Lost Feeling

Lost Feeling
Knowing Something


__ADS_3

Sudah tidak perlu diragukan lagi, mobil mewah yang terparkir disana adalah milik Gyuu. Entah deja vu atau apa, ia merasa jika pernah melihat mobil itu, namun entah dimana.


Dan sekarang, ada sesuatu yang lebih penting untuk dilakukan. Beberapa dokumen telah menunggu tanda tangan serta stampel darinya.


"Ck! Pria itu terlalu bodoh, untuk apa dia menanyakan sesuatu yang konyol seperti itu." Ucapnya dengan nada kesal.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk."


Cklek!


"Bos! Ayo makan siang bersama!" Ujar pria itu dengan wajah yang berbinar.


"Heh? Hah?"


...◇• •◇...


Tak terasa hari terus berjalan, dan kini matahari lebih menyengat dibandingkan sebelumnya. Perusahaan besar itu memiliki lingkungan yang cukup besar, sehingga beberapa kafe atau kedai makanan sudah tersedia disana. Hal itu merupakan tindakan yang sudah disetujui oleh Lazel.


Lagipula sangat jauh jika harus meninggalkan kantor hanya untuk membeli sesuatu.


"..............." ia hanya duduk dan meratapi pria yang sedang makan di hadapannya. "M-Makannya lahap sekali." Batinnya.


"Hm? Apa kau tidak makan?" Tanya Gyuu dengan pipi kiri yang terlihat membulat.


"Y-Yah, kau bisa makan duluan," ujarnya dengan sedikit gugup. "Ayolah! Aku tidak bodoh! Apa aku harus menjaga image di hadapan pria ini?!"


"T-Tapi... bukankah dia sudah mengetahui seperti apa posisi makanku, porsiku dan hal memalukan lainnya."


Saat ini mereka berada di salah satu kantin yang berada di kantor. Letaknya di salah satu lantai perusahaan tersebut. Meskipun tidak menjual makanan mewah seperti restoran, setidaknya mereka menyediakan beberapa macam ramen.


Dan Gyuu berinisiatif untuk mengajak Lazel dan juga mentraktirnya sebagai permohonan maafnya pada wanita itu.


"..............." untuk pertama kalinya Gyuu berpikir dan merasakan sesuatu yang canggung saat bersama dengan Lazel. Awalnya ini tidak pernah terjadi, namun saat wanita perak itu mengetahui siapa dirinya, seketika sikap dan perilakunya berubah.


Sejujurnya... Gyuu hanya ingin tetap melihat Lazel ke dalam dirinya dengan penilaian yang sama seperti sebelumnya. Inilah sebabnya ia tidak ingin membocorkan apapun mengenai identitas aslinya.


"Oh! Dia mulai memakan ramennya!" Tuturnya dalam hati. Hal itu membuatnya sedikit terkejut setelah melihat Lazel yang terus terdiam.


"Bisakah kau tidak melihatku seperti itu?" Ujar Lazel yang merasa tidak nyaman dengan tatapan Gyuu padanya.


"M-Maaf!"


Pria itu kembali menaikkan wajahnya dan menatap ke arah Lazel, "kau tidak perlu merasa canggung, anggap saja aku adalah Egis, ya?" Ujarnya dengan senyuman yang dipaksakan.


Lazel mengehentikan pergerakkan tangannya dan beralih pada Gyuu, "Egis dan Gyuu, kalian adalah orang yang sama. Lagipula aku tidak merasa canggung, aku hanya menunggu mie ini semakin banyak isinya." Ujarnya dengan santai.


"O-Oh begitukah?" Gyuu tidak menyangka jika Lazel hanya akan membuang waktunya untuk ramen itu, "b-bukankah jika semakin banyak itu artinya mie nya membengkak?"


"Meskipun ini sedikit canggung, namun kau masih di bawahku, jadi kau tidak bisa melakukan apapun untuk menentang perintahku." Tuturnya dengan wajah yang tersenyum layaknya iblis.


"..............."


...◇• •◇...


Seperti yang dia rasakan sebelumnya, ketidakhadiran Egis membuatnya merindukan sosok pria ceria itu. Akan tetapi... setelah mendapatkan undangan mendadak dari sebuah keluarga yang cukup terkenal yaitu Keluarga Hojung, disitulah semua fakta terbongkar.

__ADS_1


Hampir semua orang tidak mengetahui jika dirinya adalah Putra satu-satunya yang dimiliki oleh Eun Hojung.


