
Kedua matanya yang tepejam memperlihatkan bulu-bulu matanya yang berwarna hitam tipis. Balutan bibir merahnya yang tertekuk kecil, serta rambut perak yang menjuntai ke mana-mana.
"Dia tertidur?"
Ia meletakkan tumpukkan kertas itu di atas meja Direktur, lalu kembali mendekati Lazel yang saat ini tengah tertidur pulas. Dia menduduki lengan kursi dan menatap Lazel dari sana.
"Hei, apa kau tidak mengerjakan tugasmu?" Ujar Gyuu yang mencoba untuk membangunkan Lazel, "hm? Apa itu?" Sebuah kertas yang berisi tumpukan tulisan beserta waktu.
Karena merasa penasaran, ia meraih kertas itu dan membacanya dengan teliti.
"J-Jadwal?" Gyuu sedikit terkejut saat melihat apa yang tertera pada kertas tersebut, "Ayah tidak pernah meletakkanku pada sebuah perusahaan, oleh karena itu aku sedikit ragu dengan semua jadwal padat ini."
Karena Eun yang masih memiliki umur yang sangat muda, oleh karena itu dirinya masih sanggup untuk mengerjakan semuanya sendirian dan membiarkan Putranya berkeliaran dimana-mana, sehingga membuat banyak orang menggelengkan kepala mereka karena identitas tersembunyi Gyuu.
Lazel mulai bergerak dan mencari posisi nyaman untuk tidurnya, Gyuu yang berada di atas pun kembali terfokuskan pada Lazel.
Rambut peraknya mulai menyentuh lantai karena posisi tidurnya yang menyamping.
"Bagaimana bisa dia tidur dengan kondisi seperti ini." Gyuu menunduk dan meraih helaian perak itu dan ia letakkan di arah lain.
"..............." awalnya ia berusaha menyangkal untuk tidak terpikat pada Lazel. Namun sepertinya tidak semudah itu, paras yang dimiliki Lazel begitu unik, bahkan dengan keunikkan yang dia miliki, seorang pria masih memperlakukannya dengan tidak wajar.
"Lazel mengizinkanku untuk menyukainya, selagi tidak menghalangi jalannya," kini Gyuu mulai mengingat kembali kata-kata Lazel padanya. "Memangnya jalan apa lagi yang kau perbuat?"
"Andai saja aku terlebih dulu melihatmu," Gyuu menyingkirkan pikiran negatif yang ingin menguasai dirinya dengan menepuk pelan kepala Lazel. "Aku tidak mungkin membuat pria brengs*k itu mendekatimu." Sambungnya dengan tatapan yang tajam.
...◇• •◇...
Kedua matanya terlihat fokus pada layar monitor, di balik kacamata itu ia berusaha melindungi penglihatannya dari sinar biru elektronik, terutama ponsel dan juga laptop.
Model rambut yang terbelah itu sebagian ke belakang dan sebagiannya lagi dibiarkan turun. Sehingga menyembunyikan salah satu tatapannya.
Sebagai Direktur Perusahaan Pusat, Hyunjae selalu mendapatkan banyak laporan dari banyaknya perusahaan dan menerima laporan dari Lazel yang baru saja mengutus salah satu staff nya untuk pergi menuju Perusahaan tersebut.
Namun ia tetap fokus pada pendirian bisnis di Negara Amerika. Meskipun jalannya cukup berliku, namun ia berusaha semaksimal mungkin untuk menggapainya. Lazel juga sedang membantu dalam urusan bisnis tersebut, keuntungan mereka sama saja tidak terbatas jika Amerika mempersilahkan Pietra untuk membuka saluran perkembangannya ke sana dan mendirikan perusahaan kedua disana.
Perusahaan yang di pegang Hyunjae saat ini merupakan pusat satu-satunya. Karena begitu banyak menerima saluran atau laporan lain di negara yang berbeda-beda, Hyunjae ingin membuat perusahaan terbesar nomor dua yang akan didirikan di Negara Amerika.
Jika semuanya tercapai, maka laporan atau pemasukan dari negeri lain akan di pusatkan di sana. Sedangkan Hyunjae akan menjadi pusat dalam negeri saja.
Perusahaan Pietra selalu berkembang dan selalu mendapatkan apresiasi dari negara-negara manapun. Oleh karena itu tidak diragukan lagi jika mereka akan terus memperbesar saham perusahaan.
Bagaimana pun juga, Perusahaan Pietra akan menjadi perusahaan pertama yang terbesar di negara tersebut.
...◇• •◇...
Tok! Tok! Tok!
"Masuklah." Ujar Hyunjae yang masih fokus pada benda bercahaya di hadapannya.
Dari balik pintu itu terlihat seorang pria dengan pakaian formal mendekati Hyunjae dan menyerahkan sebuah amplop merah.
