Lost Feeling

Lost Feeling
Go Visit Ian!


__ADS_3

"H-Hentikaan!"


"Kemari kau cebol!"


"Hah?! Kau pikir aku takut denganmu?!"


"Arghhh!!"


Sepertinya perdebatan mereka akan berlanjut ke jenjang yang lebih serius. Sehingga Hyunjae yang awalnya merasa senang seketika merasa lebih emosi melihat kedua manusia itu yang masih melanjutkan amukan mereka.


Tangan kirinya meraih kerah belakang Kim, serta tangan kanannya meraih kerah belakang Lazel. Keduanya pun terdiam setelah aura Hyunjae yang menjadi suram.


"Bisakah kalian berhenti?"


"B-Baik." Jawab Lazel dan Kim bersamaan.


...◇• •◇...


Langit mulai menggelap, untuk hari ini, Lazel dan Hyunjae akan menghabiskan waktu mereka bersama Ian dan juga kedua temannya.


"Hm?"


Sebelumnya Hyunjae telah menemukan ekspresi yang sama pada sebelumnya. Awalnya ia merasa jika semuanya baik-baik saja, tapi... sepertinya memang ada yang menjanggal.


Ia memperhatikan Ian yang sepertinya selalu memikirkan sesuatu.


"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Hyunjae yang langsung mengambil posisi duduk di samping Ian.


"O-Oh!"


"Ketahuan, padahal aku hanya memanggilmu biasa." Ujar Hyunjae.


"H-Hahaha." Tawanya gugup


"Apa kau mengkhawatirkan kakakmu?"


"Tidak juga..."


"Hm..."


Pria seusia Ian, meskipun menyuruhnya untuk terbuka, tetap saja ia akan terdiam atau akan membuat alasan yang lain. Mereka lebih cenderung memikirkannya sendiri atau memikulnya sendiri. Mungkin setelah menemukan pasangan hidup, dirinya akan membagikan masalahnya pada orang tersebut.


Untuk saat ini Hyunjae tidak akan memaksanya untuk berbicara. Dirinya akan mencoba untuk membuat Ian merasa lebih baik dengan beberapa nasihatnya.


"Lazel sama sekali tidak bisa berhenti untuk memikirkanmu," ucap Hyunjae tiba-tiba. "Aktivitas apapun yang membuatnya sibuk pasti teringat akan dirimu,"


"Dia adalah tipe Kakak yang baik bukan? Sangat jarang memiliki saudara sepertinya."


"Bagaimana dengan Kak Hyunji?" Pria berambut perak itu bertanya balik.


"Hyunji?" Ekspresinya seketika berubah, saat Ian mulai membicarakan saudaranya, "laki-laki itu seperti rubah, terkadang sifatnya yang kekanak-kanakan membuatku jengkel." Sambungnya.


"Hahahaha~"


"Kau khawatir padanya itu wajar, karena dari segala yang kau miliki hanya Lazel yang ada untukmu,"


"Dia berusaha untuk menjadi Ayah, Ibu serta Kakak di waktu yang sama. Meskipun jarak selalu memisahkan kalian."


Bercerita seperti ini membuat hatinya sedikit lega. Sulit untuk mengungkapkan sedikit pilu hati pada Kakaknya. Ia tidak ingin membuat kembarannya itu semakin terbebani. Ia tidak menyangka jika bercerita dengan Hyunjae akan senyaman ini.


"Haah~ syukurlah kau yang menikahi Kakak ku." Ujar Ian yang kini mulai tersenyum.


"Kenapa bisa?"


"Apa kau tahu, saat pertama kali aku mendengar Kak Lazel akan menikah dengan salah satu orang kaya. Itu membuatku kesal, sehingga aku sempat tidak menyukaimu."


"Hah? Mengapa bisa?"


"Aku dan Kak Lazel membenci orang yang selalu berdiri jauh dari kami, dan mereka adalah orang kaya. Setelah melihat kalian, sepertinya tidak semua orang kaya seperti itu."


"W-Wah, pemikiran Adik Kakak yang sangat serasi." Pikirnya.


Kini Ian dapat kembali bercerita dengan baik. Meskipun bertentangan dengan apa yang dia pikirkan. Setidaknya Hyunjae dapat meringankannya dengan cara mendengarkan dan bertanya lebih banyak lagi.


...◇• •◇...


"Apa ini?" Tanya Kim yang tidak sengaja menendang sebuah tas yang isinya belum diketahui.


"Oh, bukalah." Ujar Lazel yang kini masih merebahkan tubuhnya di atas sofa.


Kedua matanya terbelak saat melihat isi dari salah satu tas tersebut, "i-ini!" Bahkan Kim tidak mampu untuk melanjutkan kalimatnya. "I-Ian! Argo! Kemarilah!"


"Hah?" Argo yang sibuk berbincang dengan Lazel menoleh ke arah Kim yang memanggilnya.

