana?"


"Nona Besar menyuruh kami untuk berlibur." Salah satu dari mereka menjelaskan apa yang diperintahkan Nezra.


"Sekarang?!" Tanya Hyunjae yang berdiri di atas sofa.


Lazel melemparkan tatapan tajam pada Hyunjae, "hei! Mengapa kau terlihat terkejut?!"


"Nona tidak memberikan alasan yang jelas, tapi kami beritindak sesuai perintah beliau."


"Tidak perlu! Meskipun Ibu tidak mengatakan alasannya, aku sudah tahu apa yang ada di pikirannya!" Batin Lazel.


Sesuai ucapan sekaligus perintah dari Nezra, seluruh pelayan pun diliburkan, dan sisanya bergantung pada mereka berdua.


"Selamat berlibur." Ujar Lazel yang melipat kedua tangannya di depan dada.


"Terima kasih Nona~ selamat menghabiskan waktu berdua, eh Saya keliru, maksud Saya selamat berlibur juga." Ucap pelayan tersebut dengan senyuman manis di wajahnya.


"Sengaja! Kau pasti mengucapkannya dengan sengaja!" Batin Lazel dengan kesal.


...◇• •◇...


Atas perintah dari Ibu mereka, seluruh pelayan pun dipulangkan.


Wanita itu berdiri di depan jendela kaca yang besar, ekspresinya menatap sekitarnya sedingin es. Wajahnya yang pucat sangat senada dengan warna butiran putih itu.


"Lazel, apa diluar masih turun salju?" Tanya Hyunjae yang baru turun dari lantai atas.


"Tidak juga, jika kau keluar mungkin akan baik-baik saja." Jawabnya dengan detail.


Ia memperbaiki pakaiannya, dan menatap Lazel yang berdiri di hadapan jendela "hei, apa kau mencoba untuk menghusirku?"


Wanita berambut perak itu menoleh dan memberikan sorot tatapannya yang berwarna merah muda, "ya, memangnya ada masalah?"


"Huft... sudah beberapa hari aku tidak membuat diriku santai, jadi aku akan pergi keluar sebentar." Hyunjae lebih memilih untuk tidak melanjutkan ucapan pedas dari Lazel.


"Ok." Tubuhnya kembali berpaling.


"Kusarankan, jangan membawa pria lain masuk ke rumah ini. Aku tidak ingin mengambil resiko atas apa yang kau perbuat."


"Tenang saja... akan kuturuti semua ucapanmu tanpa melakukan sedikit kesalahan."


"..............."


Pria dengan penampilan rapi itu langsung meninggalkan mansion dan pergi entah kemana. Deruman mobil terdengar jika beberapa saat lagi dia akan benar-benar meninggalkan rumah.


Kedua tangannya terturun, dan tatapannya kembali seperti semula, "akhirnya aku mendapatkan ketenangan..."


"Miaaw~"

__ADS_1


"????"


Ia mendapati kedua kucing yang ada di bawahnya lalu mengangkat salah satunya, "kepergian Hyunjae membuat kalian kesepian ya." Ucap Lazel yang memasang raut khawatir pada kucing tersebut.


"Tenang saja..." iris pinknya bertatapan dengan iris kucing berwarna biru laut itu. "Aku merawat kalian demi dia... aku akan mencintai kalian layaknya aku yang pernah mencintai dia... dan aku akan menemani kalian seperti... dirinya yang pernah menemaniku."


...◇• •◇...


Hampir di setiap jam, apapun aktivitas yang dia lakukan terlihat membosankan.


"Biasanya saat dirumah aku selalu menggunakan bra dan juga ****** *****, tapi semenjak diriku harus melakukan banyak hal, aku harus melupakan semuanya,"


"Di musim dingin seperti ini, mustahil juga melakukannya."


Di tengah ruangan yang luas dan juga besar, tanpa siapapun. Mendapatkan kemewahan tanpa seorang di sisinya juga sedikit membosankan.


Ia mengangkat kedua kakinya dan menenggelamkan wajahnya.


Drrt!


"????" Ponselnya bergetar dan membuat wajah cantiknya kembali terangkat.


Tangannya meraih ponsel yang tak jauh dari jangkauannya lalu melihat nama siapa yang tertera disana.


Tatapannya seketika berubah saat mengetahui siapa yang menghubungi dirinya, "apa yang mereka inginkan?"