Setelah mengetahui identitasnya... Lazel sama sekali tidak tahu, apakah dirinya harus melanjutkan rasa rindu itu atau membuangnya begitu saja? Lagipula dirinya masih merasa kesal, Egis yang dia kenal rupanya memiliki nama asli dan identitas asli lainnya.


Gyuu terus memperhatikan Lazel yang berjalan di sampingnya, "w-wajahmu terlihat marah." Ujarnya.


Wanita yang berjalan di sampingnya itu menoleh dan memberikan tatapan sangar, "ya aku sangat marah. Sehingga sangat sulit bagiku untuk mendeskripsikan posisi wajahku saat ini." Jawabnya dengan kesal.


Waktu istirahat mungkin masih berjalan, Lazel ingin meringankan sedikit kedua tangannya dan juga tubuhnya. Semuanya terlihat kaku dan melelahkan jika harus mengerjakan sesuatu selama berjam-jam di tempat yang sama.


"Haah~ waktu kau pergi dan entah kapan kembali, aku sangat merindukanmu." Ucapnya dengan tiba-tiba.


Deg!


Pria dengan rambut kuning itu berhenti dari langkahnya, kedua matanya yang terlihat membesar dan juga sedikit bercahaya. Serta tangannya yang memegang dadanya erat.


"Hei, jangan terlalu terbawa suasana." Ujar Lazel yang menatap datar ke belakang.


Gyuu melanjutkan langkahnya dan tidak ingin ditinggal oleh Lazel.


"A-Apa itu adalah caramu menyampaikan perasaanmu?" Tanya Gyuu yang terus ingin memastikan perasaan Lazel terhadapnya.


Wanita berwajah es itu hanya menatapkan wajahnya ke arah depan dengan ekspresi tak peduli, "asalkan kau tahu, aku menyukaimu, tapi hanya sebagai teman, layaknya aku menyukai Kara dan juga Vicy." Jelasnya.


"Ah~ Vicy~" lamunannya terhenti. "Tunggu, siapa itu Kara?"


Di tengah-tengah langkahnya ia berhenti dan menundukkan wajahnya.


"Hei, mengenai hubunganku dengan Hyunaje," ia menaikkan pandangannya dan menatap pada wajah Gyuu. "Aku tidak menyangka jika kau mengetahuinya." Sambungnya dengan raut yang sedikit tidak bersahabat.


"..............."


...◇• •◇...


Sebuah kalimat berhasil membuatnya menyadari sesuatu, bahwa... pria itu... mengetahui hubungan aneh mengenai dirinya dan juga Hyunjae.


Keduanya harus menjaga rahasia itu agar tidak diketahui oleh orang lain. Namun pernyataan rasa sukanya itu mungkin membuatnya untuk mengetahui segala hal yang terjadi dalam hidupnya.


Dan ternyata... sesuatu yang indah sama sekali tak tertampang. Yang dia temukan hanyalah seorang wanita yang berjalan tanpa arah, namun dengan mudahnya ia masih bisa tersenyum cantik di bawah cahaya rembulan.


Hal itu... sudah pasti membuat dirinya merasa bersalah. Bersalah karena terlambat untuk mendapatkannya, bersalah karena meninggalkannya begitu saja. Mendengar kalimat langka dari wanita itu saja sudah membuatnya senang tak karuan.


Tetapi... ada sebuah fakta lainnya yang harus diterima.


Bahwa kedua pasangan yang telah menikah selama sepuluh tahun lebih itu... tidak ada bedanya dengan orang asing yang terus bertemu di setiap harinya.


Mengingatnya saja sudah membuatnya kesal, tapi apa boleh buat... ia tahu jika selain makanan,wanita itu juga menyukai senyuman.


"Setelah kau mengetahui hal ini, ku harap... kau tidak mengikutcampurkan dirimu pada masalah kami berdua."


"Tapi kenapa? Kenapa kau masih begitu mudahnya untuk terus bersamanya?" Tanya Gyuu dengan raut wajahnya yang sedikit kesal dan juga sedih di waktu yang bersamaan.


"Ada sesuatu yang paling penting dibandingkan hubungan... dan itu terkait dengan perasaan. Kau tidak bisa mengatakan jika aku memang menyukai Hyunjae, kami berdua hanya..."


"Saling memanfaatkan satu sama lain, urusannya bukanlah urusanku. Oleh karena itu kami berada di jalur yang  berbeda dengan tujuan yang sama." Sambungnya dengan senyuman yang terlihat mati.


"Lalu... lalu bagaimana jika aku akan membuatmu menyukaiku?"

