Lost Feeling

Lost Feeling
A Doll


__ADS_3

Di dalam sebuah ruangan yang memungkinkan hanya satu orang yang bisa memasukinya. Setiap sisinya terlihat polos serta sebuah cermin seukuran tubuh di sisi kanan.


Tangan kirinya membungkam mulut wanita itu agar tidak berteriak atau mengucapkan kalimat aneh lainnya.


Awalnya, ia tidak berniat untuk terlibat dalam masalah ini. Tapi... siapa sangka jika dirinya yang harus memasuki ruang ganti tersebut.


Kedua matanya membesar, iris merah mudanya menyala bagaikan caramel dan juga permata. Sedangkan pria yang berada di hadapannya itu mendekatkan wajahnya, sehimgga wajah mereka nampak sangat dekat.


Di bawah topi yang menutupi sebagian wajahnya, ia melihat jika keuda iris pria itu sedang menatapnya.


Tangannya yang terlihat bebas menyingkirkan tangan besar Hyunjae yang menutupi mulutnya, "mengapa kau kesini?" Tanya Lazel dengan nada pelan.


"Haah~ aku melakukan sedikit kesalahan." Jawabnya dengan wajah yang menunduk.


Hyunjae menjelaskan letak kesalahan kalimatnya saat mengucapkan identitas Lazel yang bersatus sebagai Istrinya.


Tap!


"Sialan... dasar bodoh, bagaimana kau melakukan kesalahan kecil seperti ini?" Tanya Lazel sambil mengarahkan kepalan tangannya ke arah perut Hyunjae. Namun pria itu berusaha sekuat tenaga untuk menahannya.


"D-Daripada kau terus marah seperti ini, bagaimana jika kau terima saja bantuanku." Ujar Hyunjae yang masih bertahan.


Ia menurunkan kepalannya lalu mendorong Hyunjae ke depan agar memberikannya sedikit ruang untuk bergerak.


"Tidak perlu," tangannya langsung meraih pakaiannya yang terletak di salah satu pengait yang ada di dalam ruangan itu. "Alihkan pandanganmu ke arah lain." Sambungnya.


"Ck! Apa kau serius?" Tanya Hyunjae yang menatap rambut perak itu dari belakang.


"Lalu apa? Apa kau pikir aku akan membiarkanmu menyentuhku? Jangan bermimpi." Ucapnya kesal.


Ia menyandarkan tubuh besarnya di balik pintu dengan pandangan yang tertunduk. Kedua tangannya yang terlipat kini terturun dan melangkah ke depan.


Wanita berambut perak dengan punggung putih itu ingin mengenakan kembali kaosnya, namun kedua tangan Hyunjae kembali mengangkat atau melepaskan pakaian itu dari Lazel lalu ia letakkan di pundaknya.


"A-Apa-"


Ia kembali menutup mulut wanita itu dengan tangan kirinya, dan berbisik pelan di telinganya, "jangan membuat kesalahan hanya dengan suaramu." Ujar Hyunjae yang mulai meraih salah satu pengait bra yang terlepas.


Untuk pertama kalinya... seseorang menyentuh dirinya selain Ian, dan itu adalah Hyunjae, pria yang kini berstatus sebagai Suaminya.


Sulit dpercaya, tubuhnya begitu gugup dan juga merinding kecil.


"Baiklah, begini bukan?" Ujar Hyunjae yang sudah memperbaiki pengait bra tersebut, "ini pakaianmu, cepat kenakan." Sambungnya yang meletakkan kembali kaos hitam itu di kepala Lazel.


Tanpa mengucapkan apapun, Hyunjae bergegas pergi dari sana.


Kini... tubuhnya tanpa pakaian sudah diketahui atau sudah terlihat di mata Hyunjae. Meskipun pria itu menatap dirinya dari balik punggung yang membelakangi dirinya.


...◇• •◇...


Di sisi lain, Hyunjae sama sekali tidak bisa menahan rona merah di wajahnya.


Dari puluhan wanita yang dekat dengannya, mereka selalu menampilkan lekukan tubuh yang di miliki. Untuk pertama kali baginya, perasaan itu sangat berbeda saat menghadapi Lazel.


Siapa sangka jika kecerobohan Lazel membuat dirinya mendapatkan kesempatan yang langka.


Ia kembali duduk di tempat sebelumnya, dimana dirinya akan menunggu Lazel berganti. Akan tetapi, semuanya berubah sesaat.


"Ck! Ini sangat merepotkan." Ucapnya kesal sambil memperbaiki pakaiannya.


"!!!!" Hyunjae melihat Lazel yang kini mulai keluar dari ruangan sebelumnya.


Tangan kanannya meraih rambut belakangnya lalu ia keluarkan dari dalam baju. Dalam sekejap, ia melihat Hyunjae yang menunggunya di tempat yang sama.


Kedua alisnya bertaut, "hm? Ada apa dengan wajah merahmu? Dasar menjijikan." Ucapnya tanpa merasa bersalah.


...◇• •◇...


