Lost Feeling

Lost Feeling
Come Back


__ADS_3

"Bagaimana keadaanmu disana?"


^^^"Aku baik! Bagaimana denganmu Kak?"^^^


"Hm, aku baik," jawabnya ragu. "Apa kondisi seperti ini dapat dibilang baik?"  Batinnya.


Lazel dan Ian memiliki beberapa hobi yang sama, keduanya terbiasa dengan bergadang hingga larut malam. Dengan rasa tahunya mengenai kebiasaan Kakaknya, maka Ian langsung menguhubunginya tanpa pikir panjang.


"Aku terkejut Ibu menginzinkanmu pergi kesana," tatapannya berubah. "Kau tidak bertengkar dengan Ibu ataupun Ayah bukan?"


Suara Lazel terdengar datar, dingin dan juga berat, itu menandakan jika dirinya dalam keadaan serius.


^^^"Kami memiliki beberapa perbedaan pendapat, pada akhirnya Ibu dan Ayah mengizinkanku setelah berusaha meyakinkan mereka."^^^


"Haah~ inilah yang membuatku khawatir."


^^^"T-Tenang saja! Aku tidak pernah melakukan apapun yang membuatmu marah."^^^


Satu minggu yang lalu, dirinya mendapatkan kabar jika Ian pergi mengunjungi Jerman untuk perlombaan bela diri. Jujur saja, hal ini membuat dirinya merasa khwatir secara berlebihan, ia tahu jika Ian memiliki kekuatan fisik yang luar biasa, tapi... tetap saja rasa khawatirnya sebagai Kakak tidak bisa ia hindari.


Akan tetapi ada satu hal yang harus dirinya ingat, Ian bukanlah Anak kecil lagi, pria itu di tahun depan akan melepas masa sekolahnya dan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.


Karena Lazel sangat mengetahui bagaimana sosok asli Ian, dan pria itu juga sudah berjanji padanya mengenai satu hal yang tidak harus dia lakukan.


^^^"Apakah kita tidak mengganggu Kak Hyunji?"^^^


"..............." pertanyaan yang cukup membuatnya membisu.


^^^"Kak?"^^^


"Dia sedang tertidur di kamar, tidak mungkin dia bisa mendengar kita." Ucapnya bohong.


^^^"Tidur? Kalau begitu Kakak tidur juga, aku akan bersiap untuk istirahat."^^^


"T-Tapi aku..."


^^^"Selamat malam! Sampai jumpa!"^^^


Sambungan itu terputus begitu saja.


Di atas sofa yang lembut, di dalam ruangan yang gelap dan hanya terlihat cahaya bintang dan juga cahaya bulan. Kedua iris pink itu terlihat sendu, rambut peraknya tergerai panjang dengan sebuah kalung yang menggantung di lehernya.


Ia menghempaskan ponselnya di sampingnya lalu merebahkan tubuhnya dan menatapi ruangan yang sepi dan kosong.


"Sepi..."


...◇• •◇...


"Tidak! Aku tidak menerimanya! Dia... dia masih hidup, dia pasti akan menungguku."


Tangisan yang begitu histeris membasahi wajahnya.


"Ibu... dia masih hidup... aku tidak bisa melepaskannya begitu saja..."


Tangan-tangan yang berusaha menahannya agar menerima takdir yang menimpa mereka.


"Aku... aku tidak bisa hidup tanpa dirimu."


Takdir memang kejam... bahkan takdir rela memisahkan sayap seseorang yang membuat dirinya dapat terbang bebas.


"Lazel?"


"Lazel?"


"Lazel!"


"!!!!"


"A-Ada apa? Mengapa kau masih disini?" Tanya Hyunjae pada Lazel yang ia temui tertidur di atas sofa.


Wanita itu bergegas bangkit dari tidurnya dan menatap seseorang yang berdiri di hadapannya, "H-Hyunjae?" Lirihnya.


"Kau menangis?"

__ADS_1


"Huh?" Tangannya mengusap wajahnya sendiri, bagian sudut kedua matanya mengeluarkan cairan bening, "aku... menangis..."


Tanpa ia sadari, sebuah tangan menggapai wajahnya dan mengusap air matanya.


"!!!!"


Plak!


"M-Maaf..." ujar Lazel yang merasa bersalah.


Tangan kanannya terbentang di hadapan wanita itu, "aku tidak tahu apa yang membuatmu seperti ini... ayo tidur." Ajaknnya.


Meskipun mendapatkan perlakuan kasar darinya, pria itu masih bisa memperlakukannya seperti biasa. Hal seperti ini seperti bukan Hyunjae. Lazel tidak mengetahui apa dibalik kebaikannya itu.