"Tuan, Perdana Menteri akan mengadakan rapat pada seluruh Direktur di negara ini." Ujar Sekretaris tersebut dengan wajah tanpa tersenyum.
Hyunjae mengeritkan dahinya, "Perdana Menteri?" Ulangnya.
"Ya, Beliau baru saja mengirimkan undangan ke seluruh perusahaan."
Hyunjae meletakkan surat itu begitu saja dan menyandarkan punggungnya pada kursi yang ia duduki dan mulai berpikir, "seluruh perusahaan, berarti Lazel..."
"Hubungi Nona Direktur dari Perusahaan Aplic Pietra." Baik Tuan.
...◇• •◇...
Sepertinya cukup menyenangkan memperhatikan wajah itu, wajah polos yang tengah tertidur pulas dan melupakan pekerjaannya yang semakin menumpuk.
Drrt!
Getaran ponsel terdengar di atas meja Direktur yang tidak jauh dengan laptop.
__ADS_1
Gyuu khawatir jika panggilan itu sangat penting, oleh karena itu ia pergi untuk melihat siapa yang menghubungi Lazel.
"M-My Bank?" Sungguh sesuatu yang tidak terduga, seseorang tanpa nama hanya gelar menghubungi Lazel. Mau tak mau Gyuu mengangkat panggilan itu.
^^^"Lazeeel~ bagaiman kabarmu? Apa kau masih sibuk bekerja? Aku ingin bertanya, apakah Perdana Menteri memberimu undangan?"^^^
"H-Huh?! Suara ini?!" Gyuu terpaku saat mendengar suara yang sangat dia kenal menghubungi Lazel, "undangan? Apa kami menerima undangan?" Gyuu memperhatikan sekitar dan mencari benda yang diucapkan oleh pria yang dia benci.
^^^"Lazel? Kenapa kau diam?"^^^
"Hm... sepertinya aku tidak tahu Bos sudah mendapatkannya atau belum." Ucap Gyuu yang tidak peka terhadap situasi yang mungkin akan membuat kesalah pahaman.
^^^"Benarkah? Kupikir-HEIIII SIAPA KAU?!"^^^
"Oh! Perkenalkan, aku Gyuu."
^^^"G-Gyuu?! Mengapa kau-tidak tidak, dimana Lazel? Dan mengapa ponselnya ada bersamamu?"^^^
"Dia tertidur, apa kau ingin aku membangunkannya?"
^^^"T-Tidur?! Hei! Apa yang kau lakukan padanya?!"^^^
"Hah? Memangnya apa yang ku lakukan?"
^^^"Bajing*n! Kau-"^^^
"Hei, dari pada kau membentak diriku yang tidak tahu apa-apa ini, lebih baik aku membangunkan La-"
^^^"Tidak, itu perlu. Dan satu lagi... bukan 'kau' tapi 'Tuan'."^^^
Panggilan itu putus begitu saja dan membuat Gyuu yang awalnya tidak menyadari perbuatannya, pada akhirnya ia menginginkan waktu terulang kembali dan menjelaskannya pada pria bodoh itu.
...◇• •◇...
"B-Bos?" Kara terkejut jika Hyunjae baru saja menggebrak meja dengan tangannya sekuat mungkin sehingga membuat orang-orang yang bersamanya merasa terkejut dan juga takut.
"Bajing*n aku tidak akan-" ucapannya terpotong begitu saja karena sesaat ia mengingat sesuatu dan juga ekspresi Lazel yang selalu tidak peduli pada apapun.
"Kalian keluarlah." Ujar Hyunjae pada semua anak buahnya yang berkumpul di ruangannya.
"B-Baik."
"Ada apa dengannya? Bukankah Bos baru saja menghubungi Lazel? Apa yang terjadi pada mereka berdua?" Pikir Kara yang merasa khawatir.
Kedua kakinya melangkah pada sebuah sofa lalu merebahkan tubuhnya begitu saja.
Ia mengingat jelas dimana Lazel memberitahunya jika Gyuu menyukai Lazel, dan dimana dirinya sama sekali tidak peduli pada urusan siapapun termasuk urusannya dengan para wanita di luar sana. Padahal hampir saja ia ingin mencari kesenangan pada Lazel, namun sebuah konspirasi membuatnya sedikit kecewa.
Padahal Lazel sama sekali tidak memberinya tatapan kecewa saat bercumbu dengan banyak wanita.
...◇• •◇...
"Lazel!"
"Lazeeel!"
Ia menarik nafas sebanyak mungkin lalu membuat kedua tangannya menyatu dan membentuk bundar yang mengarah pada telinga Lazel.
"LUAAAAAZEEEELLLLLL!!" Teriaknya dengan sekuat tenaga.
"HAAAH?!" Dengan spontan Lazel ikut berteriak dan membangkitan tubuhnya.