Setelah kejadian singkat itu, Lazel tetap bertindak seperti biasa. Hyunjae dapat mengetahuinya dari wajahnya saja, saat ini Lazel sudah mendapatkan apa yang dia inginkan. Kini giliran Hyunjae yang belum membeli apapun.


Wanita berambut perak yang berjalan lebih dulu darinya menghentikan langkahnya dengan mendadak. Hyunjae yang tidak berada di jarak yang jauh hampir menabrak tubuhnya.


"Oi, apa kau tidak menginginkan sesuatu?" Tanya Lazel sambil memalingkan wajahnya ke belakang.


"Hm... sepertinya aku akan membeli beberapa pakaian biasa dan juga mantel." Jawabnya.


"Whoaa~ selera Direktur memang beda." Ujar Lazel yang menunjukkan wajah bodohnya.


"Haah~ kalau kau?"


"Hm..." ia terlihat berpikir untuk beberapa waktu. "Sama." Ucapnya.


"Sama?"

__ADS_1


"Samakan saja, lagipula aku tidak tahu ingin membeli apa, karena bank milik-maksudku kau yang akan membayar semuanya." Jelasnya sambil memperhatikan sekeliling.


"Sudah pasti, karena seorang Suami akan menuruti perintah Istrinya." Balas Hyunjae dengan wajah yang sedikit segar.


"Hah? Memangnya aku yang menyuruhmu pergi ke tempat ini?" Setitik emosi Lazel mulai terlihat.


"Tidak."


"Kalau begitu mengapa kau membuat diriku seolah-olah yang salah." Ucapnya dengan kesal.


...◇• •◇...


Beberapa dari banyaknya orang di tempat itu sudah mengetahui identitas mereka berdua. Dengan adanya Lazel, gadis bermulut bom, semuanya berjalan dengan lancar tanpa turun tangan dari seorang Direktur Perusahaan Pietra.


Untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan, Lazel mengancam dan juga memberitahu mereka dengan lembut. Meskipun kelembutannya tidak pada semua orang.


"Oh!" Ucapannya bersamaan dengan tepukan di tangannya, "aku akan membelikan untuk Ian juga." Ucapnya dengan semangat.


Lazel pun beralih pada selera Adiknya, dan melupakan tujuan utamanya.


Hyunjae yang tak jauh darinya hanya bisa terkekeh pelan dengan sikapnya yang selalu memperhatikan orang lain.


"Wanita ini memang tidak pernah memikirkan dirinya sendiri." Batinnya.


Untuk saat ini ia memisahkan diri untuk sementara dari Lazel. Dirinya berniat untuk membuat wanita itu bebas memilih apapun. Sedangkan dirinya sendiri akan melakukan hal lain.


Dua jam kemudian...


"Haha! Barang-barang untuk Ian sudah ku dapatkan!" Ucapnya dengan bangga.


Setelah mendapatkan barang-barang yang dibutuhkan, mulai dari pakaian, sepatu dan hal lainnya, Lazel langsung membawa semua barang pilihannya ke meja kasir lalu menggunakan kartu kredit tak terbatas milik Hyunjae.


Dan sekarang... setelah tujuan sampingnya tercapai, ia pun mulai merasakan kehilangan yang sesungguhnya.


"..............."


"Di mana Hyunjae?"


...◇• •◇...


Tangan kanan dan juga kirinya menggenggam tas berukuran sedang yang memiliki warna cokelat. Tas tersebut berisi barang-barang milik Ian yang akan ia berikan.


"Ck! Bukankah kartunya bersamaku? Sekarang kemana pria itu?"


Saat ini Lazel tengah duduk di sebuah kursi yang terletak di salah satu tempat yang ramai dengan pengunjung.


Krucuuukk~


"Aku lapar." Lirihnya.


Dari tempat yang dia duduki atau dia tempati, dapat melihat ke arah lantai satu atau area tengah lantai yang dapat melihat ketinggian dari sana menuju lantai pertama.


Tepat di tengah-tengah langit, beberapa boneka atau maskot berbagai hewan lucu terligat menggantung. Hal itu membuat pandangannya mulai tercuri untuk memandangi aneka ragam hewan tersebut.


"Eh??" Setelah memperhatikan maskot-maskot itu, seketika sebuah pemikiran tak terduga melintas di kepalanya.


"Bodoh! Bukankah aku memiliki ponsel?! Dasar Hyunjae bajing*n!" Ucapnya dengan kesal.


...◇• •◇...


"Hatcuu!"


"Siapa yang membicarakanku?" Lirih Hyunjae yang mengusap rongga hidungnya.


Di salah satu lantai yang terdapat sebuah area khusus boneka atau benda hias lainnya. Barang bawaan yang dia bawa cukup banyak. Sehingga harus menggunakan keranjang.


Deretan rak memenuhi sepanjang jalan layaknya rak buku yang berderet panjang.


"Hm... apakah Lazel menyukai boneka?" Gumamnya, "tidak tidak, wanita liar itu hanya menyukai serangga." Tukasnya.


"Apakah aku harus membelikannya Belalang? Lalat? Nyamuk? Atau kecoa? Bukankah mereka sama-sama memiliki sayap?"