"Aku bisa jalan sendiri." Ucapnya dingin lalu bangkit dari sofa dan berjalan mendahului pria itu.


"..............."


...◇• •◇...


Kali ini bukan sifat salah satu dari mereka yang aneh, sejak pagi pria itu sudah merasakan sesuatu yang aneh saat Lazel baru saja membuka kedua matanya dari tidur.


Dan sekarang, ia menemui wanita itu yang tertidur di atas sofa sambil menangis. Meskipun dengan wajah yang bingung, Hyunjae tahu jika ada sebuah mimpi yang membuat Lazel seperti itu.


Karena Lazel yang dirinya kenal bukanlah seperti itu, dia adalah wanita yang penuh semangat dan juga banyak bicara.


Tubuhnya berbaring menyamping dan menatapi punggung si rambut perak itu dari belakang, "jika kau memiliki masalah, kau bisa mengatakannya padaku." Ujarnya dengan suara yang berat.


"..............."


"Tidak ada jawaban? Apa dia sudah tertidur?" Pikirnya.


Ia menjulurkan tangannya dan menyentuh kepala Lazel dengan perlahan lalu mengusapnya pelan.


"Waktu kecil Ibu selalu seperti ini disaat aku bermimpi buruk," tangannya berusaha untuk terus bergerak tanpa membangunkan wanita tersebut. "Kupikir ini akan bekerja dengan baik pada Lazel, jadi aku mencobanya saja."


Di sisi lain, wanita berambut perak itu yang membelakangi pria berpiyama hitam itu masih dalam keadaan sadar, namun dirinya engggan untuk membuka suara.


Kedua iris pinknya begitu terang dan juga terlihat sendu.


Tangan yang terus bergerak itu semakin perlahan bergerak. Dan akhirnya berhenti mengelus namun masih meletakkannya di atas rambut perak tersebut.


"Ngomong-ngomong... ini pertama kalinya kita berbagi ranjang." Sebelum benar-benar tertidur, dirinya sempat berpikir seperti itu.


Disaat bersamaan, keduanya pun langsung tertidur.


Sepertinya malam itu hal yang buruk bisa disingkirkan dengan sesuatu.


...◇• •◇...


Kakinya yang putih itu terletak di atas tubuh seseorang, sedangkan kepalanya berada di ujung ranjang, serta dengan kedua tangan yang terlentang bebas.


"Aku heran... apa tanganku mengandung sesuatu yang berbahaya?" Tanya Hyunjae pada dirinya sendiri.


Tirai belum terbuka, oleh karena itu ruangan kamar mereka masih terlihat gelap. Dibalik tirai abu-abu itu menyembunyikan cahaya matahari yang menerobos masuk.


Biasanya Hyunjae akan langsung membukanya, namun wanita yang tertidur seperti UFO itu pasti akan berkeringat.


Di dalam keadaan yang masih tertidur, kepalanya itu perlahan tergeser dari ujung ranjang dan bersiap untuk bertubrukan dengan lantai.


Tap!


"Fyuh~ hampir saja." Ujar Hyunjae yang menangkap kepala itu di waktu yang tepat.


Seperti sudah menduga sesuatu, ia beranjak dari ranjangnya dan terbangun lebih dulu, lalu menyelamatkan amarah wanita beriris pink itu.


Piyama itu sudah tak beraturan, otot-ototnya terlihat jelas. Besar dan juga kuat, belum lagi tingginya yang begitu luar biasa.


Kedua tangannya mengangkat tubuh wanita itu secara perlahan agar tidak membangunkannya dan ia dekapkan pada bagian tubuhnya yang tidak tertutup.


Langkahnya kembali pada atas ranjang lalu meletakkannya disana. Kedua matanya masih terpejam, rambut peraknya terlihat acak-acakan.


Untuk sesaat, pria berkulit manis itu duduk di hadapan Lazel dan menatapi wajahnya, "hm~ wajahnya memang unik, bahkan tanpa riasan kurasa ini sudah cukup." Ucapnya jujur.

__ADS_1


Kedua alisnya tertekuk lalu mencubit pelan pipi Lazel yang masih tertidur, "dan bagaimana bisa kau tertidur dalam posisi seperti itu??"


"Hm~" wanita itu bergerak dan mengangkat salah satu tangannya ke atas pangkuan pria itu.


Ia tersenyum melihat tingkah laku Lazel yang begitu polos, "syukurlah gadis mata uang ini tidak bermimpi buruk lagi." Batinnya.


...◇• •◇...