"Oh, akhirnya kau terbangun."
"..............." Lazel menolehkan wajahnya ke samping dan menemukan Gyuu yang terduduk di hadapannya. Dengan cengkraman kuat yang berpusat di tangan kanannya, ia meraih kerah Gyuu dan mengeratkan kepalannya. "Hei bajing*n apa yang kau lakukan? Dasar brengs*k, bisakah kau tidak berteriak." Kini auranya terlihat menyeramkan sehingga membuat pria itu menciut.
"Apa kau tidak menyelesaikan pekerjaanmu? Jika kau terus tidur, semua dokumen itu tidak akan bergerak sendiri." Ujar Gyuu sambil mengarahkan telunjuk kanannya pada sebuah meja dengan tumpukkan dokumen.
Wajahnya seketika mematung dan melepaskan tangannya dari Gyuu, "oh tidak."
__ADS_1
Dengan rambut yang teracak-acak ia bergegas berdiri dan berjalan menuju mejanya.
"B-Bos tadi ada yang menghubungimu." Sepertinya Gyuu mulai bersalah di bagian ini.
"Siapa?"
"J-Jadi seperti ini..."
Lima menit kemudian...
"GYUUUUUU!!!"
"M-Maaf! Aku sungguh minta maaf!" Ujar Gyuu hingga menyentuhkan dahinya pada lantai.
"Bagaimana bisa Hyunjae berpikir seperti itu?!" Saat ini Lazel benar-benar bingung pada pembicaraan Gyuu dengan Hyunjae melalui ponselnya, sehingga membuat kesalah pahaman yang besar. "Padahal aku berusaha untuk tidak membuat masalah dengannya."
Lazel terduduk dan memegang keningnya. Ia mulai berpikir bagaimana bisa Hyunjae mudah mendapatkan kesalah pahaman hanya dengan mendengar suara Gyuu dan mengetahui Lazel sedang tidur.
Lazel terdiam sejenak dan mengingat penjelasan Gyuu, "p-pantas saja dia salah paham..."
Tok! Tok! Tok!
"Nona, Saya sudah kembali."
Wajahnya terangkat ke atas dan menatap ke arah pintu, "Byul?"
"Gyuu, kembali pada tempatmu dan persilahkan Byul untuk masuk." Tutur Lazel.
"Kau tidak marah kan?"
"Cepat."
"B-Baik!"
Sesuai dengan perintahnya, Gyuu membuka pintu itu dan mempersilahkan Byul untuk masuk.
"Selamat datang kembali, Byul." Sapa Lazel yang berdiri di hadapan mejanya dan menggunakan kedua tangannya sebagai sanggahan.
"Ya, selamat siang No-NA?!" Intonasi ucapannya berubah saat Byul melihat Nonanya.
"Huh?!"
"Ada apa dengan penampilan Anda?!" Tanya Byul yang langsung mendekati Lazel dan memperhatikan penampilan berantakannya.
"Oh, aku baru saja terbangun dari tidurku." Ucap Lazel.
"Anda tertidur?" Kini Byul mulai berpikir mengenai kalimat itu dan juga kehadiran Gyuu saat dirinya kembali, "apa-"
"Jangan berpikir yang aneh-aneh." Sela Lazel dengan wajah datarnya.
...◇• •◇...
Setelah merapikan diri, Lazel kembali pada tempatnya dan membaca undangan yang baru saja dibawakan Byul untuknya.
"Kalau tidak salah Gyuu juga mengatakan padaku jika Hyunjae menghubungi untuk menanyakan sebuah undangan." Pikirnya.
Penampilan Lazel kembali segar saat Byul membantu Bosnya untuk bersiap. Lazel juga membasuh wajahnya agar tidak terlihat mengantuk.
"Apa Perdana Menteri akan mulai berceramah?" Kini perasaannya mulai campur aduk dan juga sedikit melelahkan, "tolong... aku sama sekali tidak sanggup dengan penjelasan panjang lebarnya."
Lazel melanjutkan bacaannya pada undangan beramplop merah.
Kedua alisnya tertekuk saat melihat sesuatu yang janggal, "besok? Pukul delapan?"
"Hm? Apa ada yang salah Nona?" Tanya Byul yang merasakan sesuatu pada pergerakkan Bosnya.
"A-Ah~ tidak apa-apa." Ucapnya sambil tersenyum tipis.
Lazel kembali berpikir serius, "bagaimana ini... besok adalah hari kelulusan Ian, dan juga pertemuan antara Direktur seluruh perusahaan di atas undangan Perdana Menteri." Kini Lazel akhirnya tiba di sebuah pilihan, yang mana salah satu dari keduanya harus direlakan.
__ADS_1
Lazel menutup kedua matanya sejenak, "sebelum itu... aku harus menyelesaikan kesalah pahaman ini pada Hyunjae."