__ADS_1


"G-Game rilisan terbaru! D-Dan beberapa figur anime lainnya!" Ujar Kim dengan semangat.


"W-Wah!" Kedua mata Argo begitu silau dengan barang-barang mahal yang mereka lihat.


Ian memasang wajah bingung sambil berpikir, "hm... bukankah tokoh-tokoh ini sangat mirip dengan yang kita suka?"


"Kau benar." Sahut Argo dan anggukan Kim.


"Sebagai tanda terima kasih, aku membelikannya juga untuk kalian berdua." Ujar Lazel yang berdiri di belakang para pria muda itu.


"Lazel membelikannya untuk Argo dan juga Kim?" Hyunjae terkejut saat mengetahui tujuan asli dari Lazel.


Pria berjaket hitam dengan tindik itu berjalan mendekat dan mengamati mereka dari jarak dekat.


"Huaaaa!! Terima kasih Lazel!!" Ucap Kim yang langsung memeluk tubuh tinggi Lazel.


"Yaa~ yaa~ peluklah diriku yang tinggi ini wahai pria kecil." Tangannya menepuk pinggung Kim dengan perlahan.


"Ya! Aku memang cebol! Tidak memiliki sopan santun! Tidak pernah menghormati dirimu!"


"Yaa~ yaa~ aku tahu itu." Ujarnya dengan wajah yang terlihat bangga dengan kemenangan yang ia raih.


"Se-Seketika pria itu merendahkan dirinya." Ucap Ian, Argo dan juga Hyunjae.


...◇• •◇...


"Apa kalian akan datang lagi?"


"Ya, jika kami luang, akan kupastikan untuk kembali lagi." Ujar Hyunjae yang menepuk pucuk kepala Ian.


Mungkin setelah ini Hyunjae lah yang akan lebih dekat dengan Ian dibandingkan dengan Lazel.


Saat ini Lazel sedang berbincang dengan Kim dan juga Ian.


"Kematian orang tua kami... aku masih mengkhawatirkan masalah ini, apalagi pada perasaan Ian."


"..............."


"Sulit untuk memberikan pengawasan pada anak keras kepala sepertinya. Dan mungkin suatu hari nanti, ia akan mengikuti nalurinya sendiri untuk mengambil langkah yang berbahaya,"


"Dan disaat itu tiba, aku tidak bisa bersamanya,"


"Dia mungkin menyembunyikan ribuab rahasia atau kebenaran dariku. Tapi..." Lazel memegang kedua pundak Kim dan juga Argo. "Mungkin yang bisa memarahinya hanya kalian berdua." Ujarnya.


"Ya, kami sangat mengetahui watak Ian yang terkadang sangat mudah menyimpan dendam." Sambung Argo.


"Hiks! Ian memiliki dua teman yang baik, meskipun di salah satu dari kalian memiliki wajah pas-passan dan juga tubuh mungil serta wajah yang cantik." Ujar Lazel yang dibumbui dengan ejekan.


"Apa kau bilang?!" Kini Kim mulai mengeluarkan emosinya.


"S-Sudahlah Kim." Argo yang tidak bisa melawan orang yang lebih tua lebih memilih sabar dan menjalaninya, serta membantu Kim agar tidak terpancing dengan cibiran Lazel.


"Huh? Kau kan memang pendek." Ucap Lazel dengan wajah polosnya.


"Sialan! Dasar Gorila!" Balas Kim dengan emosi yang sama.


"HAH?! APA KAU BILANG?!"


"ITU KALIMATKU! JANGAN MENIRUNYA!"


"MEMANGNYA KENAPA?! TIDAK SUKA?!"


"@#&@#&@#&@#&@#!"


"Haah~ sepertinya mereka mulai berdebat." Keluh Ian.


...◇• •◇...


"Baiklah~ ayo pergi." Ujar Hyunjae yang langsung meraih pinggang Lazel dan menariknya ke arah mobil.


"H-Hah?! Lepaskan aku Hyunjae! Aku akan memberi pelajaran pada bocah kecil itu!"


"Kau pikir aku takut?! Kemari kau dasar gorila!" Balas Kim yang saat ini mendapat dua pertahanan dari Argo dan juga Ian.


Ia berhasil membuat Lazel memasuki mobil tersebut.


"Sampai jumpa lagi~" ujar Hyunjae yang sudah menyalakan mobil tersebut.


Tangannya menepis kasar kepala Hyunjae agar memperlihatkan wajahnya pada Kim, "lihat saja Kim! Aku akan kembali dan membawakanmu boneka yang banyak!" Teriak Lazel yang masih sempat-sempatnya memberikan ejekan pada Kim.


"Kau kekurangan teman? Kalau begitu aku akan membawa gorila lainnya untukmu." Balas Kim.


"Sialaaaaan!-"

__ADS_1


"Sampai jumpa~" sela Hyunjae yang langsung menutup kaca jendela mobil.


"Hei! Jangan tutup jendelanya!"


Akhirnya yang menjadi perpisahan mereka adalah lambaian tangan.