Dia atas ranjang putih yang berwarna putih, di bawah langit-langit yang berwarna sama, serta tirai abu-abu yang masih menutupi jendela dan menghalangi cahaya masuk.


Bahkan di pagi hari pendingin ruangan masih aktif. Itu karena salah satu dari dua penghuni kamar itu tidak tahan dengan panasnya matahari.


Kedua irisnya mulai terlihat dan memberikan sorot biasa pada langit-langit yang ia tatapi.


"Jam berapa ini..."


"????" Ia merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya, "B-Berat!"


Seketika ia ingin meminta bantuan pada seseorang yang tertidur di sampingnya.


"Hyu-" kedua matanya terbuka dengan lebar, rasa kejutnya di atas rata-rata, hanya satu gerakan lagi maka kedua balutan itu akan saling bersentuhan.


Wajahnya berpaling ke kiri untuk meminta bantuan pada Hyunjae, namun siapa sangka jika yang menindih tubuhnya adalah pria itu sendiri.


Dalam keadaan telungkup, tangan kirinya dengan bebas merangkuh tubuhnya sambil menatap ke arah yang sama. Oleh sebab itu disaat Lazel menolehkan kepalanya, wajah mereka saling bertemu satu sama lain dalam jarak yang tidak bisa disebut dengan dekat lagi.


"T-Terlalu dekaaaaat!"


DUAK!


...◇• •◇...


Gadis berjas hitam itu dengan kemeja dalam berwarna putih tengah berjalan di koidor dengan kacamata hitam yang menggantung di pangkal hidungnya.


Dan seorang pria disampingnya mengenakan jas yang lengkap dan juga rapi. Berbeda jauh dengan penampilan Lazel.


Ia tidak mengenakan jasnya, namun hanya menggunakannya di punggung sebagai penutup tubuh. Kedua kain berlengan panjang itu ia gulung setinggi lutut.


Saat ini mereka berada di bandara untuk segera kembali ke negara asal mereka.


Kini penampilan Lazel dan juga sikapnya sudah kembali seperti biasa. Rambut perak itu beberapa terikat ke belakang dan menyisakan dua sisi rambut di depan. Dan tak lupa dengan kupu-kupu berwarna ungu yang menghiasi bagian belakang kepalanya, dimana rambutnya terikat.


Dapat dilihat dari sana, sebuah pesawat khas milik Keluarga Pietra yang sudah siap untuk penerbangan.


Setelah menyelesaikan banyak pekerjaan di Amerika, kini sudah saatnya mereka kembali. Kali ini terbilang sebentar, karena Lazel pernah berada di sana dalam waktu yang lama, bahkan selalu pulang pergi dari sana.


...◇• •◇...


Semua orang dapat mengetahui jika mereka berdua adalah Tuan dan Nona Muda dari Perusahaan Pietra's. Keduanya tentu saja mendapat sorotan dari banyak publik, namun Bodyguard sudah bersedia untuk melindungi dua orang itu sehingga memasuki pesawat.


"Hm~ cukup lama juga kita disini." Ucap Lazel yang duduk menatap ke arah jendela.


Keduanya pun sampai di dalam pesawat dan menunggu kendaraan besar itu bergerak.


Hyunjae melepaskan mantel yang menutupi dirinya, "mungkin saja dua atau tiga bulan ke depan, kita akan mengunjungi negara ini lagi."


"Tidak tidak," gelengnya. Wajahnya menatap Hyunjae dengan lekat. "Bahkan bulan depan dapat dipastikan." Ucapnya yakin.


"Hahaha~ benar juga." Tawanya.


Hyunjae dapat melihat dari ekspresinya saja, jika wanita yang duduk di hadapannya itu terlihat senang, meskipun dia tidak bisa menyempatkan diri untuk mencari hiburan. Ternyata hal sederhana seperti itu sudah dapat membuatnya senang.


"Byul?"


"Suruh beberapa orang untuk menjemputku."


Lazel menyempatkan dirinya untuk melakukan panggilan sebelum pesawat berjalan.


"Aku tidak suka menunggu... jadi jangan membuat kesalahan." Ujarnya dengan wajah serius.


"Kau langsung ke kantor?" Tanya Hyunjae dengan kedua alis yang tertekuk.


"Ya." Jawaban yang singkat.

__ADS_1


"Kau tidak lelah?"


Kedua tangannya melipat ke depan dan menampakkan senyumannya, "memangnya aku melakukan apa sehingga lelah? Kondisi fisik yang kumiliki sangat baik,"  senyumannya begitu kelam. "Jadi... jangan khawatir." Sambungnya dengan wajah yang tersenyum dingin.


__ADS_2