Sesaat dirinya tersadar.


"Oh, dia menyukai kupu-kupu."


Tidak ada alasan khusus. Tidak ada badai atau angin selain pendingin ruangan. Seketika dirinya berniat untuk membelikan sesuatu untuk Lazel, yang memiliki kaitan erat dengan kepribadiannya atau dirinya.


"Hm?" Sesuatu telah membuatnya tertarik, "bukannya boneka ini yang ada di film Prozen? Siapa namanya?? Hm... aku lupa... kalau tidak salah... Eles?"


"Ah~ ya! Eles! Dia memiliki Adik bernama Nana,"


"Memangnya dia suka?"

__ADS_1


"Tapi..." Hyunjae meraih boneka tersebut.


Menurut yang ia ketahui, Lazel memiliki karateristik salju. Dimana seluruhnya terlihat putih sepucat salju, serta dua warna iris mata yang unik. Bukankah mereka itu sama?


Sepertinya pemikirannya dan juga kepribadian milik Lazel, mereka sangat berlawanan, sehingga membuat dirinya bimbang serta ragu dalam memilih benda hiburan.


"Hahh~ tidak bisa. Lebih baik aku membelikannya kecoak, bukankah mereka terlihat mi-"


Drrt!


Hyunjae melihat nama di panggilan tersebut dan membuatnya kembali tersenyum tipis. Tidak ingin membuat gorila itu marah, ia pun langsung mengangkat panggilan tersebut.


"Oh, akhirnya kau-"


^^^"Kau dimana?"^^^


"Di hatimu~"


^^^"Hohoho~ bajing*n ini memang suka bercanda."^^^


"Dia sama sekali tidak ragu dalam mengucapkannya meskipun berada di keramaian," batin Hyunjae. "Tenang saja, aku akan tiba sepuluh menit lagi."


^^^"Hah?? Memangnya kau tahu dimana diriku?"^^^


"Menemukan kupu-kupu yang terbang tidak sulit bagiku, meskipun aku harus menggunakan senapan untuk menangkap mereka."


^^^"Bangs*t... apa kau berniat membunuhku?"^^^


"Tentu saja tidak bodoh."


^^^"Kalau begitu cepatlah kembali, aku lapaaar."^^^


"Hm? Bukankah kartu ku bersamamu?"


^^^"Ya, aku tahu. Tapi tidak mungkin aku menikmati makanan seorang diri dengan kartu orang lain tanpa mengajak pemiliknya."^^^


"Kalau begitu tahanlah, aku akan tiba secepat mungkin."


^^^"Baiklah~ "^^^


^^^"E-Eh? Kau bilang tahu bukan diriku dimana, hei! Apa kau menggunakan pe-"^^^


"Fyuh! Sudah kuduga, dia adalah gorila berakal sehat." Ucapnya setelah memutuskan sambungan itu.


...◇• •◇...


Seperti permintaan Hyunjae, Lazel akan menunda lapar mautnya demi menunggu pria berambut hitam itu.


"Haaaaaaah~" helaannya begitu panjang. "Dia pasti meletakkan pelacak pada salah satu benda yang ada bersamaku." Keluhnya dengan kedua tangan yang menompang wajahnya.


Masih di tempat yang sama, ia menggunakan kedua matanya untuk melihat sesuatu yang menyenangkan, seperti maskot yang selalu menjadi pusat perhatian baginya.


"Lucu... apa aku boleh membawanya pulang?" Tanpa sadar ia berbicara dengan nada yang cukup terdengar. Sehingga orang asing yang ada di sampingnya mendengar dan membalas ucapan Lazel.


"Haaah? Ayolah... benda itu tidak dapat diberikan oleh siapapun, bahkan orang-"


"Oh! Benarkah?" Sela Lazel sambil menolehkan wajahnya.


"W-Wajah itu! N-No-Nona... Nona Direktur Pietra!"


"????"


Sepuluh menit kemudian...


"A-Apapun yang Anda inginkan, S-Saya pasti melakukannya untuk Anda." Ucap petugas wanita tersebut.


Seoerang wanita berambut berkaos hitam, yang memiliki kedua lengan pendek. Serta celana berwarna abu-abu. Ia tengah memegang sebuah boneka besar berbentuk hewan jerapah.


"Astaga... aku benar-benar mendapatkan yang lebih luar biasa setelah wanita ini melihat diriku. Apa semengerikan itu wajahku?" Pikirnya.


"M-Maaf tapi maskot itu sepertinya kotor, j-jadi kami akan-"


"Tidak perlu. Ini sudah cukup." Sela Lazel yang masih tidak menyangka atas apa yang terjadi padanya.


"B-Benarkah?!" Kejut petugas itu, "Tuhaan~ aku masih memiliki kesempatan untuk bekerja disini." Keluhnya.


"..............."


"Eh? Nona Lazel?"


"????" Wajahnya seketika menoleh saat mendengar siapa yang memanggil namanya. Salah satu alisnya terangkat, "kau..."


"Haha~ pertemuan yang tidak di duga." Ucap Heul yang kini terlihat sangat manis.

__ADS_1


__ADS_2