Waktu sesingkat ini, setidaknya ia dapat melihat Kakaknya dalam kondisi baik. Malam baru saja tiba, dan waktu masih belum larut. Oleh karena itu Ian dan dua temannya akan memainkan beberapa game dan juga figur yang menjadi hadiah dari Lazel untuk mereka.


"Oh, aku juga mendapatkan pakaian. Kak Lazel pasti membelikannya untuk kalian juga." Ujar Ian.


"Benarkah?!"


"Whoaa! Keren!"


...◇• •◇...


Wajahnya masih terlihat kesal, hidungnya terus mengedus layaknya banteng yang memiliki tekanan dalam kehidupan batinnya.


Hyunjae mengambil giliran untuk membawa mobil, sedangkan Lazel masih terlihat kesal dengan kalimat terakhir yang diucapkan oleh Kim.


Saat tiba di sebuah jalan raya, Hyunjae mengubah jalur mereka.


Lazel yang menyandarkan wajahnya seketika terbangun, "huh? Mau kemana?" Ia mengarahkan wajahnya pada Hyunjae yang fokus pada jalanan.


"Mall." Jawabnya singkat.


"Untuk?"


"Lihat saja."


"????" Wajahnya pun kembali tenang dan menatap lurus, "yaah~ bukankah Heul akan sakit hati jika mendapatkan acuhan begitu saja dari Hyunjae?" Pikirnya santai.


...◇• •◇...


Basement disana terlihat sedikit gelap dengan beberapa lampu yang terlihat redup. Namun cahaya putih dari lampu mobil menerangi semuanya.


"Hm? Mengapa harus basement?" Tanya Lazel.


"Kau pikir dimana kita akan memarkirkan mobil?" Kedua tangannya masih bergerak sehingga menemukan tempat yang tepat.


"Bukankah kau ingin bertemu dengan Heul?" Ujarnya dengan polos.


Kalimat Lazel membuat mobil itu berhenti mendadak di tempat yang pas.


Ia menatap Lazel dengan lekukan kedua alisnya, "mengapa kau selalu membawa Heul pada setiap masalah?" Tanya Hyunjae dengan kesal.


"Oh, maaf. Kupikir kau akan bertemu dengannya." Ujarnya yang langsung mengucapkan maaf.


"Bagaimana bisa kau berpikir sejauh ini?"


"Pikiranku tidak begitu jauh, hanya saja... keseharianmu sudah terekam jelas di pikiranku."


"!!!!" Kalimat itu membuatnya terbungkam, dan kembali melihat sorot wajah Lazel yang perlahan mendingin.


Sebelum hal itu semakin berlanjut, Hyunjae bergegas turun dari mobil itu dan membuka pintu Lazel lalu menariknya keluar.


Plak!


Lazel memukul tangan Hyunjae hingga terasa pedas, "sakit bodoh! Apa yang kau lakukan?"


"Temani aku berbelanja, memangnya apa lagi?"


"Hah?! Kau bisa melakukannya sendiri."


"Tidak bisa, aku harus menggunakan kedua tanganmu untuk membantu bawaanku." Ujarnya terang-terangan.


"Aku bukan pelayanmu dasar sialan!" Ucapnya geram,  "lebih baik kau panggil Heul untuk membantumu, dibandingkan harus memerintahkan diriku."


Lazel merogoh ponselnya, "kalau perlu, aku bisa menghubungi He-"


Seketika tangannya mendorong tubuh wanita itu hingga menghimpit badan mobil dan memberikan penghalang di kiri dan juga kanannya.


"Bukankah aku bilang... kau harus menemaniku, bukan Heul."


Kini tatapannya terlihat serius dan juga sangat dekat. Lazel sempat memiliki firasat buruk pada tindakan selanjutnya yang ceroboh. Mungkin saja itu akan membuat ia menggali lubangnya sendiri.


"T-Tidak! Aku tidak boleh takut!" Ucapnya dalam hati yang berusaha memperkuat keteguhan hatinya, "jika aku menolak?"


"Kau... menolak?" Ia menyeringai setelah mendengar umpamaan dari Lazel.


Tangan kanan yang menyanggah pada dinding mobil itu beralih pada mulut Lazel dan menutupnya rapat, lalu wajahnya perlahan mendekat sehingga membuat Lazel kehilangan akal sehatnya. Ia memiringkan wajahnya dan mendaratkan sebuah ciuman pada punggung tangannya sendiri.


Dalam posisi seperti itu, sama saja jika Hyunjae ingin memberikan sebuah ciuman pada wanita beriris merah muda itu. Hanya saja... punggung tangan itu mengganggu suasana, sehingga sedikit canggung dan juga membuat jantung terpompa lebih cepat.

__ADS_1


Hyunjae melepaskan ciuman itu dan masih mendekatkan kedua hidung mereka, "mungkin saja... aku akan melakukan hal yang lebih dari ini." Seringainya tajam.


__ADS_2