__ADS_1


"Hm~ tidak buruk," gumamnya. "Tapi..." bukan hanya wajahnya saja, ia memalingkan seluruh tubuhnya ke belakang dan melihat wajah Gyuu yang kini sedikit kusut.


"Mustahil... aku hanya sebuah boneka tanpa perasaan, dimana boneka itu hidup untuk memikirkan jalan keluar serta membalaskan dendamnya dengan nilai yang sama." Sambungnya.


Setelah menganalisa ucapannya dan juga ekspresinya. Perasaannya semakin kacau, bagaimana bisa Lazel bertahan selama ini dengan mengorbankan perasaannya? Apakah tujuan hidupnya ini memang sama namun memiliki sisi yang lain juga?


...◇• •◇...


Perlahan atau cepat... semuanya memang akan mengetahui rahasia besar ini, dan yang tersisa hanyalah kesempatan dan juga waktu.


Terkadang keinginan begitu kuat, sehingga kenyataan harus diterima oleh keadaan.


Wanita berhelai panjang dengan warna perak itu kembali ke ruangannya dengan wajah yang sedikit muram. Aktingnya yang dia buat selama ini di hadapan Gyuu, semuanya telah diketahui oleh pria itu.


Bahkan dia terus mencoba apapun untuk membuatnya senang dan melupakan keluh kesah hidupnya.


Ia tahu, bahwa tindakan Gyuu merupakan sesuatu yang langka dalam hidupnya. Tapi... perasaannya yang dulu sama sekali bukanlah perasannya yang sekarang.


Masa lalu.... ataupun masa kini... keduanya tidak saling menerima. Oleh karena itu Lazel akan mengambil salah satunya dan mengorbankan salah satunya.


"Sampai kapan... sampai kapan hal ini berlangsung..."


Dirinya dapat melihat sorakan serta pujian orang-orang terhadapnya. Padahal mereka tidak mengetahui apapun mengenai dirinya. Seakan-akan mengkhianati perasaan mereka.


Perjalanan ini memang sungguh mengerikan, namun... tujuan awalnya sudah sangat jelas, bahkan dirinya melakukan dua perjanjian sebelum menginjakkan kakinya di Keluarga Pietra.


"Wonhae... jika kau masih disini, apa kau akan membantuku?" Lirihnya.


Tubuhnya yang berdiri tegap menghadap dinding kaca itu berpaling. Wajahnya kini semakin tenang dan juga sedikit dingin untuk dilihat.


Kedua kakinya melangkah pada meja kerjanya dan meraih ponselnya.


...◇• •◇...


Saat ini dirinya sama sibuknya dengan Lazel. Bahkan Asistennya sendiri tidak akan membiarkannya istirahat sedetik pun. Laporan serta pekerjaan lainnya akan terus tertumpuk jika mendapatka penundaan. Oleh karena itu mereka berusaha agar Bos di perusahaan itu bekerja lebih keras untuk hari ini.


Tempat mereka adalah pusat, oleh karena itu kelalaian sedikit saja akan membuat kesalahan fatal.


Kedua matanya yang sipit itu memperhatikan lembaran putih yang berada di tangannya. Iris abu-abu yang dia miliki, sejauh ini sudah memperhatikan banyak wanita di luar sana. Namun seketika mendapatkan sesuatu yang langka.


"????" Suara nontifikasi dari ponselnya membuatnya berpaling.


Ia meraih ponsel besar itu lalu mulai menggerakkan layar tersebut.


Kedua alisnya bertaut, "pesan dari Lazel?" Ujarnya setelah membaca siapa pengirim pesan tersebut.


^^^'Ada yang ingin ku katakan padamu, pulanglah langsung, aku tidak ingin menyia-nyiakan waktuku.'^^^


"Dingin sekali." Ujarnya setelah melihat pesan singkat itu dari seseorang yang tinggal bersamanya di bawah atap yang sama.


Jika ia dapat menyelesaikan semuanya tepat waktu, maka sebelum matahari terbenam dirinya dapat kembali tepat waktu.


Mendapatkan pesan dari Lazel, dan mengetahui jika wanita itu ingin bicara dengannya. Entah mengapa membuatnya semakin bekerja keras untuk menyelesaikan tumpukan kertas itu.


Mungkin rasa harunya akan berubah menjadi rasa sakit, serta rasa tenang menjadi kewaspadaan. Apa yang akan disampaikan Lazel nanti... mungkin akan memicu perdebatan di antara mereka berdua.


Lazel sudah memperkirakan hal ini dan siap untuk menghadapi keras kepala Hyunjae.

__ADS_1


__ADS_2