...◇• •◇...


Mobil mewah bermerek LaFerarri itu baru saja berhenti di depan kediaman yang cukup terbilang mewah. Lalu seseorang keluar dari sana yang memakai pakaian sama saat berada di mansion, hanya saja sebagai tambahan, dirinya memakai jubah untuk menjaga agar tubuhnya tetap hangat.


Saat memasuki kediaman itu, beberapa pelayan menyambut dirinya dan mengantar dirinya ke ruangan biasa yang pernah ia kunjungi sebelumnya.


Kedua kakinya terus melangkah dan menggema di setiap ruangan yang ia lewati, dan pada akhirnya tiba di tempat yang sesuai.


"Ada apa kalian memanggilku?" Tanya Lazel tanpa basa basi.


Kehadiran dirinya membuat seluruh keluarganya berdiri dari posisi mereka dan mulai menyambut kedatangan Lazel.


Wanita berambut perak itu langsung mengisi sofa yang kosong tanpa dipersilahkan, "maaf jika tindakanku yang kurang sopan, tapi memang seperti inilah sikapku." Ucapnya dengan nada datar.


"Tentu saja bukan masalah~" ucapnya lagi.


Kini perempuan yang tidak memiliki ciri-ciri yang sama dengannya mulai mendekatinya, "Adik~ mengapa kau begitu dingin? Setidaknya-"


"Aku memiliki waktu yang sangat padat, sehingga tidak memiliki waktu yang banyak untuk berdebat dengan kalian." Sela Lazel yang menompang wajahnya.


"Kami ingin mengundangmu saat malam Natal dan Tahun Baru bersama dengan seluruh keluargamu." Ucap Pamannya yang terlihat sedikit tua.


Alis wanita itu bertaut, "keluargaku? Bukankah kalian adalah keluargaku?" Ujar Lazel.


"Y-Yah tentu saja, maksud kami undang Keluarga Pietra dan kedua orang tuamu."


"Mereka tidak ada, mereka menghabiskan Natal dan Tahun Baru di sebuah desa," jawabnya dengan kesal. "Aku kesal karena mereka tidak mengizinkanku ikut!"


"Kalau begitu bawa saja Hyunjae dan Ian." Pamannya berusaja meyakinkan Keponakannya.


"Ian? Jadi mereka tahu jika Ian tidak ikut ke desa," pikirnya. "Tidak bisa," jawabnya dengan tegas.


"Aku dan Hyunjae memiliki banyak pekerjaan, sedangkan Ian..." tatapannya berubah menjadi sangat kesal. "Ian akan tetap bersamaku... dia tidak akan kemana-mana." Sambungnya.


"Pekerjaan? Kau bisa me-"


"Selain pekerjaan, aku memang tidak ingin," selanya yang mulai bangkit dari tempat duduknya. "Memangnya apa hak kalian untuk terus memaksa dan meyakinkan kehendakku? Aku bukan pelayan atau bidak kalian seperti dulu. Aku bukanlah kedua orang tuaku yang selalu mengatakan iya iya dan iya pada orang-orang breng*k seperti kalian,"


"Aku tidak peduli pandangan kalian terhadap diriku, karena diriku tetap diriku. Dalam keadaan kaya ataupun miskin, aku tidak pernah menundukkan kepalaku di hadapan kalian."


"..............."


Setelah dirinya mengucapkan kalimat-kalimat yang pedas untuk keluarganya sendiri, ia berencana untuk pergi melangkahkan kakinya dari sana.

__ADS_1


"Apa yang aku lakukan pada kalian... jauh berbeda pada saat kalian memperlakukan kami," tatapannya terlihat menyedihkan, namun disisi lain ia tidak bisa membiaran hal yang sama terjadi kembali." Dalam keadaan apapun... aku masih sanggup untuk menganggap kalian sebagai keluargaku sendiri setelah semua yang kalian lakukan pada kami."


"L-Lazel, maafkan kami." Ujar Bibinya yang melangkah ke depan.


"Terima kasih atas panggilannya, aku harus pergi."


Dengan amarah yang selalu sama, ia berusaha menahannya hingga meninggalkan rumah yang pernah ia jadikan sebagai Tuan.


Terlihat dari raut wajahnya saja, jika dirinya lalai dalam mengatasi emosi, mungkin orang-orang di kediaman itu akan menganggap dirinya sebagai Monster.


...◇• •◇...


Ada sebuah masa lalu yang dialami dari keluarga kecil, termasuk kedua anak yang memiliki wajah kembar. Selain kedua orang tuanya, Sang Kakak bahkan bertindak layaknya bidak yang harus menjilat sepatu Tuannya.


"Ibu, aku sangat kesal dengan Paman, Bibi serta Sepupuku yang lain! Mengapa mereka memperlakukan kita seperti ini? Bukankah kita adalah keluarganya juga?"


"N-Nak, kau tidak boleh membicarakan hal yang buruk mengenai keluargamu sendiri."


"Kalau begitu apa yang mereka lakukan pada kita merupakan tindakan yang benar?"


Putrinya terus berkomentar mengenai penindasan atas keluarganya sendiri terhadap keluarga kecilnya.


"Bahkan Ian menginap disana harus dijadikan pem-"


Plak!


Tanpa belas kasih, Sang Ibu harus memelayangkan tangannya pada Putrinya sendiri, "mengapa kau berkata seperti itu?! Mereka adalah orang yang-"


"Beruntung? Kaya? Dermawan? Yang disukai banyak orang karena penampilan luar mereka bagaikan Dewa?" Bahkan anak perempuan satu-satunya yang mereka miliki mempunyai keteguhan hati sekuat baja sehingga sama sekali tidak mengenal tunduk pada siapapun.


"Aku selalu melakukan apapun demi Ayah, Ibu dan juga Ian... tapi aku tidak pernah melakukannya demi diriku sendiri!"


"Aku tidak akan membuat Ian menangis! Aku tidak akan membuat Ayah dan Ibu diperlakukan layaknya pembantu! Bahkan aku siap mengorbankan masa depanku demi kalian!"


"L-Lazel, apa yang kau katakan Nak..."


"Aku akan giat belajar! Sehingga aku akan berguna bagi orang lain! Kalau perlu aku akan menikah dengan pria kaya! Dan membalas apa yang mereka lakukan pada kalian!"


Ibunya yang berdiri di hadapannya sama sekali tidak menduga semua ucapan yang diutarakan oleh Anaknya sendiri.


Pada suatu hari... Adik laki-lakinya mendapatkan masalah sehingga harus memiliki uang yang cukup untuk menyelesaikan masalah tersebut.


Sebagai orang tua, Ibu dan Ayahnya mencoba untuk mencari pinjaman, dan hal itu terjadi pada keluarganya sendiri.


Dengan lembutnya mereka memberikan apa yang diminta, dengan kasarnya kami diperbuat.


Sang Kakak hanya bisa berdiam diri dan menggenggam sebuah tangkai mawar sehingga membuat tangannya terluka.


Semua hal itu terjadi di sepanjang hidupnya, sehingga dirinya menempuh usia yang cukup dewasa dan dimana dirinya bertemu dengan sosok yang sama sekali tak pernah ia bayangkan.


Ia dapat membagi masalahnya pada orang tersebut, meskipun selalu selalu dan selalu dihantui berbagai macam masalah, namun kesempatan rasa senangnya masih ada.


Akan tetapi... masa-masa itu tidak bertahan lama, pertemuan manis yang mereka lakukan harus berakhir dengan perpisahan yang tragis.


...◇• •◇...


"Lenaa~ apa yang kau lakukan? Ayo kesini."


"Ah~ iya, kalian duluan saja."


"Duluan? Tidak ada kalimat seperti itu."


Lena yang tengah menatap ke arah jendela sambil memikirkan hal-hal yang berlalu seketika buyar karena kedatangan Nezra.


"Apa yang diucapkan Lazel waktu itu benar-benar terjadi..."


"Bahkan aku yang tega menamparnya, dengan keteguhan hati dan juga tekadnya, ia membuat kami bangga dengan pencapaiannya..."


"Yang kuharapkan hanya satu... semoga masa depannya jauh berbeda dengan apa yang dia ucapkan di waktu itu."

__ADS_1


"Haha~ itu tidak mungkin," sejenak ia memperhatikan kententraman di sebuah desa   yang bersalju. "Dia memiliki seorang Suami yang menyayangi dirinya, seperti seseorang yang pernah menyayanginya pada saat itu."


__ADS_2